Berbekal info yang Samuel dapatkan dari Ina tadi: tentang lelaki yang dicintai oleh Aisyah, lelaki kota itu pun mengamati Amar yang pernah melamar Aisyah, tetapi ditolak oleh Datuk Bahri. Kepo juga si Samuel.
'Entah apa yang dilihat oleh Aisyah sampai jatuh hati pada lelaki itu: berpeci, berbaju koko, dan sarungan. Memang tampak bersih. Namun, tidak modis. Kuno.' Samuel membatin
Lelaki jakung itu pun melihat gaya pakaiannya sendiri. Lalu ia tersenyum puas. Gaya pakaian yang memang kekinian sekali: celana panjang sobek lutut, kemeja, rambut gondrong, anting karet sebelah, tatoan. Keren, begitulah pikir Samuel.
Di bawah pohon kelapa, Samuel mengamati Amar yang tengah mengajar anak-anak mengaji di pelantaran surau. Sesaat Samuel terpaku mendengarkan bacaan yang dilontarkan Amar kala mengulangi bacaan anak didiknya. Hingga Samuel tak menyadari beberapa ekor serangga merayapi tangannya yang menempel di pohon kelapa.
Samuel mengumpat dan refleks keluar dari persembunyian sambil menggaruk tangan yang terasa gatal. Dan pada akhirnya Samuel menjadi pusat perhatian orang-orang di surau itu. Si lelaki sarungan dan berpeci itu pun langsung datang menghampiri.
"Anda tidak apa-apa?"
"Ehm," jawab Samuel singkat.
"Oh, ya, sudah," kata Amar dan kemudian berlalu.
"Tunggu!" Samuel menghentikan Amar
Lelaki itu pun berhenti. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Amar kemudian.
"Oh, tidak. Saya hanya ingin memperkenalkan diri. Saya Samuel, calon suami Aisyah."
"Saya sudah tahu."
"Oh, baguslah kalau begitu."
Setelah mengangguk dan tersenyum ramah, Amar pun kembali berlalu, tetapi kembali dihentikan oleh Samuel.
"Kira-kira kalau saya pakai sarungan, peci, dan koko begini, bakal keren, nggak, ya?" tanya Samuel setengah berbisik pada Amar.
***
"Hei, ada apa?" tanya Ina kala melihat Aisyah mengelus-elus d**a.
"Itu Sam, aneh sekali dia. Saya tidak suka."
"Aneh bagaimana?"
"Dia tiba-tiba mengedipkan mata, saya jadi terkejut."
Gelak tawa Ina pecah mendengar ucapan sahabatnya itu. Hal itu membuat Aisyah kesal dengan Ina.
"Eh, tapi Uda Sam ngomong apa tadi?" tanya Ina di saat sudah puas menertawakan Aisyah.
Aisyah mengernyit. Mencoba kembali mengingat kalimat-kalimat yang disebutkan lelaki kota itu: lelah berpetualang liar, masanya menetap dan pulang, rumah tempat pulang, dan Aisyah ....
Ah, sungguh pandai Samuel menyusun kalimat yang membuat Aisyah harus berpikir keras mencari maknanya.
Aisyah pun menceritakan apa yang disebutkan Samuel pada Ina. Alhasil bukan Aisyah saja yang berpikir setelah mendengar kalimat yang diucapkan Samuel, tetapi Ina pun tampak tengah mencerna kalimat itu.
"Kamu bingung, 'kan? Sama. Saya juga."
"Tidak. Saya tahu maksud Uda Sam. Dia ... ingin berubah, sepertinya begitu."
'Benarkah Sam ingin berubah? Tapi kenapa harus aku yang menjadi 'tempat pulang' baginya?' Aisyah membatin.
Selama ini Aisyah berharap agar bisa mendapatkan pria saleh, yang mampu membimbingnya semakin dekat dengan pemilik cinta, Allah.
'Akankah aku mampu menjadi tempat pulang yang baik untuk Sam? Kalau tidak bagaimana? Alih-alih membuat Sam lebih baik, tetapi takutnya malah membuat lelaki itu kecewa bahkan menyesal sudah pulang ke rumah yang salah.' Lagi, Aisyah tengah bergelut dengan pikirannya.
***
Hari bergulir begitu cepat. Acara inti akan dilaksanakan besok: janji seorang Samuel untuk mengambil alih tanggung jawab Datuk Bahri atas Aisyah.
Para gadis mungkin amat senang di hari sakral mereka, tetapi tidak dengan Aisyah.
"Rancak bana kau, Aisyah," kata Etek Kirai--adik dari almarhum amak Aisyah kala melihat keponakannya itu memakai Baju Tokah dan tak lupa memakai suntiang. Ya, malam ini ialah malam di mana pelepasan masa lajang seorang Aisyah, malam bainai.
"Iyo, rancak bana kau, Aisyah," sahut Ina. (Iya, cantik sekali kamu, Aisyah.)
Etek Kirai dan Ina membawa Aisyah ke luar. Di luar riuh gelak dan canda tawa orang-orang terdekat memenuhi rumah Datuk Bahri. Mereka tampak bahagia sekali. Ingin rasanya Aisyah berteriak agar pernikahannya dengan Samuel dibatalkan. Namun, lidah Aisyah terasa kelu. Tak berdaya.
"Hei, manga manangiah?" kata Etek Kirai pada Aisyah. (Hei, kenapa menangis?)
Aisyah hanya diam. Hanya air matanya yang terus mengalir.
"Oh, sakiang sanangnyo mangkonyo Aisyah manangiah," ucap Mak Uo--kakak almarhum amak Aisyah. (Oh, saking senangnya makanya Aisyah menangis.)
Tangis Aisyah semakin menjadi mendengar penuturan bibinya. Orang-orang benar-benar tak mengerti. Tangisan wanita berkerudung itu ialah bentuk dari penolakan akan pernikahan yang akan dijalaninya. Ah, orang-orang itu mana paham.
Semua orang di ruangan terfokus pada Aisyah. Mereka mulai menduga sebab musabab Aisyah menangis: teringat amaknya yang tiada di sisi, terharu bisa menikah dengan anak Datuk Zainal, dan berbagai pendapat lainnya.
Datuk Bahri mendekat, kemudian membawa Aisyah dalam dekapannya. Bapak dari Aisyah itu pun kemudian mengelus lembut punggung anak semata wayangnya.
"Bapak yakin, Nak. Engkau akan bahagia dengan Samuel," kata Datuk Bahri. "Sudah. Jangan menangis lagi."
Datuk Bahri mengurai pelukan, kemudian menghapus jejak air di pipi sang putri.
'Semua ini kehendak Bapak. Kalaulah bukan karena baktiku pada Bapak, tak akan aku terima perjodohan ini.' Aisyah membatin.
Acara bainai--memasang daun inai atau daun pacar di kuku tangan mulai dilakukan. Aisyah tak benar-benar menikmati proses itu. Memilih sibuk menata hatinya sendiri.
Setelah inai terpasang, satu persatu anggota keluarga memberikan nasehat pada Aisyah.
"Jadilah istri yang senantiasa patuh dan taat pada suami."
"Sabar, ikhlas, syukur, diperluas dalam membangun rumah tangga."
"Tahu nan di ampek: raso jo pareso, malu, sopan, dan santun."
"Nan gadang basa batuah. Kok hidup tampek baniat. Ka unduang-unduang ka madinah. Ka payungan panji sarugo. Aisyah, kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh istri. Surga di bawah telapak kakimu."
Tak terasa, nasehat demi nasehat yang diberikan pada Aisyah, membuat rongga dadanya menghangat, kemudian menjalar ke pelupuk mata. Tetes demi tetes air mata yang jatuh entah sebagai tanda senang atau ....
Entahlah.
Entah mampu atau tidak Aisyah menjalankan tugas menjadi seorang istri di atas pernikahan yang tak pernah ia harapkan itu.
***
Para emak-emak sibuk berkutat dengan kayu api, tungku, kuali berukuran besar untuk memasak makanan wajib saat acara besar: gulai cubadak (gulai nangka), gulai ayam, rendang, ketan kuning atau ketan putih dan hitam. Makanan-makanan itu untuk hidangan setelah melakukan doa atas pernikahan mempelai.
Asap-asap tebal berbondong membebaskan diri membuat para emak-emak memicingkan mata mereka, hingga ada di antara mereka terbatuk-batuk. Namun, hal tersebut tidaklah menyurutkan mereka menjauhi kuali yang tengah mereka hadap. Gelak canda tawa emak-emak itu tetap saja mengudara: menceritakan berbagai topik kehidupan.
Momen baralek gadang (pesta besar) seperti inilah semua tetangga, kerabat dekat datang berkumpul. Tanpa perlu dikomandoi, mereka sudah tahu apa tugas masing-masing.
Sementara di dalam rumah, Aisyah tengah melaksanakan 'tamaik kaji' yang artinya khatam Qur'an. Di mana, Aisyah akan membacakan surah pendek dari juz terakhir dan didampingi oleh guru mengajinya dan disaksikan oleh orang-orang.
Hal ini bertujuan membuktikan bahwa perempuan yang akan segera menikah sudah bisa membaca Al-Qur'an, dan berharap mampu membimbing anak-anaknya kelak dengan ayat-ayat Allah.
Di sisi lain, Samuel sedari tadi sibuk dengan selembar kertas di genggaman: menghafal kalimat yang begitu sulit dihafalnya. Padahal, aksara yang tertulis di kertas itu tidaklah begitu panjang.
Saat tengah asyik menghafal, telepon Samuel di nakas berdering. Samuel meraih benda pipihnya dan menatap layar telepon dengan malas.
Tertera di layar itu nomor asing. Merasa terganggu dengan nomor yang tak dikenal, Samuel mengubah dering menjadi mode senyap.
Namun, baru saja hendak meletakkan kembali benda pipihnya di nakas, sebuah pesan masuk.
[Kak, ini nomor Nadira yang baru. Di save, ya?]
Seulas senyum tercetak jelas di bibir Samuel membaca pesan dari Nadira--gadis panti asuhan yang diselamatkan oleh Sam saat akan mengakhiri hidupnya di rel kereta api beberapa bulan yang lalu.
[Hai, Manis. Siap! Pasti Kakak save.] Samuel mengirim pesan.
Mereka berdua pun masyuk dalam obrolan elektronik. Hampir saja Samuel lupa dengan hafalannya.
[Nad, kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya. Oh, iya. Nanti malam Kakak nikah. Doakan, ya? Biar lancar.]
Pesan terkirim. Tidak berapa lama, Nadira membalas pesan Samuel.
[Kakak nikah?]
[Sama siapa?]
[Kok, mendadak?] Diiringi dengan emoticon mata berkaca-kaca.
Namun, Samuel keburu tidak aktif hingga pesan dari Nadira yang bertubi-tubi belum terbaca. Membuat gadis kelas tiga SMA itu gundah hatinya.
***
Rasa cemas dan gugup sedari tadi menguasai diri Samuel: telapak tangan yang basah, keringat membanjiri pelipis, hingga degup jantung berdentam-dentam. Vibes ijab kabul benar-benar berbeda sekali bagi Samuel.
Sesaat Aisyah datang dengan gaun putih dan kerudung senada. Manik-manik yang tak berlebihan menghiasi gaun dan kerudung yang dikenakannya, ditambah dengan buket bunga daisy di genggaman, menambah keelokan penampilan seorang Aisyah.
"Aisyah," lirih Samuel berkata kala melihat wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Pandangan Samuel kemudian bertumbuk dengan pandangan Aisyah. Bak sengatan listrik, Aisyah segara mengalihkan pandangannya, sedangkan Samuel terus memandang calon istrinya dan setelah itu ia tersenyum.
Aisyah duduk di samping Samuel bersekatkan bantal di tengah-tengah mereka.
"Ai, kamu cantik," kata samuel setengah berbisik pada Aisyah.
Entah tidak dengar atau pura-pura tidak dengar, Aisyah menggenggam begitu erat buket di genggamannya seraya menunduk.
Setelah momen meminta maaf dan restu pada orang tua masing-masing, akad pun dimulai.
Setelah Datuk Bahri--ayah Aisyah mengucapkan ijab, disambut dengan kabul oleh Samuel dengan satu tarikan napas. Selesai. Kalimat yang amat susah dihafalnya tadi, kini bak air mengalir. Lancar.
"Sah."
"Sah."
Sahutan kata 'sah' menggema memenuhi ruangan rumah. Samuel akhirnya bisa bernapas lega.