"Ra, gue mau tanya. Bentar." Samuel mengeluarkan ponselnya. Setelah benda pipih itu menyala, jari-jari tangan lelaki bertubuh jangkung itu menari-nari di atas benda persegi tersebut.
Setelah bertemu dengan apa yang ia cari, Samuel menanyakan perihal foto yang ditunjukkan oleh Nadira tempo hari padanya. Foto seorang wanita yang rupanya mirip dengan Rania.
"Ini lo, bukan?" tanya Samuel kemudian sambil memberikan telepon genggamnya pada Rania.
Netra Rania membelalak melihat foto di ponsel Samuel. Wanita yang tengah mengandung itu menjadi gugup dan salah tingkah.
"Ra, itu lo, bukan?" Samuel mengulangi pertanyaannya.
"I--iya. Ini gue. Ke--kenapa emangnya?" Rania gelagapan.
"Lo kenapa gugup gitu?" tanya Samuel sambil mengernyitkan dahi.
"Enggak. Gue enggak gugup. Biasa aja." Rania memberikan ponsel di genggamannya pada Samuel.
"Oke," jawab Samuel sambil mengambil benda perseginya yang disodorkan Rania. "By the way, laki-laki itu siapa? Kok, kayak acara pernikahan, ya?"
"Emang acara pernikahan. Pernikahan temen. Itu pas acara pernikahan temen gue yang di sana. Gue dan dia jadi Bridesmaidsnya," jelas Rania sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Semua orang di meja makan itu mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan Rania.
"Oh, begitu. Gue kira--"
"Gue kira apa?" tanya Rania memotong pembicaraan Samuel. Wanita yang tengah mengandung itu gugup lagi.
"Gue kira laki-laki itu pacar lo."
Rania mengembuskan napasnya kasar, lalu berkata, "Gue enggak punya pacar. Orang gue sukanya sama lo."
Hening lagi.
Kali ini Rania tampak serius. Ia tidak seperti tadi, mengalihkan kejujuran hatinya dengan tertawa. Lantas setelah mengucapkan perkataan yang membuat orang-orang di ruang makan itu diam seribu bahasa, Rania meletakkan sendok dan garpunya di piring membentuk huruf X, pertanda ia telah menyudahi makannya. Lalu, Rania tegak berdiri hendak berlalu.
Namun, Datuk Zainal meminta Rania untuk duduk kembali. Rania pun manut. Sama halnya dengan Rania, ayah kandung dari Samuel itu pun juga telah menyudahi makannya.
Setelah mengelap mulut dengan tisu, Datuk Zainal berkata, "Rania, apa yang kamu bilang tadi serius?"
Rania mengembuskan napasnya pelan, lalu ia mengangguk sambil berujar, "Sedari dulu Rania memang suka sama El, Pa."
"Udah tahu juga," sahut Samuel.
"Jadi, kamu udah tahu, Sam?" tanya Maryam.
Samuel mengangguk mengiyakan. "Udah, Ma. Rania itu labil. Sekarang dia bilang suka, besoknya udah enggak. Nih, anak emang aneh." Samuel terkekeh.
Rania menarik satu sudut bibirnya ke atas sambil memutar bola mata malas. "Nyebelin," kata Rania kemudian.
"Tuh, kan. Labil." Lagi, lelaki bertubuh jangkung itu terkekeh.
"Kalian itu tidak boleh saling suka. Hubungan kalian cukup sebatas sahabat sekaligus kakak dan adik." Datuk Zainal menatap Samuel dan Rania bergantian. "Apalagi Samuel udah nikah, Rania. Enggak boleh suka sama suami orang," kata Datuk Zainal seraya tertawa kecil.
Rania memaksakan senyumnya pada Datuk Zainal. Ia pun kemudian permisi untuk ke kamarnya.
***
Hari-hari Samuel kini cukup padat karena harus mempelajari betul segala t***k bengek usaha papanya dalam bidang pertambangan. Beruntung, sedikit banyaknya ilmu yang ia pelajari saat kuliah dulu--di jurusan pertambangan--berguna untuk sekarang.
Untuk saat ini Datuk Zainal belum berani sepenuhnya memberikan jabatan yang berat untuk sang anak. Setelah Samuel dirasa mampu maka ia akan mengambil alih posisi penting di perusahaan itu, begitu kata Datuk Zainal pada anaknya.
Semenjak Samuel sibuk dengan pekerjaan barunya, ia meminta Nadira untuk menemani Aisyah di rumah mereka. Tentu saja Samuel tidak mengizinkan istrinya untuk tinggal di rumah orangtuanya karena ada Amar di sana.
Lelaki bertubuh jangkung itu tidak ingin membuat Aisyah sering bertemu dengan Amar. Pikirnya, takut kalau-kalau percikan rasa dua insan yang saling mencintai dulu kembali hadir di tengah-tengah mereka.
Awalnya Nadira menolak permintaan Samuel untuk menemani Aisyah. Namun, setelah gadis SMA itu berpikir panjang atas permintaan Samuel, akhirnya ia menyetujui juga--sebuah ide licik sudah tergambar rapi di benak Nadira.
Seperti biasa, sepulang sekolah Nadira pergi ke rumah Aisyah. Sepanjang perjalanan, gadis SMA itu sibuk memikirkan kira-kira kapan waktu yang tepat untuk menjalani aksinya. Pasalnya beberapa terakhir belakangan perasaan aneh mulai menjalar saat ia bertemu dengan Aisyah. Hal itu membuat Nadira selalu urung melakukan niat jahatnya.
"Sudah sampai, Neng." Ucapan tukang ojek yang mengantarkan Nadira ke rumah Aisyah, membuat gadis SMA itu tersentak dari lamunannya. Setelah membayar ongkos, Nadira melangkah menuju rumah.
Aisyah gegas membuka pintu kala mendengar bel rumah berbunyi. Gadis berdarah Minang itu tersenyum menyapa Nadira yang datang.
"Kakak udah siapin makanan. Kamu salat dulu, baru makan, ya." Aisyah mengelus lengan tangan Nadira, lalu melangkah menuju dapur.
'Kakak' ... kata itu yang membuat perasaan hangat menjalar dalam hati Nadira. Gadis SMA itu rasanya benar-benar mendapatkan sosok seorang kakak dari Aisyah. Segala perhatian dari Aisyah membuat Nadira menyusutkan egonya untuk membuat Aisyah keguguran. Ya, Aisyah hamil. Kehamilan Aisyah sudah menginjak usia empat minggu.
***
"Nad, nanti keluar, yuk. Kakak bosan di rumah," ucap Aisyah pada Nadira di sela makan siang mereka.
"Ke mana?"
"Ke mall. Gimana? Atau kamu punya usulan lain?"
"Ke mall boleh juga." Nadira mengangguk-angguk.
"Oke." Aisyah menarik dua sudut bibirnya ke atas hingga membentuk lengkungan.
Setelah selesai makan siang, dan juga setelah meminta izin Samuel untuk pergi ke mall, Aisyah bersiap-siap.
Aisyah yang sudah selesai berkemas diri, menghampiri Nadira di kamarnya sambil menenteng tote bag berisi pakaian yang ia pesan lewat aplikasi warna oranye.
"Nad, ini buat kamu." Aisyah menyodorkan Tote bag itu pada Nadira.
"Apaan, nih?" Nadira menautkan kedua alisnya menerima pemberian Aisyah.
"Buka aja."
Nadira melihat pakaian yang dipegangnya dan pakaian yang dikenakan Aisyah bergantian. "Baju couple?"
"Iya. Habis lucu-lucu banget bajunya. Jadi, Kakak pesan. Yang Kakak gamis, punya kamu baju potongan. Roknya lucu banget. Warnanya juga soft kalem gitu. Pasti kita kelihatan manis pakai pakaian samaan." Aisyah tampak semringah mengatakan itu. "Sekarang lagi musimnya kakak sama adek pakai pakaian couple. Jadi pengen."
Nadira meletakkan pakaian itu di atas kasur, lalu ia berkata, "Pengen banget, ya, gue jadi adek lo? Lebay, tau enggak, sih, pakai baju samaan gini."
Wajah Aisyah yang tadinya semringah berubah sendu seketika mendengar ucapan Nadira.
"Ehm ... kalau kamu enggak mau pakai enggak apa-apa. Disimpan aja dulu," kata Aisyah sambil memaksakan senyumnya. "Ya, udah siap-siap, ya. Kakak tunggu di luar."
Gadis berdarah Minang itu berlalu dari kamar Nadira dengan hati nelangsa. Mungkin bawaan hamil, hingga membuat Aisyah mudah sekali mengeluarkan emosi sedih. Biasanya di saat gadis dulu, kalau ada yang menyentil perasaannya, ia mudah sekali mengeluarkan emosi marah.
Aisyah menutup pelan pintu kamar Nadira seraya menghapus setetes jejak air yang jatuh di pipinya.