"Oo bagus kalau gitu. Amar akan tinggal di sini dan Papa akan membiayai kuliah Amar."
Amar tersenyum sambil mengangguk, dan kemudian lelaki tampan itu menunduk.
Samuel diam, ia mencoba mengingat kembali ucapan bundanya tadi: tentang sang ayah yang ingin Amar untuk melanjutkan usahanya.
"Pa, Samuel mau mencoba melanjutkan usaha, Papa." Kalimat itu terlintas dalam benaknya dan spontan keluar dari mulutnya.
Datuk Zainal, Maryam, dan Amar terdiam mendengar ucapan Samuel. Mendadak suasana berubah menjadi tegang. Namun, lekas hangat kembali ketika Maryam meminta Rania masuk ke dalam rumah.
Rania kemudian menyalami Datuk Zainal, dan Datuk Zainal menyambut uluran tangan Rania sambil mengelus surai dari sahabat kecil Samuel itu.
Datuk Zainal mengembuskan napas kasar saat melihat perut Rania. "Kamu istirahat, Nak," kata Datuk Zainal. Jelas terlihat manik mata lelaki paruh baya itu mengembun.
"Iya, Pa," jawab Rania.
Maryam pun kemudian mengantarkan Rania ke kamarnya. Tinggallah Datuk Zainal, Amar, dan Samuel di ruangan itu.
Datuk Zainal meminta Amar dan Samuel duduk. Lelaki yang memiliki usaha tambang itu juga ingin mengajak dua lelaki muda itu berbicara.
"Apa kamu serius, Nak?" tanya Datuk Zainal pada Samuel.
"Iya. Serius," jawab lelaki bertubuh jangkung itu sambil melihat ke Amar yang tengah menunduk.
"Apa keputusan kamu ini tidak ada hubungannya dengan Papa yang ingin Amar meneruskan usaha Papa?" Datuk Zainal bertanya sambil menatap sang anak dengan saksama.
"Tidak." Samuel memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Di dalam lubuk hatinya Samuel menjawab berbeda. Tentu keputusannya untuk meneruskan usaha sang papa karena tak ingin Samuel hadir di dalam kehidupan keluarga merupakan. Bukan. Lebih tepatnya lelaki bertubuh jangkung itu tidak ingin adanya pertemuan Amar dengan sang istri.
Jika Amar tinggal di rumah orang tua nya dan kalau Aisyah berkunjung ke sana, bukan tidak mungkin pasangan yang hampir jadi itu akan bertemu.
"Papa senang sekali akhirnya kamu mau juga," kata Datuk Zainal seraya menyunggingkan senyum menatap sang anak.
Lalu, Datuk Zainal beralih menatap Amar. "Amar, Datuk minta maaf kalau--"
Belum tuntas ucapan Datuk Zainal, lekas Amar memotong. "Tidak apa-apa, Datuk. Bukan masalah," jawab lelaki tampan itu sambil tersenyum.
"Tapi tenang saja. Kamu akan tetap Datuk kuliahkan. Kamu punya potensi yang mumpuni dan itu harus dikembangkan," kata Datuk Zainal sambil menepuk pundak Amar.
"Sam setuju, Pa. Tapi kalau untuk Amar tinggal di sini jangan, deh."
"Loh, kenapa?"
"Ya karena--"
"Sam, Papa mau Amar tinggal di sini itu selain dia enggak usah keluar duit buat bayar kontrakan, juga Papa ingin belajar ngaji sama Amar." Datuk Zainal tersenyum menatap Amar. "Papa udah tua, Sam. Udah enggak banyak waktu."
Mendengar ucapan papanya demikian, Samuel tak mampu berucap apa-apa lagi. "Terserah papa, deh."
"Sekarang tugas kamu, Sam, belajar dulu apa yang harus kamu pelajari untuk meneruskan usaha Papa."
"Iya, Pa," jawab Samuel.
***
"Aku mendukung semua keputusanmu," kata Aisyah pada Samuel kala lelaki bertubuh jangkung itu menanyakan pendapat sang istri perihal ia akan meneruskan usaha papanya.
"Makasih, ya, Ai." Samuel mengelus lembut pipi Aisyah.
"Iya," jawab Aisyah sambil memegang punggung tangan suaminya.
"Tapi ... aku takut tidak bisa membagi waktu karena pekerjaan ini."
"Bisa. Insyaallah. Kamu, kan belum mencoba." Aisyah meyakinkan suaminya.
Samuel mengangguk paham, membenarkan ucapan sang istri.
"Besok aku mau ke rumah Bunda. Tadi Bunda request minta dibuatkan gulai kalio. Boleh, 'kan?"
Kening Samuel mengerut mendengar penuturan Aisyah. Ini yang lelaki bertubuh jangkung itu khawatirkan, kalau Aisyah datang ke rumah orang tuanya pasti ia akan bertemu dengan Amar.
Kini, Samuel tidak tahu seberapa lekat nama Amar di hati Aisyah dan seberapa lekat pula namanya terpahat di kalbu gadis berdarah Minang itu.
Kebaikan, kapatuhan, ketaatan Aisyah pada Samuel, sudah barang tentu memang kewajiban bagi seorang istri. Dan Samuel juga tidak bisa memastikan bahwa semua kebaikan yang Aisyah lakukan padanya apakah berlandaskan cinta atau hanya sebagai tugas yang memang harus dilakukan oleh seorang istri.
"Ehm ... tunggu, bukannya besok kita ada acara kajian?" tanya Samuel. Beruntung acara kajian yang Aisyah tawarkan padanya waktu itu bertepatan dengan hari esok. Sehingga tak butuh mencari alasan klise untuk tidak datang ke rumah orang tuanya.
Hari besok aman, tetapi bagaimana dengan lusa kalau Aisyah ingin berkunjung ke rumah Papa dan Bunda? Begitu pikir Samuel.
"Ah, iya. Aku lupa." Aisyah menepuk jidatnya sendiri. "Besok aku kabari Bunda kalau belum bisa ke sana," kata Aisyah kemudian.
Samuel mengangguk mengiyakan ucapan sang istri.
***
Samuel mendengarkan dengan saksama ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Ibrahim.
Lelaki bersorban putih berusia lebih setengah abad itu terlihat berbinar menyampaikan dakwahnya.
"Mahram adalah semua orang yang dalam syari’at Islam haram untuk dinikahi selamanya karena keturunan, persusuan, dan pernikahan," kata Ustaz Ibrahim. "Sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam Firman-nya Qur'an Surah ayat 22-24 yang artinya: Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
"Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali b***k-b***k yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.”
Samuel terdiam mendengar setiap bait kata yang diucapkan oleh Ustaz Ibrahim. Itu artinya Rania dan Nadira bukanlah mahramku, begitu pikir Samuel.
Ustaz Ibrahim kemudian melanjutkan ceramahnya. Lelaki bersorban putih itu berkata lagi, "Hukum menyentuh perempuan yang bukan mahram kita ialah haram. 'Menusuk kepala dengan jarum dari besi, itu jauh lebih baik buat seorang Muslim di antara kalian dibandingkan jika ia bersentuhan dengan wanita yang bukan halal baginya.'" Ustaz Ibrahim menyampaikan hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dari sahabat Ma’qal bin Yasar.
Lagi, Samuel mencerna dengan baik apa yang disampaikan oleh Ustaz Ibrahim. Sungguh sudah banyak kekeliruan yang ia lakukan selama ini.
Di dalam hatinya lelaki bertubuh jangkung itu berjanji akan menjalankan apa yang ia pelajari di kajiannya kali ini.
'Pertanyaannya bisa atau tidak? Sepertinya agak sukar.' Samuel membatin.