"Ma--maksud, Bunda Allam Amar yang di kampung itu?" tanya Aisyah terbata-bata.
"Iya. Bener, Sayang."
Samuel menatap Aisyah dengan saksama. Lelaki bertubuh jangkung itu paham apa yang sang istri pikirkan.
"Bun, kenapa harus dia? Orang yang lebih handal di bidangnya, dong. Masa office boy bakal ngurus segala kerumitan pertambangan," kata Samuel.
"Loh, enggak ada salahnya. Sekarang Papa kamu mau menguliahkan Amar. Anak itu pintar, hanya keadaan saja yang tidak berpihak padanya.
"Kalau kamu enggak setuju, makanya kamu yang seharusnya mau menggantikan posisi Papa kamu. Daripada harus diambil orang lain, kan sayang. Bener, kan Aisyah?"
Aisyah mengangguk pelan, sedang Samuel tampak berpikir.
Beberapa saat ketika ketiga manusia di ruang keluarga itu tengah bergelut dengan pikiran masing-masing, Nadira menghampiri mereka.
"Nadira, kamu ada di sini?" Maryam menyapa gadis SMA itu sambil tersenyum.
"Iya, Bun." Nadira menyalami Maryam seraya menanyakan kabar ibunda dari lelaki yang ia sukai.
"Baik," jawab Maryam sambil mengelus lembut kepala Nadira. "Sering-sering aja ke sini. Biar menantu Bunda ini ada temennya." Maryam tersenyum seraya melihat ke Aisyah.
Aisyah mengangguk pelan sambil tersenyum juga. Sementara Samuel menyela dengan berkata, "Enggak disuruh dia juga maunya di sini, Bun."
"Apa sih, Kak?" Nadira mencebik. Kesal.
"Kamu itu suka banget gangguin Nadira, ya." Maryam tertawa kecil.
"Engga ada gangguiin dia, kok, Bun. Orang aku di sini dari tadi."
"Bukan ngeganggu. Tapi ngefitnah," jawab Nadira.
"Lah, kapan gue ngefitnah lo?"
"Yang lo bilang tadi apaan coba kalau bukan ngefitnah."
"Bodo."
Maryam tertawa kecil sambil menggeleng-geleng melihat dan mendengar perdebatan Samuel dan Nadira.
"Sudah-sudah. Kek, anak kecil aja kalian," kata Maryam. "Sam, kamu kenapa tidak kasih tahu Bunda kalau Rania ada di sini?" tanya Maryam kemudian.
"Lupa, Bun," jawab Samuel singkat.
"Untung tadi ditelepon sama Mama Rania kalau Rania ada di sini. Kalau enggak baru ngelahirin si Rania baru kamu kasih kabar," ucap Maryam panjang lebar. "Bunda prihatin dengan masalah Rania." Wajah wanita paruh baya yang berprofesi sebagai kepala koki itu terlihat sedih. Bagaimana tidak? Rania sudah ia anggap sebagai anak sendiri.
Maryam kemudian meminta sang anak untuk mengantarkannya menemui Rania.
***
Maryam memeluk Rania sambil menangis sesaat setelah sampai di apartemen wanita yang tengah mengandung itu.
Maryam senang sekaligus sedih. Senang karena kembali bertemu dengan Rania dan sedih melihat kondisi Rania, hamil tanpa ada suami yang bertanggung jawab.
"Bunda, sehat?" tanya Rania seraya menguraikan pelukan.
Wanita yang berprofesi sebagai kepala koki itu mengangguk menjawab pertanyaan Rania seraya menghapus jejak air di wajahnya.
"Kamu yang sabar, Sayang. Bunda yakin kamu bisa melewati masalah ini." Maryam memberikan dukungan.
"Iya, Bunda," jawab Rania sambil menghapus air mata di sudut matanya.
Maryam kemudian meminta Rania untuk tinggal bersamanya. Tidak bagus wanita hamil tinggal sendirian, itu beresiko. Begitu pendapat Maryam.
Samuel menyetujui keinginan sang bunda. Pun Rania juga mau diajak tinggal bersama ibu dari Samuel itu.
***
Di perjalanan menuju rumah Maryam, Rania ingin makan sate kambing. Katakanlah wanita bunting itu tengah ngidam.
"Udah lama, sih, pengen itu, Bun." Sedikit malu Rania berkata itu.
"Oalah. Ngidam, toh. Jangan ditahan-tahan. Sam, putar balik, Nak. Resto di sana ada sate kambing," kata Maryam.
Samuel mengangguk mengiyakan ucapan bundanya.
Setelah lima menit mengukur jalan menuju tempat yang menjual sate kambing itu, mereka sampai juga.
Setelah sate kambing itu dipesan, Rania langsung melahap makanan itu. Lahap sekali dia. Namun, kelahapan itu tidak bertahan lama. Ia hanya menghabiskan 5 tusuk saja.
"Habisin, Sayang," pinta Maryam.
"Udah, Bun. Enggak lagi, deh."
Samuel tertawa kecil melihat sahabat kecilnya itu. Lelaki bertubuh jangkung itu baru ingat kalau Rania tidak suka kambing yang diolah menjadi makanan apapun. Sekarang, lihatlah. 5 tusuk sate kambing sudah berdiam diri di lambungnya.
"Akhirnya si mbek mampir di perut lo," kata Samuel sambil tertawa.
"Jangan ngeledek, deh. Bukan mau gue ini." Rania memanyunkan bibirnya.
"Namanya juga ngidam. Bunda dulu pas hamil kamu juga gitu, Sam. Enggak doyan jengkol jadi doyan. Enggak doyan pete jadi doyan," jelas bunda Samuel itu. "Pokonya yang busuk-busuk Bunda doyan, tuh. Untung lahirnya cakep," lanjut Maryam kemudian sambil tertawa.
Rania pun juga ikut tertawa mendengar ucapan Maryam. Sementara Samuel menunduk sambil menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal.
"Parah lo, Sam. Untung cakep, ya, Bun," ucap Rania di sela tawanya.
"Awas lo. Entar nular ke anak lo," kata Samuel.
"Ogah. Kalau nular cakepnya enggak apa-apa, sih," jawab Rania.
Mereka bertiga bercengkerama dan terkadang menceritakan masa-masa dimana di kala dulu saat tetangga serasa keluarga.
Setelah usai memenuhi keinginan Rania memakan sate kambing, rupanya sahabat kecil Samuel itu memiliki keinginan lainnya: makan serabi.
Ibu hamil pengen makan terus, kah? Begitu Samuel bertanya-tanya dalam hati. Kalau ngidam apa aja, sok, diikutin. Begitu titah bunda Maryam.
Serabi, beruntung makanan satu ini mudah ditemukan di kota Jakarta. Kalau tidak, bisa dipastikan pusing tujuh keliling Samuel dan Maryam mengikuti keinginan bumil.
"Habis ini mau makan rendang yang di Padang," kata Rania sambil mengunyah serabi.
Bunda Maryam dan Samuel saling menatap seolah sedang berkomunikasi lewat pandangan mata: apakah kita harus ke Padang buat ngantarin bumil makan rendang? Kira-kira begitu arti tatapan anak dan ibu itu.
"Hais ... canda, doang, kok, Bun." Rania terkekeh.
Maryam dan Samuel bernapas lega.
***
Selepas Maghrib setelah menuruti keinginan bumil, barulah mereka sampai di kediaman orangtua Samuel.
Betapa terkejutnya Samuel mendapati orang yang hampir memiliki Aisyah ada di rumah orang tua. Amar.
Amar menatap Samuel seraya tersenyum, lalu menyodorkan tangannya saat lelaki bertubuh jangkung itu tepat berada di hadapannya.
Agak lama Samuel membiarkan tangan Amar bersalaman dengan udara. Setelah lengannya disenggol oleh sang bunda, agar membalas jabat tangan Amar, barulah lelaki bertubuh jangkung itu membalas salam dari mantan calon suami Aisyah itu.
"Apa kabar, Samuel?" tanya Amar kemudian
"Baik," jawab Samuel singkat sambil menguraikan jabat tangan.
"Nak, kenalin ini--"
"Udah tahu, Pa."
"Oo bagus kalau gitu. Amar akan tinggal di sini dan Papa akan membiayai kuliah Amar."
Amar tersenyum sambil mengangguk, dan kemudian lelaki tampan itu menunduk.
Samuel diam, ia mencoba mengingat kembali ucapan bundanya tadi: tentang sang ayah yang ingin Amar untuk melanjutkan usahanya.
"Pa, Samuel mau mencoba melanjutkan usaha, Papa." Kalimat itu terlintas dalam benaknya dan spontan keluar dari mulutnya.
Datuk Zainal, Maryam, dan Amar terdiam mendengar ucapan Samuel. Mendadak suasana berubah menjadi tegang. Namun, lekas hangat kembali ketika Maryam meminta Rania masuk ke dalam rumah.
"Rania, 'kan?" Datuk Zainal tersenyum lebar melihat Rania yang melangkah masuk menghampirinya.