"Makanan kamu enak. Tapi, kok, daging di gulai itu pahit, ya?"
Hah? Daging?
Aisyah tidak memasukkan daging di gulainya. Sesaat gadis Minang itu mencoba berpikir. Daging yang mana dimaksud oleh sang suami.
Tangan Samuel ditarik Aisyah ke ruang makan. Setelah sampai di ruang itu, Aisyah meminta Samuel mencari daging yang dimaksud.
"Nah, ini dagingnya. Daging, kok, pahit, sih."
Datuk Bahri dan Aisyah saling pandang. Demi rasa kemanusiaan, maksudnya agar Samuel tak malu, bapak dan anak itu menahan tawa.
"Ini bukan daging. Mirip iya. Ini namanya asam kandis," ucap Aisyah. Setelah itu ia mengatup bibir rapat-rapat.
"Oh, begitu ...." Samuel ber-oh ria. Lalu ia tertawa sendiri.
***
Sepasang pengantin baru--Aisyah dan Samuel jalan-jalan keliling desa sambil menceritakan kejadian di saat sarapan tadi. Maksudnya Samuel yang bercerita: menceritakan bagaimana rasanya memakan asam kandis--pohon yang berasal dari India itu: antara asam dan pahit.
Saat mengingat asam kandis yang dikira daging, Samuel tak bisa menahan tawa. Sementara Aisyah hanya tertawa kecil saja.
Bahan obrolan mereka terhenti di saat Samuel tampaknya menginjak sesuatu yang lembek.
"Tai." Lelaki jakung bertubuh six-pack itu kemudian mengumpat. Ia menginjak t*i sapi rupanya.
Lagi. Aisyah menahan tawa. Takut Samuel malu atau tersinggung.
"Kok, bisa, sih?"
Susah payah gadis Minang itu menahan tawa. Lepas juga pada akhirnya. Sakit perut Aisyah sebab berlebihan tergelak. Gelak Aisyah mengundang perhatian orang-orang yang lewat.
"Aikh, iko ulah jawi Pak Supri. Tapijak dek urang gagah jadinyo." (Aikh. Ini gara-gara sapi Pak Supri. Kan, jadi terinjak sama orang ganteng.)
"Dasar jawi. Sambarang se buang ciriak." (Dasar sapi. Sembarangan buang kotoran.)
Sebenarnya orang-orang itu ingin menertawakan Samuel: jalan kok tidak lihat-lihat, begitulah pikir mereka. Namun, takut samuel malu jadilah si sapi yang disalahkan.
Sementara Samuel bukannya malu atau marah, ia justru senang melihat Aisyah tertawa begitu. Bahagia Aisyah menikah dengannya, begitulah pikir Samuel.
"Tertawa saja sepuasnya. Karena tawamu itu bahagiaku juga." Samuel melemparkan senyum lebarnya pada Aisyah.
"Gombal macam apa itu?" kata Aisyah sesaat setelah berhenti tergelak.
Samuel hanya menanggapi dengan nyengir kuda. Lalu Aisyah mengantarkan Samuel ke tepi sungai kecil untuk membersihkan t*i yang melumuri kaki lelaki kota itu.
Melewati pematang sawah terlebih dahulu barulah akan sampai di sungai kecil itu. Tahulah, kan bagaimana pematang sawah. Jalannya hanya setapak dan sebab habis diguyur hujan, pematang itu menjadi licin.
"Aaa ...."
Benar saja. Kelicinan pematang tadi menginginkan korban rupanya. Aisyah-- si gadis Minang asli itu terjatuh. Berkubanglah baju, kerudung, tangan, kaos kaki, dan bahkan lumpur itu muncrat ke wajah Aisyah.
Buru-buru Samuel membantu sang istri tegak. Tampak jelas gurat cemas di wajah Samuel kala Aisyah seperti itu.
"Ada yang sakit, Aisyah?"
"Tidak."
Sejenak Aisyah tampak berpikir. "Kenapa kita harus ke sungai itu, ya? Padahal di sana ada sumur." Aisyah menunjuk sumur tua di tepi jalan.
Samuel melongo dengan apa yang Aisyah sebutkan. Kalaulah ada sumur di sana, sedari tadi sudah kelar kaki Samuel bersih dari t*i sapi. Malah sekarang Aisyah juga ikut kotor saat menuju sungai, kira-kira seperti itu pikir Samuel. Kesal.
"Nggak papa. Kalau bisa hidup ribet kenapa harus yang mudah. Bukan begitu?" Samuel bertanya seraya menaikkan sebelah alis tebalnya.
Aisyah tertawa kecil dan setelahnya meminta maaf. Merasa tidak enak hati gadis Minang itu rupanya.
Aliran air sungai kecil tersebut tidaklah begitu deras. Airnya jernih dan tak terlalu dalam hanya sebatas sedikit di atas mata kaki.
Mulailah Samuel dan Aisyah sama-sama turun ke sungai: membersihkan kotoran yang menempel. Buru-buru Samuel membersihkan kakinya. Dingin. Padahal matahari sudah menyingsing. Namun, udara masih saja terasa dingin.
Sementara Aisyah masih saja membersihkan gamis, kerudung, wajah, dan beberapa bagian yang terkena lumpur.
Akhirnya gadis Minang itu selesai juga membersihkan diri. Saat Aisyah naik ke daratan, Samuel melihat sesuatu yang menempel di kaki Aisyah.
Samuel pun bertanya benda apa yang hinggap di kaki Aisyah. Bentuk benda itu panjang, berwarna hitam, sedikit besar.
Sontak setelah melihat benda yang disebut Samuel, Aisyah berteriak histeris dan menendang-nendang ke udara sambil meminta sang suami untuk membuang benda yang menempel di kakinya. Panik sekali dia.
Lelaki jakung itu pun kemudian meminta Aisyah tenang dan mulai membuang benda yang belum pernah dilihat oleh dirinya. Saat memegang benda hitam panjang itu ternyata amat lembek, tak bertulang. Samuel geli sendiri jadinya dan urung membantu menjauhkan benda itu dari sang istri.
Jeritan Aisyah berganti jadi tangis. Antara kasian, cemas, dan geli, posisi Samuel kini. Kasian dan cemas melihat sang istri menangis. Namun, ia pun geli menyentuh benda itu.
Lintah
Hewan berbadan pipih bergelang-gelang tersebut sudah membuat sepasang insan itu dilanda ketakutan. Bukan. Lebih tepatnya geli.
Samuel pun mencari cara agar bisa membuang lintah tak bertulang itu tanpa menyentuhnya.
Kayu. Ya, Samuel mendapatkan ide mengambil kayu untuk mencolok lintah tersebut.
Sekali mencolok
Dua kali
Tiga kali
Lintah itu enggan beranjak tampaknya. Susah sekali.
Aisyah masih menangis sambil menutup wajah dengan telapak tangannya. Bertambah panik Samuel.
Beruntung setelah bergelut dengan kepanikan seseorang bapak lewat. Bapak itu menyandang cangkul di pundaknya, mungkin hendak ke sawah.
"Ada apa?" tanya bapak tadi.
"Ini, Pak. Di kaki istri saya ada lembek-lembek begini. Duh, apa, ya namanya?"
"Ini lintah ini."
Bapak tadi pun segera mengambil lintah itu dengan tangannya. Sekali ambil langsung terangkat. Daebak, begitu pikir Samuel.
Sedikit lengket saat bapak tadi hendak membuang lintah itu di tangannya. Mungkin sudah terbiasa dan mengerti juga tentang hewan lunak tersebut, akhirnya lintah tadi dihempas entah ke mana.
Darah segar keluar dari tempat gigitan lintah tadi di kaki Aisyah. Gegas Samuel membuka kaosnya, menyumbat darah yang masih keluar.
"Duh, kok, banyak banget darahnya. Sakit nggak, Ai?" Samuel panik. Aisyah biasa saja. Memang gigitan lintah itu tidak sakit.
"Nggak papa. Tidak sakit pun," jawab Aisyah.
"Tidak sakit tapi kamu nangis."
"Aku cuma geli lihat lintah itu."
"Buat cemas aku saja." Samuel mencebik. "Oh, ya. Terima kasih banyak, Pak. Sudah membantu," ucap Samuel kemudian.
"Iyo. Samo-samo. Oh, iko suami kau, Aisyah?" (Iya. Sama-sama. Oh, ini suami kamu, Aisyah?)
"Iya, Pakcik. Terima kasih, yo, Pakcik." Aisyah sedikit sesenggukan.
"Maaf. Pakcik tidak datang ke pernikahan kamu. Waktu itu masih sakit."
"Indak apo-apo, Pakcik."
Aisyah pun kemudian mengenalkan bapak tadi pada Samuel. Lelaki paruh baya itu rupanya ayah dari Amar.
Kadang memang kita akan bertemu dengan orang-orang yang sedikit banyaknya ada sangkut paut dengan orang yang pernah hadir dalam hidup kita. Sempit sekali dunia ini, begitu kira-kira pikir Samuel.
"Amar tiga hari yang lalu ke kota. Anak itu keras kepala. Padahal sudah dilarang. Katanya mau mencoba merantau, mengadu nasib ke kota."
Tanpa ditanya tentang Amar, bapak itu menceritakan anaknya. Hati Aisyah tercubit mendengar ucapan ayah dari lelaki yang dicintainya itu.
Bayangan Amar terlintas di pelupuk matan Aisyah. Lalu membiarkan sang pujaan hati memasuki alam pikirannya.
Teringat oleh Aisyah di tepi danau kembar mereka merancang lembaran masa depan bersama.
"Setelah kita menikah, Uda akan mencoba merantau, mencari modal usaha. Dan kamu tak perlu ikut. Kasian Bapak sendiri di sini. Setelah uang Uda cukup, kita akan memulai usaha di sini."
Aisyah hanya menunduk sambil butir-butir air itu jatuh tanpa permisi mendengar ucapan Amar kala itu. Namun, semuanya hanya lembaran rencana. Lalu titah Datuk Bahri agar sang angin membawa lembaran yang sudah Amar susun rapi terbang entah ke mana, dan ternyata semesta pun ikut mendukung rupanya.
Lamunan Aisyah buyar kala Samuel menyenggol lengan sang istri. "Aisyah, kamu dengar tidak?"
"Pakcik pamit ke sawah dulu, ya?"
"Iya, Pakcik. Terima kasih sekali lagi. Dari dulu sampai sekarang, Pakcik, selalu menolong saya," jawab Aisyah.
Bapak itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Aisyah. Ayah dari Amar itu pun kemudian berlalu meninggalkan kenangan. Bukan. Maksudnya meninggalkan informasi yang amat penting bagi Aisyah tentang Amar.