Tiga hari, Jraka menghitung, dan dalam tiga hari ia mempelajari kandang itu seperti dulu ia mempelajari medan sebelum operasi pencarian.
Patroli datang setiap empat puluh menit di siang, lebih jarang dan lebih malas di malam—satu putaran setiap satu jam, kadang lebih lama kalau yang jaga main kartu di pos depan. Mereka enam orang, bergiliran. Jraka memberi mereka nama dalam kepalanya berdasarkan kebiasaan: Pincang, yang kaki kanannya kaku dan tak pernah berdiri terlalu dekat jeruji; Batuk, yang merokok dan terus terbatuk; Muda, yang paling sering main ponsel dan paling takut menatap mata tahanan; dan tiga lagi yang lebih tua, lebih hati-hati, tapi tetap orang upahan.
Itu yang paling penting yang ia pelajari: mereka orang upahan. Ia menguping. Mereka bicara soal gaji yang telat, soal mandor, soal kapan giliran pulang ke kampung. Mereka tidak bicara soal penawar, soal wabah, soal apa yang sebenarnya mereka jaga. Mereka diberi tahu bahwa di kandang ini ada "barang berbahaya", makhluk yang harus dijaga sampai "diproses", dan mereka tidak bertanya lebih jauh karena bertanya tidak menambah gaji. Hartono menyimpan kebenaran penuh untuk dirinya sendiri. Orang-orang ini bahkan mungkin tidak tahu bahwa cairan keruh yang mereka angkut dalam peti dibuat dari tubuh yang mereka jaga.
Itu celah. Bukan celah pada besi. Celah pada orang.
Lampu kalibrasi di tiap sel terhubung ke panel di dinding, dan panel itu dikunci. Tapi Jraka memperhatikan: penjaga tidak pernah menyalakannya sembarangan. Mereka takut juga—takut memicu apa yang mereka jaga di ruang sempit bersama mereka. Lampu cuma dinyalakan kalau ada tahanan yang harus dipindahkan dalam wujud berubah, atau untuk "menenangkan" yang meronta dengan memaksa transformasi sampai kelelahan. Jadi selama tahanan diam, lampu mati. Diam adalah perlindungan. Jraka mengajarkan itu pada sel-sel di sekitarnya dengan tatapan dan isyarat kecil: jangan beri mereka alasan menyalakan lampu.
Dan jaring. Inai akhirnya menjawab pertanyaan yang ia simpan.
Mereka bicara lewat jeruji di malam hari, suara serendah desis. "Perak nitrat," kata Inai, "di anyaman jaring. Waktu basah, dia hidup—membakar kulit kita, melemahkan. Itu sebabnya panen di lapangan kemarin, mereka semprot jaring dulu." Tangannya yang terikat bergerak sedikit. "Tapi perak nitrat yang kering tidak menggigit. Butuh lembap untuk bekerja. Jaring yang digantung lama di tempat kering—" ia memandang ke sudut gudang, tapi maksudnya jelas, "—dia cuma benang. Cuma tali. Kau bisa pegang tanpa terbakar."
Jraka menyimpannya di samping retakan lembap di sudut lantai, di samping ritme penjaga, di samping orang-orang upahan yang tidak tahu apa yang mereka jaga. Potongan-potongan. Belum sebuah jalan. Tapi mulai.
Masalahnya bernama Renjau.
Anak itu tidak dibuat untuk menunggu. Tiga hari dalam besi mengikis sesuatu di dalamnya yang sudah rapuh sejak rawa. Ia mulai gemetar tanpa sebab, napasnya memburu di tengah malam, dan pada hari ketiga, ketika Pincang lewat dan berhenti terlalu lama di depan selnya untuk menatapnya seperti orang menaksir gelondong kayu, Renjau pecah.
"Jangan lihat aku!" Anak itu melompat ke jeruji, mengguncangnya, suaranya naik jadi jeritan. "Jangan lihat aku begitu! Kalian mau apa, ha? Kalian mau apa sama kami?" Dan di bawah jeritan itu Jraka mendengar sesuatu yang lebih berbahaya—napas yang berubah ritme, jantung yang melonjak, gatal yang naik. Panik adalah adrenalin. Adrenalin adalah setengah dari gembok. Yang dibutuhkan tinggal cahaya, dan tangan Pincang sudah bergerak ke arah panel lampu, refleks takut.
"Renjau." Jraka tidak berteriak. Ia menurunkan suaranya, sekeras dan setenang yang Inai dulu pakai padanya di rawa. "Lihat aku. Jangan dia. Aku."
Anak itu menoleh, matanya basah dan liar.
"Pegang jantungmu," kata Jraka. "Kamu ingat yang aku ajarkan di garis batas? Tarik napas lewat hidung. Hitung. Satu. Tahan di dada. Dua." Ia menempelkan telapaknya ke jeruji yang memisahkan mereka, dan Renjau, gemetar, menempelkan telapaknya di sisi sebaliknya, dingin besi di antara dua tangan. "Kamu panik, kamu berubah. Kamu berubah, mereka nyalakan lampu, dan kamu bayar—bahu yang melepuh itu menyatu salah, tulang yang bengkok, sehari umurmu hilang. Untuk apa? Untuk marah pada orang yang nggak akan dengar. Itu harga termahal yang paling sia-sia."
Napas anak itu masih memburu. Pincang masih berdiri di sana, tangan di dekat panel, ragu.
"Tiga," kata Jraka pelan. "Buang lewat mulut. Pelan. Bayangkan kamu lagi di rawa, bukan di sini. Bayangkan kamu menunggu rusa lewat dan kamu nggak boleh bergerak, nggak boleh napas keras, karena kalau kamu bergerak, rusanya lari dan kamu lapar. Kamu pernah berburu begitu?"
"Pernah," bisik Renjau.
"Sekarang berburu lagi. Penjaga itu rusanya. Kalau kamu diam, kamu menang. Kalau kamu bergerak, kamu yang lari."
Napas anak itu melambat. Sekali. Lalu lagi. Jantung yang Jraka dengar melonjak mulai turun. Gatal yang naik di udara—Jraka bisa menciumnya, bau awal transformasi—surut. Pincang menurunkan tangan dari panel, menggerutu, dan berjalan pergi dengan kaki kakunya.
Renjau merosot ke lantai, telapaknya masih menempel di jeruji, menangis tanpa suara. "Maaf," katanya. "Aku nggak bisa kayak kamu. Aku nggak sekuat—"
"Kekuatan itu bukan nggak takut." Jraka tetap menempelkan tangannya. "Inai yang ajari aku. Kekuatan itu takut, dan tetap pegang jantungmu. Aku takut tiap malam, Renjau. Bedanya cuma aku nggak kasih ketakutan itu kemudi." Ia menatap anak itu sampai napasnya benar-benar tenang. "Kamu baru saja menahan diri waktu semua di tubuhmu nyuruh berubah. Tiga hari lalu kamu nggak bisa. Itu yang kita butuh. Bukan kamu yang nggak takut. Kamu yang bisa takut tanpa pecah."
Di sel ujung, Inai membuka matanya dan menatap Jraka lama dalam keremangan, dan ada sesuatu di tatapan itu—bukan persetujuan persis, lebih seperti pengukuran ulang. Seolah ia baru saja melihat sesuatu pada Jraka yang sebelumnya ia ragukan. Lalu ia menutup matanya kembali.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ketika seorang anggota Taring Merah di sel seberang mulai panik dan napasnya memburu, Renjau-lah yang berbisik lewat jeruji: "Pegang jantungmu. Tarik lewat hidung. Hitung." Dan kandang itu, sedikit demi sedikit, belajar diam. Dan diam, Jraka tahu, adalah hal pertama yang harus dikuasai sebuah kawanan sebelum ia bisa melarikan diri.