"Bukan dijulur, tapi diapit gitu." Aisyah tergelak. Lalu ia kembali mempratekkan.
"Begini?"
Kembali lelaki jakung itu mengulangi cara bacanya. Setelah beberapa kali mencoba barulah ia mulai bisa. Aisyah pun kemudian mengucap syukur, sedang Samuel tegak dari duduk lalu ia berjingkrak. Ah, senang sekali dia.
"Ai, sebagai imbalan karena udah bantuin abangmu ini belajar, besok Abang traktir makan. Mau?" tanya Samuel di saat sudah letih berjingkrak-jingkrak. Ngos-ngosan dia berbicara tadi.
"Oh, iya jelas mau, dong." Aisyah memutar bola mata sampai berada dalam satu garis lurus dengan indera penglihatan Samuel, kemudian menarik bibir secara horizontal sampai sudutnya tertarik ke atas karena kontraksi otot wajah di sekitar mulut. Matanya pun menyipit sehingga menimbulkan kerutan di kedua sudutnya kala mendengar penawaran dari sang suami.
Sudah terbayang oleh Aisyah bakso urat, bakso beranak, kue pinyaram, sala lauak, kue puluik manih, martabak ... hayo apa lagi?
***
Esok hari Samuel menepati janjinya pada Aisyah: mentraktir makanan. Tentu tanpa basa-basi Aisyah menerima, wong Aisyah suka makan.
Aisyah diboncengi Samuel menuju pasar tradisional di kampung sebelah dengan menggunakan sepeda ontel yang masih terawat milik Datuk Bahri.
Naik sepeda ontel biar seperti film-film zaman dulu supaya kelihatan romantis, begitu Samuel meyakinkan Aisyah.
Halah!
"Ayo naik!"
Padahal Aisyah sendiri tidak mau. "Desa sebelah itu jauh, Abang. Nanti kamu kecapaian." Begitu Aisyah menolak.
"Sejauh apa pun yang penting perginya sama kamu." Dasar! Ngeyel sekali si Samuel.
Aisyah memanyunkan bibirnya, kesal dia. Eh, tapi dari lubuk hati terdalam Aisyah senang digombalin seperti itu.
Samuel pun mencoba membujuk Aisyah dengan mencolek dagu sang istri sambil ngegombal.
"Cantikan kucing tetangga kalau lagi garang, Ai, daripada ...."
"Daripada saya maksudnya?" Aisyah lekas menyela sambil menguliti Samuel dengan tatapan tajamnya.
"Daripada Mbok Nah maksud saya."
"Mbok Nah itu siapa?"
"Ya, saya ndak tahu. Kok, malah nanya saya," kata Samuel. Lalu setelah itu ia bersiul-siul.
Aduh si Samuel. Gombal macam apa itu. Alih-alih membuat Aisyah tak merajuk lagi malah semakin membuat gadis itu kesal jadinya.
"Ih, Abang ini." Aisyah kemudian naik ke sadel sepeda. "Yoklah buruan. Aku, dah lapar ini."
"Siap Tuan Putri." Samuel cengengesan. "Sini tangan kamu, Ai."
"Buat apa?"
"Sini."
Aisyah menuruti kata Samuel dengan menyodorkan tangannya ke depan tepat di wajah Samuel.
Samuel pun meletakkan tangan sang istri di perutnya. "Pegangan kuat-kuat, Ai. Saya mau ngebut ini."
Gadis Minang itu menarik dan mengembuskan napas kuat-kuat dari hidung sambil melingkarkan tangan di pinggang sang suami. "Awas kalau nggak ngebut saya turun," ancam Aisyah.
"Ya, pasti ngebutlah."
Samuel pun mulai mengayuh sepeda di aspal hitam dengan semangat empat lima.
***
Di sisi kanan dan kiri jalan yang ditempuh Samuel dan Aisyah menuju pasar ialah sawah. Mereka menikmati udara pagi nan sejuk sambil bercengkerama.
Namun, keasyikan mereka naik sepeda ontel sambil bercakap-cakap senang tidaklah bertahan lama.
Keringat bercucuran dan napas Samuel sudah ngos-ngosan. Betul kata Aisyah, jauh rupanya pasar itu. Baru seperempat perjalanan, Samuel sudah pasrah.
"Turun, Ai. Istirahat dulu," titah Samuel.
Aisyah pun turun sambil memasang wajah sebal. "Kan, dah dibilangin. Jauh, Abang ...."
Samuel mengelap keringat di pelipis sambil cengengesan. "Iya. Maaf."
Lelaki kota itu terpaksa mengiring sepeda. Rencananya mereka akan mencari warung untuk beristirahat.
"Maaf, ya, Ai. Jangan marah." Merasa bersalah sekali si Samuel tak mengindahkan ucapan istrinya tadi.
Aisyah menarik dan mengembuskan napas kasar. "Kali ini dimaafkan. Besok-besok enggak lagi," kata Aisyah sambil mengelap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.
Samuel meminta Aisyah berhenti. Lalu lelaki jakung itu mengambil sapu tangan di saku celana depannya, kemudian mengelap keringat sang istri.
"Keringatan pagi-pagi itu bagus. Anggap aja sekarang kita lagi olahraga," kata Samuel sambil tersenyum.
Tanpa Samuel sadari, keringat Aisyah bertambah banyak: saking groginya diperlakukan seperti itu sama samuel.
Agar detak jantungnya tetap waras, Aisyah menjauhkan tangan Samuel dari pelipisnya.
"Terima kasih."
"Sama siapa?"
"Ya, sama kamu."
"Kamu siapa?"
"Bendi!" pekik Aisyah.
"Lah, kok jadi bendi, sih?"
"Iya. Itu bendi, Abang. Kita naik bendi saja." Aisyah menunjuk bendi di depan jalan sana.
Samuel pun melihat arah tunjuk sang istri. Bendi yang dimaksud Aisyah ialah kendaraan tradisional yang ditarik oleh kuda.
"Delman, ya?"
"Di Jawa delman namanya. Di sini bendi."
"Oh, begitu ...."
Setelah bendi tadi mendekat pada mereka, Aisyah menyetop: bermaksud agar naik bendi saja ke pasar. Daripada harus naik sepeda malah akan kesiangan sampai di pasar, begitu pikir Aisyah.
"Sepedanya gimana?" tanya Samuel.
"Titip saja di rumah warga di sana."
Setelah menitipkan sepeda di rumah warga setempat, Aisyah dan Samuel naik bendi. Kudo bendi itu mulai membelah jalanan.
Bendi itu kursinya saling berhadapan. Jadilah Aisyah dan Samuel saling duduk hadap-hadapan. Beberapa kali pasangan itu bertumbuk pandang, membuat debar berbeda di jantung mereka.
'Aisyah ini malu-malu. Padahal pasti mau dipandang,' batin Samuel. Ia begitu percaya diri sekali.
Padahal ....
'Astaga. Buat terkejut saja si Abang,' batin Aisyah sambil menghempaskan pandangan ke jalanan.
***
Beberapa menit perjalanan, barulah mereka sampai di pasar tujuan. Setelah selesai proses transaksi dengan Pak Kusir, Samuel tadinya hendak memegang tangan sang istri: bergandengan tangan masuk ke dalam pasar.
Namun, rupanya Aisyah tak ada lagi di samping Samuel. Padahal ia yakin sekali Aisyah berada di sampingnya tadi.
Lalu, ke mana perginya Aisyah?
Panik. Iya, Samuel panik.
'Gimana caranya pulang nanti, ya? Mana nggak hafal alamat rumah Aisyah lagi.' Samuel membatin.
Dari tempat ia berdiri, Samuel menajamkan penglihatan, memindai ke segala sudut pasar dan ... berhasil. Aisyah berhasil ia temukan.
Setengah berlari lelaki kota itu menghampiri sang istri yang tengah berbicara dengan seorang anak laki-laki.
"Lain kali jangan lagi, ya? Nggak boleh. Nanti Allah marah." Aisyah mengelus lembut kepala anak laki-laki itu.
"Iya, Kak. Maaf ...." Kaca-kaca di mata anak laki-laki itu pecah.
Samuel hanya menjadi pendengar percakapan sang istri dan anak itu. Melihat bagaimana Aisyah memperlakukan anak lelaki itu dengan kelembutan, seulas senyum tercetak di bibir Samuel.
"Dah, jangan nangis! Ini buat kamu. Beli makanan, ya." Aisyah memberikan selembar uang warna biru pada anak itu. Setelah menerima pemberian Aisyah dan mengucapkan terima kasih, anak itu pun pergi.
Aisyah kemudian berbalik badan. Terkejut ia ketika mendapati sang suami di hadapan.
"Abang ini buat saya terkejut terus," kata Aisyah seraya mengelus d**a.
"Seharusnya jangan dikasih, Ai."
"Dikasih apa?"
"Anak tadi. Pasti mencuri, 'kan? Dihukum lebih baik."
Sejenak Aisyah terdiam. Lalu gadis Minang itu mengembuskan napas pelan seraya menatap manik mata sang suami.
"Entahlah. Entah bagaimana seharusnya perlakuan kita pada mereka. Saya yakin, anak sekecil itu tak mau melakukan hal demikian. Tapi, keadaan memaksa mereka.
"Sedangkan kita sebagai orang yang diberi sedikit kelebihan, hanya bisa membenci dan menyalahkan mereka tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang mereka alami."
Samuel terdiam mendengar ucapan sang istri. Dapat terlihat oleh Samuel netra Aisyah berkaca-kaca.
Gegas wanita Minang itu menyeka kasar air mata yang hampir tumpah dengan punggung tangannya.
"Abang tahu? Saya sudah lapar. Ayo, cari makan." Aisyah pun berlalu dari hadapan sang suami.
"Hualah ... dasar kamu ini." Samuel pun tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri.
Baru beberapa hari menjadi suami Aisyah, Samuel bisa merasakan perubahan emosi Aisyah dalam waktu bersamaan: dalam sehari Aisyah bisa marah, merajuk, mewek, dan riang.
'Teruslah begitu itu, Ai. Saya suka. Setidaknya rumah kita akan berwarna dengan sifat kamu seperti itu,' batin Samuel sambil mengikuti jejak Aisyah yang memasuki warung bakso.