Waktu terus berjalan. Sikap manja dan perhatian Aryana perlahan mulai mengubah hari-hari Damian. Setiap pulang kerja, Damian selalu disambut dengan senyuman cerah dan pelukan hangat. Aryana selalu menyiapkan makan malam, memijat pundaknya yang pegal, dan mendengarkan keluh kesahnya meski kadang dia tidak mengerti apa yang dibicarakan.
Suatu malam, hujan turun sangat deras. Damian pulang dalam keadaan bad mood karena masalah pekerjaan. Ia melempar dasi dan duduk di sofa dengan wajah murka.
Aryana yang melihat itu tidak takut. Ia malah mendekat, lalu dengan berani duduk di pangkuan Damian.
"Kenapa murung gitu? j*****m ya kerjaannya?" tanya Aryana lembut sambil membelai rambut hitam suaminya.
Damian mendongak, menatap mata indah itu. "Iya. Sangat menyebalkan."
"Yasudah, jangan dipikirin dong. Sekarang kamu punya aku. Aku kan obat hati kamu," kata Aryana sambil tersenyum manis. Bibirnya yang merah muda sedikit terbuka, terlihat sangat menggiurkan.
Damian tidak bisa menahan diri lagi. Tangannya yang besar mencengkeram pinggang ramping Aryana, menarik tubuh gadis itu semakin dekat hingga d**a mereka bersandar.
"Kamu tahu nggak, sejak ada kamu, hidup aku jadi berwarna. Tapi kamu juga tahu nggak, kamu itu sumber masalah buat aku?" bisik Damian di telinga Aryana, napasnya hangat menyapu leher putih mulus gadis itu.
"M-masalah apa?" tanya Aryana mulai gugup, jantungnya berdegup kencang.
"Sumber masalah karena aku jadi selalu ingin memeluk dan menciummu setiap saat," ucap Damian rendah.
Tanpa menunggu jawaban, Damian langsung menyambar bibir lembut itu. Ciuman yang awalnya lembut, perlahan berubah menjadi mendesak dan penuh hasrat. Tangan Damian menjelajah punggung dan pinggul istrinya, merasakan kelembutan kulit di balik kain baju.
"Mmm... Damian..." erang kecil keluar dari bibir Aryana saat ciuman itu turun ke lehernya. Sensasi listrik menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Aryana... aku cinta kamu... aku sayang banget sama kamu..." gumam Damian di sela-sela ciumannya. Akhirnya, kata itu terucap juga. Es di hatinya telah mencair sepenuhnya.
Malam itu, di bawah derasnya hujan, batas antara suami istri yang awalnya kaku, kini menjadi satu. Cinta mereka bersemi dengan hangat, disertai sentuhan-sentuhan intim yang membara, membuktikan bahwa hati yang paling dingin pun bisa meleleh jika disentuh oleh cinta yang tulus dan manja