"Saya minta maaf kejadian tadi. Saya tidak mau jadi istri durhaka. Apa kamu memaafkan saya?" Aisyah mencoba tersenyum.
"Oh, itu. Ehm, gimana, ya? Kalau saya tidak memaafkan kamu bagaimana?" tanya Samuel menggoda.
"Kalau kamu tidak memaafkan saya, Allah juga tak rida pada saya. Karena rida Allah setelah rida suami."
Samuel mengangguk paham. Secara tidak langsung, ilmu baru didapatkannya. 'Indah sekali,' batin Samuel.
"Kamu memaafkan saya, Samuel?" Aisyah meminta kepastian.
"Tentu. Kalau kamu memenuhi syarat saya."
"Apa? Syarat?"
"Iya."
"Apa syaratnya? Asal jangan minta saya pijat atau urut untuk sekarang. Saya masih capek." Aisyah berkata sambil menunduk.
"Tidak. Bukan itu syaratnya."
"Jadi?"
"Panggil saya dengan sebutan Abang." Samuel menampilkan deretan gigi rapinya.
Aisyah pun mendongak kemudian ia menatap Samuel dengan mesem-mesem. 'Syarat yang membagongkan,' pikir Aisyah.
***
Setelah selesai menunaikan Salat Subuh, Aisyah berkutat di dapur. Kali ini ia memasak gulai paku campur petai.
Tangan Aisyah begitu gesit. Di waktu bersamaan saat memasak gulai paku, gadis Minang itu juga menggoreng kerupuk jariang--kerupuk yang bahan dasarnya jengkol yang sudah dipipihkan dan dijemur.
Saat tengah bertempur di dapur, ketukan pintu bersamaan panggilan namanya, Aisyah melangkah ke luar setelah mematikan kompor terlebih dahulu.
Sebelum membuka pintu, Aisyah mengintip dari jendela siapa gerangan di luar.
Rupanya sang ayah dan suaminya yang baru pulang berjamaah di masjid.
Aisyah pun membuka pintu. Lalu menyalami keduanya bergantian.
"Wah, harum bana, Aisyah. Kau masak apo?" tanya Datuk Bahri. (Wah, harum sekali, Aisyah. Kamu masak apa?)
"Masak gulai paku, Pak." Aisyah berkata sambil menampakkan senyum manisnya.
Senyum Aisyah membuat Samuel juga ikut tersenyum rupanya. 'Manis banget. Kayak kopi kebanyakan gula,' batin Samuel.
Di saat memikirkan kopi, Samuel refleks menyebutkannya.
"Nio kopi kau, Samuel?" Datuk Bahri bertanya pada Samuel yang masih menatap Aisyah. (Kamu mau kopi, Samuel?
Melihat Samuel yang tengah melamun itu, Aisyah menyenggol-nyenggol lengan sang suami. Samuel pun tersadar.
"Bapak tanya, Abang mau minum kopi?" Saat mengatakan 'abang' Aisyah menekan suaranya. Nyaris saja tak terdengar. Sedikit malu gadis itu memanggil sang suami seperti tadi. Belum terbiasa sebenarnya.
"Hah? Kopi? I--iya boleh." Samuel gelagapan.
"Aisyah, buatkan," titah Datuk Bahri.
Aisyah pun berlalu menuju dapur. Namun, baru beberapa langkah Datuk Bahri menghentikan.
"Aisyah, Bapak teh hijau sajo, yo. Dan kau kopi pahit atau manis, Samuel?"
Samuel yang masih belum bisa pangling dengan bayangan senyum Aisyah nan manis itu masih saja gelagapan.
"Eh, kopi pahit. Eh, kopi manis banyak gula."
"Yang benar yang mana? Pahit atau manis?" tanya Aisyah seraya menaikkan satu alisnya. Sementara Datuk Bahri geleng-geleng kepala melihat tingkah Samuel semenjak datang ke rumahnya.
"Pahit saja. Kan manisnya ada di kamu." Setelah mengucapkan kata-kata yang membuat Aisyah mesem-mesem jadinya, Samuel gegas kabur ke kamar.
***
Beberapa menit kemudian, Aisyah membawakan nampan berisi segelas teh dan kopi juga sepiring goreng pisang.
"Pak, Bang Samuel mana?" Aisyah meletakkan nampan di meja.
"Masih dalam bilik." (Masih dalam kamar)
Setelah menata makanan dan minuman di meja, Aisyah menghampiri sang suami di kamar mereka.
Aisyah tak mendapati Samuel di kamar. Terdengar bunyi keran air di kamar mandi, pasti itu Samuel.
Di saat menunggu Samuel ke luar dari bilik air, Aisyah mendengar ada yang berdering. Rupanya telepon milik Samuel di nakas.
Awalnya Aisyah mengacuhkan, tetapi telepon itu belum juga usai berdering. Sementara Samuel juga belum keluar.
Aisyah pun mendekat ke nakas. Dilihat dari layar, sebuah telepon masuk dan tertera di sana nama 'Nadira baru'.
Ragu sebenarnya Aisyah mengangkat, tapi ia pun penasaran siapa gerangan dengan Nadira itu.
Awalnya Aisyah ingin menyapa orang di seberang sana dengan salam, tetapi Nadira langsung to the poin. Jadilah Aisyah pendengar.
"Kakak, aku butuh Kakak sekarang. Seminggu itu terlalu lama. Tidak bisakah kembali hari ini atau lusa?"
"Maaf, Mbak. Samuel sedang di kamar mandi. Nanti hubungi--"
Belum tuntas Aisyah berbicara sambungan telepon itu diputus.
Aisyah menggeleng pelan sambil menatap layar ponsel.
"Aisyah ...."
Samuel keluar dari bilik air dalam keadaan rambut basah dan bertelanjang d**a. Hingga menampakkan bodynya yang lumayan seperti roti sobek. Habis mandi rupanya lelaki itu. Sebelum Salat Tahajud tadi memang Samuel tidak mandi. Dingin alasannya.
Aisyah meletakkan telepon di nakas sambil membalikkan badan dari hadapan Samuel. Malu dia. Padahal di saat memijat Samuel waktu itu Aisyah bahkan sudah memegang tubuh yang lumayan six-pack tersebut.
"Telepon kamu tadi bunyi. Saya angkat. Peneleponnya Nadira."
"Hah? Benarkah?"
Samuel pun mendekat ke nakas. Aisyah menggeser menghadap tembok. Masih belum berani melihat ke arah Samuel.
"Nanti kopi kamu ke buru dingin. Segeralah keluar. Bapak juga sudah di sana."
"Kamu ngomong sama tembok? Saya di sini, loh," kata Samuel seraya memasang baju kaos putih.
"Iya, saya tahu. Pakai dulu baju kamu." Aisyah sedikit terdengar ketus.
"Sudah."
Aisyah membalikkan. Sesaat ia terkesima dengan penampilan sang suami. Vibes seorang Samuel jelas terlihat di mata Aisyah terlebih saat Samuel menyugar rambut dan memakai baju warna putih: warna kesukaan gadis Minang itu.
Buru-buru Aisyah mengembalikan kesadarannya.
"Oh, ya. Nadira bilang apa?"
"Katanya dia butuh kamu sekarang dan minta balik cepat ke kota."
Samuel mengusap wajah. Jelas terlihat bahwa ia khawatir sekali dengan Nadira.
Tanpa berniat bertanya siapa Nadira, Aisyah pamit ke luar. Beberapa saat ia berbalik. "Ehm, lain kali kamu jangan ngegombal seperti tadi. Apalagi di depan Bapak. Saya malu."
"Malu tapi mau, 'kan?" Samuel tersenyum.
"Ish."
Merasa kalah telak, Aisyah keluar, tetapi kali ini diurungkan lagi sebab Samuel memanggil.
"Lain kali juga biasakan panggil Abang. Saya tidak rida dengan sebutan 'kamu'." Kali ini Samuel tersenyum lebar.
Senyum Samuel membuat Aisyah bergidik ngeri.
***
Di meja makan terhidang makanan yang asing bagi Samuel. Ya, belum pernah lelaki kota itu memakan gulai paku plus kerupuk jengkol balado.
Aisyah mengambil nasi dan menuangkan gulai di piring sang ayah. Setelah itu ia mulai mengambil untuk Samuel.
"Ini namanya gulai paku."
Aisyah melirik sekilas ke Samuel sambil tersenyum.
Luar biasa. Baru saja Samuel mau bertanya, Aisyah sudah memberi tahu duluan. Macam tahu saja si Aisyah pikiran orang, begitu pikir Samuel.
"Dan ini namanya karupuak jariang balado," lanjut Aisyah kemudian.
Samuel mengangguk-angguk pertanda paham sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Baa masakan Aisyah, Samuel? Lamak?" Datuk Bahri bertanya.
"Lamak? Oh, gulai itu memang banyak lemak, Pak. Karena ada santannya." Samuel menjelaskan dengan percaya diri.
Aisyah dan Datuk Bahri menggeleng kecil sambil tersenyum mendengar ucapan Samuel.
"Bukan itu maksud, Bapak. Bapak tanya, masakan saya enak atau tidak?" Aisyah meluruskan maksud yang sebenarnya.
Pipi Samuel memanas. Malu. Ia menggaruk pelipis yang tidak gatal dengan tangan kiri.
Samuel orang Minang asli, tetapi banyak kosa kata bahasa Minang yang tidak diketahuinya. Semenjak di desa inilah kosa katanya bertambah.
Datuk Zainal dan Maryam juga jarang berbicara menggunakan bahasa daerahnya. Jadilah Samuel lupa bahkan nyaris terlupa.
Lelaki jakung itu kemudian mengacungkan jempol sambil melirik ke sang istri. "Enak banget, Pak."
Sekali suapan terasa nikmat oleh Samuel, dua kali suapan bertambah lezat, dan yang ke tiga kali ....
Hueek
Samuel menutup mulut dengan telapak tangan kemudian bergegas ke bilik air.
Aisyah dan Datuk Bahri pun keheranan. Kenapa macam orang bunting saja si Samuel, pakai acara muntah segala, begitu pikiran Datuk Bahri.
"Aisyah coba kamu lihat Samuel," titah Datuk Bahri.
Gadis Minang berparas ayu itu pun melangkah ke bilik air. Setiba di depan kamar mandi, Aisyah mengetuk pintu.
"Ehm ... A--Abang kenapa?"
Masih ragu Aisyah memanggil sang suami dengan sebutan 'abang'. Dari pada tidak mendapatkan rida suaminya, mau tak mau Aisyah harus membiasakan.
Tak ada sahutan dari Samuel di dalam sana. Hanya suara gemericik air yang terdengar.
"A--Abang ... Abang baik-baik saja, 'kan?"
Hening. Suara air tak lagi terdengar. Pun Samuel belum juga menyahut dari dalam sana.
"Abang ... ayolah! Jangan buat orang cemas." Aisyah sedikit panik.
Aisyah mencoba mengingat pesan bunda mertuanya tentang makanan yang membuat Samuel alergi: telur dan udang. Dan Aisyah tadi juga tidak ada mencampur makanan itu di gulainya.
'Jadi, Samuel kenapa? Apa karena ada campuran petai di gulai itu?.' Aisyah mulai menduga-duga.
Beberapa saat barulah Samuel keluar sambil mengatup-ngatupkan mulut dan ekspresi wajahnya seperti orang yang baru memakan makanan yang pahit.
"Kenapa? Abang baik-baik saja, 'kan?"
"Pahit."
"Kok, pahit. Apanya yang pahit? Bukannya tadi Abang bilang makanannya enak?"
Mata Aisyah mulai sendu. Apa jangan-jangan tadi Samuel berbohong mengatakan masakan Aisyah enak, padahal sebenarnya pahit? Sungguh tega Samuel padanya, begitu Aisyah menduga.
"Makanan kamu enak. Tapi, kok, daging di gulai itu pahit, ya?"
Hah? Daging?
Aisyah tidak memasukkan daging di gulainya. Sesaat gadis Minang itu mencoba berpikir. Daging yang mana dimaksud oleh sang suami.
Tangan Samuel ditarik Aisyah ke ruang makan. Setelah sampai di ruang itu, Aisyah meminta Samuel mencari daging yang dimaksud.
"Nah, ini dagingnya. Daging, kok, pahit, sih."
Datuk Bahri dan Aisyah saling pandang. Demi rasa kemanusiaan, maksudnya agar Samuel tak malu, bapak dan anak itu menahan tawa.
"Ini bukan daging. Mirip iya. Ini namanya asam kandis," ucap Aisyah. Setelah itu ia mengatup bibir rapat-rapat.
"Oh, begitu ...." Samuel ber-oh ria. Lalu ia tertawa sendiri.