"Ehm ... Abang, 'kan udah lama kenal Rania ...." Aisyah menggantungkan perkataannya. Bingung ia harus bagaimana menyusun pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Samuel.
"Terus?" Samuel meminta kelanjutan.
"Abang ... anggap Rania itu apa?" Aisyah memelankan suaranya.
"Maksud kamu apa, sih, Ai?"
"Oke. Gini ... Abang sama Rania itu, 'kan udah lama saling kenal. Keluarga juga sudah kenal dekat. Apa, Abang, hanya menganggap ia sebagai sahabat saja? Tidak lebih?" tanya Aisyah terbata-bata.
Samuel menarik satu sudut bibirnya ke atas sambil melipatkan tangan di d**a. "Pertanyaan kamu aneh, Ai."
"A--aku enggak bermaksud apa-apa. Cuma--"
"It's oke." Lelaki bertubuh jangkung itu memotong ucapan sang istri. "Aku akan jawab pertanyaan kamu. Tapi kamu juga harus jujur sama aku. Setuju?"
Aisyah mengangguk pelan sambil berkata, "Iya."
"Aku dan Rania hanya sebatas sahabat. Dan aku juga anggap dia adik. Enggak lebih," kata Samuel. "Wait ... wait ... kamu tanya begini ada apa, Ai?" tanya Samuel kemudian.
Aisyah menuduk sambil meremas ujung kerudungnya. Lalu, ia berkata, "Rania ...."
"Kenapa dengan Rania?" Samuel bertanya. Lelaki bertubuh jangkung itu tampak penasaran.
Aisyah menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. Gadis berdarah Minang itu menatap Samuel dengan saksama sambil berujar, "Rania itu sayang sama, Abang. Dia cinta sama, Abang."
Samuel kembali menarik satu sudut bibirnya ke atas. Lalu, lelaki bertubuh jangkung itu tergelak. "Ai, Ai ... kiraiin mau ngomong apa."
Aisyah menautkan kedua alisnya melihat respons Samuel kala mengatakan Rania menyukainya. Gadis berdarah Minang itu benar-benar tak paham kenapa suaminya itu tertawa.
"Di mana lucunya? Aku serius, loh."
"Kamu yang lucu. Cuma ngomong ini aja malah deg-degan kamu." Samuel tertawa sambil memegang perutnya.
"Ya, udah. Puasin aja ketawanya dulu." Aisyah sedikit kesal. Gadis berdarah Minang itu kemudian merebahkan dirinya di kasur.
Setelah puas tertawa, Samuel juga ikut berbaring di samping Aisyah. "Aku udah tahu dari dulu kalau Rania itu suka sama aku," kata Samuel sesaat setelah merebahkan diri di samping sang istri. "Tapi, ya, itu ... aku menganggap dia cuma sahabat dan adik doang. Enggak lebih dan enggak kurang," lanjut lelaki bertubuh jangkung itu sambil melihat manik mata Aisyah.
Aisyah membalas tatapan Samuel. Entah kenapa dari tatapan itu malah ia teringat perkataan Rania kala di restoran waktu itu. 'Dari kecil, apa yang gue inginkan mau enggak mau harus dapat. Termasuk Samuel. Mungkin dia sekarang milik lo. Besok dia bakal jatuh ke pelukan gue.' Perkataan Rania itu terngiang-ngiang di pikiran Aisyah.
"Sedikit pun engak ada?" tanya Aisyah kemudian.
"Maksud kamu suka sama Rania?"
Aisyah mengangguk mengiyakan. Dan Samuel membalas dengan yakin menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda ia benar-benar tak menyimpan rasa pada sahabat kecilnya itu, Rania.
"Kamu kenapa tiba-tiba tanya begini?" tanya Samuel sambil memalingkan tatapan dari Aisyah, lalu melihat langit-langit kamar. "Apa Rania mengatakan sesuatu sama kamu, Ai?"
"Enggak ada, kok."
Samuel mengangguk paham. "Oke. Sekarang sesuai perjanjian tadi, sekarang kamu harus jujur sama aku."
"Apa?" Aisyah memalingkan wajahnya dari Samuel. Lalu, ia membetulkan posisi tidurnya dengan membelakangi sang suami.
"Masih suka sama Amar, 'kan?"
Pertanyaan Samuel membuat Aisyah deg-degan dan salah tingkah. Gadis berdarah Minang itu meremas kembali kerudungnya.
Beberapa saat keheningan kembali mengeluarkan dua insan itu. Hanya denting jarum jam di dinding yang terdengar.
Udara seakan panas bagi Aisyah. Padahal, di ruangan itu diselimuti kesejukan pendingin ruangan.
"Aisyah ...." Pelan lelaki bertubuh jangkung itu memangil sang istri.
Detak jantung Aisyah kembali berdetak kencang. Ia takut mengatakan kejujuran. Takut kalau-kalau menyakiti perasaan Samuel dengan kejujurannya.
Aisyah menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan-lahan. "A--aku memang masih ada rasa untuk Amar. Maafkan aku ...." Suara Aisyah bergetar mengucapkan kalimat itu.
Hening lagi.
Samuel tidak merespon ucapan Aisyah.
"Maafkan aku ...." Lagi, Aisyah mengulang ucapan maaf. Namun, lelaki bertubuh jangkung itu masih berselimut dalam diam.
Aisyah kemudian memberanikan diri memalingkan tubuhnya berhadapan dengan Samuel.
"Astaga, Abang ...." Aisyah menjerit pelan. "Jadi, tadi aku ngomong sendiri?" Aisyah menggeleng-geleng melihat sang suami sudah tertidur pulas.
'Ada untungnya kamu tertidur, Bang. Kan, jadi enggak dengar apa yang aku bilang tadi.' Aisyah membatin. Selarik senyum tercetak di wajah Aisyah menatap dengan saksama wajah lelaki yang sudah mengikrarkan janji atas dirinya.
***
Mega merah menghiasi langit, pertanda waktu Maghrib telah datang. Para wanita di rumah Maryam sudah bersiap menunaikan kewajiban pada Sang Khalik, melaksanakan salat berjamaah di rumah. Sementara para laki-laki di rumah itu sudah ke masjid lima belas menit sebelum azan berkumandang.
"Bun, Rania mana?" tanya Aisyah sebelum salat berjamaah dilaksanakan.
"Masih di kamarnya," jawab Maryam. "Dia enggak salat. Dah, kita mulai aja. Kamu yang jadi imam, ya, Sayang." Wanita paruh baya itu meminta menantu satu-satunya mengimami salat mereka.
"Boleh, Bun. Tapi, Aisyah panggil Rania dulu, ya, Bun." Tanpa mendengar jawaban dari mertuanya, Aisyah berlalu menghampiri wanita yang tengah mengandung itu ke kamarnya.
"Ada apa, sih? Ganggu aja," kata Rania sesaat ia membuka pintu kamarnya.
"Salat dulu, yuk," ajak Aisyah.
Rania memalingkan wajahnya dari Aisyah dan lantas berkata, "Males." Lalu, setelah mengucapkan itu, wanita yang tengah mengandung tersebut menutup pintu sedikit agak kencang.
"Rania ...." Aisyah kembali memanggil Rania sambil mengetuk pintu kamar wanita itu. Namun, Rania tak mengacuhkan. Ia lebih memilih menyandarkan punggungnya di headboard sambil mendengarkan musik.
"Kan, Bunda udah bilang dia enggak mau salat, 'kan?" tanya Maryam sesaat setelah Aisyah kembali ke ruang salat. "Anak itu benar-benar sudah berubah." Maryam menggeleng-geleng kecil.
Aisyah mengangguk pelan merespons ucapan Maryam. Lalu, gadis berdarah Minang itu mulai mengimami salat Maghrib.
Setelah menunaikan Salat Maghrib, Aisyah mengajak mertuanya dan Mbok Nah untuk mengaji.
"Tapi, Non ... Mbok mau siapin makan malam," tolak Mbok Nah.
"Nanti aja, Mbok. Nanti Aisyah bantu," kata Aisyah seraya tersenyum. "Kita ngaji dulu, ya."
Mbok Nah lantas mengangguk mengiyakan.
Maryam menatap Aisyah dengan tersenyum. Lalu, wanita yang berprofesi sebagai kepala koki itu memuji menantunya yang salehah di matanya. Maryam juga mengatakan ia begitu beruntung dan bersyukur memiliki menantu seperti Aisyah.
Aisyah hanya tersenyum sambil mengelus lengan tangan mertuanya. Lantas setelah itu mereka mulai mengaji bergantian.
Beberapa saat Samuel, Datuk Zainal, dan Amar pulang dari masjid. Ke tiga wanita yang tengah mengaji itu pun menghentikan bacaannya.
Aisyah menyambut Samuel dengan menyalami punggung tangan sang suami.
Maryam pun begitu, menyambut kedatangan Datuk Zainal. Wanita paruh baya itu juga ikut menyalami suaminya, meniru apa yang Aisyah lakukan.
"Tumben?" tanya Datuk Zainal
"Sekali-sekali jadi istri saleha. Iya, 'kan, Aisyah?"
Pecahlah gelak tawa Aisyah, Datuk Zainal, dan Samuel mendengar ucapan Maryam.
"Ada-ada aja kamu ini," ucap Datuk Zainal sambil berlalu, dan Maryam ikut mengekori suaminya kemudian.
"Udah salat?" tanya Samuel pada sang istri.
"Udah," jawab Aisyah. Aisyah yang tadinya tersenyum seketika senyum itu berhenti menghiasi wajahnya kala melihat Amar tengah berdiri di belakang Samuel. "Ehm, aku ke belakang dulu. Mau bantu Mbok nyiapin makan malam," kata Aisyah, lalu ia berlalu.
Amar melangkah masuk rumah. Lelaki tampan itu menyapa Maryam saat ia berlalu ke dalam. Maryam membalas dengan anggukan sambil tersenyum.
"Sam, Bunda bangga dengan Aisyah. Cantik, bisa masak, saleha pula. Benar-benar menantu idaman." Maryam tersenyum lebar.
"Beneran, Bun? Menantu idaman?"
"Iya. Sayang pake banyak sama Aisyah," ucap Maryam. "Awas jangan sakiti kesayangan Bunda."
"Siap, Komandan." Samuel menghentakkan sebelah kakinya sambil hormat pada Maryam.
Lantas setelah itu, ibu dan anak tersebut tertawa.