"Setelah kita menikah, Uda akan mencoba merantau, mencari modal usaha. Dan kamu tak perlu ikut. Kasian Bapak sendiri di sini. Setelah uang Uda cukup, kita akan memulai usaha di sini."
Aisyah hanya menunduk sambil butir-butir air itu jatuh tanpa permisi mendengar ucapan Amar kala itu. Namun, semuanya hanya lembaran rencana. Lalu titah Datuk Bahri agar sang angin membawa lembaran yang sudah Amar susun rapi terbang entah ke mana, dan ternyata semesta pun ikut mendukung rupanya.
Lamunan Aisyah buyar kala Samuel menyenggol lengan sang istri. "Aisyah, kamu dengar tidak?"
"Pakcik pamit ke sawah dulu, ya?"
"Iya, Pakcik. Terima kasih sekali lagi. Dari dulu sampai sekarang, Pakcik, selalu menolong saya," jawab Aisyah.
Bapak itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Aisyah. Ayah dari Amar itu pun kemudian berlalu meninggalkan kenangan. Bukan. Maksudnya meninggalkan informasi yang amat penting bagi Aisyah tentang Amar.
***
Baju kaos putih yang Samuel kenakan ternoda oleh bercak darah dari kaki Aisyah yang digigit hewan penghisap darah itu. Alih-alih mereka menikmati keindahan desa di pagi hari malah seperti orang yang baru keluar dari hutan belantara, penuh dengan kubangan.
Setiba di rumah, Aisyah membersihkan diri di bilik air di dalam kamar, sedangkan Samuel di bilik air dekat dapur.
Setelah selesai berkemas Aisyah sudah bersiap-siap dengan mukenanya. Hal itu membuat Samuel keheranan. Bertanyalah lelaki itu pada sang istri, hendak melakukan apa memakai mukena. Padahal waktu zuhur masih lama, begitu pikir Samuel.
"Salat Duha." Aisyah menjawab sambil tersenyum.
Kening Samuel mengkerut. Tak paham dia apa itu Salat Duha. Lelaki kota itu kembali bertanya.
"Salat apa itu?"
"Salat Duha itu ialah salat yang dilakukan di waktu duha, yakni di pagi hari semenjak matahari terbit hingga sebelum masuk waktu zuhur."
Samuel mengangguk-angguk pertanda mengerti ucapan sang istri.
"Apa yang kita dapatkan bila mengerjakan Salat Duha?"
Samuel tampak antusias sekali. Bak seorang murid bertanya pada sang guru akan sesuatu yang belum diketahuinya.
"Apa yang kita mau, InsyaAllah dipermudah oleh Allah. Bila dalam kesulitan, InsyaAllah dilapangkan. Bila dalam kekurangan, InsyaAllah dicukupkan."
"Lalu, bukankah saat mengerjakan salat lima waktu keutamaannya juga begitu? Apa bedanya?"
"Iya. Salat lima waktu itu wajib: sebagai bentuk ketundukan, kepatuhan pada sang pencipta karena itu perintahnya. Tidak boleh tidak mengerjakannya. Sedangkan Salat Duha itu hukumnya sunnah--apabila dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan rugi. Salat sunnah itu sebagai penyempurna salat wajib termasuk Salat Duha dan salat sunnah lainnya."
"Oh, begitu."
Samuel kemudian menghempaskan diri ke ranjang. Lalu ia menggeliat, merenggangkan otot.
"Lah? Nggak ikut salat?" tanya Aisyah sambil berkacak pinggang.
"He he ... iya, lupa."
***
Jika pengantin baru biasanya memilih menghabiskan waktu berdua untuk bulan madu, maka sepasang pengantin itu--Aisyah dan Samuel memilih untuk belajar pengetahuan agama. Lebih tepatnya Samuel yang belajar dari Aisyah.
Mulai dari menghafal Surah Al-Fatihah, ayat pendek, bacaan salat juga gerakannya, hingga belajar menjadi suami yang baik: mencuci dan memasak misalnya.
Pembelajaran pada poin terakhir tadi paksaan dari Aisyah sebenarnya. Suami yang baik itu yang mau membantu pekerjaan istrinya, begitu kata Aisyah pada Samuel. Samuel menerima tanpa penolakan. Ah, memang suami pengertian dia.
Siang itu, Di halaman belakang di bawah naungan pohon rambutan, Aisyah dan Samuel duduk di atas tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan duri.
Angin nan sepoi-sepoi berembus membawa kesejukan yang mampu membuat kelopak mata tergoda untuk terkatup.
Begitulah yang dirasakan Samuel. Konsentrasi hapalan lelaki jakung itu terpecah jadinya. Namun, sekuat tenaga ia mencoba menahan meskipun terkantuk-kantuk. Tanggung tinggal dua ayat lagi yang belum dihapal, begitu pikir Samuel.
"Saya ke dalam sebentar, ya," kata Aisyah. Lalu ia melangkah pergi.
Selang beberapa menit Aisyah membawa nampan berisi teh lemon madu dan sestoples kue kering.
"Jangan dipaksa ngafalnya. Nikmati saja prosesnya. Kalau lelah berhenti dulu." Aisyah meletakkan nampan tadi di hadapan Samuel sambil tersenyum.
"Minum dulu. Biar rileks."
"Terima kasih, Ai." Samuel membalas senyum sang istri.
Aisyah dan Samuel pun menikmati hidangan bersama sambil menyaksikan di depan sana sawah hijau membentang luas dan bukit-bukit terpancang kokoh.
Makin betah saja rasanya tinggal di desa, begitu pikir Samuel.
Setelah rasanya mulai tidak mengantuk lagi, Samuel kembali melanjutkan hafalannya, sedangkan Aisyah asyik menulis di sticky note. Entah apa yang ditulis oleh gadis Minang itu. Ia tampak serius sekali.
Samuel akhirnya sudah bisa menghafal dua ayat terakhirnya. Ia pun kemudian meminta Aisyah untuk menyimak hafalannya.
"Huwallah. Di situ berat bukan tipis." Aisyah mempelurus bacaan sang suami yang tengah muraja'ah Surah Al-ikhlas, surah yang dihafalnya tadi.
'Surah pendek, tapi susah banget dihafal,' batin Samuel.
Samuel kembali mengulang. Akhirnya bisa juga dia.
"Alhamdulillah. Kan, bisa." Aisyah tersenyum lebar.
"Iya. Alhamdulillah."
"Yang terpenting dari usaha itu proses, bukan hasilnya. Jadi, nikmati proses itu meski payah sekali pun." Aisyah kembali mengulang pesannya tadi: lecutan semangat untuk sang suami.
Samuel mengangguk paham sambil menampakkan giginya nan rapi. Lalu refleks ia mengelus lembut sang istri. Sontak Aisyah terpaku. Kini rona pipi gadis Minang itu berubah menjadi merah muda, tersipu malu dia.
Memecah kecanggungan, Aisyah memberikan sebuah buku catatan yang sudah ditempelkan stycki note di dalamnya pada Samuel.
"Apa ini?" Samuel mengambil buku yang disodorkan Aisyah padanya. Lalu ia membuka. Rapi dan cantik sekali isinya, begitu Samuel berbicara dalam hati.
"Kamu yang buat?"
"Iya. Di situ saya menulis jadwal Abang belajar. Sama keterangan-keterangan yang Abang belum tahu maksudnya."
"Jadwal?"
"Iya. Biar lebih tearah belajarnya."
"Pinter kamu," puji Samuel sembari mengacak kepala Aisyah yang tertutup kerudung.
***
Selepas isya, hujan mengguyur bumi. Desau suara hujan dan angin bersamaan dengan lantunan Kalamullah.
Syahdunya rintik hujan bergandengan dengan ayat suci yang dilantunkan, mengalahkan alunan melodi-melodi atau pun sajak yang tak bertepi.
Aisyah mengaji, Samuel mendengarkan. Takjub. Begitulah kata yang tersemat oleh Samuel pada sang istri.
Ayat demi ayat yang Aisyah lantunkan menyeruak menyelusup kalbu Samuel. Memang lelaki itu tak mengerti maksud dari ayat yang Aisyah baca, tetapi entah kenapa hatinya terenyuh.
Bacaan hasbuk dibaca Aisyah, pertanda ia telah usai membaca Al-Qur'an. Lalu Aisyah tersenyum pada lelaki di hadapannya. Sementara Samuel menatap sang istri dengan mata berbinar.
"Coba jelaskan, Aisyah. Arti dari ayat yang kamu baca tadi," titah Samuel.
"Yang saya baca tadi Surah Al-fajr ayat 27 sampai 30. Yang artinya, wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
"Maksud dari ayat itu, Allah memberi kabar bagi orang-orang yang beriman yang jiwa mereka merasa tenang dan damai ketika menuju janji pertemuan dengan-Nya, Allah. Jiwa-jiwa yang senantiasa bertobat dan yakin bahwa Allah tuhan mereka serta rida atas segala ketetapan-Nya.
"Dan balasan dari pemilik jiwa-jiwa yang tenang lagi damai itu ialah surga."
Samuel termenung mendengar penjelasan sang istri. Aisyah menyentuh lengan Samuel kemudian mengelusnya. Lelaki kota itu pun tersenyum diperlakukan demikian.
"Ajarkan saya mengaji, Aisyah."
"Iya."
Aisyah begitu sabar dan telaten mengajarkan Samuel belajar iqra'. Tak sepatah u*****n atau kekesalan di saat sang suami salah dalam bacaan. Ia menegur dengan lembut.
"Ini tsa. Cara membacanya apit lidah dengan gigi atas dan bawah." Aisyah mempratekkan.
Samuel pun mengikuti. Namun, cara Samuel membaca berbeda dengan Aisyah. Lelaki jakung itu malah menjulurkan lidahnya.
"Bukan dijulur, tapi diapit gitu." Aisyah tergelak. Lalu ia kembali mempratekkan.
"Begini?"
Kembali lelaki jakung itu mengulangi cara bacanya. Setelah beberapa kali mencoba barulah ia mulai bisa. Aisyah pun kemudian mengucap syukur, sedang Samuel tegak dari duduk lalu ia berjingkrak. Ah, senang sekali dia.
"Ai, sebagai imbalan karena udah bantuin abangmu ini belajar, besok Abang traktir makan. Mau?" tanya Samuel di saat sudah letih berjingkrak-jingkrak. Ngos-ngosan dia berbicara tadi.
"Oh, iya jelas mau, dong." Aisyah memutar bola mata sampai berada dalam satu garis lurus dengan indera penglihatan Samuel, kemudian menarik bibir secara horizontal sampai sudutnya tertarik ke atas karena kontraksi otot wajah di sekitar mulut. Matanya pun menyipit sehingga menimbulkan kerutan di kedua sudutnya kala mendengar penawaran dari sang suami.
Sudah terbayang oleh Aisyah bakso urat, bakso beranak, kue pinyaram, sala lauak, kue puluik manih, martabak ... hayo apa lagi?