Aisyah menyambut Samuel dengan menyalami punggung tangan sang suami.
Maryam pun begitu, menyambut kedatangan Datuk Zainal. Wanita paruh baya itu juga ikut menyalami suaminya, meniru apa yang Aisyah lakukan.
"Tumben?" tanya Datuk Zainal
"Sekali-sekali jadi istri saleha. Iya, 'kan, Aisyah?"
Pecahlah gelak tawa Aisyah, Datuk Zainal, dan Samuel mendengar ucapan Maryam.
"Ada-ada aja kamu ini," ucap Datuk Zainal sambil berlalu, dan Maryam mengekori suaminya kemudian.
"Udah salat?" tanya Samuel pada sang istri.
"Udah," jawab Aisyah. Aisyah yang tadinya tersenyum seketika senyum itu berhenti menghiasi wajahnya kala melihat Amar tengah berdiri di belakang Samuel. "Ehm, aku ke belakang dulu. Mau bantu Mbok nyiapin makan malam," kata Aisyah, lalu ia berlalu.
Amar melangkah masuk rumah. Lelaki tampan itu menyapa Maryam saat ia berlalu ke dalam. Maryam membalas dengan anggukan sambil tersenyum.
"Sam, Bunda bangga dengan Aisyah. Cantik, bisa masak, saleha pula. Benar-benar menantu idaman." Maryam tersenyum lebar.
"Beneran, Bun? Menantu idaman?"
"Iya. Sayang pake banyak sama Aisyah," ucap Maryam. "Awas jangan sakiti kesayangan Bunda."
"Siap, Komandan." Samuel menghentakkan sebelah kakinya sambil hormat pada Maryam.
Lantas setelah itu, ibu dan anak tersebut tertawa.
***
Banyak kehangatan yang tercipta di meja makan rumah megah Datuk Zainal dan Maryam. Kehangatan yang sebelumnya-sebelumnya hampir jarang mereka temukan.
Memanglah betul kadang kesibukan dunia selain memangkas waktu untuk memikirkan kehidupan akhirat kelak, juga mampu memangkas kedekatan antara istri dan suami atau dengan anak.
"Kamu sering-sering ke sini, ya, Aisyah. Bunda betah banget kamu di sini," kata Maryam menatap menantu idamannya itu dengan tersenyum riang.
Aisyah mengangguk mengiyakan ucapan ibu mertuanya.
"Oh, iya jelas, Bunda betah ada Aisyah di sini. Namanya juga menantu kesayangan." Samuel tertawa kecil.
Datuk Zainal dan Maryam pun ikut tertawa mendengar ucapan anak mereka, sedangkan Aisyah tersenyum malu-malu.
Sementara itu raut wajah Rania berubah kala Samuel mengatakan Aisyah ialah menantu kesayangan bundanya. Kesal sekali Rania.
Di lain sisi, Amar juga ikut mendengarkan pujian demi pujian yang diberikan pada Aisyah oleh keluarga Datuk Zainal. Lelaki tampan itu merasa lega dan bahagia wanita yang dicintainya diperlukan baik oleh keluarga Samuel.
"Amar, bagaimana berkas-berkas kamu buat daftar di universitas itu? Sudah siap?" tanya Datuk Zainal kemudian.
"Sudah, Datuk. Alhamdulillah." Amar menyunggingkan senyum pada Datuk Zainal. Lalu, lelaki yang dicintai oleh Aisyah itu berterima kasih pada Datuk Zainal yang sudah membantu dirinya untuk melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda.
Amar memilih masuk ke sekolah bisnis di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta.
"Alhamdulillah." Datuk Zainal mengangguk seraya menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan.
Aisyah juga ikut merasa senang mendengar kabar baik bahwa Amar akan melanjutkan pendidikannya.
Topik pembicaraan yang tadinya membahas Amar, kini Maryam mengubah topik pembicaraan tentang Rania.
Wanita paruh baya itu menasehati Rania untuk banyak bergerak, tidak diam saja seharian di dalam kamar tanpa melakukan apapun. Begitu kira-kira nasehat Maryam.
Rania hanya menjawab 'iya' saja. Malas sebenarnya ia meladeni ucapan Maryam. Rasa kesal, risih, bergumul jadi satu dalam d**a wanita yang tengah mengandung itu.
Apalagi Maryam kemudian meminta Rania untuk meniru menantu kesayangannya, Aisyah: rajin salat, bisa memasak, suka bersih-bersih rumah. Bertambah kesallah Rania mendengar penuturan Maryam.
"Bun ...." Datuk Zainal menegur sang istri sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Bunda enggak maksud apa-apa, Pa. Ini juga demi kebaikan dan kesehatan bayi Rania," jawab Maryam. "Oh, ya, Ra. Apa rencana kamu setelah melahirkan?" tanya Maryam kemudian.
Pertanyaan Maryam membuat Rania urung menyuapkan makanan ke mulut. Rania menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Ia mencoba menormalkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang berteriak. Walau sebenarnya ia ingin sekali meneriaki Maryam untuk tutup mulut
"Belum tahu, Bun," jawab Rania dengan ekspresi wajah datar.
Maryam mendengus. Akhir-akhir ini setelah beberapa hari Rania tinggal bersamanya, Maryam sedikit kesal juga pada Rania. Bukan hanya kesal karena ia tidak mau bergerak, tetapi kala diajak ngobrol pasti Rania tidak fokus: lebih memilih menekuri ponsel. Selain itu saat Maryam mengajak wanita yang tengah mengandung itu untuk salat, Rania selalu menjawab lain kali atau malas. Geram Maryam karena hal itu.
"Bunda khawatir sama anak kamu, Ra. Kalau ditanya siapa papanya, kamu jawab apa? Kasian." Maryam menggeleng-geleng pelan, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Samuel kan ada, Bun. Kamu bisa jadi papa sambung anak aku, 'kan, El?" tanya Rania pada lelaki bertubuh jangkung itu.
Datuk Zainal tersedak mendengar ucapan Rania, sedang Aisyah berhenti mengunyah makanannya.
Orang-orang di meja makan itu salah fokus dengan ucapan yang dilontarkan Rania barusan.
"Ya, enggak bisa begitu, Ra. Samuel, kan udah punya istri." Maryam menimpali ucapan Aisyah.
"Ya, enggak apa-apa. Aku mau, kok, jadi yang kedua, Bun." Wanita yang tengah mengandung itu menatap Maryam dengan saksama.
Hening. Seketika suasana di ruang makan itu berubah menjadi hening sehening-heningnya. Tak ada bunyi kunyahan atau pun denting sendok dan garpu beradu dengan piring.
"Ngaur kamu," ucap Maryam pada Rania, memecah keheningan yang menyelimuti.
Lantas, Rania kemudian tertawa. Tawanya membuat orang-orang di ruang makan tersebut tak mengerti apa yang lucu, apa yang tengah ditertawakan oleh Rania.
"Bunda, Bunda. Jadi papa sambungkan enggak harus Samuel nikah sama Rania dulu," kata Rania di sela tawanya.
"Jadi, maksud kamu ... kamu mau memberikan anak kamu ke Aisyah dan Samuel?" tanya Maryam kemudian.
Setelah puas tertawa, Rania berkata, "Kita lihat saja nanti mana yang terbaik." Wanita yang tengah mengandung itu menatap Aisyah dengan tatapan tajam.
Aisyah membalas tatapan Rania. Lalu, gadis berdarah Minang itu memilih menunduk.
"Ra, gue mau tanya. Bentar." Samuel mengeluarkan ponselnya. Setelah benda pipih itu menyala, jari-jari tangan lelaki bertubuh jangkung itu menari-nari di atas benda persegi tersebut.
Setelah bertemu dengan apa yang ia cari, Samuel menanyakan perihal foto yang ditunjukkan oleh Nadira tempo hari padanya. Foto seorang wanita yang rupanya mirip dengan Rania.
"Ini lo, bukan?" tanya Samuel kemudian sambil memberikan telepon genggamnya pada Rania.
Netra Rania membelalak melihat foto di ponsel Samuel. Wanita yang tengah mengandung itu menjadi gugup dan salah tingkah.
"Ra, itu lo, bukan?" Samuel mengulangi pertanyaannya.
"I--iya. Ini gue. Ke--kenapa emangnya?" Rania gelagapan.
"Lo kenapa gugup gitu?" tanya Samuel sambil mengernyitkan dahi.
"Enggak. Gue enggak gugup. Biasa aja." Rania memberikan ponsel di genggamannya pada Samuel.
"Oke," jawab Samuel sambil mengambil benda perseginya yang disodorkan Rania. "By the way, laki-laki itu siapa? Kok, kayak acara pernikahan, ya?"
"Emang acara pernikahan. Pernikahan temen. Itu pas acara pernikahan temen gue yang di sana. Gue dan dia jadi Bridesmaidsnya," jelas Rania sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Semua orang di meja makan itu mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan Rania.
"Oh, begitu. Gue kira--"
"Gue kira apa?" tanya Rania memotong pembicaraan Samuel. Wanita yang tengah mengandung itu gugup lagi.
"Gue kira laki-laki itu pacar lo."
Rania mengembuskan napasnya kasar, lalu berkata, "Gue enggak punya pacar. Orang gue sukanya sama lo."
Hening lagi.