Inai menemukannya, bukan sebaliknya, dan itu sendiri sudah cukup membuat Jraka waspada. Tidak ada yang menemukan Jraka di hutan kalau Jraka tidak ingin ditemukan.
Ia sedang memeriksa perangkap rusa lama di lereng utara, mencari jejak anak yang kabur dari klinik, ketika ia mencium asap kemenyan dan tembakau kawung dan sesuatu herbal yang pahit. Lalu suara perempuan tua, tenang, dari balik semak di belakangnya, di tempat yang seharusnya tak bisa didekati siapa pun tanpa ia dengar.
"Kamu bau seperti anakku," kata suara itu. "Sebelum dia mati."
Jraka berbalik dengan parang setengah terangkat. Perempuan itu duduk di atas akar, kecil dan kering seperti ranting, kulit cokelat berkerut, rambut putih diikat kain. Di pangkuannya keranjang rotan penuh akar dan daun. Ia tidak takut pada parang. Ia menatap Jraka dengan mata yang keruh oleh usia tapi tajam oleh sesuatu yang lain, dan Jraka merasa, tidak nyaman, bahwa perempuan ini sedang membaca dirinya seperti ia membaca jejak.
"Ibu siapa?" tanya Jraka.
"Orang panggil aku Inai. Aku ramu obat. Tinggal di hulu." Ia mengendus, sungguh-sungguh mengendus, ke arah Jraka. "Sudah berapa kali kamu berubah?"
Jraka tidak menjawab. Tapi tubuhnya menjawab untuknya—ketegangan, tangan mengepal, dan Inai mengangguk pelan seakan itu jawaban yang cukup.
"Sekali," katanya, menebak. "Baru sekali. Matamu belum kosong. Belum kelaparan terus-terusan. Bagus. Berarti masih bisa diajari." Ia menepuk akar di sampingnya. "Duduk. Aku tua, leherku sakit kalau menengadah."
Jraka tidak duduk, tapi ia menurunkan parang. "Apa yang Ibu tahu soal ini?"
"Lebih dari yang ingin kutahu." Inai mengeluarkan kawung dan menyulutnya, tangannya yang berkerut bergetar sedikit. "Dengar baik-baik, Nak, karena aku tidak suka mengulang. Apa yang ada di dalammu itu bukan kutukan. Bukan setan. Dukun-dukun bodoh di kampung bilang itu jadi-jadian, harus dibakar kemenyan. Salah semua. Itu penyakit." Ia mengetuk lengannya sendiri, di tempat yang sama dengan luka gigit Jraka. "Masuk lewat gigitan. Lewat air liur. Bukan turunan, bukan keluarga terkutuk. Siapa pun yang digigit dan tidak mati, jadi seperti kamu. Aku sudah lihat ini lebih lama dari umurmu."
Jraka merasakan sesuatu melonggar di dadanya, sangat sedikit. Penyakit. Penyakit punya sebab. Penyakit punya aturan. Penyakit, mungkin, punya obat. "Kalau penyakit, ada penawarnya?"
Mata tua itu meredup. "Tidak. Bukan yang aku tahu. Yang aku tahu cuma cara hidup lebih lama dengannya. Dan caranya keras." Ia mengisap kawung. "Aturan pertama: jangan lawan bulan penuh, kamu akan kalah. Tapi kamu bisa atur tempat. Cari yang jauh dari orang. Rantai diri kalau perlu—rantai yang kuat, di tempat tertutup, supaya cahaya tidak kena dan tidak ada yang bisa kamu sakiti. Cahaya yang memanggilnya, Nak. Cahaya bulan yang benar, atau cahaya buatan tertentu yang lebih jahat dari bulan. Gabung dengan rasa takut, rasa sakit, darah yang naik—baru dia keluar. Kalau kamu tenang, kalau gelap, dia tidur. Tapi tenang itu susah waktu tubuhmu mau pecah."
Jraka menyimpan tiap kata seperti menyimpan koordinat. "Aturan kedua?"
"Aturan kedua, yang lebih penting." Inai memandangnya dengan kesungguhan yang membuat bulu kuduk Jraka berdiri. "Tiap kali kamu berubah, kamu bayar. Bukan jiwa—itu omong kosong dukun. Tubuh. Daging. Kamu lihat dirimu sekarang? Kurus. Lemah. Itu sehari berubah memakan berminggu makanmu. Tapi yang tidak hilang waktu kamu makan banyak—itu yang harus kamu takuti. Tulang yang patah pas kamu berubah, menyambung salah, makin lama makin bengkok. Demam yang membakar dalam. Sedikit-sedikit, tiap kali, tubuhmu menua lebih cepat dari yang seharusnya. Bukan langsung tua. Pelan. Seperti pisau yang kamu asah terus—tiap asah cuma ambil sedikit, tapi suatu hari pisaunya habis." Ia menatap tangan keriputnya sendiri. "Anakku berubah terlalu sering. Dia menolong orang. Anak baik. Umur dua puluh lima dia sudah seperti orang enam puluh. Jantungnya berhenti. Dia tidak mati ditembak, tidak mati dimakan. Dia aus, Nak. Habis dari dalam."
Keduanya diam. Di kejauhan, gergaji mesin meraung, menebang sesuatu yang sudah berdiri sebelum mereka berdua lahir.
"Kenapa Ibu cerita ini ke saya?" tanya Jraka akhirnya. "Ibu nggak kenal saya."
"Karena kamu masih punya pilihan, dan anakku tidak pernah kuberi tahu sebelum terlambat." Suara Inai retak sedikit, lalu kembali keras. "Dan karena kamu harus tahu kamu tidak sendiri, dan itu bukan kabar baik. Ada yang seperti kamu di hutan ini. Banyak. Sebagian memilih sembunyi, hidup pura-pura jadi orang biasa, menahan diri tidak berubah sampai darah mereka pahit oleh menahan. Sebagian lagi sudah lelah sembunyi, mau melawan, mau ambil hutan ini kembali dari mesin gergaji. Mereka saling benci hampir sama bencinya pada manusia." Ia menghela napas. "Tapi keduanya, sembunyi atau melawan, sama-sama diburu. Ada orang—orang biasa, pakai truk, pakai lampu, pakai jaring—yang berburu kita. Bukan karena takut. Karena untung. Taringmu ada harganya di pasar gelap, Nak. Kelenjarmu. Darahmu. Mereka memanen kita seperti memanen sarang walet." Ia berdiri, menyandang keranjang, tubuh kecilnya tegak meski tua. "Jadi sekarang kamu tahu. Bulan akan memanggilmu, hutanmu menyusut, kaummu terbelah, dan ada manusia yang menunggu kamu berubah supaya bisa menangkapmu. Selamat datang di garis batas."