Rencananya sederhana, murah, dan, sebagaimana semua rencana terbaik Wisnu, tidak benar-benar melanggar hukum apa pun, hanya membengkokkan kebenaran sampai bentuknya tidak lagi dikenali.
Mereka menyebutnya, dalam grup WhatsApp baru yang Wisnu buat dengan nama netral "Koordinasi Operasional" untuk menghindari kecurigaan, sebagai operasi. Tidak ada yang mengusulkan nama itu secara resmi, tapi Yanto mulai menyebutnya begitu dan nama itu menempel. Operasi terdiri dari tiga lini, masing-masing memanfaatkan keahlian terpendam yang selama ini disia-siakan oleh orang-orang yang terlalu malas untuk menyadari bahwa kemalasan mereka adalah bentuk kecerdasan yang salah arah.
Lini pertama: klien lama. Wisnu menggali arsip — secara harfiah menggali, karena arsip Rawa Belong tersimpan dalam dus-dus di gudang yang atapnya bocor — dan menemukan daftar klien yang pernah aktif bertahun-tahun lalu, lalu menghilang karena tidak ada yang repot menelepon mereka. Tugas menelepon diberikan kepada Bu Sari, bukan karena ia ramah, tapi justru karena ia tidak, dan ada klien-klien lama tertentu yang lebih percaya pada suara galak yang familiar daripada keramahan asing. "Pak Broto!" teriak Bu Sari ke telepon, dengan nada yang membuat seisi kantor merinding tapi membuat Pak Broto di ujung sana tertawa haru. "Ini Sari! Iya, Sari yang dulu! Bapak ke mana saja, sudah saya kira meninggal!" Entah bagaimana, dengan logika hubungan manusia yang tidak masuk dashboard mana pun, Pak Broto memesan satu pengiriman, kecil, tapi nyata, dan kolom "klien aktif" di papan bertambah satu.
Lini kedua, dipimpin Wisnu sendiri, lebih halus dan lebih licik: laporan. Bukan memalsukan angka — di sinilah Wisnu menarik garis pertamanya, garis yang ia tegaskan ke seluruh tim dengan ketegasan yang mengejutkan mereka. "Kita tidak menulis transaksi yang tidak ada," katanya. "Itu bukan akal-akalan, itu kebohongan murni, dan itu bisa kena pidana. Yang kita lakukan adalah membuat yang nyata terlihat maksimal." Maka mereka tidak mengarang penjualan. Mereka hanya menyatukan tiga pengiriman kecil yang dulu dilaporkan terpisah menjadi satu "proyek" yang terdengar besar. Mereka menghidupkan kembali tiga klien yang dua tahun tidak membayar, bukan dengan memalsukan pembayaran, tapi dengan benar-benar menelepon dan menagih, dan ternyata salah satunya, sebuah toko kelontong, lupa kalau punya tagihan dan langsung membayar dengan malu. Angka di dashboard naik, tipis, tapi setiap angkanya, Wisnu memastikan, punya akar di kenyataan, betapapun kecilnya.
Lini ketiga adalah yang paling berbahaya, dan itu wilayah Yanto: survei kepuasan pelanggan. Bevan, dengan semangat OKR-nya, telah menyebar tautan survei ke seluruh klien, dan hasil pertamanya, seperti diduga, mengerikan. Yanto mengusulkan solusi yang membuat Wisnu langsung menggeleng: meminta keponakannya, teman-teman arisan istrinya, dan sopir angkot langganan untuk mengisi survei dengan nilai sempurna. "Tidak," kata Wisnu tegas. "Itu menipu data yang dibaca pusat untuk keputusan nyata. Itu garis yang tidak kita lewati." Tapi kemudian Hesti mengusulkan versi yang lebih bisa diterima: mereka menelepon klien-klien nyata yang memang puas tapi tidak pernah repot mengisi survei, dan mengingatkan mereka untuk mengisinya. "Kita tidak mengarang kepuasan," kata Hesti. "Kita cuma membangunkan kepuasan yang sudah ada tapi diam." Garis itu cukup tipis untuk membuat semua orang tidak nyaman, tapi cukup nyata untuk mereka lewati. Skor naik dari satu koma sembilan menjadi tiga koma dua, dan untuk pertama kalinya angka di dashboard Bevan berwarna kuning, bukan merah.
Yang menarik, dan yang membuat Wisnu diam-diam mengamati dengan rasa yang tidak ia kenali, adalah apa yang terjadi pada orang-orang itu selama operasi berlangsung. Bu Sari, yang seumur hidup mengeluh, mulai datang lebih pagi, bukan karena disuruh, tapi karena Pak Broto menjanjikan akan menelepon balik dan ia tidak mau ketinggalan. Hesti, yang biasanya menghitung kerugian setiap usaha, mulai tersenyum saat tagihan lama akhirnya dibayar. Bahkan Reza, anak IT yang tidur dengan mata terbuka, suatu sore benar-benar bangun dan, tanpa diminta, membuat sebuah formulir survei daring yang otomatis menghitung skor, karena ia bosan menghitung manual, dan kebosanan, Wisnu menyadari, kadang adalah ibu dari produktivitas.
Mereka tidak menyadarinya, tapi Wisnu menyadarinya: dalam upaya mereka untuk pura-pura sibuk, mereka secara tidak sengaja mulai sedikit benar-benar sibuk. Dan ada sesuatu yang menular dalam itu, sesuatu yang membuat kantor berkarpet kusam itu, untuk pertama kalinya dalam ingatan, terasa hidup.
Nyaris saja semua mulus, sampai Bevan, pada sore Jumat, berdiri di depan dashboard yang angkanya menguning dengan ekspresi gembira yang nyaris menyakitkan, dan berkata keras-keras ke seluruh ruangan, "Lihat! Saya tahu kalian bisa! Tiga klien tidur aktif kembali, skor naik delapan puluh persen! Saya mau analisis pola kemenangan ini, supaya kita bisa replikasi."
Kata replikasi membuat seisi ruangan membeku. Karena pola kemenangan mereka, kalau dianalisis terlalu dekat, akan terlihat bahwa sebagian besarnya adalah pengulangan klien yang sama, penyatuan laporan yang dibesarkan, dan telepon-telepon nostalgia yang tidak bisa diukur. Bevan menarik kursi, membuka laptopnya, dan mulai menelusuri data transaksi per transaksi dengan kegigihan seorang anak muda yang ingin membuktikan teorinya — dan Wisnu, dari seberang ruangan, melihat kursor Bevan bergerak perlahan menuju sel di mana tiga pengiriman kecil itu disatukan menjadi satu proyek besar, dan merasakan bom waktu pertama mereka mulai berdetak.