"Sekarang dia gimana? Ehm, maksud Bunda orang yang ngelamar kamu dulu udah nikah juga?"
"Ehm, belum, Bun." Aisyah menjawab pelan. Dilihatnya lagi Amar sekilas, laki-laki yang hobi memakai sarung dan koko itu kini fokus ke makanannya. Lalu, ia mendongak. Lagi, pandangan Aisyah dan Amar beradu temu. "Semoga dia segera mendapatkan jodoh yang terbaik. Lebih baik dari Aisyah, Bun. Karena dia orang baik. Sangat baik sekali menurut Aisyah." Kali ini Aisyah berbicara menatap manik mata Amar.
"Doamu itu baik, Aisyah. Tapi kamu tak bisa menentukan pilihan hidup orang lain. Baginya sekarang, kamu tetap yang terbaik," balas Amar seraya menatap Aisyah dengan saksama. "Bagaimana menurutmu?" tanya Amar kemudian.
Aisyah tergemap. Lidahnya kelu menjawab tanya lelaki di hadapannya.
Setelah beberapa saat mengontrol detak jantungnya yang benar-benar tak karuan, Aisyah menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya pelan, lalu gadis berdarah Minang itu berkata, "Terbaik versi kita berbeda dengan versi Allah. Karena aku bukan wanita terbaik untuknya, sebab itulah aku dan dia tidak bersama sekarang.
"Aku harap ia segera bertemu dengan wanita yang terbaik untuknya menurut versi Allah," ucap Aisyah dengan suara bergetar. Sesak. Ya, sesak sebenarnya ia harus berkata demikian karena ucapannya berbanding terbalik dengan kehendak hati gadis berdarah Minang itu.
Aisyah kemudian tegak berdiri sambil berkata, "Bun, Aisyah mau ke kamar Rania dulu. Kasian dia belum makan siang."
"Iya, Sayang."
Gadis berdarah Minang itu lantas melangkah menjauh dari meja makan. Menuju kamar Rania. Namun, ketika hampir sampai di kamar Rania, Aisyah berbalik menuju kamar Samuel dulu.
Kini di kamar itu Aisyah menumpahkan tangisnya. Sesakit itu harus mengatakan apa yang tidak sesuai dengan isi hati.
***
"Masuk," pekik Rania dari dalam kamar kala seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Setelah mengucapkan salam, Aisyah masuk ke kamar Rania, melangkah mendekat ke wanita yang tengah mengandung itu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Rania sambil melihat Aisyah sekilas, lalu kembali menekuri ponselnya.
"Aku--" Gadis berdarah Minang itu urung melanjutkan perkataannya kala melihat banyak sampah kulit kacang berceceran di lantai. "Ya Allah, Rania. Banyak sekali kulit-kulit kacang ini. Kamar kamu juga berantakan begini."
Aisyah memindai sudut demi sudut kamar wanita yang tengah mengandung itu: handuk tergeletak begitu saja di lantai, pernak-pernik skincare tidak tersusun rapi di meja rias, sprei berantakan, baju-baju tergeletak dan tergantung tak berdosa di mana-mana.
"Kok, lo yang sewot kamar gue berantakan?" Rania memandang Aisyah dengan tatapan tak suka.
"Aku bukannya sewot. Aku cuma bilang kenapa--"
Rania memotong ucapan Aisyah dengan meletakkan telunjuk kanan di depan bibirnya, pertanda Aisyah tidak dibenarkan berbicara. "Keluar lo," ucap Rania kemudian.
Aisyah mengembuskan napasnya kasar, lalu ia berujar, "Kamu, 'kan belum makan. Jadi, aku mau kamu request mau makan apa. Asal jangan makanan cepat saji, ya," kata Aisyah seraya tersenyum.
Sejenak Rania berpikir dengan tawaran Aisyah dan pada akhirnya wanita yang tengah mengandung itu menyetujui. Ia pun kemudian meminta Aisyah untuk memasakkan semur jamur pedas untuknya.
"Oke," ucap Aisyah dan hendak berlalu. Namun, urung kala Rania memanggilnya.
"Mata lo sembab gitu ... kenapa?" tanya Rania kemudian. "Abis nangis lo?"
Aisyah jadi salah tingkah. Bingung ia harus memberi alasan apa pada Rania kenapa ia menangis.
"Ehm ... i--itu ta--tadi mata aku perih gitu," jawab Aisyah gelagapan. "A--aku permisi dulu, Rania."
Gadis berdarah Minang itu pun berlalu. Meninggalkan tanda tanya bagi Rania, tak puas akan jawaban yang diberikan Aisyah barusan.
"Lo bohong, Aisyah. Gue tahu. Pasti ada yang lo sembunyiin," gumam Rania seraya menyeringai.
***
Beruntung, bahan-bahan untuk membuat makanan yang diinginkan oleh Rania sudah ada. Jadi, Aisyah dan dibantu oleh Mbok Nah--asisten rumah tangga-- mereka bisa langsung mengeksekusi bahan-bahan mentah itu menjadi semur jamur pedes.
"Mbok kita tak usah pedes-pedes, Neng." Mbok Nah memberi usul. "Ndak baik orang hamil makan pedes."
Aisyah menyunggingkan senyum dan berkata, "Iya, Mbok. Segala yang berlebihan memang tidak boleh, 'kan?"
"Betul itu," jawab Mbok Nah.
"Sayangnya cintaku padamu berlebih, Aisyah."
Sontak Aisyah menghentikan aktivitasnya mengiris bawang. 'Amar ...,' batin Aisyah menerka suara itu ialah Amar. Lalu, gadis berdarah Minang itu berbalik badan, melihat siapa gerangan yang berbicara.
Sesaat Aisyah terdiam saat mengetahui pemilik suara yang mengatakan kalau ia sangat mencintai Aisyah ialah suaminya, Samuel.
Samuel tersenyum pada Aisyah, lalu mendekat pada sang istri. "Kenapa? Kok, seperti terkejut begitu?" tanya Samuel sesaat sudah berada di depan Aisyah.
"Enggak, kok. Udah pulang, ya?" Aisyah meraih tangan Samuel, mencium punggung tangan suaminya itu.
"Iya, baru aja," jawab Samuel sambil mencium kening Aisyah.
"Kok, tahu aku di dapur?" tanya Aisyah kemudian.
"Tanya sama Mama di depan," jawab lelaki bertubuh jangkung itu. "Eh, masak apa? Emang belum makan siang?"
"Sudah. Ini untuk Rania. Dia enggak mau makan semur jamur pedas."
Samuel berdecak mendengar penuturan Aisyah. "Maaf, ya. Dia ngerepotin kamu."
"Enggak apa-apa. Keinginan bumil itu harus diturutin. Kalau enggak anaknya ngeces, loh," kata Aisyah seraya tertawa kecil.
Samuel tersenyum pada sang istri sambil mengacak-acak kepala Aisyah yang tertutup kerudung pasmina.
"Ish, Abang. Berantakan, loh." Aisyah memanyunkan bibirnya.
"Biarin," jawab Samuel seraya terkekeh. Aisyah kemudian mencubit pinggang Samuel, membuat lelaki bertubuh jangkung itu meringis kesakitan.
Di ambang pintu dapur, ada hati yang teremas melihat Aisyah dan Samuel bercengkerama. Rania. Wanita yang tengah mengandung itu meremas ujung baju sambil mulutnya berkomat-kamit entah berkata apa. Lalu, dengan hati nelangsa campur sakit ia beranjak dari tempat ia berdiri.
"Abang bantu, ya, Ai." Samuel menawari bantuan untuk membatu sang istri memasak.
Samuel memberi kode pada Mbok Nah untuk beranjak dari dapur. Mbok Nah pun kemudian berlalu dari dapur itu.
"Mbok mau ke mana?" tanya Aisyah.
"Mbok ke belakang dulu, Non. Ada kerjaan dikit," kata Mbok Nah sambil berlalu.
Aisyah menatap kepergian Mbok Nah dengan kening mengkerut. Lalu, ia beralih melihat ke sang suami. "Enggak usah. Abang, 'kan, baru pulang. Istirahat aja," tolak Aisyah. "Oh, iya. Abang, udah makan apa belum?"
"Tadi, sih. Udah. Tapi sekarang kalau makanan yang kamu masak udah matang, jadi laper lagi, deh."
"Hilihhh .... gimbalnya,"
"Gombal, Sayang. Gombal." Samuel membetulkan ucapan sang istri seraya tertawa.
Di lain sisi, sama halnya dengan Rania. Ada hati lain yang sakit menyaksikan sepasang suami-istri itu bercengkerama ria. Namun, di sisi lain dia juga bahagia melihat Aisyah bahagia. Amar. Lelaki tampan itu tak sengaja melihat kemesraan Aisyah dan Samuel kala hendak mengambil minum di dapur. Tak ingin mengganggu Aisyah dan Samuel, Amar urung mengambil air.