Sesuai dengan janjinya, Samuel datang ke panti asuhan mengunjugi Nadira--seorang gadis yang sudah dianggap seperti adik olehnya. Lelaki bertubuh jakung itu tidak datang sendiri, tetapi juga membawa ikut serta sang istri.
Gadis yang bernama Nadira itu berteriak girang menyambut kedatangan Samuel. Tanpa malu dan ragu, ia berhambur ke dalam pelukan Samuel.
Ragu lelaki bertubuh jakung itu membalas pelukan Nadira. Diliriknya Aisyah, tetapi Aisyah malah mengalihkan pandangan ke bingkai-bingkai foto yang terpajang di dinding.
Samuel merenggangkan pelukan. Namun, Nadira seolah belum mau melepas dekapan itu.
"Nad, kenalin ini istri Kakak," kata Samuel. Bersamaan dengan itu pelukan dari Nadira merenggang.
Sekonyong-konyong gurat wajah Nadira meredup kala Samuel memperkenalkan sang istri.
"Salim, dong. Bengong aja," kata Samuel sambil mengacak-ngacak surai hitam Nadira.
Aisyah menyodorkan tangan lebih dulu ke Nadira. Beberapa detik tangan Aisyah berpegang dengan udara, barulah Nadira membalas jabat tangan gadis berdarah Minang itu.
"Aisyah." Aisyah memperkenalkan namanya diiringi senyuman ramah.
"Nadira," balas gadis itu seraya melepaskan jabat tangan.
Entah kenapa dari nada bicara Nadira terdengar ketus menyelusup ke indra pendengaran Samuel.
"Nad." Alis Samuel tertaut menatap gadis di hadapannya.
Nadira mengerling malas ke Samuel. Lalu gadis itu melangkah ke sofa, duduk di sana. Tak lupa ia mempersilakan Aisyah dan Samuel duduk juga.
"Kenal di mana sama Kakak Sam, Kak Aisyah?" Nadira langsung bertanya padahal Aisyah baru saja menghempaskan bokongnya di sofa.
Sesaat Aisyah melirik Samuel, lelaki yang dilirik hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Kenal melalui orang tua," jawab Aisyah seraya menarik bibir secara horizontal sampai sudutnya tertarik ke atas karena kontraksi otot wajah di sekitar mulut.
"Oh, apa artinya itu dijodohkan?" tanya gadis kelas tiga sekolah menengah atas itu.
"Anak kecil kepo," celetuk Samuel.
"Biarin." Nadira menjulurkan lidahnya ke Samuel. Lelaki bertubuh jakung itu hanya menggeleng-geleng kepala seraya tersenyum melihat tingkah Nadira yang baginya menggemaskan.
Aisyah mengangguk-angguk, membetulkan ucapan Nadira. Nadira tersenyum menatap Aisyah di hadapannya.
"Orang yang dijodohkan itu biasanya belum saling cinta, loh. Iya, kan?" tanya Nadira. Lalu gadis itu tersenyum lebar.
Gadis berdarah Minang itu terdiam. Di dalam hati, Aisyah membenarkan apa yang Nadira katakan: belum tumbuh cinta itu di hatinya untuk sang suami.
"Sok tahu kamu," kata Samuel sambil melemparkan bantal sofa ke Nadira.
"Ish, Kakak." Nadira melempar balik bantal sofa itu ke Samuel.
Aisyah tersenyum tipis melihat gurauan antara lelaki bertubuh jakung itu dan Nadira.
"Cinta itu tumbuh karena terbiasa." Samuel kembali melanjutkan obrolan.
"Jadi?" Nadira tampak serius ingin mendengarkan kalimat selanjutnya.
"Ya ... Kakak udah terbiasa dengan Aisyah." Samuel menatap gadis berdarah Minang itu dengan saksama sambil tersenyum manis pada sang istri.
Aisyah membalas senyum sang suami. Di lain sisi ada rasa sesak dan panas mengaliri hati Nadira kala mendengar penuturan Samuel. Tanpa terasa rasa panas itu menjalar ke pelupuk matanya hingga membentuk kaca-kaca bergelayut di sana.
Susah payah gadis kelas tiga SMA itu menahan agar kaca-kaca itu tidak pecah.
"Ehm ... tunggu di sini dulu, ya, Kak." Gegas Nadira berlalu agar tidak terlihat oleh Samuel dan Aisyah kaca-kaca itu sudah pecah, tak mampu lagi ia tahan.
Nadira menatap wajahnya di cermin yang terletak di dinding peturasan. Lalu gadis itu tersenyum, kemudian tertawa: tawanya terdengar sumbang. Setelah puas gadis itu tertawa, ia kembali menangis.
"Bodoh!" kata Nadira menunjuk pantulan dirinya di cermin. "Dia cuma anggap lo itu adiknya," lanjut Nadira kemudian.
Gadis kelas tiga SMA itu kemudian membasuh wajahnya, menghilangkan jejak-jejak air di wajah yang kini sedikit tak berisi. Lalu mengelap kasar wajah itu dengan ujung bajunya.
Setelah merasa wajahnya biasa-biasa saja seperti semula, Nadira keluar, melangkah ke dapur mengambil es boba di lemari pendingin.
"Maaf lama," kata Nadira kala sudah sampai di luar. "Nih, es kesukaan, Kakak." Nadira memberikan es boba itu pada Samuel.
Samuel mengambil pemberian Nadira. "Tumben. Pasti ada maunya, nih."
Ciri khas dari Nadira, ia akan memberi Samuel es boba dengan imbalan sesuatu yang diinginkannya: ngajak Samuel nontonlah, belanja, jalan-jalan, dan sebagainya.
"Ish, nggak ada. Kali ini ikhlas tahu," ucap Nadira seraya memanyunkan bibirnya.
"Biasanya, kan, begitu." Samuel tertawa kecil.
"Aduh, maaf, ya, Kak Aisyah, tadi cuma beli satu."
Aisyah mengangguk sambil tersenyum. "Nggak papa."
"Kita satu berdua aja, Sayang," ucap Samuel sambil melihat ke Aisyah. Lelaki bertubuh jakung itu memberikan es boba pada Aisyah setelah ia menancapkan sedotan di penutup minuman itu.
Aisyah mengambil minuman itu, lalu meminumnya. Tangan Samuel menyentuh bibir Aisyah, bermaksud mengelap bulir air yang menempel di sana. Refleks gadis berdarah Minang itu memegang tangan sang suami sambil menatap manik mata Samuel. Sesaat pandangan dua sejoli itu beradu temu, lalu terukir senyuman di wajah mereka.
Nadira menatap nanar pemandangan di hadapannya. "Mesra-mesraan aja terus." Keluar juga kata-kata yang tersirat rasa cemburu itu dari bibir Nadira.
Sontak Aisyah dan Samuel menghentikan tatapan yang membuat mereka terbius dalam pikiran masing-masing.
"Alah, bilang aja cemburu," goda Samuel.
"Emang," jawab Nadira seraya menyilangkan tangan di d**a.
"Dasar bocah," kata Samuel sambil tertawa.
***
Menunggu Samuel pulang dari salat berjamaah di masjid, Aisyah mengaji sebentar. Namun, baru beberapa ayat yang ia baca, bunyi bel di luar menghentikan aktifitasnya.
Kening gadis itu mengernyit, seolah berpikir siapa gerangan malam-malam datang bertandang. Tidak mungkin itu Samuel, pasalnya gadis berdarah Minang itu baru saja mendapatkan notifikasi pesan dari sang suami, kalau Samuel akan pulang agak lambat karena hendak bertemu dengan teman-temannya.
Aisyah melangkah mendekat ke pintu. Disibaknya tirai jendela, melihat siapa yang datang bertamu sebelum ia membuka pintu.
"Nadira," gumam Aisyah diiringi kening membentuk gelombang.
Gegas Aisyah membuka pintu, mempersilakan Nadira masuk.
"Terima kasih, Kak Aisyah," kata Nadira sambil tersenyum. Belum juga Aisyah mempersilakannya duduk, gadis itu lebih dulu menghempaskan diri ke sofa di ruang tamu. Bahkan tanpa malu, Nadira meletakkan kakinya di meja.
Aisyah hanya menggeleng kecil melihat tingkah Nadira. Gadis berdarah Minang itu pun menanyakan minuman apa yang hendak Nadira minum.
"Jus jeruk aja, Kak Aisyah."
"Oke."
Beberapa menit Aisyah membawa nampan yang di atasnya teronggok setoples kue kering dan segelas jus permintaan Nadira.
"Silakan diminum, Nad." Aisyah meletakkan minuman dan kue di tepi meja, area tengah-tengah meja itu sudah dikuasai penuh oleh Nadira.
"Makasih, Kak Aisyah," kata Nadira. Lalu gadis itu meraih gelas, menyeruput minumannya.
"Kamu, kok, malam-malam ke sini? Apa sudah minta izin sama pihak panti?" tanya Aisyah sambil duduk di sofa, berhadapan dengan Nadira.
"Sudah." Nadira membuka tutup toples, mengambil dua kue kering yang berukuran sedang lalu memakan keduanya secara bersamaan.
Mulut gadis itu penuh, tetapi tetap ia paksakan bicara. Sehingga Aisyah tak begitu jelas mendengar apa yang dibicarakan Nadira.
"Habisin dulu di dalam mulut kamu, Nadira," ucap Aisyah seraya tersenyum.
Nadira mengangguk. Lalu membenarkan posisi duduknya seraya meraih gelas berisi jus jeruk itu, menegaknya hingga tak bersisa.
"Kak Aisyah, bisa tambah, enggak? Kurang ini." Nadira menyodorkan gelas kosong itu pada Aisyah.
"Bentar, ya." Gadis berdarah Minang itu mengambil gelas yang diberikan Nadira, lalu berlalu ke dapur.
"Kak, jusnya yang anget, ya," pekik Nadira Saat Aisyah sampai di pintu dapur.
Aisyah menoleh sambil menggeleng-gelengkan kepala menatap Nadira yang kini tengah berbaring di sofa, meletakkan kakinya di tempat yang seharusnya menjadi sandaran tangan.
Mungkin merasa agak lama Aisyah di dapur hingga Nadira berteriak memanggil Aisyah. "Udah haus banget ini, Kak Aisyah!"
Tergesa-gesalah Aisyah menuju ruang tamu. "Iya, maaf, Nad. Lama, ya?"
"Mayan," jawab Nadira sambil mengambil gelas yang dipegang Aisyah.
"Tadi air panasnya habis. Jadi, Kakak masak dulu."
Nadira hanya ber-oh ria mendengar penuturan Aisyah. Setelah kembali menegak minumannya hingga tandas, gadis kelas tiga sekolah menengah atas itu menyampaikan maksud dan tujuannya datang bertandang malam-malam.
"Kak Aisyah, siapin kamar buat gue, ya. Mau nginep semalam di sini," ucapnya cengengesan.
Sedari tadi Aisyah mencoba meredam emosinya. Kalau Nadira anak Etek Kirai sudah habis saya cubit, begitu pikir Aisyah.
Aisyah mengangguk sambil memaksakan senyumnya. "Iya, Nadira."