Jraka tidak menghukum Renjau atas pengakuannya, dan itu mengejutkan keduanya.
Ia duduk dalam gelap lama setelah anak itu selesai bicara, menunggu kemarahan yang seharusnya datang. Inang baru tanpa loyalitas, Damar menyebutnya. Tapi Jraka pernah menjadi orang yang gagal menarik rekan dari arus, dan ia tahu bagaimana rasanya membawa kesalahan yang tak disengaja seperti batu yang dijahit ke dalam tubuh. Renjau tidak memilih menulari siapa pun, sama seperti Jraka tidak memilih gagal menyelamatkan Wisnu. "Kamu sembilan belas dan ketakutan dan baru pertama kali berubah," akhirnya Jraka berkata. "Aku nggak akan tambah satu lagi orang yang menyalahkanmu seumur hidup. Cukup kamu yang menyalahkan dirimu sendiri." Ia melihat sesuatu lepas di bahu anak itu, beban yang dibawa berminggu-minggu. "Tapi sekarang kamu utang sama aku. Dan caranya bayar bukan minta maaf. Caranya bayar adalah hidup cukup lama buat jadi lebih dari ini."
Pagi itu seharusnya menjadi awal sesuatu yang lebih tenang. Sebaliknya, garis batas mulai berdarah.
Mereka datang dari arah barat, dari hutan yang sudah habis ditebang sampai jadi padang lumpur dan tunggul. Kawanan lain. Yang Inai sebut sebagai mereka yang lelah sembunyi. Mereka menyebut diri Taring Merah, dan mereka datang bukan untuk berunding.
Jraka mendengar mereka sebelum melihat—bukan dengan telinga, dengan hidung. Bau marah, bau lapar, bau kawanan yang wilayahnya sudah lenyap. Konsesi penebangan baru telah memakan habis hutan barat dalam enam bulan terakhir; di mana dulu ada rawa dan pohon ulin tua, kini ada jalan tanah dan tunggul dan truk. Taring Merah tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi atau berburu, jadi mereka melakukan satu-satunya hal yang tersisa: mengambil wilayah Akar.
Pemimpin mereka perempuan, namanya Suri, dan ia masih dalam wujud manusia ketika ia berhenti di tepi wilayah Akar dan berteriak. "Damar! Hutan kami habis! Sawit sampai ke sungai! Anak-anakku tidak punya tempat berubah yang aman lagi. Kami minta wilayah utaramu. Kalau tidak kalian beri, kami ambil."
Damar keluar menemuinya, dan di belakangnya kawanan Akar berkumpul, tegang. "Wilayah utara cuma cukup untuk kami," kata Damar. "Kalau kuberi pada kalian, kami yang tidak punya tempat. Pergilah, Suri. Carilah ke timur."
"Timur ada kota. Tidak ada hutan di timur, cuma manusia dan lampu." Suara Suri retak oleh keputusasaan yang Jraka kenali. "Kau menyuruhku membawa kawanan ke kematian. Kenapa nyawamu lebih berharga dari nyawaku?"
Dan di situlah, Jraka melihat, terletak inti dari segalanya yang busuk. Dua kawanan, sama-sama makhluk yang sama, sama-sama diburu, sama-sama dipaksa keluar dari rumah oleh gergaji yang sama—dan mereka saling menerkam leher untuk memperebutkan sisa-sisa yang ditinggalkan manusia. Bukan karena salah satu jahat. Karena hutan yang dulu cukup untuk semua kini terlalu kecil, dan ketakutan membuat semua orang lupa siapa musuh sebenarnya.
Perundingan pecah jadi pertikaian dalam hitungan menit. Seseorang dari Taring Merah—muda, panik, seperti Renjau di rawa dulu—kehilangan kendali pada ketakutannya, dan di bawah matahari sore yang condong, dengan darah yang naik dan amarah yang membakar, ia mulai berubah meski tanpa cahaya yang benar; transformasi yang setengah jadi, menyiksa, dipaksa oleh emosi murni sampai ke ambang. Itu cukup. Itu memicu yang lain. Dan tiba-tiba garis batas dipenuhi makhluk yang setengah dan utuh berubah, saling menerjang, dan suara yang keluar bukan suara binatang melainkan suara keputusasaan yang diberi taring.
Jraka menarik Renjau ke balik tumpukan kayu. "Jangan berubah," desisnya. "Apa pun yang terjadi. Kamu berubah, kamu bayar, dan ini bukan pertarungan yang sepadan dengan harga itu." Ia memegang lengan bengkoknya sendiri sebagai pengingat. Renjau, gemetar, menahan diri, dan Jraka melihat usaha mengerikan yang dibutuhkannya—keringat, gigi gemeletuk, kuku yang menghitam lalu memucat lagi saat anak itu menelan transformasinya kembali.
Dan kemudian Jraka melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku lebih dari pertarungan itu sendiri.
Di lereng jauh, di balik garis pohon yang masih berdiri, ada kilatan. Logam, lalu kaca. Lensa. Ia memicingkan mata dan melihat mereka—tidak ikut bertarung, tidak ketakutan, hanya menonton. Konvoi hitam. Pemburu. Mereka tidak menyerang. Mereka menunggu. Mereka membiarkan dua kawanan saling menghabiskan tenaga, saling melukai, saling memaksa berubah sampai lemah, dan Jraka mengerti dengan kejelasan yang memuakkan: bentrokan ini bukan kecelakaan yang dimanfaatkan pemburu. Bentrokan ini adalah panen yang sedang disiapkan. Yang menang akan kelelahan. Yang kalah akan terluka dan terbuka. Dan keduanya akan tetap berubah, terjebak dalam wujud yang paling mudah ditangkap, di tempat terbuka, di bawah langit yang sebentar lagi gelap.
Mereka tidak perlu memburu kaum yang berperang. Mereka cuma perlu menunggu peperangan selesai, lalu memungut.
"Damar!" Jraka berteriak, berlari ke tengah kekacauan, tidak peduli lagi pada wilayah atau garis atau siapa yang benar. "Suri! Berhenti! Lihat lereng timur—mereka di sana! Kalian saling bunuh dan pemburu cuma menunggu memanen sisanya!"
Untuk satu detik berharga, beberapa kepala berbalik. Suri, separuh berubah, mengikuti arah tunjuk Jraka, dan melihat kilatan lensa, dan Jraka melihat pengertian dingin menyebar di wajahnya yang setengah binatang. Damar juga melihat. Untuk satu detik, perang berhenti, dan ada kesempatan—kesempatan tipis—bahwa dua kawanan akan berbalik dari leher satu sama lain ke arah musuh yang sebenarnya.
Lalu, dari seluruh garis pohon di lereng timur, sekaligus, lampu-lampu menyala. Bukan satu tripod. Puluhan. Dinding cahaya biru-ungu yang membanjiri garis batas dari ujung ke ujung, dan Jraka merasakan gembok di dalam tubuhnya, dan tubuh setiap makhluk di lapangan itu, terbuka serentak.