Jraka tidak mempercayai Inai sepenuhnya sampai ia melihat sendiri lampu-lampu itu, sepuluh malam kemudian.
Ia sedang melacak di sepanjang jalan logging blok delapan—masih mencari anak yang kabur dari klinik, yang kini ia curigai lebih dari sekadar korban—ketika ia mendengar mesin diesel mendekat dan menyingkir ke balik tanggul tanah. Bukan truk kayu; ia tahu suara truk kayu. Ini lebih ringan, lebih banyak, sebuah konvoi: dua pikap dan satu truk boks, semua hitam, tanpa logo perusahaan kayu, plat ditutup lumpur dengan cara yang terlalu rapi untuk kebetulan.
Ia berbaring rata di balik tanggul, mengatur napasnya supaya tenang. Inai sudah mengajarinya bahwa tenang itu penting, bukan cuma untuk sembunyi, tapi karena panik bisa memicunya. Malam tidak berbulan; awan tebal. Itu, pikirnya, membuatnya aman.
Konvoi berhenti dua ratus meter darinya. Lalu lampu-lampu menyala.
Bukan lampu sorot biasa. Jraka pernah memakai senter taktis, lampu kerja, lampu kabut. Ini lain. Cahaya yang keluar punya warna yang salah—putih kebiruan dengan tepi ungu yang membuat matanya perih dan giginya, anehnya, ngilu. Dipasang di atas tripod, diarahkan menyapu hutan di kedua sisi jalan, perlahan, metodis, seperti orang menjaring ikan. Dan ketika berkas cahaya itu menyapu melewati tempat persembunyian Jraka—
Tubuhnya menyentak.
Ia merasakannya naik, gelombang panas dari dalam tulang, gatal di bawah kulit berubah jadi tarikan, dan untuk satu detik mengerikan rahangnya terasa ingin memanjang. Cahaya itu memanggilnya seperti bulan penuh, lebih buruk dari bulan, langsung dan tajam. Inai benar. Cahaya buatan yang lebih jahat dari bulan.
Tapi sesuatu yang lain juga benar, dan Jraka mempelajarinya saat itu juga, tergeletak di lumpur dengan tubuh yang bergetar di ambang: cahaya saja tidak cukup. Ia takut, ya, tapi ia mengenali ketakutan itu dan memegangnya, menarik napas panjang lewat hidung seperti yang Inai ajarkan, menekan jantungnya supaya turun. Tarikan itu memuncak—lalu, karena adrenalinnya tidak cukup tinggi, karena ia tidak terluka, karena ia memaksa dirinya tenang, tarikan itu surut. Berkas lampu lewat. Tubuhnya tetap tubuhnya. Ia berbaring di sana, berkeringat dingin, gemetar oleh usaha menahan, dan untuk pertama kalinya ia mengerti aturannya bukan sebagai cerita melainkan sebagai sesuatu yang ia rasakan di dagingnya: cahaya yang benar, ditambah darah yang naik. Kurang satu, gembok tidak terbuka. Pengetahuan itu, ia tahu, mungkin yang akan menjaganya tetap hidup.
Tapi tidak semua orang di hutan itu malam itu seberuntung Jraka dalam hal ketenangan.
Dari sisi seberang jalan, di mana berkas lampu menyapu lebih lama, terdengar jeritan—jeritan manusia, lalu pecah jadi raungan di tengah, persis seperti suara Jraka sendiri di malam pertamanya. Seseorang di sana tidak bisa menahan diri. Seseorang yang ketakutan, atau terjepit, atau terlalu muda untuk tahu cara memegang jantungnya sendiri. Jraka mengangkat kepala sedikit di atas tanggul dan melihat.
Di tepi hutan, dalam genangan cahaya biru-ungu, sosok itu sedang pecah. Ia melihat seorang remaja—ia bisa mengenali kemanusiaan yang baru saja ditinggalkan, pakaian yang robek dari tubuh yang membesar—berubah dalam siksaan, persis seperti dirinya, tapi dipaksa, dipancing keluar oleh lampu, lebih cepat dan lebih kejam karena tidak punya kesempatan menahan. Dan begitu transformasi mencapai puncaknya, begitu makhluk itu berdiri membungkuk dan bingung dan terang oleh cahaya yang menelanjanginya—orang-orang dari konvoi bergerak.
Mereka efisien dan tanpa suara. Bukan pemburu amatir. Mereka menembakkan sesuatu dari peluncur—bukan peluru, melainkan jaring berpemberat, terbang membuka di udara dan membungkus makhluk itu. Lalu kabel. Lalu galah panjang berujung lingkaran yang menjepit leher. Makhluk itu meraung dan meronta dan menyeret dua orang sekaligus, kekuatannya luar biasa, tapi mereka sudah pernah melakukan ini ratusan kali; mereka memberi ruang pada amarahnya sampai habis, lalu mengencangkan, lalu menyetrum. Dalam waktu yang menyakitkan untuk ditonton, makhluk yang baru saja seorang remaja itu terkapar di jalan logging, terbungkus jaring yang—Jraka melihat asap tipis naik di tempat jaring menyentuh kulit, dan mencium bau daging terbakar samar, dan tahu jaring itu dilapisi sesuatu yang membakar kaumnya.
Lalu salah satu pemburu mengangkat tangan, dan lampu-lampu dimatikan, dan dunia kembali gelap, dan Jraka, di balik tanggul, menyadari ia telah menahan napas begitu lama sampai dadanya sakit.
Ia harus pergi. Sekarang, sementara mereka sibuk mengangkut tangkapan. Ia bergerak mundur, perlahan, hati-hati, satu siku lalu satu lutut—dan tangannya menyentuh ranting kering yang patah dengan bunyi yang, di pendengaran barunya yang tajam, terdengar seperti tembakan.
Kepala-kepala di konvoi menoleh. Sebuah berkas lampu—lampu biasa kali ini, lampu senter—menyapu ke arah tanggul.
"Ada apa?" suara seseorang, datar, profesional.
Jraka membeku, wajah di lumpur, dan untuk waktu yang terasa sepanjang hidupnya ia menjadi bagian dari tanah. Cahaya senter merayap di atas tanggul, di atas rumput tepat di sebelah kepalanya, begitu dekat sampai ia bisa melihat butir-butir embun yang disinarinya. Jantungnya memukul. Naik. Naik. Dan ia sadar dengan ngeri bahwa kalau jantungnya naik terus, kalau adrenalin ini melewati ambang sementara—tidak ada bulan, ia mengingatkan dirinya, tidak ada lampu kalibrasi yang menyala sekarang, cuma senter biasa, cahaya salah, cahaya yang tidak memanggil. Aturannya berlaku untukku juga. Ia berpegang pada aturan itu seperti orang tenggelam berpegang pada akar. Tenang. Gelap. Cahaya salah. Kamu tetap manusia.
"Babi mungkin," kata suara lain. "Banyak babi di sini."
Senter itu padam. Mesin diesel menyala. Dan konvoi pergi membawa seorang remaja yang ditangkap untuk dipanen, meninggalkan Jraka sendirian dengan pengetahuan baru yang dingin: mereka nyata, mereka rapi, dan mereka tahu cara membuat kaumnya menyalakan diri mereka sendiri.