Papan countdown itu muncul di dinding lantai dua pada pagi Rabu, dan kehadirannya terasa seperti penghinaan pribadi.
Bevan memasangnya tepat di sebelah papan target lama yang angkanya ditulis dengan spidol kelabu, dan kontras keduanya terasa kejam: di satu sisi, peninggalan belasan tahun yang sudah memudar dan menyerah; di sisi lain, layar digital hitam mengilap yang menyala dengan angka merah menyala-nyala. Delapan puluh sembilan hari, dua belas jam, empat menit, dan detik-detik yang terus berkurang dengan ketelitian yang tidak punya belas kasihan. Di bawahnya, dengan huruf besar: MENUJU EVALUASI KONSOLIDASI.
"Itu seperti bom," gumam Yanto, menatapnya dengan ngeri. "Bom yang ngitung mundur. Di film, kalau angkanya habis, gedungnya meledak."
"Yanto, ini bukan film," kata Hesti.
"Justru itu lebih serem. Di film ada pahlawan yang motong kabelnya pas detik terakhir. Di sini siapa? Kita?"
Tidak ada yang menjawab, karena pertanyaan itu, meski dilontarkan dengan ketololan khas Yanto, sebenarnya tepat sasaran.
Tapi countdown bukan satu-satunya hal baru pagi itu. Bevan, yang tampaknya menghabiskan sepanjang malam dengan espreso portabelnya, telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: KPI individual. Ia menempelkan satu lembar di meja masing-masing orang, dicetak rapi, dengan nama mereka di atas dan angka-angka di bawah. Bukan target abstrak cabang. Tapi performa pribadi, telanjang, terukur, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Rawa Belong, dihadapkan langsung ke wajah pemiliknya.
Wisnu mengambil lembarnya dengan kewaspadaan seseorang yang mengambil amplop berisi hasil tes kesehatan. Di atasnya: Wisnu Aryasatya, Administrasi Senior. Di bawahnya, deretan metrik yang membuatnya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, merasa malu. Jumlah dokumen diproses bulan ini: sebelas. Rata-rata cabang yang sehat: dua ratus. Waktu respons rata-rata: tujuh hari. Standar: satu hari. Dan di kolom paling bawah, sebuah catatan kecil yang ditulis Bevan dengan tangan, mungkin tanpa maksud kejam, tapi terasa seperti pisau: "Potensi besar, utilisasi rendah."
Potensi besar, utilisasi rendah. Tiga kata yang merangkum sepuluh tahun hidupnya dengan akurasi yang menyakitkan.
Di seluruh ruangan, ia melihat reaksi yang sama. Bu Sari memegang lembarnya dengan tangan gemetar, lalu menyembunyikannya di bawah tumpukan kertas seolah dengan menutupinya, angka itu tidak akan jadi nyata. Hesti membaca lembarnya dua kali, lalu tertawa kecil yang getir. Reza tidak repot-repot membaca, hanya melipat lembarnya jadi pesawat kertas yang gagal terbang. Dan Pak Daliman, yang lembarnya bertuliskan "Kepala Cabang" dengan kolom keputusan strategis yang isinya satu garis panjang menyedihkan, melipat kertasnya dengan sangat rapi dan memasukkannya ke saku, lalu pergi ke ruangannya tanpa berkata apa-apa, dan tidak keluar selama dua jam.
Wisnu mengamati semua ini, dan ia menyadari sesuatu yang penting. Angka-angka itu tidak membuat siapa pun ingin bekerja lebih keras. Sama sekali tidak. Yang ditimbulkan angka-angka itu bukan rasa bersalah yang produktif, melainkan rasa malu yang defensif. Dan rasa malu yang defensif, di kalangan orang-orang yang seumur hidup ahli menghindar, hanya menghasilkan satu hal: dorongan untuk mengakali, bukan memperbaiki.
Ia bisa melihatnya mulai bekerja di kepala setiap orang. Bu Sari sudah bergumam tentang bagaimana caranya membuat sebelas klien yang sama tampak seperti dua puluh dua dengan menghitung tiap transaksi dua kali. Yanto sudah punya teori tentang bagaimana skor survei kepuasan bisa diatur kalau yang mengisi survei adalah teman-teman sendiri. Hesti, yang paling jujur di antara mereka, hanya diam, tapi diamnya adalah diam orang yang sedang menghitung apakah satu kebohongan kecil sepadan dengan menyelamatkan pekerjaannya.
Wisnu merasakan dorongan itu juga di dalam dirinya, dan ia mengenalinya seperti teman lama yang berbahaya. Bukan dorongan untuk benar-benar memproses dua ratus dokumen. Tapi dorongan untuk membuat angka di papan itu berubah tanpa harus benar-benar mengubah apa pun. Itulah keahliannya. Itulah satu-satunya kekuatan super yang dimiliki kantor ini: bukan kemampuan untuk bekerja, tapi kemampuan untuk membuat kerja tampak terjadi.
Menjelang siang, sesuatu yang penting terjadi tanpa diumumkan. Satu per satu, orang-orang mulai berkumpul di meja Wisnu. Bukan rapat. Tidak ada yang menyebutnya rapat. Hesti datang dengan alasan menanyakan sesuatu soal faktur. Yanto datang pura-pura mengembalikan stapler. Bu Sari datang dengan dalih meminjam tip-ex. Tapi semua mereka, satu per satu, mendarat di sekitar meja Wisnu, dan menatapnya dengan tatapan yang sudah ia kenal selama sepuluh tahun: tatapan orang yang menunggu seseorang yang lebih licik untuk memberi tahu mereka harus berbuat apa.
Karena meski Wisnu tidak punya jabatan kepemimpinan, tidak punya wewenang, dan secara aktif menghindari tanggung jawab apa pun, ia adalah simpul. Ia tahu klien lama mana yang masih bisa ditelepon karena ia hapal utang budi mereka pada Pak Hartono. Ia tahu cara membuat laporan terlihat meyakinkan karena ialah yang selama ini membuat semua laporan terlihat meyakinkan. Ia tahu kelemahan sistem absen, sistem laporan, sistem survei, karena ialah yang selama bertahun-tahun mengakalinya. Pengetahuan tentang cara menghindari kerja, ia sadari dengan ironi yang pahit, ternyata adalah peta yang sama persis dengan pengetahuan tentang cara mengakali sistem untuk bertahan hidup.
"Jadi gimana, Nu?" tanya Hesti akhirnya, pelan, mewakili semua yang berkerumun di sekelilingnya. "Kamu pasti punya ide."
Wisnu memandangi wajah-wajah itu, lalu memandang papan countdown yang terus berdetak di dinding, lalu memandang lembar KPI-nya sendiri dengan tiga kata yang menusuk itu. Ia tahu, dengan kepastian seseorang yang sedang menyaksikan dirinya melakukan kesalahan, bahwa apa yang akan ia katakan berikutnya akan menyeret semua orang ini ke dalam sesuatu yang sangat sulit dihentikan.
"Ada satu cara," katanya akhirnya, suaranya rendah supaya tidak terdengar Bevan di seberang ruangan. "Tapi kita tidak benar-benar bekerja. Kita cuma bikin angkanya kelihatan bekerja. Sementara. Untuk beli waktu."
Dan kerumunan itu, kumpulan veteran penghindar kerja yang paling malas di seluruh PT Sentosa Abadi Nusantara, condong mendekat dengan semangat yang belum pernah mereka tunjukkan untuk pekerjaan apa pun, untuk mendengarkan rencana pertama mereka.