"Samuel, bisa jadi imam?" tanya Datuk Bahri pada menantunya.
Netra Samuel terbuka lebar-lebar, syok. Mana bisa ia mengimami salat. Bacaan salat saja ia lupa. Eh, tidak hafal maksudnya.
Segala macam yang berbau agama hanya dipelajarinya terakhir kali saat masih kelas enam sekolah dasar. Setelah itu lelaki berdarah Minang tersebut tak pernah lagi belajar mengaji di langgar.
Kegiatan Samuel banyak ia habiskan dengan bermain, hura-hura. Hingga terbiasa sampai ia dewasa. Bukan tanpa alasan sebenarnya Samuel berlaku demikian. Usut punya usut Samuel kecil hingga dewasa merasa kesepian.
Datuk Zainal--seorang pengusaha pertambangan yang tidak hanya dibuka di dalam negeri, tetapi ia juga membuka pertambangan timah di Selanggor. Hal itu membuat Datuk Zainal tak punya cukup waktu untuk sang putra.
Hal ini tak jauh berbeda dengan bunda Samuel, Maryam. Maryam berprofesi sebagai seorang koki kepala di restorannya sendiri. Meskipun bekerja di restoran sendiri, Maryam tak bisa berlepas tangan--apalagi ia koki kepala. Darah koki begitu kentara mengalir dalam daksanya.
Jangankan untuk menghabiskan waktu bersama Samuel, liburan pun sulit sekali Maryam mencari celah. Secara restoran hampir buka setiap hari. Mengingat ada saja tamu yang datang menghampiri, meski di tanggal merah sekali pun. Biasanya waktu-waktu libur itulah restoran ramai pengunjung.
Jadilah Samuel kecil hingga besar lebih banyak menikmati hidup dengan caranya sendiri.
Sebelum bertemu dengan Aisyah, Samuel memang berniat ingin hijrah. Seperti yang pernah ia ucapkan pada Aisyah bahwa ia penat bermaksiat. Apalagi sejak pertemuannya pertama kali dengan Aisyah di danau, secercah harapan ingin berubah kembali masuk menembus kalbunya.
Ketika Samuel mengetahui wanita yang akan dijodohkan dengannya ialah Aisyah, Samuel tentu menyetujui. Pikir Samuel waktu itu, dengan menikahi Aisyah maka akan memuluskan niat baiknya itu.
"Eh, anu, Pak. Sa--saya jadi makmum saja sekarang, Pak. Kapan-kapan jadi imam," jawab Samuel gelagapan.
Datuk Bahri mengangguk, menyetujui ucapan Samuel. Sementara Aisyah sedari tadi hanya mengulum senyum.
Dua belas rakaat begitu panjang bagi Samuel. Saat salat ia terkantuk-kantuk dan selalu menguap. Beruntung Samuel bisa menjaga keseimbangan. Kalau tidak mungkin sudah nyungsep dia.
Gerakan salat ditutup dengan doa-doa di penghujung malam. Berharap dengan doa yang dipanjatkan mampu mengetuk pintu langit dan nantinya pintu itu terbuka memberikan apa yang dikehendaki oleh si pengetuk. Itulah harapan Aisyah, Datuk Bahri, dan ... Samuel.
Tidak. Samuel tertidur saat Aisyah dan Datuk Bahri melangitkan doa. Bahkan dalam posisi duduk dengan tangan menengadah ke atas pun Samuel bisa tertidur. Mengantuk sekali dia.
"Aisyah," kata Datuk Bahri seraya menunjuk Samuel dengan dagunya. Datuk Bahri pun tertawa kecil melihat ulah menantunya itu.
Aisyah mengangguk pelan. Sedikit malu dia sebenarnya pada sang ayah sebab ulah suaminya itu.
Pelan Aisyah menyentuh bahu Samuel dan sedikit mengguncangnya. Nihil, Samuel tak merespon.
Posisi tangan Samuel yang masih menengadah bahkan dari tadi hampir terjatuh-jatuh ke bawah. Lalu entah bagaimana lelaki kota itu mampu mempertahankan posisi tangganya seperti semula.
'Ehm, sepertinya pria ini tukang tidur,' pikir Aisyah.
Datuk Bahri yang menjadi penonton Samuel tidur dalam posisi berdoa, kini tawanya renyah.
"Ada-ada saja suamimu ini, Aisyah. Bisa-bisanya tertidur seperti itu," kata Datuk Bahri seraya berjalan mengambilkan Al-Qur'an di rak.
Kebetulan tangan Samuel sedang menengadah, Datuk Bahri pun berinisiatif meletakkan Al-Qur'an di tangan sang menantu.
"Bapak," Aisyah menahan tawa dengan menutup mulut dengan mukena yang dikenakannya.
"Samuel," kata Datuk Bahri seraya menepuk pundak sang menantu cukup kencang setelah meletakkan terlebih dahulu Kalamullah di telapak tangan Samuel.
Samuel tersentak, dan refleks Al-Qur'an di tangannya terjatuh di atas sajadah. Lagi, mungkin kesadarannya belum benar-benar pulih membuat Samuel tampak kebingungan. 'Gue ngapain, ya?' batinnya.
"Jangan tidur dulu, Sam. Kita ngaji dulu," ucap Datuk Bahri sambil mengambil rekal Al-Qur'an. Lalu ayah dari Aisyah itu duduk di hadapan menantunya. Aisyah pun mengambil posisi di sebelah sang ayah.
Mendengar penuturan Datuk Bahri, netra Samuel membulat sempurna bak bulan purnama dan ia menggaruk pelipis yang tidak gatal.
Samuel berharap ingin menghilang seketika. Malu. 'Kok, bisa tidur, ya? Perasaan tadi lagi salat,' Samuel membatin.
***
Setelah sarapan, Datuk Bahri, Aisyah, dan Samuel berkumpul di ruang keluarga. Sekadar berbincang-bincang ringan. Aisyah lebih banyak mendengarkan, sesekali ia ikut nimbrung dalam obrolan.
Diam-diam Aisyah memerhatikan sikap Samuel ketika berbicara. Dilihat dari cara Samuel berbicara dan merespons pembicaraan, lelaki itu di mata Aisyah orang yang responsif--cepat memberi tanggapan dan humoris.
Datuk Bahri itu sebenarnya orang yang selalu serius dalam berbagai hal. Termasuk dalam berbicara ringan. Sedikit sukar orang-orang bercanda dengan ayah dari Aisyah itu, terlebih anak muda yang berbicara dengannya.
Sekonyong-konyong Datuk Bahri terhibur dengan apa yang Samuel ucapkan. Mereka berdua bak sahabat lama yang kembali bertemu. Terlihat akrab dan obrolan mengalir begitu saja.
Terlebih ketika mereka membicarakan Samuel ketiduran ketika berdoa tadi. Jawaban Samuel membuat Datuk Bahri tak kuasa bila tidak tertawa.
"Doa Bapak kepanjangan, sih. Jadi, saya tak sadar kalau sudah tertidur."
Gubrak
Datuk Bahri terpingkal-pingkal, sedangkan Aisyah mesem-mesem sendiri.
Perbincangan mereka seketika terjeda kala telepon genggam Samuel berdering.
"Saya izin angkat telepon, ya, Pak, Aisyah," kata Samuel. Lalu lelaki itu sedikit menjauh dari Datuk Bahri dan istrinya.
"Hai, Manis. Ada apa telepon pagi-pagi?" tanya Samuel pada orang di seberang sana, Nadira.
"Kakak tidak suka?" Nada Nadira berbicara seperti tersinggung mendengar pertanyaan Samuel.
"Bukan. Bukan begitu maksudnya, Nad. Oke, ada yang bisa Kakak bantu?"
"Nadira ingin ketemu sama, Kakak. Kapan kembali?"
Samuel mengernyit sambil menggaruk tengkuk yang mulai gatal mendengar ucapan Nadira.
Sulit bagi Samuel untuk menolak permintaan Nadira. Bisa-bisa kalau dijawab belum tahu atau semisalnya, gadis di seberang sana bisa merajuk. Dan hal itu menyakiti dirinya sendiri: tidak mau makan seharian misalnya.
"Minggu depan Kakak pulang ke Jakarta," jawab Samuel. Asal sebenarnya.
"Janji, ya?"
"Janji."
Merasa puas dengan jawaban Samuel, Nadira mengakhiri sambungan telepon. Sementara Sam yang sudah kepalang membuat janji, mau tak mau minggu depan harus kembali ke kota.
Seketika ia teringat Aisyah. Apa Aisyah bersedia ikut dengannya? Begitulah pikir Samuel.
***
Sesaat setelah kembali ke ruang keluarga tadi, Datuk Bahri sudah tidak ada di sana. Hanya ada Aisyah yang tengah membereskan bantal-bantal sofa yang tidak sesuai posisi.
"Aisyah, Bapak mana?" tanya Samuel.
"Di halaman belakang. Nyiram sayuran," jawab Aisyah.
"Ok. Saya ke sana dulu." Samuel pun melangkah. Aisyah menghentikan
"Samuel, tunggu!"
"Iya?"
"Ehm, saya minta maaf."
"Maaf?"
"Iya. Ta--tadi saat membangunkan kamu Tahajud, sa--saya menyiram wajah kamu dengan air." Ragu Aisyah berkata. Ia sudah siap bila harus dimarahi sang suami. "Maaf."
Samuel terkaget. Bisa-bisanya Aisyah berlaku demikian. Emosian juga rupanya si Aisyah, begitu pikir Samuel.
Melihat ekspresi Aisyah bak orang ketakutan, Samuel tak tega memarahi. Meskipun ia tak marah sebenarnya dengan perbuatan Aisyah. Toh, wajar Aisyah berlaku demikian padanya. Memang ketika ia sudah tidur, susah sekali dibangunkan.
"Ah, tidak apa. Jangan dipikirkan," jawab Samuel seraya tersenyum. "Tapi saya berpikir, kamu harus mendapatkan hukuman. Bagaimana?" tanya Samuel kemudian.
Kening Aisyah membentuk gelombang kala mendengar penuturan Samuel. "Hukuman apa?"
"Nanti malam kamu akan tahu." Samuel menyeringai.
Aisyah terperanjat.