"Abang tahu? Saya sudah lapar. Ayo, cari makan." Aisyah pun berlalu dari hadapan sang suami.
"Hualah ... dasar kamu ini." Samuel pun tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri.
Baru beberapa hari menjadi suami Aisyah, Samuel bisa merasakan perubahan emosi Aisyah dalam waktu bersamaan: dalam sehari Aisyah bisa marah, merajuk, mewek, dan riang.
'Teruslah begitu itu, Ai. Saya suka. Setidaknya rumah kita akan berwarna dengan sifat kamu seperti itu,' batin Samuel sambil mengikuti jejak Aisyah yang memasuki warung bakso.
***
Warung bakso yang dikunjungi Aisyah itu baru buka. Jadilah dia menjadi pembeli pertama. Sedari pagi memang Aisyah belum sarapan. Perutnya sudah bertabuh minta diisi karena itu Aisyah memilih memakan makanan berat, sudah lapar sekali dia.
Sembari menunggu sang penjual menata dagangannya, Aisyah memainkan ponsel sekadar pelepas rasa bosan menunggu. Namun, baru saja menekuri ponselnya, Aisyah teringat akan ... Samuel.
Rasa-rasanya tadi dia mengikuti dari belakang, lalu ke mana dia? Seharusnya, kan sudah sampai, begitu pikir Aisyah.
Ketika hendak beranjak dari duduknya hendak mencari keberadaan sang suami, telepon Aisyah berdering.
"Abang, ke mana, sih? Kok, nggak ke sini?"
"Salah alamat, Ai."
"Salah alamat gimana?"
"Ya ... ta--tadi itu Abang kira kamu yang masuk ke warung penjual pecel. Eh, ternyata bukan." Samuel cengengesan di seberang sana. "Soalnya kelihatan dari belakang kamu sama Mbak itu mirip."
Aisyah tertawa kecil mendengar ucapan Samuel di seberang sana. Gadis Minang itu pun kemudian menyebutkan nama warung yang ia kunjungi pada Samuel.
Beberapa saat Samuel pun datang ke tempat bakso itu. Bisa-bisanya lelaki itu salah alamat.
"Ada aqua?" Aisyah menggoda sang suami dengan menirukan iklan di televisi. Kurang minum. Jadi, kurang fokus.
Samuel menggaruk-garuk kepala yang mulai gatal. Setelah itu Aisyah dan Samuel tertawa bersamaan. Tawa mereka juga menular pada penjual bakso.
'Pagi menjelang siang ini sudah nambah imun melihat mereka tertawa,' batin bapak penjual bakso sambil mulai menyiapkan pesanan Aisyah dan Samuel juga.
'Jomlo itu memang harus banyak bersabar. Sabar ....' Kali ini pembeli lelaki remaja yang baru saja datang ke warung bakso membatin melihat Aisyah dan Samuel masih masyuk bercerita sambil Sesekali Samuel menyentuh kerudung Aisyah dan Aisyah membalas dengan memegang tangan sang suami.
Gelak tawa Aisyah dan Samuel usai kala bapak penjual bakso itu menghampiri mereka dengan membawakan dua mangkok bakso.
Di dalam mangkok itu ada bakso berukuran sedang, irisan daging ayam, campuran mie kuning dan putih, taburan bawang goreng, bawang prei, seledri, serta tak lupa juga dengan pangsit nan gurih lagi renyah.
Benar-benar menggugah selera.
Tanpa menunggu lama-lama, Aisyah menuangkan saos dan kecap secukupnya. Namun, menuangkan cabe lumayan banyak bagi Samuel: lima sendok sekaligus.
Melihat hal itu, Samuel melotot tak percaya memerhatikan kuah bakso Aisyah yang semula keruh, kini sudah berubah merah. Jangankan lima sendok, seujung sendok saja sudah membuat lelaki kota itu kepedasan jadinya.
"Sakit perut nanti, Ai. Banyak sekali itu cabenya."
"Pasti ini masih kurang," jawab Aisyah sambil mencicipi kuah baksonya. "Tu, kan masih kurang. Kalau belum pedas belum nikmat." Gadis Minang itu kembali memasukkan dua sendok cabe ke baksonya.
Samuel bergidik ngeri melihat kuah Aisyah yang memerah bak pipi gadis dioles blush on merah berlapis-lapis. Lelaki itu pun kemudian menuangkan cabe dan saus secukupnya, tapi memasukkan kecap lumayan banyak ke bakso itu.
Kini kembali Aisyah yang dibuat tercengang oleh Samuel. Kentara sekali warna hitam di kuah bakso milik suaminya itu.
"Kuahnya hitam sekali, Abang. Nggak nikmat jadinya."
"Enakan manis gurih begini, tau. Menikmati lezatnya bakso tanpa keringat bercucuran saking pedasnya."
"Is, Abang ini. Pedas lebih mantap."
"Manis lebih maknyus."
"Pedas."
"Manis."
"Pedas"
"Manis."
"Eeeh ... wis, ojo gelut. coba wae kowe padha ngicipi rasa. sing ngerti jebule padha-padha enak." Bapak tukang bakso melerai perdebatan sepasang suami istri itu. Orang Jawa bapak itu rupanya. Memang kebanyakan penjual bakso di Minang rata-rata dari Jawa.
Aisyah yang lantas tak mengerti ucapan bapak tadi menatap sang suami dengan kening mengkerut. Merasa paham arti tatapan itu, Samuel pun menjelaskan. "Bapak itu bilang kita jangan bertengkar. Lebih baik kita saling icip. Siapa tahu dua-duanya sama-sama enak. Ituh."
"Ehm, boleh juga, sih." Aisyah menyetujui.
"Monggo dicoba," kata bapak tukang bakso sambil tersenyum. Lalu bapak itu kembali melayani pembeli lainnya.
Para pembeli bakso di warung itu hanya menjadi penonton perdebatan Aisyah dan Samuel: di antara mereka ada yang hanya geleng-geleng kepala saja, ada yang mesem-mesem, dan bahkan ada yang memfoto.
'Awas! Saya buat meme nanti,' batin anak muda yang memfoto persiteruan antara Aisyah--tim penyuka bakso pedas dan Samuel--tim penyuka bakso manis gurih.
Aisyah dan Samuel pun saling icip. Setelah kuah bakso itu masuk ke mulut mereka masing-masing, Aisyah membekap mulut--benar-benar tidak sesuai dengan seleranya. Sementara itu Samuel merasakan panas di hidung hingga menjalar ke telinga, kepedasan dia.
Gegas lelaki jakung itu kemudian menegak air putih hingga tandas segelas.
"Lidah kita beda. Punya saya emang lebih nikmat." Aisyah kembali mempertahankan argumennya.
"Enak apaan. Pedas banget, Ai. Nanti sakit perut jangan nangis," kata Samuel sambil mengipas bibirnya dengan serbet.
"Nggaklah, kan sudah biasa."
"Terserah."
Mereka pun mulai menikmati makanan masing-masing. Keringat Aisyah sudah mengucur deras--efek dari makan makanan pedas. Sementara Samuel lebih banyak menikmati pemandangan di depannya. Maksudnya melihat bagaimana sang istri begitu lahap memakan makanan pedas itu.
Tampak oleh Samuel bibir sang istri memerah, mungkin karena efek pedas itu.
"Jangan lihatin aku terus, Abang. Habisin cepat baksonya." Aisyah melirik Samuel sekilas.
Samuel menyunggingkan senyum mendengarkan ucapan sang istri barusan. Lalu lelaki jakung itu pun berkata, "Udah kenyang, Ai."
"Loh, kok, udah kenyang aja? Itu masih banyak, loh." Aisyah melihat mangkok bakso Samuel yang bahkan belum habis seperempatnya.
"Ngelihatin kamu makan, tiba-tiba saya sudah kenyang."
Sontak Aisyah berhenti mengunyah sambil memicingkan mata: mencoba melihat lebih dalam apa ada kebohongan di netra sang suami.
"Masa?"
"Iya. Serius."
"Ya, udah. Sini kasih saya saja kalau begitu."
"Emang masih muat lambung kamu?"
"Enggak, sih. Buat nanti."
Aisyah kemudian meminta bapak penjual bakso membungkuskan bakso milik sang suami setelah lebih dahulu gadis Minang itu menambahkan cabe.
"Dasar! Cabe-cabean," ledek Samuel.
"Biarin. Dari pada kecap-kecapan."
"Ya, udah. Terserah."
"Iya. Terserah."
Masih saja mereka bertengkar soal kecap dan cabe.
"Permisi. Ini baksonya," kata bapak penjual bakso khas dengan logat jawanya. "Mas sama Mbak ini pengantin baru, tho?" tanya Bapak itu kemudian.
Aisyah dan Samuel serempak mengangguk.
"Saya sama istri dulu juga sering berantem meski hal kecil. Kata orang tua dulu, pasangan yang suka berantem itu awet pernikahannya. Terlepas benar atau tidak, saya dan istri langgeng. Alhamdulillah.
"Hanya saja kami terpisah alam sekarang. Saya kangen dengan istri saya yang cerewet itu." Bapak penjual bakso itu menyeka sudut matanya. "Oalah. Malah curhat saya. Maaf, ya, Mas, Mbak."
Bapak penjual bakso kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Aisyah dan Samuel tampak sedang berkelana dalam pikiran masing-masing setelah mendengar curahan hati bapak tadi. Entah apa yang sedang mereka pikirkan.
Beberapa detik kemudian setelah puas berkutat dengan pikiran masing-masing, Aisyah lebih dulu melirik ke sang suami. Saat Aisyah mengalihkan pandangan, kembali Samuel yang melirik sang istri. Begitu seterusnya hingga di satu titik pandangan mereka bertumbuk pandang.
"Aisyah."
"Abang."
"Maaf," lirih Aisyah dan Samuel meminta maaf secara bersamaan.
Maaf untuk apa? Entahlah. Hanya mereka yang tahu.