"Samuel, tunggu!"
"Iya?"
"Ehm, saya minta maaf."
"Maaf?"
"Iya. Ta--tadi saat membangunkan kamu Tahajud, sa--saya menyiram wajah kamu dengan air." Ragu Aisyah berkata. Ia sudah siap bila harus dimarahi sang suami. "Maaf."
Samuel terkaget. Bisa-bisanya Aisyah berlaku demikian. Emosian juga rupanya si Aisyah, begitu pikir Samuel.
Melihat ekspresi Aisyah bak orang ketakutan, Samuel tak tega memarahi. Meskipun ia tak marah sebenarnya dengan perbuatan Aisyah. Toh, wajar Aisyah berlaku demikian padanya. Memang ketika ia sudah tidur, susah sekali dibangunkan.
"Ah, tidak apa. Jangan dipikirkan," jawab Samuel seraya tersenyum. "Tapi saya berpikir, kamu harus mendapatkan hukuman. Bagaimana?" tanya Samuel kemudian.
Kening Aisyah membentuk gelombang kala mendengar penuturan Samuel. "Hukuman apa?"
"Nanti malam kamu akan tahu." Samuel menyeringai.
Aisyah terperanjat.
***
Malam yang dinantikan Samuel pun datang. Sebentar lagi Aisyah akan menjalankan hukumannya. Samuel merasa menang banyak.
Sedari tadi Samuel sudah menunggu Aisyah di dalam kamar mereka, tetapi sang istri belum juga menghampiri. Padahal lelaki jakung itu sudah bersiap-siap.
Tak berapa lama, pintu diketuk. Sudah pasti itu Aisyah. Melihat Aisyah yang datang, Samuel tersenyum puas. Sementara gadis Minang itu menggeleng pelan. Mau menolak, tetapi takut berdosa. Mau tak mau ia manut saja dengan keinginan sang suami.
"Saya tidak bisa mengurut. Pijat saja, ya?" tanya Aisyah.
"Terserah saja. Terpenting badan saya tidak pegal lagi." Samuel membuka baju. Lalu ia menelungkup, bermaksud agar Aisyah memijat punggungnya.
Aisyah mengambil posisi di samping Samuel dan mulai mengerjakan hukumannya.
Sebenarnya Aisyah juga pegal. Memang setelah resepsi kemarin badannya terasa remuk. Bagaimana tidak, seharian menjadi ratu: menyalami para tamu ditambah lagi suntiang di kepala yang begitu berat, tentu tubuhnya kini tidak bersahabat.
Awalnya pijatan Aisyah terasa oleh Samuel, tetapi kelamaan bak sentuhan biasa saja yang terasa.
"Aisyah, nggak kerasa." Samuel mulai protes.
"Masa, sih?" tanya Aisyah.
"Iya, nggak kerasa."
Aisyah pun kemudian berusaha memijat lebih keras lagi. Namun, Samuel masih saja tidak kerasa. Proteslah Samuel pada Aisyah lagi. Keseringan protes, membuat Aisyah geram pada sang suami. Gadis Minang itu emosi akhirnya.
"Ini sudah lebih keras. Kamu mau sekeras apa, sih? Saya sudah capek." Aisyah pun berhenti memijat sang suami.
Samuel bangkit. Lalu menatap Aisyah dengan alis yang saling tertaut. "Kok, marah, sih? Emosian banget."
"Saya memang emosian," jawab Aisyah ketus. Ia kemudian memilih berlalu ke luar.
Saat keluar kamar, Aisyah berpapasan dengan ayahnya. Sadar Aisyah tak baik-baik saja Datuk Bahri pun bertanya.
"Kenapa wajah kamu ditekuk begitu, Aisyah?"
Aisyah memilih diam. Tak berminat menjawab sama sekali. Datuk Bahri paham betul dengan sang anak. Aisyah memang tipikal orang yang emosian, tetapi setelah menumpahkan segala kekesalannya, Aisyah akan merasa tidak enak hati sendiri.
"Duduk dulu, Nak," pinta Datuk Bahri. Aisyah mengekori sang ayah menuju ruang keluarga.
"Marah sama Samuel, ya?" tanya Datuk Bahri kemudian.
Aisyah mengangguk pelan. Datuk Bahri tersenyum kecil. "Aisyah, kamu tak ingat pesan Etek, Mak Uo, dan yang lainnya saat malam bainai waktu itu?"
Gadis Minang itu mencoba mengingat. Pesan-pesan nasehat orang-orang di malam bainai kala itu kembali terekam di benaknya: tentang sabar, ikhlas, syukur diperluas, taat dan patuh pada suami.
Aisyah mengatakan apa yang ia ingat pada sang ayah. Datuk Bahri mangut-mangut.
"Benar. Satu lagi. Segala langkah dan perbuatan kamu tergantung rida suamimu. Sekarang Bapak tanya, kira-kira kamu marah seperti ini apa suamimu rida?" Tanpa mengetahui titik masalah sang putri, Datuk Bahri sudah bisa menebak apa yang terjadi di antara mereka. "Emosi kamu itu diredam, Aisyah. Cobalah berubah. Bapak yakin, masalahnya pasti sepele."
Aisyah hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Ia mengakui kesalahan sendiri. Memang tak patut bersikap demikian. Apalagi itu bukan masalah besar. Bagaimana nanti bila ia harus mengahadapi masalah yang rumit?
"Sana berwudu dulu. Tenangkan dirimu," titah Datuk Bahri. Gadis Minang itu pun beranjak menuju kamar mandi di dekat dapur.
Bersamaan dengan kepergian Aisyah, Samuel datang. Sudah terbiasa sebenarnya si Samuel menghadapi emosian para wanita. Jadi, baginya apa yang Aisyah lakukan tadi biasa saja.
Toh, pikir Samuel mungkin mood Aisyah lagi tidak baik. Nanti pasti bakal baik sendiri.
"Pak, Aisyah mana?"
"Ke kamar mandi. Ayo, duduk."
Samuel dudu di hadapan Datuk Bahri. Mulailah ayah dari Aisyah itu menceritakan tentang sang putri. Datuk Bahri mengatakan bahwa memang Aisyah emosian dan kadang juga moodyan. Namun, setelah emosinya sudah stabil, maka Aisyah akan meminta maaf sendiri terlepas dirinya benar atau pun salah.
"Sabar saja menghadapi anak Bapak itu, Nak Samuel. Itu salah satu tabiat buruk Aisyah."
Samuel mengangguk-angguk paham. 'Cantik, sih. Tapi emosian,' batin Samuel.
***
Malam ini Samuel kembali tidur di atas lantai beralaskan permadani. Sementara Aisyah di atas kasur. Sedari tadi gadis Minang itu belum bisa memejamkan mata.
Aisyah teringat akan sebuah hadis yang diketahuinya ketika mengikuti kajian mingguan di desanya: tentang seorang suami yang tidak rida dengan istrinya, maka menjadi penyebab bagi sang istri terhalang masuk surga.
Tidak. Aisyah tidak ingin itu terjadi. Bukankah di saat sudah menikah, sebagai ajang bagi seorang istri untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala? Iya, menyeduh kopi untuk suami saja sudah terhitung sebagai pahala bila dilakukan dengan ikhlas dan rida.
Aisyah bangkit dari pembaringan. Lalu ia melongok ke bawah. Terkejutlah Aisyah.
Rupanya Samuel dengan posisi terlentang dan mata masih melotot lebar, saat Aisyah melongok ke arahnya netra mereka beradu pandang.
Ada yang berdesir di hati Aisyah dan Samuel dari tatapan yang tak sengaja itu. Lalu mereka bergegas membuang pandang.
Samuel pun bangkit kemudian terduduk. "Ada apa, Aisyah?"
Setelah mengatur detak jantungnya, Aisyah beringsut dari kasur. Pelan gadis Minang itu melangkah menghampiri sang suami.
Aisyah kemudian duduk di depan Samuel. Setelah mengelap tangannya yang berkeringat, Aisyah meletakkan telapak tangannya di atas tangan Samuel. Sontak hal itu membuat Samuel kebingungan.
Napas Aisyah naik turun dengan cepat. Apa yang ia pelajari di pengajian, kini Aisyah mencoba mempratekkan. "Sam--Sammuel, ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam sebelum enggkau rida padaku."
Hening
Hanya detak jarum jam di dinding yang bersuara. Samuel masih mencerna dengan baik apa yang Aisyah katakan, sedangkan Aisyah menunggu jawaban sang suami.
"Ehm, Aisyah. Saya tidak paham yang kamu katakan." Samuel menggaruk pipinya yang gatal.
Gubrak
Sudah bersusah payah Aisyah melakukan adegan dramatis. Malah Samuel dengan polosnya mengatakan tidak paham.
Gadis Minang itu pun menjauhkan tangannya dari Samuel. Sedikit kesal si Aisyah. Ingin rasanya marah, tetapi ia sadar sedang dalam momen meminta maaf. Masa harus menambah kesalahan lagi, begitu pikir Aisyah.
Aisyah mengelus dadanya. 'Sabar, Aisyah,' batin Aisyah pada diri sendiri.
"Saya minta maaf kejadian tadi. Saya tidak mau jadi istri durhaka. Apa kamu memaafkan saya?" Aisyah mencoba tersenyum.
"Oh, itu. Ehm, gimana, ya? Kalau saya tidak memaafkan kamu bagaimana?" tanya Samuel menggoda.
"Kalau kamu tidak memaafkan saya, Allah juga tak rida pada saya. Karena rida Allah setelah rida suami."
Samuel mengangguk paham. Secara tidak langsung, ilmu baru didapatkannya. 'Indah sekali,' batin Samuel.
"Kamu memaafkan saya, Samuel?" Aisyah meminta kepastian.
"Tentu. Kalau kamu memenuhi syarat saya."
"Apa? Syarat?"
"Iya."
"Apa syaratnya? Asal jangan minta saya pijat atau urut untuk sekarang. Saya masih capek." Aisyah berkata sambil menunduk.
"Tidak. Bukan itu syaratnya."
"Jadi?"
"Panggil saya dengan sebutan Abang." Samuel menampilkan deretan gigi rapinya.
Aisyah pun mendongak kemudian ia menatap Samuel dengan mesem-mesem. 'Syarat yang membagongkan,' pikir Aisyah.