Di ambang pintu dapur, ada hati yang teremas melihat Aisyah dan Samuel bercengkerama. Rania. Wanita yang tengah mengandung itu meremas ujung baju sambil mulutnya berkomat-kamit entah berkata apa. Lalu, dengan hati nelangsa campur sakit ia beranjak dari tempat ia berdiri.
"Abang bantu, ya, Ai." Samuel menawari bantuan untuk membatu sang istri memasak.
Samuel memberi kode pada Mbok Nah untuk beranjak dari dapur. Mbok Nah pun kemudian berlalu dari dapur itu.
"Mbok mau ke mana?" tanya Aisyah.
"Mbok ke belakang dulu, Non. Ada kerjaan dikit," kata Mbok Nah sambil berlalu.
Aisyah menatap kepergian Mbok Nah dengan kening mengkerut. Lalu, ia beralih melihat ke sang suami. "Enggak usah. Abang, 'kan, baru pulang. Istirahat aja," tolak Aisyah. "Oh, iya. Abang, udah makan apa belum?"
"Tadi, sih. Udah. Tapi sekarang kalau makanan yang kamu masak udah matang, jadi laper lagi, deh."
"Hilihhh .... gimbalnya,"
"Gombal, Sayang. Gombal." Samuel membetulkan ucapan sang istri seraya tertawa.
Di lain sisi, sama halnya dengan Rania. Ada hati lain yang sakit menyaksikan sepasang suami-istri itu bercengkerama ria. Namun, di sisi lain dia juga bahagia melihat Aisyah bahagia. Amar. Lelaki tampan itu tak sengaja melihat kemesraan Aisyah dan Samuel kala hendak mengambil minum di dapur. Tak ingin mengganggu Aisyah dan Samuel, Amar urung mengambil air minum.
***
Setelah makanan siap, Aisyah menuju kamar Rania, memanggil wanita itu untuk memintanya makan. Namun, tak ada sahutan dari dalam.
Aisyah kemudian memegang gagang pintu, rupanya tak terkunci. Tanpa pikir panjang, gadis berdarah Minang itu masuk ke kamar Rania.
"Ra, ayo, makan. Makanan udah siap," ucap Aisyah sambil mendekat pada Rania yang tengah berbaring.
"Nanti gue keluar," sahut Rania pelan.
"Kami kenapa, Ra?" tanya Aisyah sambil duduk di bibir ranjang dan memegang bahu Rania yang membelakanginya.
"Enggak usah sok peduli. Keluar." Nada bicara Rania terdengar ketus.
Aisyah mengernyitkan kening mendengar penuturan Rania. Di dalam hatinya, gadis berdarah Minang itu bertanya-tanya ada apa dengan Rania? Mood wanita yang tengah mengandung itu mudah sekali berubah.
Bukannya malah keluar kamar, Aisyah malah membersihkan kamar Rania yang berantakan. Gadis berdarah Minang itu mengambil sapu di luar, lalu kembali lagi ke kamar Rania, menyapu ruangan itu yang banyak sekali kulit kacang yang berceceran.
"Ngapain lo?" tanya Rania sambil bangkit dari rebahan. Lalu, duduk bersandar di headboard.
"Ehm, aku izin bersihin kamar kamu, ya," ucap Aisyah seraya melemparkan senyum pada Rania.
"Oo ... bagus. Bersihin semuanya. Biar gue nyaman tinggal di sini," sahut Rania. Lalu, ia tegak berdiri melangkah keluar kamar. 'Lain kali lo yang gue bersihin dari rumah ini.' Rania membatin sambil menyeringai.
"Oke." Aisyah mengaitkan jari telunjuk dan jempol tangannya membentuk huruf O seraya menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan.
Akhirnya lantai keramik itu setelah dibersihkan oleh Aisyah menjadi bersih. Kini, Aisyah kembali membersihkan pakaian Rania yang banyak sekali tergantung di balik pintu: memilah dan memilih pakaian bersih dan kotor menurut perkiraan Aisyah.
Setelah memilah dan memilih baju-baju kotor Rania, Aisyah beralih membersihkan sprei yang berantakan.
Sesaat Aisyah menatap sprei Rania. Lalu, ia melangkah ke lemari jati berukuran sedang di sudut kanan dari tempat tidur.
"Aa ... ini dia," gumam Aisyah kala benda yang dicari ketemu. Alas kasur.
Gadis berdarah Minang itu kemudian menggantikan sprei lama ke sprei yang bersih. Saat membuka alas bantal, terdapat bercak air di salah satu sisi. Bukan iler, tetapi Aisyah bisa menebak kalau itu ialah berkas air mata.
"Rania menangis?" Aisyah bertanya-tanya sendiri. "Tapi kenapa?"
***
Samuel celingak-celinguk mencari keberadaan Aisyah. "Lo lihat Aisyah enggak, Ra?" tanya lelaki bertubuh jangkung itu kala bertemu Rania di ruang makan.
Aisyah memutar bola matanya, tak suka dengan pertanyaan Samuel. "Ada, tuh. Di kamar gue. Bersihin kamar."
"Apa?" Samuel mengernyitkan keningnya. "Lo minta dia bersihin kamar lo?" tanya lelaki bertubuh jangkung itu kemudian.
Rania mengembuskan napasnya kasar, lalu wanita yang tengah mengandung itu berkata, "Enggak. Orang dia sendiri yang mau."
Tanpa permisi Samuel melangkah menuju kamar Rania.
"Lengket terus. Udah kayak lem." Rania mencebik kesal.
***
"Ai ...." Samuel memanggil sang istri.
Aisyah yang tengah tegak berdiri mematung berbalik, menghadap ke Samuel.
Melihat Aisyah yang tampak memikirkan sesuatu, Samuel bertanya pada sang istri dengan berkata, "Ada apa, Sayang?"
Aisyah menelan ludahnya kasar, lalu ia menggeleng menjawab panggilan Samuel.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aisyah pada sang suami.
"Nyari kamu."
"Aku bersihin ini dulu. Bentar lagi siap, kok," kata Aisyah sambil kembali menggantikan alas kasur.
"Aku bantu, ya." Samuel menawarkan.
"Enggak usah. Kamu keluar, gih. Aku bisa sendiri, kok."
"Oke. Aku tunggu di kamar, ya. Ada yang mau aku bicarakan," kata Samuel seraya tersenyum pada Aisyah, lalu melangkah keluar.
***
Di dalam kamar di atas ranjang mereka, Samuel dan Aisyah duduk berhadapan. Sesaat tak ada yang berbicara di antara mereka. Samuel bingung hendak memulai pembicaraan dari mana dulu.
"Mau ngomong apa?" tanya Aisyah memecah keheningan di antara mereka.
Samuel menggaruk belakang kepalanya yang terasa gatal. Lalu, ia mengembuskan napasnya pelan sebelum berbicara dengan sang istri.
"A--aku minta maaf soal sikap aku subuh tadi," ucap Samuel menatap manik mata Aisyah. "Ya, jujur aku sedikit kesal sama kamu karena diam saat aku bilang cinta." Lelaki bertubuh jangkung itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Aisyah menyunggingkan senyum menatap Samuel. Lalu, gadis berdarah Minang itu berkata, "Sam, aku mau tanya boleh?" Aisyah sedikit memelankan suaranya.
"Sam?" Samuel menaikkan alisnya sebelah mendengar Aisyah tak menyebutnya dengan panggilan seperti biasa.
"Ehm, iya. Maksud aku ... Abang, aku mau tanya boleh?" Aisyah memperbaiki kalimatnya.
"Tentu. Mau tanya apa? Keknya serius amat." Lelaki bertubuh jangkung itu memperbaiki posisi duduknya, antusias mendengarkan pertanyaan Aisyah.
"Ehm ... Abang, 'kan udah lama kenal Rania ...." Aisyah menggantungkan perkataannya. Bingung ia harus bagaimana menyusun pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Samuel.
"Terus?" Samuel meminta kelanjutan.
"Abang ... anggap Rania itu apa?" Aisyah memelankan suaranya.
"Maksud kamu apa, sih, Ai?"
"Oke. Gini ... Abang sama Rania itu, 'kan udah lama saling kenal. Keluarga juga sudah kenal dekat. Apa, Abang, hanya menganggap ia sebagai sahabat saja? Tidak lebih?" tanya Aisyah terbata-bata.
Samuel menarik satu sudut bibirnya ke atas sambil melipatkan tangan di d**a. "Pertanyaan kamu aneh, Ai."
"A--aku enggak bermaksud apa-apa. Cuma--"
"It's oke." Lelaki bertubuh jangkung itu memotong ucapan sang istri. "Aku akan jawab pertanyaan kamu. Tapi kamu juga harus jujur sama aku. Setuju?"
Aisyah mengangguk pelan sambil berkata, "Iya."
"Aku dan Rania hanya sebatas sahabat. Dan aku juga anggap dia adik. Enggak lebih," kata Samuel. "Wait ... wait ... kamu tanya begini ada apa, Ai?" tanya Samuel kemudian.
Aisyah menuduk sambil meremas ujung kerudungnya. Lalu, ia berkata, "Rania ...."
"Kenapa dengan Rania?" Samuel bertanya. Lelaki bertubuh jangkung itu tampak penasaran.