Renjau membawanya ke kawanan dengan cara yang sama hati-hatinya seperti orang membawa bahan peledak: pelan, sering berhenti, terus melirik ke belakang.
Butuh dua hari berjalan, dan dua hari itu Jraka belajar tentang Renjau. Anak itu sembilan belas tahun, bukan tujuh belas seperti dugaannya; tubuhnya kurus karena kawanan menahan diri tidak berubah, dan menahan diri, ternyata, juga punya harga—membuat tubuh sakit dengan caranya sendiri, demam pelan yang tak pernah benar-benar reda. Renjau banyak bicara saat gugup, dan ia gugup terus di dekat Jraka, dan beberapa kali ia mulai mengatakan sesuatu lalu menelannya kembali, dan Jraka—yang membaca orang seperti membaca jejak—tahu anak ini menyimpan sesuatu yang berat.
Kawanan itu menyebut diri mereka Akar. Mereka tidak tinggal di gua atau sarang seperti yang dibayangkan dongeng. Mereka tinggal di tempat yang paling tidak akan dicari siapa pun: di tengah-tengah manusia. Sebagian bekerja di kamp logging yang sama yang menggunduli hutan mereka—ironi yang pahit, menebang rumah sendiri demi upah untuk bertahan hidup. Sebagian jadi nelayan sungai, pedagang di pasar desa, sopir. Mereka membaur. Mereka berpura-pura. Dan tiap bulan penuh mereka menghilang satu per satu ke tempat-tempat tersembunyi yang sudah disiapkan—lubang berdinding tebal, gua dengan pintu besi, tempat di mana cahaya tidak masuk—dan merantai diri sampai pagi, menahan diri, membayar dengan demam dan tubuh yang menua pelan, demi satu hal: tidak terlihat.
Pemimpin mereka bernama Damar. Lelaki sekitar lima puluh tahun dengan tubuh yang dulu pasti kuat, kini ramping dan keras seperti akar tua, satu matanya buta putih. Ia menerima Jraka di sebuah pondok di tepi rawa, dengan tiga anggota kawanan berdiri di belakangnya, dan ia tidak ramah.
"Renjau bawa masalah pulang," kata Damar, suaranya rendah. "Lagi."
"Dia menyelamatkan aku," Renjau memprotes. "Dia hancurkan kamp pemburu. Dia—"
"Dia hancurkan kamp pemburu," Damar memotong, mata sehatnya tak lepas dari Jraka, "yang artinya pemburu sekarang tahu ada yang baru, kuat, dan tidak terkendali di hutan ini. Yang artinya mereka akan datang lebih banyak, lebih hati-hati, dan mencari. Kau pikir kau menolong?" Ia melangkah mendekati Jraka. "Aku sudah jaga kawanan ini dua puluh tahun dengan satu cara: tidak terlihat. Kita tidak melawan. Kita tidak menyerang. Kita menunduk dan kita bertahan, dan kita masih hidup justru karena kita tidak melakukan persis yang kau lakukan kemarin malam."
Jraka menahan tatapan itu. Ia mengerti logika Damar; itu logika seorang ranger juga, logika bertahan hidup. Jangan picu yang lebih besar darimu. "Mereka memanen kalian," kata Jraka pelan. "Aku lihat sendiri. Mereka pancing dengan lampu, mereka tangkap dengan jaring perak. Menunduk tidak akan menyelamatkan kalian dari itu. Mereka datang ke kalian."
"Dan menyerang akan mempercepatnya." Damar tidak meninggikan suara, dan itu membuatnya lebih meyakinkan. "Kau inang baru. Tidak ada garis di belakangmu, tidak ada yang mengajarimu sejak kecil. Kau tidak tahu apa yang sudah kami bayar untuk diam. Aku sudah menguburkan dua belas dari kami dalam dua puluh tahun. Beberapa karena pemburu. Sebagian besar karena keberanian seperti milikmu." Ia berbalik. "Kau boleh tinggal sampai sembuh. Lalu kau pergi. Kawanan ini tidak butuh inang yang membawa lampu sorot ke pintu kami."
Malam itu, di pondok terpisah, Inai datang—ternyata ia bagian dari kawanan ini juga, atau setidaknya berdiri di pinggirnya, peramu yang dipercaya untuk mengobati luka yang tak bisa dibawa ke klinik. Ia memeriksa lengan Jraka yang bengkok, menekan, dan wajahnya menggelap.
"Sudah," katanya. "Kau sudah mulai membayar. Lihat ini." Ia memegang lengan itu di cahaya pelita. "Tidak akan lurus lagi. Tiap kali kau berubah, akan ada satu lagi. Kau menolong anak itu, dan harganya satu tangan yang tidak akan pernah utuh." Ia menatap Jraka. "Damar tidak salah, kau tahu. Dia cuma lelah. Dia tidak selalu sekeras ini."
"Apa yang terjadi padanya?"
Inai diam lama. Lalu, pelan: "Anaknya. Dulu Akar tidak selalu sembunyi. Dulu mereka melawan, sekali, waktu pemburu pertama datang. Anak Damar memimpin perlawanan itu. Berubah berkali-kali dalam seminggu untuk melindungi yang lain." Ia menyentuh dadanya sendiri, di tempat jantung. "Kau tahu apa yang membunuhnya. Bukan pemburu. Tubuhnya sendiri, habis. Umur dua puluh tiga, terlihat seperti enam puluh, jantungnya berhenti di tangan ayahnya. Sejak itu Damar bersumpah: tidak ada lagi yang akan mati dengan cara itu di bawah pimpinannya. Tidak ada lagi yang berubah demi keberanian. Sembunyi, atau mati." Ia mengusap lengan Jraka yang bengkok dengan ramuan dingin. "Jadi kau lihat, dia melarangmu menyerang bukan karena pengecut. Karena dia sudah menggali kubur anaknya sendiri, dan dia melihat anaknya saat menatapmu."
Jraka berbaring dalam gelap setelah Inai pergi, lengannya berdenyut, dan ia memikirkan Damar yang menggali kubur anaknya, dan Inai yang menggali kubur anaknya, dan dirinya sendiri yang sudah membayar satu tulang untuk menyelamatkan satu remaja, dan ia mengerti untuk pertama kalinya bahwa di hutan ini, melindungi orang lain bukan kebajikan tanpa biaya. Itu transaksi. Dan mata uangnya adalah tubuhmu sendiri.
Di pintu pondok, sosok bergerak. Renjau, berdiri ragu di ambang, wajahnya tegang dalam cahaya bulan sabit. "Aku nggak bisa diam terus," bisiknya, suaranya nyaris pecah. "Aku harus bilang. Malam di rawa itu. Korban logging yang kamu cari, yang setengah dimakan—itu bukan aku, sumpah bukan aku. Tapi yang menggigit kamu..." Ia menelan ludah, air mata di matanya. "Itu aku. Aku yang baru pertama kali berubah malam itu, aku panik, aku nggak kenal kamu, aku cuma takut. Aku yang menularkan kamu. Semua ini—lenganmu, semuanya—gara-gara aku."