Layaknya acara perpisahan, begitulah suasana rumah Datuk Bahri yang sudah dipenuhi sanak saudara kala melepaskan kepergian Aisyah mengikuti suaminya kembali ke Jakarta.
"Bapak ...." Tak bisa Aisyah membendung air matanya di pelukan Datuk Bahri. Belum pernah ia berpisah sebelumnya dengan sang ayah. Apalagi mengingat ayahnya akan tinggal seorang diri.
"Atau, Bapak, ikut Aisyah dan Abang Sam sajo ke kota, Pak?"
Berulang kali Aisyah dan Samuel mengajak, tetapi Datuk Bahri tetap menolak.
"Jangan risaukan Bapak, Aisyah. Pergilah, Nak! Ikut ke mana pun suamimu pergi," kata Datuk Bahri sambil merenggangkan pelukan.
Gadis berdarah Minang itu menyeka air matanya, lalu meraih tangan Datuk Bahri dan mencium punggung tangan yang sudah bertanggung jawab atas dirinya selama dua puluh lima tahun belakangan.
Meskipun kerap kali Datuk Bahri menentang keinginan Aisyah, gadis berdarah Minang itu tetap mencintai sang ayah.
"Baik-baik dengan suami, Nak. Kalau ada masalah selesaikan dengan elok, jangan malah merajuk." Datuk Bahri mengelus kepala Aisyah yang tertutup pasmina berwarna putih gading.
Setelah Aisyah selesai berpamitan dengan Datuk Bahri, kini giliran Samuel. Lelaki bertubuh jakung itu menyalami mertuanya takzim.
"Elok-elok dengan Aisyah, Sam. Cukupkan nafkah lahir dan batinnya." Datuk Bahri menepuk-nepuk punggung menantunya itu.
"Iya, Pak. Pasti," ucap Samuel sambil memeluk Datuk Bahri.
"Kalau Aisyah merajuk, ajak saja dia makan-makan, Nak Sam. Pasti luluh," bisik Datuk Bahri.
Samuel tertawa kecil mendengar ucapan ayah dari Aisyah itu. "Siap, Komandan," lanjut Samuel kemudian.
Setelah berpamitan dengan sanak saudara, Samuel dan dibantu beberapa orang bapak-bapak memindahkan barang-barang di bagasi mobil travel yang sudah dipesan sebelumnya.
Sementara Aisyah masih belum puas hatinya berpamit-pamitan dengan orang-orang terkasih.
"Setinggi-tinggi bangau terbang, pulangnyo ka kubangan juo, Nak. Kalau rindu, kan bisa pulang," kata Mak Uo --kakak dari almarhum amaknya Aisyah.
Tangis Aisyah semakin menjadi. Belum pernah terbayang sama sekali bagi gadis Minang itu akan pergi ke rantau orang.
"Mak Uo, titip Bapak." Sesenggukan Aisyah berbicara.
"Iyo, jangan risau."
"Ai, ayo!" ajak Samuel kala sudah selesai membenahi barang bawaan.
***
Perjalan Aisyah dan Samuel ke Jakarta ditemani Datuk Zainal dan Maryam. Mobil yang mereka tumpangi mulai mengukur jalan menuju Bandara Internasional Minangkabau.
Aisyah tampak sama sekali tak b*******h. Sedari naik mobil hingga turun gadis berdarah Minang itu hanya diam, tak berminat menimbrung obrolan mertua dan suaminya. Datuk Zainal, Maryam, dan Samuel memaklumi Aisyah.
"Ai, ayo turun. Sudah sampai." Samuel menyodorkan tangannya pada sang istri.
Aisyah meraih tangan Samuel, turun dari mobil dengan hati nelangsa. Ya, amat berat baginya meninggalkan Ranah Minang.
"Saya merasa bersalah sama kamu, Ai," kata Samuel. "Apa kita balik saja? Biar Ayah dan Bunda saja yang pulang?"
"Jangan," jawab Aisyah disertai gelengan.
"Ok, senyum kalau gitu." Samuel menaik turunkan alisnya menatap sang istri.
Aisyah melakukan apa yang Samuel perintah. Mereka pun kemudian masuk ke dalam untuk chek-in.
***
Pertama kali naik pesawat membuat Aisyah ketakutan. Meskipun sedari tadi Samuel mensugesti sang istri agar tidak takut, tetapi tetap saja rasa was-was menggerogoti gadis berdarah Minang itu.
"Tenang, Ai. Buka matamu! Lihat pemandangan indah di bawah sana," kata Samuel sambil menggenggam tangan Aisyah yang berkeringat. "Ayolah. Rugi kalau tidak lihat."
Pelan-pelan Aisyah mencoba membuka mata. Benar saja. Ketakutannya sirna kala melihat pemandangan nan menakjubkan di bawah sana.
Sungai-sungai yang luas, bak terlihat seperti ranting-ranting kayu yang bengkok. Rumah-rumah dan bangunan yang mungkin di bawah sana tegak gagah nan mewah, tetapi dari atas terlihat kecil.
Benarlah bahwa manusia itu belum ada apa-apanya dengan Sang Pencipta yang Maha Besar. Manusia memang begitu kecil dan lemah.
"Bagaimana? Indah, bukan?" tanya Samuel kembali.
Aisyah mengangguk mengiyakan ucapan Samuel, sedang perhatiannya belum juga teralih dari pemandangan di bawah sana.
***
Setelah menempuh perjalanan 1 jam 50 menit, kapal udara itu mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Mobil jemputan sudah menunggu kedatangan keluarga Datuk Bahri. Setelah selesai menyusun barang-barang di bagasi, kendaraan roda empat itu mulai membelah jalanan ibu kota.
Gedung-gedung pencakar langit, kemacetan, orang-orang dengan berbagai corak pakaian: pakaian kumal, rapi, dan bersih seolah menunjukkan tingkat kasta mereka, menyambut kedatangan Aisyah. Maksudnya membuat perhatian gadis itu tak henti-hentinya memandangi suasana sekitar.
Mobil yang membawa keluarga Datuk Zainal pada akhirnya berhenti di sebuah perumahan elit. Aisyah benar-benar dibuat takjub akan kemewahan bangunan kokoh dan tampak elegan di hadapannya.
"Sam, Aisyah, rumah ini hadiah pernikahan kalian," kata Datuk Zainal sambil memberikan kunci Samuel.
Samuel mengambil kunci yang diberikan sang ayah. "Yah, terima kasih."
Datuk Zainal menepuk pundak anaknya lalu membawa Samuel dalam pelukan. "Maafkan Ayah, Nak. Belum bisa menjadi Ayah yang baik buat kamu."
Lelaki bertubuh jakung itu tak menjawab, ia hanya mengelus lembut punggung Datuk Zainal.
Setelah drama ayah dan anak itu usai, Datuk Zainal dan Maryam pamit pun pulang.
"Ai, ayo, masuk!" ajak Samuel. Lelaki bertubuh jakung itu mengangkut satu persatu barang bawaan ke dalam. Sementara Aisyah masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Ai, kenapa masih di sini? Ayo, masuk," kata Samuel sambil memegang tangan Aisyah.
"Abang, semoga rumah ini menjadi tempat pulang yang menghadirkan kehangatan di dalamnya." Semburat senyum menghiasi wajah ayu gadis berdarah Minang itu.
Samuel menatap gurat wajah sang istri dengan saksama. "Tentu."
***
Setelah melaksanakan Salat Isya berjamaah lalu mengaji sebentar, Samuel mengajak sang istri keluar.
"Makan di luar, yuk!"
"Enggak. Capek," jawab Aisyah sambil melipat mukena.
"Ok. Kita pesan makanan aja kalau gitu," kata Samuel lalu menghempaskan diri di ranjang.
"Jangan."
"Lah, terus gimana?"
Aisyah melangkah ke ranjang, duduk di pinggir kasur. "Masak aja," ucap Aisyah sambil menatap suaminya.
"Katanya capek."
"Kalau masak enggak kayaknya."
"Emang ada bahan?"
"Ada. Banyak di kulkas."
Samuel bangkit, tegak berdiri lalu menyodorkan tangannya pada Aisyah. "Yok, masak," kata Samuel sambil tersenyum lebar.
Sepasang pengantin baru itu melangkah ke dapur. Aisyah mengambil bahan-bahan makanan di kulkas, sedangkan Samuel menyiapkan peralatan memasak.
Semua yang mereka butuhkan di rumah itu sudah ada. Mungkin sudah dipersiapkan oleh orang-orang suruhan Ayah Bunda, begitu pikir Samuel.
Aisyah memasak telur balado, sementara Samuel memilih memasak sayur bayam campur jagung dan wortel.
"Yakin bisa?" tanya Aisyah sambil mengaduk-ngaduk sambal yang tengah di gorengnya.
"Bisa. Lihat aja nanti," kata lelaki bertubuh jakung itu sambil memasukkan bawang putih, bawang merah, dan rempah-rempah lainnya dalam air yang sudah mendidih.
Beberapa menit makanan-makanan itu sudah matang. Menu sederhana, tetapi dibuat dengan penuh cinta, begitu kata Samuel pada sang istri.
"Nggak percaya," jawab Aisyah.
"Iya. Coba, deh kalau nggak percaya. Saya jamin rasanya beda dari yang lain," ucap lelaki bertubuh jakung itu penuh percaya diri.
Gadis berdarah Minang itu pun mencoba mencicipi kuah sayur yang dimasak Samuel tadi. Kening Aisyah mengkerut sesaat setelah mencicipi masakan sang suami. "Emang beda dari yang lain rasanya."
"Kan, dah saya bilang." Lelaki bertubuh jakung itu menyilangkan tangan di d**a sambil tersenyum lebar menatap Aisyah. "Enakkan?"
"Hambar," jawab Aisyah.
"Serius?" Samuel pun mencicipi kuah sayur yang dibuatnya tadi. Seingat Samuel, ia sudah memasukkan garam dan penyedap di masakannya. "Enggak hambar, Ai." Lelaki bertubuh jakung itu menautkan alis menatap Aisyah.
"Bukan itu yang hambar." Aisyah menunjuk sayur yang terletak di meja dapur dengan dagu belahnya.
"Lalu?" tanya Samuel seraya mengernyitkan dahi. Benar-benar tak paham dengan apa yang dimaksud sang istri.
"Hambar kalau, Abang, nggak ada dalam hidup Aisyah," ucap Aisyah sambil berlalu.
Samuel tertawa renyah mendengar ucapan sang istri. "Udah bisa, ya, sekarang. Siapa yang ngajarin?" pekik Samuel dari dapur.
Aisyah melongokkan kepalanya ke dapur, "Belajar sama, Abang, si tukang gombal plus tukang tidur." Gadis berdarah Minang itu pun kembali gegas berlalu ke ruang makan.
"Dasar, kamu, ya," ucap lelaki bertubuh jakung itu sambil tersenyum lebar. Samuel pun mengekori sang istri sambil membawa sayur buatannya.
Sepasang sejoli yang dipertemukan melalui jalur perjodohon itu menikmati makan malam dengan canda tawa, lalu melanjutkan malam mereka menonton film bersama.
Malam itu ialah malam terhangat bagi Samuel dan Aisyah: malam di mana jiwa dan raga mereka berbaur dalam bingkai kesucian setelah seminggu lebih pernikahan mereka berjalan.