Jraka tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak punya tenaga untuk menjawab apa pun. Perak di jaring terus menggerogoti kulitnya, dingin dan terbakar sekaligus, dan setiap kali ia bergerak rasa itu menjalar lebih dalam, melemahkan apa pun yang masih tersisa di ototnya. Lengan kirinya yang bengkok tertekuk di bawah dada, dan ia membiarkannya di sana karena meluruskannya butuh tenaga yang tak ia miliki.
Hartono mengamatinya lama, seperti dulu ia mengamati arus sebelum memutuskan kapan menyeberang. Lalu ia membuat isyarat kecil dengan dua jari, dan dua pemburu mengangkat sudut jaring dari wajah Jraka—cukup untuk membebaskan kepalanya, tidak lebih.
"Buka mulutmu," kata Hartono.
"Tidak."
"Jraka." Suaranya tetap lelah, tetap nyaris lembut, dan justru itu yang membuat Jraka takut. Hartono yang ia kenal selalu bicara begini sebelum melakukan sesuatu yang sulit—mengeluarkan duri, menjahit luka, menyampaikan kabar buruk. "Aku nggak meracunimu. Kalau aku mau kamu mati, kamu sudah jadi botol sejak tadi. Buka mulutmu."
Ia tidak membuka. Jadi Hartono melakukannya dengan tangannya sendiri—satu lutut menahan rahang, ibu jari menekan pipi di antara gigi, gerakan seorang yang pernah memberi minum paksa pada korban yang setengah sadar. Setetes cairan keruh jatuh ke lidah Jraka. Rasanya pahit dan logam dan ada sesuatu yang lain di bawahnya, sesuatu yang manis-salah, bau yang sama dengan luka di tubuh Tarmin, bau yang sama dengan kulitnya sendiri di malam pertama.
Lalu tarikan itu mereda.
Bukan pelan. Seketika. Gatal yang selalu ada di bawah kulitnya sejak rawa, gatal yang tak bisa digaruk, tempat sesuatu yang lain hidup dan menunggu—padam, seperti bara disiram. Demam halus yang tak pernah benar-benar pergi sejak ia terinfeksi turun. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, tubuh Jraka terasa hanya seperti tubuh. Hanya daging dan tulang dan lelah biasa. Tidak ada yang menunggu di dalamnya.
Ia terkesiap, dan kesiapan itu mengkhianatinya.
"Kamu merasakannya," kata Hartono. Tidak ada kemenangan dalam suaranya; hanya pengenalan, satu orang sakit pada orang sakit lain. "Empat jam. Mungkin lima, untuk dosis sebesar itu. Lima jam kamu nggak akan berubah meski aku nyalakan semua lampu di lapangan ini dan menggorok lenganmu. Lima jam kamu jadi manusia lagi, betul-betul manusia." Ia berdiri, menutup kembali botol kecil itu, menyimpannya ke saku dada dengan hati-hati seperti orang menyimpan sesuatu yang lebih berharga dari nyawanya. "Bayangkan kalau itu permanen. Bayangkan kamu nggak pernah harus takut bulan lagi."
Jraka menjilat sisa pahit di bibirnya. Otaknya, yang terbiasa membaca dan mengukur, bergerak bahkan ketika tubuhnya tak bisa. Cairan keruh. Bau yang sama dengan kaumnya. "Kamu s. uling itu dari kami," katanya pelan. Bukan pertanyaan.
"Dari kelenjar." Hartono mengatakannya tanpa berkedip, dan ketegasan itu lebih mengerikan dari kebohongan mana pun. "Di pangkal rahang, yang tumbuh waktu kita berubah. Itu yang bikin air liur menulari. Itu juga yang menahannya. Disuling, dipekatkan—satu kelenjar utuh jadi tujuh, delapan tetes. Tetes yang barusan kamu telan," ia menunduk menatap Jraka, dan untuk sesaat ada sesuatu yang retak di wajahnya, "itu sepertujuh dari seseorang."
Lapangan di sekeliling mereka sunyi sekarang. Lampu-lampu kalibrasi padam semua. Tubuh-tubuh kaumnya tergeletak terjaring di lumpur yang masih berasap, sebagian sudah kembali jadi manusia, sebagian masih meronta lemah. Damar dengan mata butanya menatap langit. Suri tak bergerak lagi. Dan Jraka menyadari, dengan kejernihan dingin yang naik dari perutnya, bahwa botol-botol yang akan dibuat dari malam ini sudah punya wajah. Wajah-wajah yang sejam lalu masih berdiri di garis batas, berdebat soal wilayah, masih hidup.
"Kenapa," kata Jraka. Suaranya serak. "Kamu salah satu dari kami. Aku lihat matamu. Kamu menua sama seperti aku. Kamu berburu kaummu sendiri."
Hartono diam lama. Di kejauhan, seekor burung malam memanggil, dan tidak ada yang menjawabnya.
"Kamu pikir aku iblis," akhirnya ia berkata, dan ia berjongkok lagi, lebih dekat, suaranya turun jadi sesuatu yang hanya untuk Jraka. "Itu lebih gampang, kan. Kalau aku iblis, kamu tahu harus apa. Tapi aku bukan iblis, Jraka. Aku cuma orang yang sudah menghitung. Wabah ini menyebar. Tiap inang baru menulari yang lain, dan tiap yang tertular berubah, dan tiap kali berubah dia membakar dirinya sampai aus dan mati muda—kamu sudah lihat lenganmu, kamu tahu ke mana ini menuju. Penawar ini satu-satunya yang menahannya. Satu-satunya. Dan untuk membuat penawar, harus ada yang dipanen." Ia menatap Jraka, mata tua di wajah yang dulu Jraka kira sudah mati di arus. "Jadi aku memilih. Sedikit dipanen, supaya banyak ditahan. Satu kejahatan, supaya kejahatan yang lebih besar—wabah yang membunuh kita semua pelan-pelan—bisa dibendung."
Dan di situlah Jraka mengerti, dan pengertian itu lebih buruk daripada kalau Hartono memang iblis murni.
Karena seorang iblis bisa dibenci dengan bersih. Iblis serakah, iblis kejam, iblis yang membunuh demi uang—itu musuh yang sederhana, dan Jraka tahu cara berhadapan dengan yang sederhana. Tapi Hartono bukan itu. Hartono adalah orang yang menatap kebenaran mengerikan yang sama dengan Jraka—wabah, harga tubuh, jam pasir di dalam mereka semua—dan menarik kesimpulan yang berbeda. Hartono adalah orang baik yang memutuskan bahwa demi menyelamatkan banyak, ia akan membantai sedikit, dan tidur dengan keputusan itu setiap malam karena ia yakin matematikanya benar. Itu bukan kegilaan. Itu jenis kewarasan tertentu, kewarasan dingin yang sudah menanggalkan segalanya kecuali hitungan, dan justru karena itu masuk akal, ia jauh lebih menakutkan.
"Berapa yang sudah kamu panen," tanya Jraka, "untuk yakin matematikamu benar?"
Hartono tidak menjawab. Ia berdiri, dan dalam gerakan berdiri itu Jraka melihat ia tua—bukan tua dalam tahun, tua dalam tulang, tua dengan cara yang sama yang mulai menggerogoti Jraka sendiri. Berapa kali Hartono sudah berubah untuk menjadi yang terbaik di antara pemburu? Berapa harga yang sudah ia bayar dari tubuhnya sendiri untuk memburu kaum yang membayar harga itu juga?
"Bawa mereka ke gudang," kata Hartono pada anak buahnya, dan suaranya kembali datar, profesional, suara komandan SAR yang memutuskan siapa diangkut lebih dulu. Lalu, lebih pelan, hanya pada Jraka: "Termasuk yang ini. Jangan disuling. Belum. Aku mau dia mengerti dulu."
Dan saat jaring dieratkan kembali dan tubuhnya diangkat dari lumpur, hal terakhir yang Jraka pikirkan sebelum perak dan kelelahan menariknya ke dalam gelap adalah ini: Hartono tidak menyimpannya untuk dijual. Hartono menyimpannya untuk diyakinkan. Dan itu, dengan caranya sendiri, adalah perangkap yang jauh lebih berbahaya daripada jaring mana pun.