Jraka melacak konvoi itu sepanjang sisa malam dan sebagian besar siang berikutnya, karena melacak adalah satu hal yang masih ia kuasai sepenuhnya, dan karena ia tidak bisa melepaskan gambar remaja yang terbungkus jaring pembakar.
Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia cuma mengintai. Mengumpulkan informasi. Itu yang dilakukan ranger yang baik—amati, jangan bertindak gegabah. Tapi ia tahu, jauh di dalam, bahwa ia berbohong pada diri sendiri untuk ketiga kalinya, karena ia membawa parang dan ia sudah mulai menghitung sudut serangan, dan orang yang cuma mengintai tidak menghitung sudut serangan.
Konvoi berhenti di sebuah kamp penampungan kayu yang tidak terpakai, jauh di ujung jalan logging blok dua. Gudang seng, pagar kawat, dua truk boks. Jraka mengintai dari pohon di lereng dan menghitung: enam orang yang terlihat, mungkin dua lagi di dalam. Senjata. Lampu kalibrasi di tripod, dimatikan sekarang, menunggu malam. Dan di dalam salah satu truk boks, lewat celah, ia bisa melihat kandang. Di dalam kandang, meringkuk, sudah kembali ke wujud manusia dan menggigil—pucat, kurus mengerikan setelah transformasi paksa yang membakar tubuhnya—remaja yang ditangkap semalam. Tidak lebih dari tujuh belas tahun.
Jraka tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Pergi. Lapor—pada siapa? Polisi yang separuh dibayar perusahaan kayu? Cari bantuan dari kawanan yang Inai sebut, yang ia bahkan belum temukan? Apa pun yang masuk akal. Apa pun yang tidak melibatkan dirinya menyerang enam orang bersenjata sendirian.
Lalu ia memikirkan Wisnu, anak yang hanyut bertahun-tahun lalu, anak yang gagal ia tarik dari arus, dan utang yang tak pernah lunas. Lalu ia memikirkan remaja di kandang. Dan ia tahu ia tidak akan pergi.
Ia menunggu sampai gelap. Ia memilih posisi. Dan kemudian ia melakukan hal yang membuatnya merasa sakit hanya dengan memikirkannya—ia memicu dirinya sendiri.
Ia tidak punya bulan; awan masih tebal. Tapi ia tahu sekarang bahwa lampu mereka adalah cahaya yang benar. Jadi ketika seorang pemburu menyalakan tripod untuk menguji baterai, mengirim sapuan biru-ungu pertama melintasi kamp, Jraka tidak menahan diri. Ia melakukan kebalikannya. Ia melepaskan cengkeraman pada jantungnya, membiarkan ketakutan dan kemarahan naik, menggores telapak tangannya sendiri dengan parang sampai darah—darah yang naik, luka, Inai bilang, luka membuka pintu—dan ia melangkah ke dalam berkas cahaya itu dan membiarkan gembok terbuka.
Kali ini ia tetap memegang satu paku sampai detik terakhir: jangan korban, hanya pemburu. Lalu ingatannya pecah jadi air keruh, dan Jraka tenggelam, dan sesuatu yang lebih besar dan lebih marah naik ke permukaan.
Apa yang terjadi selama empat jam berikutnya, ia hanya tahu dari kepingan dan dari kerusakan yang ia temukan setelahnya. Ia ingat berat tubuhnya yang baru menabrak pagar kawat seperti kertas. Ia ingat jeritan. Ia ingat rasa lampu kalibrasi pecah di bawah cakarnya, dan kegelapan yang membuat para pemburu kehilangan keuntungan terbesar mereka. Ia ingat bau ketakutan manusia, yang ternyata sama dengan bau ketakutannya sendiri. Ia ingat menyeret pintu kandang sampai lepas, dan remaja yang terhuyung keluar, dan—samar, dari kedalaman yang nyaris padam—satu kilatan kesadaran yang menahannya supaya tidak menyakiti yang lemah itu juga.
Ia tidak ingat menang. Ia hanya ingat berhenti, akhirnya, ketika tidak ada lagi yang berdiri.
Jraka terbangun sebelum fajar, telanjang dan menggigil dan kosong sampai ke tulang, di lereng setengah kilometer dari kamp yang kini sunyi. Remaja itu ada di sampingnya, juga manusia lagi, juga menggigil, hidup. Dua truk boks pergi—sebagian pemburu kabur. Tapi tidak semua.
Dan ketika Jraka mencoba menopang dirinya untuk duduk, lengan kirinya tidak mau menahan beratnya. Ia menunduk, dan rasa dingin yang lebih buruk dari demam menjalar dalam dirinya.
Lengan kirinya—lengan yang dulu patah saat ia jatuh dari tebing waktu menyelamatkan pendaki tiga tahun lalu, yang sudah lama sembuh lurus—kini bengkok. Tulang yang menyatu salah, menonjol di tempat yang dulu rata, kulit di atasnya kencang dan ungu. Saat ia berubah dan tubuhnya menyusun ulang dirinya dalam siksaan, tulang lama itu patah kembali di garis lemah lamanya dan menyambung tergesa, miring. Ia menggerakkan jari dan jari itu menurut, tapi pergelangannya tidak bisa berputar penuh lagi. Sesuatu di dalam dirinya telah rusak secara permanen, dan tidak ada makan banyak yang akan memperbaikinya.
Ini yang dimaksud Inai. Bukan jiwa. Bukan tahun-tahun yang lenyap dalam angka besar yang dramatis. Sesuatu yang lebih kecil dan jauh lebih kejam: satu tulang yang takkan pernah lurus lagi, satu sendi yang takkan pernah berputar penuh, satu malam yang menua tubuhnya—bukan setahun, tapi terasa seperti sehari yang dijejalkan dengan keras dan tak bisa ditarik balik. Kalau ia berubah sepuluh kali lagi, akan ada sepuluh kerusakan kecil seperti ini, menumpuk, sampai ia jadi seperti anak Inai, aus dari dalam pada usia muda.
Remaja di sampingnya membuka mata, melihat wajah Jraka, dan mengenalinya. Suaranya serak. "Kamu," bisiknya. "Kamu yang di rawa. Yang aku—" Ia berhenti, ketakutan dan rasa bersalah bertarung di wajahnya yang pucat. "Aku Renjau. Aku harus bilang sesuatu. Aku harus bilang sesuatu sebelum yang lain ketemu kamu."
Tapi Jraka, kehabisan tenaga, menatap lengannya yang bengkok dan menghitung harga, dan untuk sesaat tidak mendengar apa pun selain detak jam pasir di dalam dirinya yang baru saja kehilangan sebutir lagi.