Para tamu undangan dari berbagai kelas, maksudnya dari orang biasa hingga para pejabat daerah pun berbondong menghadiri resepsi pernikahan Aisyah dan Samuel di kediaman Datuk Zainal.
Pelaminan bernuansa gold orange menambah kesan mewah pesta yang tengah digelar itu. Bagaimana tidak, Datuk Zainal tidak tanggung-tanggung mengadakan pernikahan sang anak.
Bukan hanya pelaminan, sepasang pengantin yang baru saja mengucapkan akad semalam, kini tampak gagah dan cantik bersanding di singgasana mereka.
Suntiang Gadang warna emas terlihat fancy digunakan oleh Aisyah. Kombinasi pakaian merah dan gold yang Aisyah dan Samuel kenakan menambah kesan mewah dipandang.
Mereka tampak serasi. Namun, keserasian antara pakaian dan hati berbanding terbalik rupanya. Ya, begitulah yang Aisyah rasakan. Gadis Minang itu tidak menikmati momen yang seharusnya ia antusias menjalaninya.
Hal ini berbeda dengan Samuel. Lelaki itu tampak sedari tadi tersenyum, mungkin bahagia.
Samuel melirik sang istri di sampingnya. Tak ada senyuman yang terbit di bibir ranum Aisyah dan bahkan tak ada ekspresi sama sekali, datar.
Lelaki kota itu terbatuk. Sengaja sebenarnya Samuel berpura-pura batuk: agar Aisyah bersimpati atau setidaknya menoleh dan menanyakan keadaannya.
Namun, jangankan bersimpati, bahkan Aisyah pun sama sekali tak mengalihkan pandangannya ke sang suami. Samuel bak makhluk kasat mata bagi Aisyah, ada tapi tak terlihat dan tak dianggap.
Aisyah hanya diam mematung dengan tatapan yang fokus ke depan. Samuel pun mencoba mengikuti jejak netra sang istri.
Tepat sekali. Kini Samuel paham apa yang tengah dilihat oleh Aisyah di depan sana. Amar. Ya, Amar datang ke resepsi pernikahan mereka.
Amar tampak berwibawa juga ... gagah. Lelaki yang selalu suka dengan sarungan, koko, dan peci itu kini berpenampilan berbeda: pakaian batik lengan panjang kombinasi warna hitam dan gold dipadupadankan dengan celana bahan warna hitam di atas mata kaki dan tak lupa sepatu pantofel hitam nan mengkilat.
Potongan rambut model mid fade--transisi potongan rambut dari panjang ke pendek di sekitar pelipis membuat seorang Amar tampak bergaya dan cerdas.
Penampilan Amar yang berbeda dari yang biasanya membuat para orang-orang yang mengenali Amar, pangling dibuatnya.
Termasuk Aisyah. Sedari kedatangan Amar, Aisyah lupa menjaga pandangannya.
Rasa panas pun menjalar ke rongga d**a Samuel melihat sang istri yang menatap lelaki lain.
Samuel mengembuskan napas kasar dam setelah itu ia berbisik ke telinga sang istri. "Istighfar, Aisyah."
Aisyah terlonjak. Terkejut ia mendengar bisikan sang suami. Refleks gadis Minang itu memohon ampun seraya mengelus d**a.
"Ingat! Suami kamu lebih ganteng dari dia." Samuel kembali berbisik. Aisyah menatap Samuel sekilas. Lalu gadis Minang itu memilih menunduk.
Sesaat Amar naik ke pelaminan. Bermaksud memberikan ucapan selamat pada pengantin.
"Selamat. Semoga rumah tangga kalian berkah dan bahagia." Amar mengulurkan tangan pada Samuel.
Setelah terdiam sejenak barulah Samuel menyambut uluran tangan lelaki yang pernah melamar Aisyah itu. Sementara Aisyah, masih setia menunduk. Mungkin gadis Minang itu sedang menahan gemuruh dalam d**a. Lelaki yang ia harapkan bersanding dengannya malah menjadi tamu undangan.
Amar kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Samuel. "Saya membawakan sepaket pakaian salat untukmu. Pakailah! Pasti kamu terlihat keren," bisik Amar.
Samuel menyunggingkan senyum. "Terima kasih. Doakan saya agar bisa menjadi suami yang baik untuk Aisyah," bisik Samuel seraya menepuk-nepuk punggung Amar.
"Tentu." Amar kemudian berpindah memberikan ucapan selamat pada Aisyah. Gadis Minang itu sesaat mendongakkan kepala. Lalu kembali menunduk.
"Sakinah mawaddah warohmah, ya, Ai." Setelah mengucapkan itu Amar pun berlalu sebelum mendengarkan jawaban Aisyah.
Ucapan Amar membuat netra gadis Minang itu mengembun. Buru-buru Aisyah menyeka sudut matanya. Tak baik bila harus menangis di hari bahagia. Begitu pikir Aisyah.
"Aisyah, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Samuel.
Aisyah mengembuskan napas kasar. Lalu mendongakkan kepala. Mengalihkan tatapannya pada Samuel. " Saya baik-baik saja," jawab Aisyah sambil tersenyum. Senyuman itu seperti sedang dipaksakan.
***
Seharian berdiri dan menyalami para tamu undangan membuat segala persendian Samuel dan juga Aisyah pegal.
Hal itu hampir saja membuat Aisyah absen dari rutinitasnya: salat malam. Gegas Aisyah bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Setelah selesai melakukan ritual di kamar mandi, Aisyah berkemas dan siap melaksanakan salat malam.
Tunggu. Aisyah hampir lupa dengan sesuatu. Gadis Minang itu baru ingat kalau di kamarnya sekarang ada orang lain.
Samuel.
Aisyah mendekat ke suaminya itu. Tampak Samuel tertidur pulas di lantai yang beralaskan permadani. Ya, memang sepasang pengantin itu memilih tidur terpisah. Itu mutlak keputusan bersama. Alasannya cukup klise. Belum sama-sama siap.
Ingin rasanya Aisyah membangunkan sang suami, tapi tak tega. Samuel memang tampak kelelahan. Namun, Aisyah kembali mengingat tujuan awal Samuel menginginkan dirinya: hijrah dari segala perilaku buruk.
'Ehm, aduh. Saya panggil dia siapa, ya? Uda, Abang, atau ...,' pikir Aisyah. Cara memanggil Samuel pun gadis Minang itu kelimpungan.
"Samuel, bangun," ucap Aisyah berulang.
Nihil. Samuel tetap menikmati buaian mimpi.
Aisyah mencoba menyentuh bahu Samuel, bermaksud memberikan efek guncangan. Namun, tetap saja Samuel seakan tak mau ditarik dari alam mimpinya.
Sesaat Aisyah mengembuskan napas kasar seraya menggelengkan kepala melihat Samuel yang susah sekali dibangunkan. Lalu sebuah ide mampir dibenaknya.
Gadis Minang itu kemudian melangkah ke kamar mandi dan kembali membawa gayung berisi air. Lalu Aisyah mengguyurkan air itu ke wajah Samuel.
Berhasil. Samuel langsung terduduk. "Banjir!" pekik Samuel kemudian.
"Nggak ada banjir," jawab Aisyah kesal.
Setelah mengusap wajah yang basah Samuel melihat ke arah Aisyah yang tengah memegang gayung. "Aisyah, kamu ...."
"Bapak sudah menunggu di luar. Kita salat malam berjamaah. Kamu siap-siap," kata Aisyah sedikit ketus. Ia pun kemudian berlalu dari Samuel.
Baru beberapa langkah Aisyah berjalan, Samuel menghentikan. Lelaki itu tampaknya belum sadar betul. Bertanyalah lelaki kota itu pada Aisyah. "Ada apa?" tanyanya dengan polos.
Aisyah menggeleng-gelengkan kepala. Gegas gadis Minang itu menyodorkan telapak tangannya pada sang suami. "Kita salat tahajud bareng sama Bapak juga. Ayo!"
Samuel mengernyit. Ia pun kemudian menerima uluran tangan Aisyah sambil tersenyum. "Baiklah. Eh, tapi saya lupa cara berwudu."
Lupa apa memang tidak bisa? Kata-kata itu hanya terlintas dalam benak Aisyah. Tak tega juga rasanya harus berkata demikian pada Samuel.
"Aku ajarkan." Aisyah menarik tangan Samuel menuju kamar mandi.
Dengan penuh telaten Aisyah mengajarkan cara berwudu pada sang suami. "Iya, begitu. Benar," kata Aisyah sambil tersenyum.
Setelah selesai ritual berwudu, Aisyah lebih dulu keluar dari kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti oleh ucapan Samuel.
"Aisyah terima kasih, ya," kata Samuel.
Aisyah membalikkan badan menghadap Samuel. "Iya," jawab Aisyah disertai senyuman. "Saya tunggu di musala, ya."
Samuel mengangguk. Aisyah pun berlalu. Timbul rasa bersalah di hati Aisyah sudah emosi tadi. Sampai harus mengguyur Samuel dengan air.
Pikir Aisyah, ia akan meminta maaf pada Samuel nanti. Bagaimana pun juga, perbuatannya tadi tidaklah baik. Apalagi dengan suami sendiri.