"Ah, iya. Rania. Bisa jadi Mbak Rania itu jatuh hati sama, Kakak. Dan apa mungkin dia yang natap sinis ke Kak Aisyah tadi pertanda cemburu atau bisa jadi benci. Ah, perempuan itu misterius sekali menurut aku."
Aisyah dan Samuel kembali terdiam mendengar perkataan gadis yang duduk di kursi belakang itu. Aneh sekali dugaan Nadira tentang Rania, begitu pikir Samuel.
***
"Kenapa harus lampu merah, sih?" tanya Nadira lirih sesaat mereka berhenti. Namun, perkataan gadis itu terdengar oleh Samuel.
"Karena enggak hijau atau kuning. Makanya merah," Samuel membalas.
"Yeay. Enggak usah dibilangin juga udah tahu. Gaje banget, sih."
"Lah, emang bener, kan, Ai?" Samuel meminta pendapat sang istri.
Aisyah tersenyum menanggapi sambil melihat Samuel dengan menggeleng kecil.
"Iya, iya bener. Semuanya bener." Nada suara gadis SMA itu terdengar kesal. "Tapi ... ada satu kesalahan, Kakak."
"Apa?" tanya Samuel.
"Kenapa harus nikah sama, Kak Aisyah?"
Kening Aisyah membentuk gelombang mendengar ucapan Nadira. Sementara Samuel tertawa kecil, lalu lelaki bertubuh jangkung itu berkata, "Karena udah jodoh."
"Kenapa enggak berjodoh sama aku aja?" tanya Nadira lirih.
"Apa? Apa kamu bilang barusan?" Samuel kali ini tidak bisa mendengar dengan jelas suara Nadira karena bunyi-bunyi klakson yang bersahutan.
"Enggak ada. Lupakan," ucap Nadira sambil menghempaskan pandangan ke luar. "Masyaallah ganteng banget jodoh orang ...." ucap Nadira kegirangan kala melihat seorang laki-laki dengan mengendarai motor berhenti tepat di samping mobil yang ditumpanginya.
Gadis SMA itu pun kemudian menuruni kaca mobil setengahnya, lalu menyapa lelaki yang ia sebut tampan tadi.
"Hai, Abang ganteng," sapa Nadira sambil melambaikan tangan.
"Ni anak aneh banget," ucap Samuel.
Sementara Aisyah menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum menanggapi tingkah gadis yang duduk tepat di belakangnya itu.
"Iya, Mbak," balas lelaki tampan yang disapa Nadira.
'Suara itu ...." Aisyah membatin. Dahi gadis berdarah Minang itu mengernyit, mencoba memikirkan suara itu memang serasa ia kenali.
"Nama siapa, Bang? Nama?" Nadira kembali bertanya.
"Amar, Mbak," jawab lelaki tampan itu dengan sopan.
Deg. Amar. Jantung Aisyah berdetak dua kali lebih hebat mendengar nama itu disebut.
"Ah, bagus banget namanya." Nadira kegirangan. "No HP, Bang. Bagi dong, Ba--" Belum tuntas ucapan Nadira, lampu hijau pertanda sudah boleh melaju sudah menyala, dan di saat bersamaan Aisyah menoleh ke samping, memastikan nama Amar itu ialah orang yang ia maksud.
Namun, sayangnya motor lelaki tampan yang disapa oleh Nadira tadi sudah melaju lebih dulu.
"Yah, gagal dapat nomor cogan."
"Nadira, Nadira. Kelamaan basa-basinya, sih. Keburu lampu hijau, 'kan?" ucap Samuel.
"Kakak, mendingan diam, deh. Lagi enggak mood ngomong sama orang yang nyebelin."
Samuel dan Nadira terus saja berdebat tidak jelas. Sementara Aisyah sibuk dengan pikirannya sendiri tentang orang yang bernama Amar tadi. Apakah Amar yang ia kenal atau tidak.
***
Setelah menunaikan Salat Tahajud bersama, Samuel meminta pendapat sang istri tentang pekerjaan apa yang bagus untuk ia lakukan: pekerjaan halal, dan tentunya bukan bekerja menjadi pengganti papanya di tambang milik sang ayah. Alasannya hanya satu, lelaki bertubuh jangkung itu tidak ingin waktunya habis bekerja seperti papanya. Hingga lupa kalau ia sudah berkeluarga, mengabaikan sang anak yang butuh kasih sayang dan perhatian.
"Tabungan aku juga udah menipis, Ai," keluh Samuel pada Aisyah.
"Ehm, apa, ya?" Aisyah tampak berpikir. "Gimana kalau kita buka usaha aja?" ucap Aisyah kemudian.
"Setuju. Tapi ... kira-kira bagusnya usaha apa, ya?"
"Nah, iya. Apa, ya, bagusnya?"
Kedua pasangan suami-istri itu tampak berpikir usaha apa yang bagus untuk mereka jalani. Namun, nihil mereka belum menemukan.
"Nanti, Abang cari-cari dulu, deh apa yang bagus."
"Iya, Bang," jawab Aisyah sambil tersenyum. "Soal modal. Pakai tabungan aku aja dulu." Lagi gadis berdarah Minang itu masih tersenyum, lalu mengelus lembut tangan sang suami.
Ada yang desiran hangat menelusup hati Samuel melihat sang istri: tentang senyum itu, sikap Aisyah, dan keridhaannya memberi dukungan.
"Makasih banyak, ya. Kamu terbaik," kata Samuel sambil mengecup kening sang istri.
"Emang aku Boboboi, terbaik?" Aisyah tertawa kecil.
"Dasar kamu." Samuel mencubit gemas pipi sang istri.
***
Di meja makan, Nadira berceloteh tentang lelaki yang ia lihat semalam.
"Duh, ke bawa mimpi. Ganteng pisan ...." Ia bercerita penuh kegirangan.
"Makan dulu, nanti cerita." Samuel menegur.
"Bilang aja cemburu," celetuk Nadira kemudian.
"Dasar bocah," kata Samuel.
Sementara Aisyah terdiam dalam pikirannya. Cerita Nadira tentang lelaki tampan yang bernama Amar itu. Kabarnya, Amar memang berada di kota ini. Jakarta. Mungkinkah Amar yang dilihat Nadira semalam ialah Amar yang kukenal? Aisyah bertanya-tanya dalam hatinya.
Lamunan Aisyah buyar kala tepukan kecil mendarat di bahu gadis berdarah Minang itu.
"Ngelamunin apa, sih?" tanya Samuel.
"E--ehm ... enggak ada, kok," jawab Aisyah terbata-bata.
Sejenak Samuel tampak memikirkan sesuatu, lalu lelaki bertubuh jangkung itu berkata, "Siapa nama lelaki yang kamu bilang tampan itu, Nad?" tanya Samuel.
"Amar. Duh, nama sama orang sama-sama ganteng." Lagi, Nadira memuji. Kesemsem sekali tampaknya gadis itu pada lelaki yang disapanya semalam.
"Amar. Tunggu-tunggu ... namanya mirip seperti Amar yang di kampung kamu, Ai." Samuel melihat sang istri dengan kening mengkerut. Lelaki bertubuh jangkung itu tampak berpikir, seolah ia bisa masuk ke dalam pikiran Aisyah dan melihat hal yang membuat sang istri melamun tadi. "Apa jangan-jangan itu Amar yang di kampung kamu itu, ya?" Samuel menduga.
Aisyah menggeleng, "Entahlah. Kabarnya dia memang di sini."
"Kamu tahu tentang dia?" Samuel menatap manik mata sang istri dengan saksama.
"Hanya tahu sebatas itu."
"Bagus. Cukup sebatas itu. Jangan sampai kamu tahu semua tentang dia," kata Samuel, lalu menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
Aisyah mengembuskan napas kasar. "Iya," kata gadis berdarah Minang itu kemudian.
"Kalian ngomong apa, sih?" Nadira merasa bingung dengan percakapan suami istri di hadapannya.
"Emang kamu enggak dengar kita lagi ngomong apa?" tanya Samuel.
"Denger, sih. Tapi enggak paham."
"Ya, udah. Dipaham-pahamin."
"Kak Aisyah, minta karung dong," kata Nadira.
"Buat apa?" jawab Aisyah.
"Ngarungin makhluk nyebelin di samping, Kakak." Nadira mencebik. Kesal.
Aisyah tertawa kecil mendengar ucapan gadis di hadapannya. Sementara Samuel cuek-cuek bebek menanggapi perkataan Nadira.
"Kamu mau tahu atau mau tahu banget apa yang aku omongin sama Aisyah tadi?" Samuel bertanya.
Aisyah mencubit tangan Samuel sambil menggeleng pelan, tak ingin sang suami menceritakan tentang Amar.
"Bodo." Nadira masih kesal.
Samuel kemudian menatap lekat manik mata Aisyah, lalu berkata, "Bagus. Cukup sebatas itu. Jangan sampai kamu tahu semua tentang dia ... karena aku cemburu."
Nadira tersedak mendengarnya.