Cahaya itu menelan segalanya.
Jraka pernah membaca, di pelatihan SAR dulu, tentang bagaimana ternak digiring ke tempat penyembelihan—dibuat panik terkendali, dipaksa bergerak ke arah yang sudah ditentukan oleh yang menggiring, percaya mereka lari dari bahaya padahal mereka lari ke dalamnya. Itu yang ia lihat sekarang, dalam skala mimpi buruk. Dinding lampu kalibrasi menyala dari lereng timur, lalu dari utara, lalu dari selatan, mengurung garis batas dalam kandang cahaya. Tidak ada bulan yang dibutuhkan. Pemburu membawa bulan mereka sendiri, dan menyalakannya semua sekaligus.
Dan setiap makhluk di lapangan itu berubah, atau menyelesaikan perubahan, dipaksa oleh cahaya yang benar bertemu adrenalin yang sudah memuncak dari pertempuran. Aturan yang Jraka pelajari dengan susah payah kini digunakan melawan mereka semua, sempurna dan kejam: cahaya, ditambah darah yang naik. Pemburu telah menyediakan cahaya. Pertikaian dua kawanan telah menyediakan darah. Tidak ada yang bisa menahan diri lagi. Bahkan Renjau, yang sudah berjuang begitu keras menahan diri di balik tumpukan kayu, akhirnya pecah dengan jeritan yang berubah jadi raungan di tengah, tubuhnya membesar, dan Jraka tidak bisa menahannya, karena Jraka sendiri sedang kalah.
Ia memegang jantungnya selama mungkin. Ia mencoba semua yang Inai ajarkan—napas, gelap yang tak ada, ketenangan yang mustahil. Tapi cahaya ini terlalu kuat dan ketakutan terlalu besar dan tubuhnya yang sudah dua kali berubah dalam sebulan ini telah belajar jalan keluarnya dengan terlalu baik. Gembok terbuka untuk ketiga kalinya, dan Jraka tenggelam ke dalam air keruh, memegang satu paku terakhir—lindungi yang lemah, jangan korban—sebelum dirinya hilang.
Apa yang menggantikannya bertarung. Ia tahu itu dari kepingan yang ia kumpulkan setelahnya, dan dari kehancuran di tubuhnya. Ia merobek satu jaring. Ia melempar satu pemburu ke pohon. Ia berdiri di antara Renjau yang kebingungan dan galah berujung jepit. Tapi para pemburu ini tidak datang untuk satu atau dua. Mereka datang untuk panen, dan mereka membawa jaring sebanyak ada tubuh untuk dijaring, dan tiap jaring dilapisi sesuatu yang membakar—perak dan asam—yang melemahkan kaumnya dengan tiap sentuhan.
Ketika empat jam Jraka habis—atau ketika tubuhnya terlalu terkuras untuk bertahan lebih lama, terbakar habis oleh transformasi paksa di atas perut kosong—ia jatuh kembali ke wujud manusia di tengah lapangan, telanjang dan menggigil dan lebih lemah dari yang pernah ia rasakan seumur hidup. Dunia kembali masuk lewat mata manusia, dan apa yang ia lihat adalah akhir dari segalanya.
Garis batas telah menjadi tempat panen. Kawanan Akar dan Taring Merah, yang sejam lalu saling menerkam, kini sama-sama terbungkus jaring, terkapar di lumpur yang berasap di tempat perak menyentuh kulit. Damar di sana, terjaring, satu matanya yang buta menatap langit. Suri di sana, masih meronta lemah. Renjau di sebelah Jraka, sudah manusia lagi, sudah terbungkus jaring sampai bahu, kulitnya melepuh di tempat jaring menempel, matanya mencari Jraka dengan ketakutan seorang anak. Dan Inai—Inai yang tidak berubah, Inai manusia tua yang seharusnya aman—diseret oleh dua pemburu karena ia tahu terlalu banyak, tangan terikat, wajahnya tenang dengan ketenangan orang yang sudah pernah kehilangan segalanya.
Jaring jatuh menutupi Jraka. Perak menyentuh kulitnya dan ia mendesis saat rasa terbakar itu menjalar, dingin dan panas sekaligus, melemahkan apa pun yang tersisa dalam dirinya. Ia tidak punya tenaga untuk melawan. Lengan kirinya yang bengkok tertekuk di bawahnya. Ia terkepung, di garis batas yang dibanjiri cahaya, bersama Renjau dan Inai dan dua kawanan yang kalah, dan jam pasir di dalam dirinya nyaris kosong.
Lampu-lampu kalibrasi mulai dipadamkan satu per satu, kini tugasnya selesai; tidak perlu lagi memicu yang sudah tertangkap. Dalam keremangan yang kembali, sosok-sosok pemburu bergerak di antara tubuh-tubuh terjaring dengan efisiensi yang dingin, memeriksa, menandai, menghitung hasil panen seperti mandor menghitung gelondong kayu.
Lalu satu sosok berjalan ke arah Jraka, terpisah dari yang lain, dan berhenti di hadapannya. Lebih tegak. Lebih tenang. Mengenakan helm termal dengan visor yang memantulkan sisa cahaya. Jraka menengadah dari lumpur, kehabisan tenaga untuk apa pun selain menatap, dan menyadari bahwa sosok ini tidak menatap tangkapan lain. Ia menatap Jraka. Seolah ia tahu siapa Jraka. Seolah ia mencari Jraka sejak awal.
Dan kemudian, dengan kedua tangan, ia membuka helmnya.
Jraka pernah membayangkan banyak hal di malam-malam tanpa tidur sejak rawa itu—pernah, di sudut pikirannya yang ia paksa diam, bertanya-tanya kenapa luka dada Hartono malam itu sembuh terlalu cepat, kenapa rekannya jadi makin pendiam dan makin sering menghilang berhari-hari hanya untuk muncul lagi lewat HT seolah tak terjadi apa-apa, kenapa firasatnya menolak percaya bahwa Hartono masih benar-benar orang yang sama. Jadi ketika visor terangkat dan wajah di baliknya muncul, yang Jraka rasakan bukan kejutan murni. Itu pengakuan atas sesuatu yang ia takuti dan tolak sejak lama.
Hartono. Hidup. Lebih kurus dari yang ia ingat, garis-garis baru di wajahnya, mata yang menua bertahun-tahun dalam hitungan bulan—mata yang Jraka kini kenali, karena ia melihat awal dari mata yang sama tiap kali ia bercermin. Hartono, rekan SAR-nya, orang yang menariknya dari arus, yang malam di rawa itu digigit di dada oleh hal yang sama yang membantai Tarmin—lalu menutupinya, terus bertugas, terus menjawab lewat HT, diam-diam berubah seperti Jraka sejak malam itu tanpa pernah mengatakannya pada siapa pun. Dan kini memimpin para pemburu yang memanen kaum mereka sendiri.
"Halo, Jraka," kata Hartono, suaranya lelah, hampir lembut, sama sekali tanpa kemenangan. Ia berlutut di lumpur sehingga matanya sejajar dengan mata Jraka, dan di tangannya ada sesuatu—sebuah botol kecil, cairan keruh. "Aku tahu kamu nggak akan ngerti. Belum." Ia menatap kaum yang terjaring di sekeliling mereka, lalu kembali ke Jraka, dan suaranya menurun jadi sesuatu yang nyaris pengakuan. "Tapi tubuh-tubuh ini membayar untuk satu-satunya hal yang bisa menghentikan semua ini. Termasuk untukmu. Termasuk untukku." Ia mengangkat botol kecil itu sedikit, agar Jraka melihatnya. "Kamu mau tahu kenapa aku berburu kaumku sendiri? Tanya dulu apa isi botol ini—dan berapa tubuh yang harus dipanen untuk membuat satu tetesnya."