"Lupain, Aisyah. Lo jadi tegang gitu," kata Rania kala melihat Aisyah tak tenang. 'Apa ada hubungan dia dengan Amar?' Rania membatin.
Aisyah tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
"Oh, ya. Gue mau jujur sama lo."
"Apa?"
Rania menyudahi makannya. Setelah menegak minuman hingga tersisa setengah gelas, wanita yang tengah mengandung itu berkata, "Gue cinta sama Samuel. Dan hal ini bukanlah aib. So, enggak ada salahnya gue kasih lo tahu."
"Cinta?" Kening Aisyah membentuk kerutan kala mendengar penuturan Rania.
"Iya. Udah sejak lama. Jauh ... Jauh sebelum lo kenal dia." Rania menyeringai.
Kejujuran Rania membuat gadis berdarah Minang itu kebingungan hendak bagaimana merespon ucapan wanita di hadapannya.
"Jadi?"
Rania tersenyum lebar sambil melipatkan kedua tangannya di d**a. "Dari kecil, apa yang gue inginkan mau enggak mau harus dapat," kata Rania menatap Aisyah dengan tajam. "Termasuk Samuel. Mungkin dia sekarang milik lo. Besok dia bakal jatuh ke pelukan gue."
***
"Enggak mampir dulu?" Nadira menawari Samuel. Namun, lelaki bertubuh jangkung itu menggeleng, menolak ajakan gadis SMA itu. "Oke. Hati-hati, ya," ucap Nadira kemudian.
Nadira memerhatikan kendaraan roda empat yang dikemudikan oleh lelaki yang ia cintai itu sampai hilang di persimpangan jalan. Lalu, dengan suasana hati yang kurang bagus, gadis SMA itu masuk ke panti, tempat ia tinggal.
"Assalamualaikum," ucap Nadira sambil melangkah masuk rumah.
"Waalaikumussalam," jawab ibu panti, Bu Aminah seraya mendekat pada Nadira. "Udah dapat flashdisk itu?" tanya Bu Aminah kemudian.
Nadira mengembuskan napas kasar seraya mengempaskan bokongnya di sofa ruang tamu. "Dapat, Bu."
"Kenapa wajah kamu ditekuk begitu?" Bu Aminah duduk di sebelah Nadira.
"Bu ...."
"Iya. Ada apa?"
"Menurut, Ibu. Apa Nadira salah mencintai orang yang lebih tua dari Nadira?" tanya Nadira. Ia menunduk sambil menekan-nekan telunjuk kanannya dengan jempol kiri.
"Hais. Tak salah." Bu Aminah mengelus lembut kepala Nadira. "Cinta itu tidak kenal usia. Baginda Rasulullah SAW saja sangat mencinta Ibunda Khadijah. Padahal usia mereka terpaut jauh."
Nadira mendongakkan kepala, lalu tersenyum melihat wanita di sampingnya.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini? Apa kamu mencintai orang yang lebih tua dari kamu, Sayang?"
Nadira kembali menunduk. Ia merasa malu ditanyakan begitu. Pipi gadis SMA itu memerah seketika.
Bu Aminah kemudian memegang dagu Nadira, meminta gadis itu untuk melihat padanya. "Nadira ada suka sama orang, ya? Ceritalah sama Ibu."
Nadira menggeleng sambil menjauhkan tangan Bu Aminah yang memegang dagunya.
"Ehm, Ibu tahu, Nadira, bohong, 'kan?" ucap Bu Aminah sambil kembali mengelus kepala Nadira.
"Enggak, Bu. jujur, kok."
"Oke. Tapi, kenapa pipi kamu merah begitu, Sayang?" tanya Bu Aminah.
Nadira salah tingkah. Ia benar-benar merasa malu. Belum pernah sebelumnya ia bercerita pada Bu Aminah. Baik masalah pertemanan, pun masalah perasaan. Kali ini gadis SMA itu tampaknya butuh teman bercerita.
"Bu ...."
"Iya, Sayang. Cerita aja apa yang mau kamu cerita sama Ibu." Bu Aminah memegang tangan Rania, mencoba meyakinkan gadis itu agar mau bercerita padanya.
"Iya, ada. Nadira memang ada mencintai seseorang yang lebih tua dari Nadira."
"Siapa?" tanya Bu Aminah. Kening ibu panti itu mengernyit mendengar penuturan gadis di sampingnya.
"Dia itu suami orang, Bu."
"Su--suami orang?" Bu Aminah membulatkan netranya menatap Nadira.
"I--iya, Bu. Tapi-tapi ... sebelum dia kenal dengan istrinya itu, Nadira udah suka sama dia, Bu."
Bu Aminah mengembuskan napas kasar. Sambil memegang tangan Nadira dan kemudian mengelus lembut punggung tangan gadis SMA itu, ia berkata, "Apa dia juga mencintai kamu, Sayang?"
"Sepertinya tidak, Bu."
Bu Aminah tersenyum mendengar ucapan Nadira. "Sayang, menurut ibu ... kamu lupakan dia. Ikhlaskan. Biarkan dia--"
"Tapi ... Nadira benar-benar cinta dan sayang, Bu, sama dia," kata Nadira memotong ucapan Bu Aminah.
"Dia sudah berkeluarga, Sayang," jawab Bu Aminah. "Sekarang, Nadira, fokus belajar dulu, ya. Ibu yakin suatu saat nanti pasti ada yang lebih baik dari laki-laki yang, Nadira, suka saat ini."
Nadira menatap Bu Aminah dengan saksama, lalu gadis SMA itu tegak berdiri dan berkata. "Mungkin sekarang dia enggak suka sama Nadira, Bu. Besok-besok belum tahu, 'kan? Bukannya hati manusia itu selalu berubah-ubah?"
Setelah mengucapkan kata-kata itu Nadira beranjak, melangkah menuju kamarnya.
"Nadira ...," Panggil Bu Aminah. Namun, Nadira tidak menghiraukan. Tercetak kegusaran di wajah wanita pengelola panti asuhan itu kala mendengar penuturan Nadira barusan.
***
Di balkon kamar, Aisyah tegak berdiri memandang rembulan yang menggantung di langit bertebaran bintang-bintang.
Gadis berdarah Minang itu terngiang-ngiang ucapan Rania di restoran siang tadi. 'Dari kecil, apa yang gue inginkan mau enggak mau harus dapat. Termasuk Samuel. Mungkin dia sekarang milik lo. Besok dia bakal jatuh ke pelukan gue.'
Samuel memeluk Aisyah dari belakang. Sontak hal itu membuat Aisyah terkejut.
"Abang, ngagetin, ih." Aisyah menepuk pelan lengan tangan kekar Samuel yang melingkar di perutnya.
"Melamun lagi," kata Samuel. "Mikirin apa, sih? Apa jangan-jangan keingat bertemu dengan Amar di rumah Bunda tadi?" tanya lelaki bertubuh jangkung itu kemudian.
"Kok, Amar? Enggaklah," jawab Aisyah sambil melepaskan pelukan Samuel.
"Jadi, mikirin apa?"
Aisyah menggeleng, enggan menyebutkan apa yang tengah ia pikirkan.
"Oke. Aku enggak maksa. Tapi lain kali, apapun yang mengganjal di pikiran kamu, kamu harus berbagi sama aku," kata Samuel. "Oke?"
Aisyah mengangguk-angguk, mengiyakan ucapan sang suami. "Oh, ya. Kira-kira Rania sejak kapan dia merokok?" tanya Aisyah kemudian.
"Merokok?" Alis lelaki bertubuh jangkung itu saling tertaut mendengar ucapan sang istri.
Setahu Samuel, Nadira tidak pernah merokok. Bahkan, dulu semasa sekolah Rania marah saat mengetahui Samuel merokok.
"Iya. Menjelang, Abang, kembali ke restoran siang tadi, Rania merokok. Aku udah mencoba larang dia, tapi dia enggak mau. Padahal dia sedang mengandung," jelas gadis berdarah Minang itu.
Samuel menggeleng-geleng mendengar penjelasan Aisyah. "Sejak kapan pula dia seperti itu," ucap lelaki bertubuh jangkung itu seraya berkacak pinggang.
***
Dini hari menjelang subuh, Aisyah terjaga. Diliriknya jam yang terletak di atas nakas menunjukkan pukul 03.00. Lalu, gadis berdarah Minang itu bangkit, melangkah menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, Aisyah membangunkan sang suami, mengajak Samuel untuk Salat Tahajud.
Samuel terjaga. Setelah nyawanya terkumpul sempurna, lelaki bertubuh jangkung itu bangkit, membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah Samuel selesai berkemas diri, sepasang suami-istri itu mengerjakan Salat Tahajud berjamaah.
Sepasang suami-istri itu mengakhiri Salat Tahajud mereka di rakaat ke empat. Lalu, masing-masing dari mereka menengadahkan tangan, berdoa pada Tuhan.
Setelah selesai mengetuk pintu langit dengan doa-doa, Samuel membalikkan badan menghadap ke Aisyah. "Doa apa tadi?" tanya Samuel kemudian.
Aisyah meraih tangan Samuel, lalu mencium punggung tangan sang suami dengan takzim. Samuel kemudian membalas dengan mengecup pucuk kepala sang istri.
"Aku berdoa agar Allah menggariskan takdir yang terbaik untuk kita," ucap Aisyah seraya tersenyum menatap sang suami dengan saksama.
"Aamiin." Samuel mengelus lembut pipi sang istri. "Terima kasih, Aisyah. Sudah bersabar melenyapkan kebodohanku."
Aisyah menggeleng sambil memegang tangan Samuel. "Bukan aku. Tapi Allah yang sudah menuntun, Abang, di jalan ini."
"Ya, tapi kamu perantara Allah untuk aku hingga di titik ini," ucap Samuel.
Lelaki bertubuh jangkung itu menatap saksama manik hitam Aisyah. Netra itu kini menjadi candu bagi Samuel. Ya, lelaki bertubuh jangkung itu sudah jatuh di kedalaman samudera cinta pada wanita yang ia yakini mampu menjadi tempat pulang terbaik dari segala kotoran yang ia bawa dari luar, Aisyah.
"Aku mencintaimu."
Kata-kata yang keluar dari mulut Samuel barusan membuat Aisyah terdiam. Gadis berdarah Minang itu bimbang dengan perasaannya sendiri.
Aisyah membiarkan kata-kata Samuel tadi mengambang di udara, ia tak membalas kalimat cinta yang diucapkan sang suami.
"Ehm, kita ngaji, yuk." Aisyah melangkah, mengambil Al-Qur'an di rak.