"Amar? Emang kenapa cowok pendiam itu?" Nadira bertanya.
"Hus. Enggak boleh kepo."
"Makanya jangan dibilang." Rania memutar bola matanya malas.
Samuel kembali bertanya pada Rania hendak mau jalan-jalan ke mana. Kali ini wanita yang tengah mengandung itu telah memutuskan hendak ke mana. Ia memilih untuk makan di restoran seafood saja.
Samuel tertawa mendengar ucapan Rania. "Makan lagi. Katanya mau jalan. Dasar, ya."
"Biarin. Dah, enggak mood gue jalan sama lo." Rania mencebik. "Eh, ngomong-ngomong soal Amar, dia itu bagus banget ngajinya. Udah lama gue enggak denger bacaan Alquran apalagi ngebacanya. Tiba-tiba denger itu adem banget rasanya," kata Rania kemudian.
Aisyah menoleh ke Rania kala wanita yang tengah mengandung itu menceritakan tentang Amar. Lalu, dengan manik mata berkaca-kaca Aisyah berkata, "Aku juga ingin mendengar Bang Amar mengaji."
"Ingin mendengar Amar mengaji? Lo apanya Amar, sih?" Rania bertanya.
Saat Aisyah hendak menjawab, Samuel lebih dahulu memberi tahu. "Tetangga. Iya. Dia tetangga Aisyah," ucap Samuel.
Rania mengangguk-angguk paham. Mobil yang dikemudi oleh Samuel kemudian berbelok ke salah satu restoran. Sesuai keinginan Rania, ia ingin makan seafood.
Sayangnya Aisyah tak bisa ikut bergabung menemani ibu hamil itu makan seafood. Ia harus kembali ke rumah karena Nadira ingin mengambil barangnya yang ketinggalan saat menginap di rumah Aisyah dan Samuel malam itu.
"Biar Abang saja. Kamu tunggu di sini." Samuel meminta agar dirinya saja yang pulang ke rumah. Sementara Aisyah menemani Rania makan.
"Oke." Aisyah mengangguk.
"Oke. Nanti Abang ke sini lagi jemput kalian."
Aisyah mengangguk mengiyakan, tetapi Rania agak keberatan.
"El, biarin Aisyah aja yang pulang bentar."
"Gue aja. Enggak lama juga." Lelaki bertubuh jangkung itu pun berlalu.
***
"Enak enggak?" tanya Aisyah pada Rania kala makanan yang sudah terhidang tercicipi.
Rania mengangguk, mengiyakan. Aisyah tersenyum melihat Rania tampak lahap menyantap makanannya.
"Eh, by the way ... Amar itu emang tetangga lo, ya?" tanya Rania sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
Sejenak Aisyah terdiam. Kilas balik bayangan-bayangan kala Amar meminangnya waktu itu terputar di benaknya: Amar yang datang dengan sopan penuh hormat menghadap sang ayah, harus patah karena perbedaan status sosial.
Ya, tak bisa Aisyah pungkiri bahwa masih ada rasa cinta pada lelaki itu, Amar. Meskipun kini ia telah menjadi hal milik Samuel.
"Hei, malah bengong." Rania menepuk bahu Aisyah. Membuat gadis berdarah Minang itu terlonjak kaget. Amar emang tetangga lo, ya?" Lagi, Rania mengulangi pertanyaannya.
"I--iya. Dia tetangga saya." Aisyah menjawab dengan gelagapan.
"Jangan bohong," kata Rania seraya menelisik manik mata gadis berdarah Minang itu.
Aisyah menelan ludah kasar mendengar ucapan Rania. Mendadak suasana di meja makan mereka seolah menjadi tegang.
"Apa dia kekasih lo dulu?"
"Ehm ... bu-bukan. Dia--"
Rania tertawa. Lalu, wanita yang tengah mengandung itu berkata, "Lo kenapa gugup enggak jelas gitu?"
Aisyah menggeleng pelan seraya meremas ujung kerudung yang dikenakannya.
***
Lelah menunggu, Nadira duduk selonjoran di depan pintu rumah Samuel dan Aisyah.
Beberapa saat Samuel datang, memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
Samuel berdecak sambil berkacak pinggang kala melihat Nadira yang baginya menyusahkan itu.
"Emang enggak bisa diambil nanti," kata Samuel terdengar ketus. Lalu, lelaki bertubuh jangkung itu memasukkan kunci ke dalam lubang pintu dan pintu pun terbuka.
"Enggak. Harus sekarang," kata Nadira sambil mengekori Samuel yang lebih dulu masuk ke rumah. "Jalan-jalan sama Kak Aisyah enggak ajak-ajak. Huft." Gadis SMA itu mencebik.
"Siapa yang jalan-jalan. Orang bawa bumil yang lagi ngidam." Samuel menghempaskan bokongnya di sofa. "Gih, sana ambil. Buruan," titah Samuel.
"Iya. Iya." Nadira melangkah menaiki tangga menuju kamar yang ia tempati kala bermalam di rumah Samuel dan Aisyah.
Melihat Nadira yang sudah turun dari kamar atas, Samuel tegak berdiri melangkah keluar. Nadira pun menyusul.
Setelah mengunci pintu, Samuel melangkah menuju mobilnya. Namun, Nadira menghentikan langkah lelaki bertubuh jangkung itu dengan memegang tangan Samuel.
Beberapa saat mata Samuel melihat tangan Nadira yang menempel di pergelangan tangannya. Lalu, netra lelaki bertubuh jangkung itu beralih melihat Nadira.
"Aish. Jangan pegang-pegang." Samuel menjauhkan tangan Nadira yang memegang lengan tangannya.
"Kenapa, sih?" Nadira keheranan.
"Bukan mahram," kata Samuel
"Heleh ... biasanya pelukan biasa-biasa aja."
"Ya, itu dulu sebelum gue belum tahu. Sekarang udah tahu. Jadi, enggak boleh."
"Lebay." Nadira memutar bola matanya sambil melipatkan tangan di d**a.
"Bodo." Samuel lalu membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalamnya. Lagi, Nadira menghentikan.
"Eeh ... antarin pulang, ya, Kak."
"Ke sini naik apa tadi? Ya, pulangnya naik itu juga," ucap Samuel sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tega."
Samuel mengembuskan napas kasar. Lalu, ia berkata, "Oke. Masuk."
Kendaraan roda empat lelaki bertubuh jangkung itu mulai membelah jalanan aspal, mengantarkan Nadira pulang ke panti asuhan.
"Eh, iya. Aku baru ingat sekarang. Ini mirip si yang hamil itu, loh. Yang tinggal di rumah, Kakak." Nadira menyodorkan telepon genggamnya pada Samuel.
Samuel melihat dengan saksama foto seorang wanita yang memakai gaun putih bersama dengan seorang pria dengan setelan jas warna senada dengan gaun wanita itu.
Hanya saja rambut wanita yang di foto itu berwarna cokelat kehitaman. Bukan seperti rambut Rania sekarang.
"Iya. Mirip Rania," kata Samuel sambil memberikan telepon genggam itu pada Nadira. "Kok, kayak pernikahan gitu, ya."
"Iya. Emang kayak acara pernikahan," jawab Nadira.
"Eh, itu i********: dia bukan?" tanya Samuel.
"Di sini di akun Brian Arley, sih."
"Ada postingan lain selain itu?"
"Cuman ini."
Samuel mengangguk-angguk paham.
***
"Lupain, Aisyah. Lo jadi tegang gitu," kata Rania kala melihat Aisyah tak tenang. 'Apa ada hubungan dia dengan Amar?' Rania membatin.
Aisyah tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
"Oh, ya. Gue mau jujur sama lo."
"Apa?"
Rania menyudahi makannya. Setelah menegak minuman hingga tersisa setengah gelas, wanita yang tengah mengandung itu berkata, "Gue cinta sama Samuel. Dan hal ini bukanlah aib. So, enggak ada salahnya gue kasih lo tahu."
"Cinta?" Kening Aisyah membentuk kerutan kala mendengar penuturan Rania.
"Iya. Udah sejak lama. Jauh ... Jauh sebelum lo kenal dia." Rania menyeringai.
Aisyah menelan ludahnya kasar. Kejujuran Rania membuat gadis berdarah Minang itu kebingungan hendak bagaimana merespon ucapan wanita di hadapannya.
"Jadi?"
Rania tersenyum lebar sambil melipatkan kedua tangannya di d**a. "Dari kecil, apa yang gue inginkan mau enggak mau harus dapat," kata Rania menatap Aisyah dengan tajam. "Termasuk Samuel. Mungkin dia sekarang milik lo. Besok dia bakal jatuh ke pelukan gue."