Namanya Galih, sembilan belas tahun, mahasiswa semester lima yang magang di Rawa Belong karena kampusnya mewajibkan dan karena kantor lain yang ia lamar menolaknya. Ia datang setiap hari pukul tujuh tepat dengan kemeja yang disetrika sendiri, membawa buku catatan yang penuh, dan punya satu sifat yang di kantor ini setara dengan penyakit menular: ia ingin berprestasi.
Galih telah menghabiskan dua minggu pertamanya dalam keadaan bingung yang tulus. Ia tidak mengerti kenapa orang-orang dewasa di sekelilingnya begitu sibuk terlihat sibuk. Ia mencatat di buku hariannya — yang ia kira pribadi tapi sebenarnya sudah dibaca diam-diam oleh Yanto yang penasaran — pengamatan seperti: "Pak Wisnu sering ke toilet membawa map kosong, durasi rata-rata 22 menit, tujuan tidak diketahui." Galih adalah seorang ilmuwan kecil di kebun binatang kemalasan, mencatat perilaku spesies-spesies di sekelilingnya dengan ketelitian yang menggemaskan sekaligus mengancam.
Dan ketika operasi pura-pura sibuk dimulai, Galih menyangka, dengan kepolosan yang nyaris suci, bahwa kantor akhirnya berubah menjadi tempat kerja yang sungguh-sungguh. Ia bersemangat. Ia ingin menjadi bagian darinya. Dan karena ia ingin berprestasi, ia memutuskan untuk membuktikan nilainya kepada satu-satunya orang di kantor yang menghargai prestasi: Bevan.
Wisnu mencium bahaya itu pada Senin pagi, ketika ia melihat Galih berjalan ke arah meja Bevan dengan buku catatan di tangan dan wajah penuh tekad anak baik yang akan melakukan hal yang sangat buruk dengan niat yang sangat baik.
"Pak Bevan," kata Galih, dan suaranya cukup keras hingga Wisnu, dari seberang, bisa mendengar setiap kata seperti palu jatuh. "Saya sudah menganalisis data transaksi. Saya pikir ada beberapa kejanggalan yang harus Bapak tahu, supaya laporannya akurat. Misalnya, tiga pengiriman ke Toko Berkah dilaporkan sebagai satu proyek besar, padahal nilainya kecil-kecil dan ke alamat berbeda. Lalu klien Pak Broto, kalau dicek, terakhir transaksi sebelum ini adalah tiga tahun lalu, jadi sebenarnya bukan—"
Wisnu bergerak lebih cepat dari yang ia kira tubuhnya masih bisa. Ia tidak berlari, karena berlari akan menarik perhatian, tapi ia menyeberangi ruangan dalam langkah panjang yang efisien, dan tiba di samping Galih tepat sebelum kalimat itu selesai.
"Galih!" katanya, dengan keceriaan palsu yang ia kerahkan dari cadangan terdalamnya. "Ini dia anak magang kebanggaan kita. Pak Bevan, anak ini cerdas sekali, sayang sekali kalau analisisnya cuma soal hal-hal kecil. Galih, saya butuh kamu. Sekarang. Ada proyek penting. Ayo."
Bevan, yang sudah mendongak dengan alis terangkat tertarik pada kata kejanggalan, hendak membuka mulut, tapi Wisnu sudah menggiring Galih menjauh dengan tangan di bahunya, sebuah genggaman yang ramah di permukaan tapi sebenarnya cengkeraman seorang penyelamat yang menarik orang dari rel kereta.
Ia membawa Galih ke gudang, tempat satu-satunya yang aman dari telinga, di antara dus-dus arsip dan tetesan air dari atap bocor. Dan di sana, untuk pertama kali dalam sepuluh tahun, Wisnu Aryasatya melakukan sesuatu yang ia hindari mati-matian sepanjang hidupnya: ia menjelaskan.
"Kamu pikir kamu sedang membantu," kata Wisnu, dan nadanya tidak marah, yang justru membuat Galih lebih waspada. "Dan secara teknis kamu benar. Semua yang kamu catat itu benar. Tapi kamu tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Bevan menulisnya di laporan ke pusat."
"Tapi kalau datanya tidak akurat, bukankah lebih baik diperbaiki? Supaya jujur?" Galih bertanya, dan pertanyaannya begitu murni hingga Wisnu sesaat kehilangan kata-kata, karena anak ini sedang menyodorkan cermin ke wajahnya.
Wisnu duduk di atas dus, menatap tetesan air yang jatuh ritmis ke ember karat. "Jujur itu mewah, Galih. Orang yang punya pilihan baru bisa mewah. Lihat orang-orang di luar itu. Bu Sari, lima puluh empat tahun, suaminya sakit, kalau cabang ditutup dia dipindah ke gudang Cikarang dan tidak akan kuat angkat dus. Pak Daliman, sebentar lagi pensiun, kalau cabang dilebur catatannya rusak dan pensiunnya dipotong. Hesti, dua anak masih sekolah. Reza, satu-satunya yang menampung dia setelah dia DO dari tiga kampus. Yanto, yang tidak punya keahlian apa pun selain gosip. Mereka semua bukan penjahat. Mereka cuma orang yang kalau jatuh, tidak ada yang menangkap."
Galih diam, dan Wisnu melihat sesuatu bergeser di wajah anak itu, kebingungan moral pertama dalam hidupnya yang sampai sekarang hitam-putih.
"Tapi kita juga tidak menipu siapa-siapa yang dirugikan," lanjut Wisnu, dan ia menyadari ia tidak hanya meyakinkan Galih, ia sedang meyakinkan dirinya sendiri, mempertegas garis yang sudah ia tarik. "Kita tidak mengarang transaksi palsu. Kita tidak merugikan klien. Kita tidak menjatuhkan cabang lain demi selamat. Yang kita lakukan cuma membeli waktu, supaya orang-orang ini punya kesempatan untuk benar-benar memperbaiki diri sebelum dijatuhkan oleh angka yang mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk memenuhi. Itu garisnya. Kalau aku menyuruhmu memalsukan sesuatu yang merugikan orang lemah, kamu boleh menolakku. Tapi ini bukan itu."
Galih menelan ludah. "Lalu saya harus bagaimana?"
"Kamu mau berprestasi?" Wisnu menatapnya. "Prestasi terbesarmu di kantor ini bukan menemukan kesalahan orang-orang yang akan kehilangan pekerjaan. Prestasi terbesarmu adalah membantu mereka bertahan cukup lama untuk berubah. Kamu pintar, Galih. Pakai kepintaranmu untuk membangun, bukan membongkar. Reza butuh bantuan bikin sistem survei. Aku butuh orang yang teliti untuk merapikan arsip klien lama. Itu prestasi nyata. Dan itu jujur."
Untuk waktu yang lama, Galih tidak berkata apa-apa. Lalu, perlahan, ia menutup buku catatannya. "Saya tidak akan ke Pak Bevan," katanya akhirnya, pelan. "Tapi Pak Wisnu, kalau suatu hari garis itu kita lewati, kalau kita benar-benar mulai menipu orang yang tidak salah, saya akan mundur. Saya tidak mau jadi bagian dari itu."
Wisnu menatapnya, dan untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang menyerupai rasa hormat pada anak sembilan belas tahun ini. "Setuju," katanya. "Kalau kita melewati garis itu, kamu boleh menyeret kami semua kembali."
Mereka keluar dari gudang, dan ketika mereka melewati ruangan, Wisnu menyadari bahwa Galih, tanpa sengaja, baru saja menjadi sesuatu yang lebih dari magang. Ia menjadi penjaga garis. Dan Wisnu, yang seumur hidup tidak pernah memimpin siapa pun, menyadari dengan ngeri yang halus bahwa ia baru saja, untuk pertama kalinya, menyatukan seseorang ke dalam kelompok dengan kata-kata, bukan dengan menghindar. Seseorang telah melihat siapa dirinya yang sebenarnya: bukan raja menghilang, tapi simpul yang mengikat. Dan ia tidak yakin bagaimana perasaannya tentang itu.