Pada hari kelima, Hartono datang membawa dua hal: sepiring nasi dengan ikan asin, yang ia sodorkan lewat celah, dan sebuah tawaran, yang ia sodorkan dengan lebih hati-hati.
"Makan dulu," katanya, duduk di bangku kayu yang ia bawa, di luar jangkauan jeruji. "Kamu kurus. Berubah tiga kali sebulan, tubuhmu makan dirinya sendiri. Kamu butuh kalori lebih dari orang biasa sekarang. Itu juga sesuatu yang nggak mereka ceritakan waktu kamu pertama digigit, kan."
Jraka makan, karena marah pada makanan tidak masuk akal dan tubuhnya butuh. Ia mengunyah pelan dan menunggu, karena ia tahu Hartono tidak datang untuk memberi makan.
"Aku mau kamu kerja sama aku," kata Hartono akhirnya.
Jraka berhenti mengunyah.
"Dengar dulu sebelum kamu bilang tidak." Hartono mencondongkan tubuh, siku di lutut, dan untuk pertama kalinya ia tampak seperti Hartono yang lama—Hartono yang dulu merancang operasi pencarian di atas peta, menunjuk dengan jari, meyakinkan tim bahwa rencananya akan menyelamatkan orang. "Kamu pelacak terbaik yang pernah aku kenal. Kamu baca medan, baca jejak, baca orang. Aku punya pemburu, tapi mereka orang upahan, mereka kasar, mereka kehilangan setengah tangkapan karena nggak bisa baca arah lari. Kamu bisa." Ia menahan tatapan Jraka. "Kerja sama aku, dan tiga hal terjadi. Satu, kamu dapat penawar—reguler, cukup, kamu nggak pernah berubah lagi, nggak pernah bayar lagi. Lenganmu itu yang terakhir rusak. Dua, aku lepas anak itu, Renjau, dan perempuan tua. Mereka bebas. Tiga—" ia menurunkan suara, "—kamu bantu aku pastikan panen ini dilakukan sebersih mungkin. Yang paling tua, yang paling dekat aus, yang paling menderita. Bukan yang muda. Bukan yang masih punya hidup. Kamu bisa pilih siapa yang dipanen, Jraka. Bukankah itu lebih baik daripada membiarkan pemburu kasar yang menangkap siapa saja?"
Jraka meletakkan piringnya. "Kamu menawariku jadi orang yang memilih siapa yang mati."
"Aku menawarimu jadi orang yang memilih siapa yang hidup," Hartono mengoreksi, dan ketenangannya membuat Jraka muak justru karena ia hampir masuk akal. "Itu pekerjaan kita dulu. Tiap operasi SAR, kita memilih—angkut yang ini dulu, yang itu nanti, yang sebelah sana sudah terlambat. Kita nggak pernah bisa selamatkan semua. Kita selamatkan yang bisa. Ini sama. Cuma medannya beda."
Dan itu bagian yang paling buruk—bahwa Jraka merasakannya. Ia merasakan tarikan tawaran itu, bukan di kepala tapi di tubuh, di lengan kirinya yang bengkok dan tak akan pernah lurus. Penawar reguler. Tidak pernah berubah lagi. Tidak pernah bayar lagi. Jam pasir di dalamnya berhenti mengalir. Renjau bebas, Inai bebas. Berapa harga untuk itu? Hanya jiwanya, dijual seteguk demi seteguk, dengan memilih tubuh-tubuh yang akan disuling jadi keselamatannya sendiri.
Ia membenci dirinya karena bagian dari dirinya menghitung angka itu.
"Aku perlu mikir," katanya, karena itu lebih jujur daripada menolak langsung, dan karena ia tahu menolak langsung akan menutup pintu yang mungkin ia butuhkan terbuka.
Hartono mengangguk, dan ada sesuatu yang nyaris lega di wajahnya—seolah "aku perlu mikir" sudah lebih dari yang berani ia harapkan. Ia berdiri, mengambil bangkunya, dan pergi. Dan Jraka duduk dengan piring kosong dan tawaran yang membelah dirinya tepat di tengah.
Malam itu Inai bicara lewat jeruji, dan suaranya keras meski lirih.
"Kau mempertimbangkannya," katanya. Bukan pertanyaan.
"Aku mempertimbangkan Renjau bebas. Kamu bebas."
"Lalu siapa yang dipanen supaya kau dan kami bebas?" Inai membiarkan pertanyaan itu menggantung di gelap. "Dengar aku, Nak, karena ini yang anakku tidak pernah tahu sampai terlambat, dan aku tidak akan diam lagi. Penawar itu bohong. Bukan bohong bahwa dia bekerja—kau merasakannya, empat jam tenang, aku tahu. Bohong bahwa dia menyelamatkan." Tangannya yang terikat mengetuk jeruji pelan. "Dia tidak menyembuhkan. Dia menunda. Empat jam, lalu habis, lalu kau butuh lagi. Dan tiap kali kau butuh lagi, harus ada tubuh lagi. Kau tahu apa namanya sesuatu yang kau butuhkan terus, yang tiap dosisnya minta korban, yang kalau berhenti kau sengsara?"
Jraka tidak menjawab. Ia tahu namanya.
"Candu," kata Inai. "Hartono bukan menawarimu kebebasan. Dia menawarimu rantai yang lebih kuat dari jaring perak mana pun—rantai yang kau pegang sendiri, yang kau minta sendiri, yang tiap mata rantainya adalah tubuh kaummu. Orang yang minum penawar itu berhenti takut bulan, ya. Tapi dia mulai takut kehabisan. Dan rasa takut itu, Nak, itu yang membuatnya bersedia memanen siapa pun. Itu yang membuat Hartono jadi Hartono." Ia menyandarkan punggung ke dinding. "Kau bertanya kemarin kenapa seorang inang memburu kaumnya. Itu jawabannya. Bukan karena dia jahat. Karena dia kecanduan keselamatan, dan keselamatannya terbuat dari kami."
Di seberang, Damar yang selama ini diam tiba-tiba bersuara, parau dari kegelapan selnya. "Dengarkan perempuan tua itu," katanya, dan untuk pertama kalinya nadanya tidak penuh permusuhan. "Aku sudah dua puluh tahun melarang kawananku berubah supaya mereka tidak aus. Penawar itu menjanjikan persis yang aku perjuangkan—tubuh yang tidak membayar. Aku akan jadi orang pertama yang mau, kalau aku tidak tahu harganya." Ia berhenti. "Anakku aus karena menolong orang. Tapi setidaknya yang dia bakar tubuhnya sendiri. Penawar itu menyuruhmu membakar tubuh orang lain. Itu lebih buruk."
Jraka menatap kegelapan, lengannya yang bengkok berdenyut pelan, dan ia merasakan tawaran Hartono kehilangan sebagian racunnya—bukan karena ia tidak lagi tergoda, tapi karena sekarang ia melihat ke mana godaan itu menuju. Ia memikirkan Hartono yang menua, yang kesepian, yang setiap empat jam butuh setetes lagi dan karena itu butuh tubuh lagi dan karena itu tidak bisa berhenti meski ia ingin. Bukan iblis. Pecandu. Pecandu yang telah membangun seluruh industri untuk memberi makan candunya dan menyebutnya penyelamatan.
"Aku nggak akan bilang ya," kata Jraka pada gelap, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun. "Tapi aku akan biarkan dia pikir aku mungkin. Selama dia berpikir aku mungkin, dia jaga kita hidup. Dan selama kita hidup, aku punya waktu untuk baca jalan keluar."
"Dan kalau jalan keluar itu tidak ada?" tanya Inai.
Jraka menatap retakan lembap di sudut lantai, jaring kusam yang menggantung kering di dinding seberang, langit-langit seng yang menunggu hujan. "Maka aku buat satu," katanya. "Aku cuma butuh hujan."