Jraka terbangun dengan wajah di tanah dan pipi menempel pada daun busuk, dan hal pertama yang ia rasakan adalah dingin yang menusuk sampai tulang karena ia telanjang.
Matahari baru saja naik, abu-abu pucat lewat kabut. Ia tergeletak di lereng yang tidak ia kenali, di antara akar-akar pohon ara besar, jauh dari mana pun yang bisa ia tunjuk di peta dalam kepalanya—dan kepala Jraka punya peta yang sangat baik. Itu yang paling membuatnya takut. Selama delapan tahun ia tidak pernah tersesat. Sekarang ia tidak tahu di mana ia, dan bagian terakhir yang ia ingat adalah cahaya bulan jatuh ke lengannya di pos ranger, dan setelah itu—tidak ada apa-apa. Lubang hitam selebar separuh malam.
Ia berusaha duduk dan tubuhnya berteriak protes. Setiap otot terasa seperti habis diperas. Ketika ia menunduk, ia melihat tulang rusuknya menonjol di bawah kulit dengan cara yang salah; ia menyentuh perutnya dan merasakan cekungan yang tiga hari lalu tidak ada. Ia telah kehilangan berat badan—banyak, terlalu banyak untuk satu malam, seolah tubuhnya membakar dirinya sendiri jadi bahan bakar. Tangannya gemetar karena gula darah yang anjlok. Bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi. Ia merasa, secara fisik, seperti orang yang baru selesai lari maraton dan demam tifus sekaligus.
Dan ada darah di tangannya.
Ia membeku menatapnya. Darah kering, cokelat gelap, di bawah kuku-kukunya yang—ia memeriksa—kuku-kukunya yang normal, kuku manusia, sedikit retak. Darah di lengan bawahnya. Darah di sekitar mulutnya; ia merasakannya ketika menyeka dengan punggung tangan, kerak yang mengelupas. Ia mengendus jarinya sebelum sempat memutuskan untuk tidak, dan hidungnya—masih lebih tajam dari sebelumnya, walau tidak segila semalam—memberitahunya dengan kepastian dingin bahwa darah itu bukan miliknya.
Jraka muntah, tapi perutnya kosong, jadi yang keluar hanya cairan pahit dan kejang yang menyakitkan.
Ia membersihkan diri di anak sungai terdekat, air dingin membuatnya menggigil hebat, menggosok kulitnya sampai merah untuk menghilangkan darah dan bau dan rasa yang tak bisa dihilangkan. Lalu ia mengikuti jejaknya sendiri kembali—dan ini keahliannya, satu-satunya hal yang masih ia kuasai, membaca jejak; ironi yang nyaris membuatnya tertawa kalau tidak terlalu mengerikan. Ia melacak langkahnya sendiri mundur melewati semalam. Empat kaki, lalu di satu titik dua kaki, lalu empat lagi. Sejauh berkilo-kilometer. Tubuhnya telah berlari sepanjang malam.
Dan di tengah jalan, dekat batas luar kamp logging, ia menemukan apa yang dilakukan tubuhnya.
Seekor anjing kamp—anjing penjaga cokelat yang biasa menggonggong padanya—terbaring di antara semak, dadanya terbuka. Tidak dimakan rapi seperti korban di rawa. Ini berbeda. Ini berantakan, koyak, kemarahan tanpa lapar, seperti sesuatu yang membunuh bukan untuk makan tapi karena tidak tahu cara lain berhadapan dengan dunia. Lalat sudah berdatangan. Jejak di sekitarnya hanya satu pasang: empat kaki, telapak panjang berjari lima dengan lubang cakar di ujung. Telapak yang sama dengan yang ia foto di rawa di malam pertama. Telapak yang sekarang ia tahu adalah miliknya.
Jraka duduk di tanah di samping anjing mati itu untuk waktu yang lama.
Ia memikirkan paku yang ia tancapkan ke dirinya semalam—jangan ke arah orang—dan menyadari bahwa, entah bagaimana, paku itu bertahan. Anjing ini di batas luar kamp, bukan di dalam. Tidak ada manusia yang terluka. Ia tidak tahu apakah itu sisa kehendaknya atau hanya kebetulan, dan ketidaktahuan itu lebih menakutkan daripada jawaban mana pun. Karena kalau itu kebetulan, maka bulan depan, dan bulan depannya lagi, tidak ada yang menjamin keberuntungan yang sama. Karena akan ada bulan depan. Itu satu hal yang kini ia yakini sepenuhnya. Ini bukan keberuntungan, bukan demam biasa, bukan hal yang akan hilang kalau ia mengabaikannya cukup keras.
Ia mengubur anjing itu dengan tangannya sendiri, di tanah gembur, supaya tidak ada yang menemukan dan bertanya. Ia mengubur bukti dari kejahatan yang ia lakukan tanpa mengingatnya, dan dalam melakukan itu ia menyeberangi garis dari korban menjadi sesuatu yang menyembunyikan diri.
Ketika ia akhirnya kembali ke pos ranger, pintu masih lepas dari engselnya, ranjang dingin, kornet tumpah dan basi. Ada pesan dari Hartono di HT, sudah berjam-jam lalu, suaranya cemas: "Jraka, lo di mana. Jawab. Anak yang kita selamatin kabur dari klinik semalam. Hilang. Jraka, jawab."
Jraka menatap HT itu lama. Anak demam itu—anak yang meracau maaf, maaf, aku nggak sengaja—kabur di malam yang sama tubuh Jraka berlari liar. Sebuah benang menarik di pinggir kesadarannya, sebuah hubungan yang belum berani ia tarik sampai ujung. Ia menekan tombol bicara, dan dengan suara yang ia paksa terdengar normal, ia berbohong untuk kedua kalinya. "Saya di pos. Ketiduran, HT mati. Anak itu biar saya cari. Saya yang paling bisa baca jejak."
Ia melepas jarinya dari tombol, dan dalam sunyi pos yang berbau dirinya sendiri yang asing, Jraka mulai, untuk pertama kalinya, menghitung. Bukan jejak. Hari. Berapa hari sampai bulan penuh berikutnya.