"Kak Aisyah, minta karung dong," kata Nadira.
"Buat apa?" jawab Aisyah.
"Ngarungin makhluk nyebelin di samping, Kakak." Nadira mencebik. Kesal.
Aisyah tertawa kecil mendengar ucapan gadis di hadapannya. Sementara Samuel cuek-cuek bebek menanggapi perkataan Nadira.
"Kamu mau tahu atau mau tahu banget apa yang aku omongin sama Aisyah tadi?" Samuel bertanya.
Aisyah mencubit tangan Samuel sambil menggeleng pelan, tak ingin sang suami menceritakan tentang Amar.
"Bodo." Nadira masih kesal.
Samuel kemudian menatap lekat manik mata Aisyah, lalu berkata, "Bagus. Cukup sebatas itu. Jangan sampai kamu tahu semua tentang dia ... karena aku cemburu."
Nadira tersedak mendengarnya.
"Pelan-pelan, Nadira," ucap Aisyah.
Setelah kerongkongannya stabil, Nadira mencoba mencerna baik-baik ucapan Samuel yang membuatnya tersedak.
Pikiran gadis SMA itu traveling dengan cepat, ia sudah mampu menarik kesimpulan tentang lelaki yang dibicarakan Samuel.
"Amar ... mantan lo, Kak Aisyah?" tanya Nadira. Gadis SMA itu menatap Aisyah dengan mata membulat sempurna.
Aisyah terdiam, tak ingin menjawab ucapan gadis di hadapannya.
"Kepo banget jadi orang," celetuk Samuel.
"Yang mancing orang buat kepo siapa?"
"Bodo."
"Dasar gaje." Lagi, gadis SMA itu dibuat kesal oleh Samuel.
'Awas aja. Gue bakal cari tahu siapa itu Amar.' Nadira membatin.
***
Samuel merasa jenuh di rumah. Pikirnya, ia ingin menjadi lelaki beristri yang normal: pergi bekerja dan pulang sore hari disambut dengan kehangatan seorang istri.
Sayangnya, ia tak punya pekerjaan sehingga mau tak mau lelaki bertubuh jangkung itu berdiam diri di rumah. Bukan berdiam diri juga, tetapi Samuel juga sudah membatu pekerjaan rumah tangga: mencuci piring, membantu Aisyah mencuci baju, pun sudah membatu sang istri membersihkan rumah.
Menghilangkan kejenuhan itu, Samuel kemudian juga sudah membaca Al-Qur'an, mendengarkan kajian di YouTube, pun juga sudah tidur siang. Namun, hari berputar lambat menurut Samuel sehingga kejenuhan itu semakin membuatnya tak nyaman.
Setelah pekerjaan membantu istrinya selesai dan juga sudah menambah nutrisi jiwanya, Samuel bingung harus berbuat apalagi.
'Ini tidak boleh dibiarkan,' batin Samuel. Lalu, lelaki bertubuh jangkung itu kembali mengingat tabungannya sudah menipis. Bagaimana cara agar nominal di rekening itu bertambah? Begitu pikir Samuel.
Sempat terbesit di benak Samuel untuk meminta pada kedua orangtuanya. Namun, pikiran itu segera ia tepis. Pikir Samuel, ia ingin mencoba mandiri untuk menafkahi keluarga kecilnya.
Tak disangka-sangka tanpa diminta dan diberi tahu kalau saldo di rekening Samuel sudah menipis, notifikasi M-banking uang masuk muncul di telepon genggam Samuel. Siapa lagi yang mengirimkan uang itu kalau bukan orangtuanya.
"Sudah masuk belum, Nak?"
Sang bunda mengirimkan pesan pada Samuel. Nominal yang dikirim oleh ibu Samuel itu kini sudah bertambah dari sebelumnya. Antara senang dan malu Samuel mendapatkan notifikasi itu sebenarnya.
Malu? Ya, malu. Biasanya lelaki bertubuh jangkung itu akan kegirangan mendapatkan uang jajan dari ayah ibunya. Namun, sekarang rasa malu itu menjalar dalam dirinya karena merasa bergantung pada orang untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan sang istri.
"Bunda, ini terakhir kali, Bunda kirim Samuel uang. Malu, Bun. Bunda, lupa kalau anak, Bunda, ini sudah jadi laki orang?" Pesan itu terkirim. Tak butuh waktu lama pesan yang dikirim Samuel pada bundanya berubah menjadi centang dua biru.
Sang bunda kemudian membalas dengan emoticon tawa. Samuel semakin malu pada dirinya sendiri melihat balasan yang dikirim bundanya.
"Siapa bilang itu buat kamu? Uang jajan itu buat Aisyah." Maryam kembali mengirimkan pesan.
"Ya, sama aja, Bun. Pokoknya, Bunda enggak boleh kirim uang lagi. Kapan Sam mandiri kalau gini terus, Bun?"
"Iya, iya. Ya, udah bukaiin pintu luar. Bunda udah di depan pintu ini."
Sam terkejut dengan apa yang dibacanya barusan. Bunda aneh, begitu pikir Samuel.
Lelaki jangkung itu kemudian melangkah ke luar, membukakan pintu. Lalu, ia menyalami punggung tangan sang bunda.
Maryam lantas memeluk sang anak. "Kamu agak berisi sekarang, Nak," kata Maryam sambil menguraikan pelukan.
"Iyakah? Emang akhir-akhir ini nafsu makan Sam meningkat, Bun." Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bagus. Berarti Aisyah bisa menyenangkan perut kamu." Maryam menyinggung senyum seraya mengelus lembut bahu sang anak. "Aisyah mana?" tanya Maryam kemudian.
"Ada di kamar. Bentar. Sam panggil," kata Samuel, lalu ia melangkah menuju kamar mereka.
Beberapa saat Aisyah keluar dari kamar. Gadis berdarah Minang itu kemudian menyapa Maryam, menyalaminya.
"Udah isi, Nduk?" Maryam bertanya.
Sontak hal itu membuat Aisyah dan Samuel sedikit terkejut. Mereka saling menatap, seolah sedang berkomunikasi lewat pandangan netra itu.
"Belum, Bun. Baru juga sebulan." Samuel menjawab.
"Sebulan apaan? Bukannya tadi Bunda kirim?" Maryam menatap Aisyah dan Samuel bergantian dengan tersenyum tipis.
"Maksud, Bunda ... uang yang, Bunda, kirim tadi?" tanya Samuel.
"Iya. Udah kamu ambil belum? Isi dompet Aisyah, biar kalau mau belanja sama mamang sayur mudah. Ada uang kas." Maryam tertawa kecil.
"Oalah, Bunda. Kiraiin isi apaan. Kalau yang itu belum." Samuel menggaruk kepalanya yang kini terasa gatal sambil melirik perut datar sang istri. "Baru juga dikirim sepuluh menit yang lalu. Ya, belum diambillah, Bun." Lanjut Samuel kemudian.
Aisyah tersenyum menanggapi percakapan anak-ibu itu. Kurang paham sebenarnya dia apa yang tengah diperbincangkan, sedangkan Maryam tertawa menanggapi ucapan Samuel.
Aisyah kemudian melangkah ke dapur, membuatkan ibu mertuanya itu minuman.
"Sam, Bunda ingin kamu mempertimbangkan permintaan Papa kamu waktu itu. Papa udah tua, udah waktunya kamu meneruskan usaha papamu, Nak." Maryam berkata hati-hati.
Samuel mengembuskan napasnya sambil memijat pangkal hidungnya. "Bun, Samuel enggak bisa. Lagian Sam juga enggak ahli di bidang itu, Bun."
"Ya, kamu, 'kan bisa belajar. Papa juga pasti bakal bantu kamu, kok, sampai bisa."
"Sam enggak bisa. Lagian Sam dan Aisyah rencananya mau buka usaha sendiri."
Samuel kekeh pada pendiriannya, sedangkan Maryam berusaha membujuk sang anak agar mau meneruskan usaha pertambangan Datuk Zainal.
Di tengah perdebatan Maryam dan Samuel, Aisyah datang membawakan minuman.
"Silakan diminum, Bunda," kata Aisyah sesaat setelah meletakkan minuman di hadapan Maryam.
"Terima kasih, Sayang," kata Maryam pada menantunya.
"Iya, Bun," jawab Aisyah seraya tersenyum.
Setelah kerongkongan ibunda Samuel itu basah, meminum minuman yang disuguhkan sang menantu, Maryam mengembuskan napas pelan dan menatap Samuel dengan tatapan sendu.
"Kalau kamu enggak mau. Mungkin, Bunda juga terpaksa menyetujui keputusan Papa kamu," kata Maryam kemudian.
"Keputusan apa, Bun?" Samuel bertanya.
"Ya, keputusan Papa kamu buat menyerahkan usahanya diurus orang kepercayaannya."
"Bagus kalau begitu, Bun."
"Bunda lihat anak itu bagus akhlaknya, semoga dia amanah." Maryam kembali menyeruput minumannya. "Kamu tahu dengan Amar?"
Mendengar nama Amar disebut, detak jantung Aisyah berdentam-dentam. Sementara Samuel mengernyitkan dahi mencoba memikirkan Amar mana yang dimaksud. Lantas lelaki bertubuh jangkung itu kemudian menggeleng.
"Dia bisa dibilang ada hubungan sepupu meski jauh sama kamu. Ayahnya baru meninggal dan sekarang dia bekerja jadi office boy di salah satu kantor teman Papa kamu. Dan dia yang bakal menjadi kaki tangan Papa kamu mengurus usahanya."
Air ludah Aisyah serasa sulit ia telan mendengar ucapan Maryam. Ciri-ciri lelaki yang disebut Maryam mirip sekali dengan Allam Amar, lelaki yang pernah mengisi relung hatinya.
"Ma--maksud, Bunda Allam Amar yang di kampung itu?" tanya Aisyah terbata-bata.
"Iya. Bener, Sayang."
Samuel menatap Aisyah dengan saksama. Lelaki bertubuh jangkung itu paham apa yang sang istri pikirkan.
"Bun, kenapa harus dia? Orang yang lebih handal di bidangnya, dong. Masa office boy bakal ngurus segala kerumitan pertambangan," kata Samuel.
"Loh, enggak ada salahnya. Sekarang Papa kamu mau menguliahkan Amar. Anak itu pintar, hanya keadaan saja yang tidak berpihak padanya.
"Kalau kamu enggak setuju, makanya kamu yang seharusnya mau menggantikan posisi Papa kamu. Daripada harus diambil orang lain, kan sayang. Bener, kan Aisyah?"
Aisyah mengangguk pelan, sedang Samuel tampak berpikir.