Mereka membawanya dengan truk boks, dan Jraka menghitung sepanjang jalan karena menghitung adalah satu hal yang masih bisa ia lakukan dalam gelap.
Delapan menit di jalan logging berlubang, lambat. Lalu permukaan berubah—roda berhenti membentur lubang, mendengung di atas sesuatu yang lebih keras. Jalan yang dipadatkan, bukan beraspal. Tujuh belas menit. Lalu belokan tajam ke kiri, mesin meraung saat truk mendaki tanjakan pendek, lalu berhenti. Bau berubah: solar, seng panas, dan di bawahnya, samar dan dingin, bau perak dan asam yang sama dengan jaring. Bau ketakutan kaumnya yang sudah pernah ada di sini.
Gudang seng. Yang sama dengan kamp penampungan tempat ia menolong Renjau dulu, atau yang seperti itu. Mereka punya banyak.
Pintu boks terbuka dan cahaya lampu kerja menyilaukan matanya yang sudah terbiasa gelap. Tangan-tangan menyeretnya keluar, masih dalam jaring, dan ia melihat ke mana ia dibawa—bukan ke ruang penyulingan, bukan ke meja, tapi ke deretan kandang di sepanjang dinding gudang. Kandang besi, lantai semen, satu lampu kalibrasi tergantung mati di langit-langit tiap selnya seperti ancaman yang menunggu.
Mereka melempar Jraka ke sebuah sel, melepas jaring lewat celah jeruji, lalu mengunci. Di sel sebelahnya, Renjau—sudah manusia lagi, pucat, kulit melepuh di bahu tempat jaring menempel, tapi hidup. Anak itu menarik diri ke jeruji begitu melihat Jraka. "Kamu masih—mereka nggak—" Kata-katanya pecah jadi isakan yang ia tahan.
"Masih," kata Jraka. "Inai?"
"Di ujung." Renjau menunjuk dengan dagu. Di sel paling pojok, Inai duduk bersila di lantai semen, tangan masih terikat di depan, punggung tegak, mata terpejam seolah ia memilih untuk tidak ada di tempat ini. Tua, kecil, tenang. Satu-satunya di antara mereka yang bukan inang, ditahan bukan untuk dipanen tapi karena tahu terlalu banyak.
Jraka mencatat semuanya. Itu refleks; ia tidak bisa mematikannya bahkan dalam kandang. Lima sel terisi di sisinya. Lebih banyak di seberang. Ia mengenali sebagian wajah dari garis batas—anggota Akar, anggota Taring Merah, sekarang sama-sama terkurung, permusuhan kemarin terasa konyol di dalam besi yang sama.
Dan di dua sel di seberang, persis berhadapan, Damar dan Suri.
Keduanya sudah sadar. Damar duduk dengan punggung ke dinding, mata butanya yang putih dan mata sehatnya yang menatap lurus ke depan, ke arah Suri. Suri membalas tatapan itu dari selnya, dan di antara mereka mengalir kebencian yang begitu pekat sampai Jraka hampir bisa menciumnya—lebih kuat dari bau perak. Hutan kami habis, Suri pernah berteriak. Kenapa nyawamu lebih berharga dari nyawaku. Sekarang nyawa keduanya berharga sama: harga tujuh tetes per kelenjar di pasar yang sama.
"Kau," kata Damar pada Suri, suaranya parau. "Kalau bukan karena kau menyerang wilayahku, kami tidak akan ada di sini."
"Kalau bukan karena kau menolak berbagi," balas Suri, "kawananku tidak akan terjepit dan harus menyerang. Kita berdua menggali kubur ini bersama, Damar. Jangan sok bersih."
Mereka akan bertengkar sampai disuling, pikir Jraka. Bahkan di sini. Bahkan sekarang. Dan pemburu tahu itu—itu sebabnya kawanan diburu satu per satu alih-alih dilawan sekaligus. Selama yang diburu saling membenci, yang memburu tak perlu takut.
Ia duduk di lantai semen yang dingin, menyandarkan punggung, dan mulai melakukan satu-satunya hal yang ia kuasai sepenuhnya: membaca. Bukan jejak di lumpur. Ruang ini. Ia membaca ritmenya.
Lampu kerja di langit-langit gudang menyala terus, putih biasa—bukan kalibrasi, tidak memicu. Berarti aman selama itu yang menyala. Pintu besar di ujung, digeser, tidak diayun; perlu dua orang dan rantai katrol. Dinding seng—tipis, bisa ditembus oleh sesuatu yang berubah, tapi berisik. Lantai semen baru, retak di sudut tempat air masuk waktu hujan; di situ jaring yang digantung untuk mengeringkan tampak lebih kusam, mungkin lembap. Ia menyimpan itu. Inai pernah bilang sesuatu, dulu, soal jaring dan kering—ia akan menggalinya nanti.
Dua penjaga lewat. Ia menghitung langkah mereka, jeda di antara putaran. Mereka tidak waspada seperti pemburu di lapangan; ini orang upahan yang jaga gudang, bosan, salah satu main ponsel. Mereka takut pada tahanan dalam besi, tapi takut yang malas. Itu celah. Celah selalu ada di tempat orang merasa aman.
Lalu pintu samping terbuka dan Hartono masuk, tanpa helm sekarang, hanya jaket lapangan dan wajah lelah yang menua, dan ia berjalan langsung ke sel Jraka seolah tidak ada tahanan lain yang penting.
"Kamu menghitung," katanya. Bukan tuduhan. Hampir kagum. Ia berjongkok di depan jeruji, di luar jangkauan, ranger yang tahu persis sejauh mana lengan bisa menjangkau. "Langkah penjaga, lampu, pintu. Aku tahu kamu lagi cari celah. Aku akan kasih tahu satu hal supaya kamu nggak buang tenaga: nggak ada celah yang kamu pikir ada. Aku yang rancang tempat ini. Aku tahu cara orang sepertimu—sepertiku—berpikir."
"Lalu kenapa aku di sini dan bukan di meja sulingmu?"
Hartono memandangnya, dan untuk sekejap topeng lelah itu menipis, dan di baliknya Jraka melihat sesuatu yang ia tidak duga: kesepian. Kesepian seorang yang membuat keputusan mengerikan setiap hari dan tidak punya satu orang pun yang memahaminya. "Karena kamu satu-satunya yang bisa ngerti," kata Hartono pelan. "Yang lain di kandang ini cuma kaum—mereka benci aku, wajar. Tapi kamu, kamu dulu duduk di tim yang sama denganku. Kamu tahu rasanya menarik orang dari arus dan gagal. Kamu tahu rasanya menghitung siapa yang bisa diselamatkan dan siapa yang harus dilepas." Ia berdiri. "Aku nggak butuh kamu jadi botol, Jraka. Aku butuh kamu lihat yang aku lihat. Karena kalau kamu pun bilang aku salah—" Ia berhenti, dan tidak menyelesaikannya, dan dalam keheningan itu Jraka mendengar lebih banyak daripada kalau ia menyelesaikannya.
Hartono pergi. Renjau memandang Jraka lewat jeruji yang memisahkan sel mereka, ketakutan dan harapan bercampur. "Apa kita bisa keluar?" bisiknya.
Jraka menatap retakan lembap di sudut lantai, jaring kusam yang menggantung di sana, ritme penjaga yang malas, dan dirinya sendiri yang masih hidup justru karena Hartono ingin diyakinkan. Setiap potongan itu, sendiri, tidak berarti apa-apa. Tapi membaca bukan soal satu jejak. Membaca soal melihat ke mana semuanya menuju.
"Belum," katanya pada Renjau. "Tapi diam. Hitung sama aku. Penjaga, lampu, pintu. Tiap kali mereka lewat, kamu hitung jedanya." Ia menatap mata anak itu sampai ketakutan di sana berganti dengan sesuatu yang lebih berguna. "Senjata kita satu-satunya adalah mereka pikir kita cuma daging. Kita biarkan mereka pikir begitu. Sampai kita siap."