Tiga malam kemudian, bulan menjadi penuh, dan tubuh Jraka berhenti menjadi miliknya.
Demamnya mulai sore hari, naik pelan seperti air pasang. Pada awalnya ia kira itu infeksi dari luka, dan ia menelan dua tablet parasetamol dan berbaring di ranjang pos ranger terbengkalai tempat ia bermalam—pos lama tempat ia menyimpan peralatan, jauh dari kamp, jauh dari orang. Pos itu hanya papan lapuk dan satu lampu petromaks, tapi ia menyukainya karena sepi. Malam ini ia bersyukur atas kesepian itu untuk alasan yang belum ia mengerti.
Lalu indranya mulai meledak.
Mula-mula bau. Petromaks tiba-tiba membakar hidungnya, minyak tanah dan jelaga jadi sesuatu yang nyaris padat. Lalu ia mencium dirinya sendiri—keringat, darah lama di perban, dan di bawahnya, samar, bau manis-salah yang sama dengan di rawa, dan ia menyadari dengan ngeri bahwa bau itu keluar dari kulitnya sendiri. Ia mencium tanah di luar, basah, dan tikus di kolong papan, dan jejak rusa yang lewat sore tadi seratus meter jauhnya, sejelas garis yang dilukis.
Lalu pendengaran. Suara serangga jadi gergaji. Detak jantungnya sendiri jadi gendang. Ia bisa mendengar lampu petromaks mendesis dalam frekuensi yang membuat giginya ngilu, dan ia mematikannya, dan dalam gelap pendengaran malah makin tajam sampai menyakitkan.
Dan rasa lapar.
Ia membuka kaleng kornet dengan tangan gemetar dan memuntahkannya kembali; daging matang terasa seperti abu. Tapi di sudut ruangan ada potongan ayam mentah yang ia beli untuk besok, masih di kantong plastik, dan baunya—Jraka membekap mulutnya. Air liurnya banjir. Otaknya berteriak menjijikkan dan tubuhnya berteriak sekarang, dan kedua suara itu adalah suaranya, dan ia tidak tahu mana yang dirinya.
Ketika bulan naik cukup tinggi untuk menerobos celah papan dan jatuh ke kulitnya—garis cahaya dingin pucat melintang di lengannya—tubuhnya menyentak seolah disengat listrik.
Nanti, jauh nanti, ia akan tahu aturannya. Bahwa cahaya saja tidak cukup. Bahwa siang itu di rawa, di bawah matahari, ia tidak berubah—karena cahaya matahari salah jenisnya, terlalu lebar, terlalu hangat. Bahwa bahkan cahaya bulan saja tidak cukup, kalau tubuhnya tenang. Tapi malam ini cahaya yang tepat bertemu demam yang membakar dan rasa sakit luka dan teror yang memompa jantungnya, dan ketiganya mengunci seperti kunci yang masuk ke gembok, dan gembok itu terbuka.
Rasa sakitnya tak ada bandingannya. Bukan sakit seperti patah tulang—ia tahu patah tulang. Ini sakit tumbuh, ribuan tulang dipaksa memanjang dan menebal dalam hitungan menit, sendi-sendi yang dirobek dan disusun ulang. Ia mendengar dirinya sendiri menggeram, lalu meraung, lalu suaranya berubah jadi sesuatu yang bukan lagi suara manusia. Tulang belakangnya melengkung. Tangannya—ia melihat tangannya, di garis cahaya bulan, jari-jari memanjang, kuku menghitam dan mengeras dan mendorong keluar menjadi sesuatu yang lebih dari kuku, dan kulit punggung tangannya menumbuhkan rambut basah.
Ia mencoba berdoa dan lupa kata-katanya. Ia mencoba mengingat namanya dan untuk satu detik mengerikan, ia tidak bisa.
Lalu ingatannya mulai pecah jadi keping-keping. Bukan hilang seketika; lebih seperti melihat melalui air yang makin keruh. Ia ingat berguling dari ranjang, papan lantai retak di bawah berat yang baru. Ia ingat menabrak pintu dan pintu itu lepas dari engselnya seperti kertas. Ia ingat udara malam, dingin di lidah yang menjulur, dan dunia yang tiba-tiba terbaca seluruhnya lewat hidung—setiap makhluk hidup dalam radius ratusan meter adalah titik cahaya berbau, dan ia lapar, dan ia takut, dan kedua hal itu jadi satu hal.
Dan kemudian, untuk waktu yang ia tak bisa ukur, tidak ada Jraka sama sekali. Hanya ada hutan, dan perburuan, dan tubuh yang tahu apa yang diinginkannya tanpa perlu kata.
Jauh di dalam, di tempat yang nyaris padam, sesuatu yang masih Jraka berpegang erat pada satu hal—satu paku yang ia tancapkan ke dirinya sebelum ingatannya tenggelam. Jangan ke kamp. Jangan ke arah orang. Ia tidak tahu apakah paku itu akan bertahan. Ia tidak tahu apa-apa lagi. Cahaya bulan menyapu di antara batang-batang pohon gundul, dan sesuatu yang dulunya mantan ranger pelacak berlari masuk ke dalam gelap dengan empat kaki yang baru, meninggalkan pos ranger yang pintunya menganga dan ranjang yang dingin, membawa pertanyaan yang tak akan terjawab sampai matahari terbit: apa yang dilakukan tubuh ketika orang yang menghuninya pergi.