Sienna berangkat pada hari Kamis, pukul sebelas malam, dari Terminal 3.
Yang mengantar hanya empat orang. Hendra dan Rita, yang sejak sore sudah berkali-kali memeriksa isi koper anak nya, Renata yang menangis sejak parkiran, dan Angelo yang datang membawa satu kantong plastik berisi kerupuk, sambal kemasan, dan indomie, seolah-olah Singapura adalah hutan tanpa toko.
“Neng, di sana mahal. Jangan jajan mulu.” Ucap Angelo.
“Iya mbak.”
“Nah gitu, panggil mbak.” Ucap Angelo, dan Sienna tertawa untuk pertama kali nya dalam dua minggu terakhir.
Rita memeluk anak nya paling lama. Hendra hanya menepuk kepala Sienna sekali, karena laki-laki itu tahu, kalau ia bicara satu kalimat saja, ia akan menangis di depan orang banyak.
“Kalau gak betah, pulang. Rumah gak akan ke mana.” Ucap Hendra pada akhirnya.
“Iya yah.”
Sienna melewati pintu keberangkatan pukul sepuluh lewat empat puluh. Ia tidak menoleh ke belakang, karena ia tahu, kalau ia menoleh, ia tidak akan sanggup jalan.
Di luar area keberangkatan, di kursi tunggu dekat pintu tiga, Chatura duduk sendirian sejak pukul delapan malam.
Ia tidak menghampiri. Ia sudah berjanji pada Renata bahwa ia tidak akan menghampiri, dan itu satu-satunya janji yang berhasil ia tepati dalam beberapa bulan terakhir. Dari jarak sekitar tiga puluh meter, Chatura melihat Sienna berjalan dengan koper abu-abu, memakai hoodie kelabu dan sepatu vans yang sama dengan yang ia pakai malam konser dulu, dan pria itu tetap duduk di kursi nya sampai punggung Sienna hilang di balik pintu.
Setelah itu Chatura masih duduk di sana selama satu jam lebih, sampai petugas kebersihan meminta nya menggeser kaki karena lantai nya akan di pel.
Sekitar pukul sembilan tadi, Renata sempat menghampiri nya. Perempuan itu berdiri di depan Chatura dengan mata yang sudah bengkak, dan untuk beberapa detik ia hanya menatap tanpa bicara.
“Lo boleh di sini.” Ucap Renata akhirnya. “Tapi lo gak boleh nyamperin dia.”
“Iya.”
“Gue serius, Chatura. Dia udah cukup kuat buat jalan sampai ke pintu itu. Kalau lo samperin sekarang, dia bakal batal, terus dua minggu lagi dia balik ke lo, terus lima tahun lagi gue lagi yang harus nemenin dia nangis.”
“Iya. Gue janji.” Ucap Chatura.
Renata mengangguk, hendak pergi, lalu berbalik lagi.
“Satu lagi.” Ucap nya. “Gue kenal Sienna dari dia masih magang. Dia gak pernah nangis gara-gara cowok, satu kali pun. Lo yang pertama.” Ucap Renata, kemudian pergi tanpa menunggu jawaban.
Dua hari kemudian, Chatura menemui Tiara untuk yang terakhir kali.
Mereka bertemu di tempat yang sama, kedai kopi di Blok M, di meja pojok dekat jendela. Kali ini tidak ada basa-basi tentang siapa yang gemukan dan siapa yang kurusan.
“Dia pergi.” Ucap Chatura.
“Aku tau. Aku denger dari temen kantor yang kebetulan kenal orang di kantor dia.” Jawab Tiara. “Chatura, aku minta maaf.”
“Bukan salah kamu.”
“Sebagian iya.” Ucap Tiara. “Aku tau kamu mau lamaran, dan aku tetep nelfon. Aku bilang ke diri aku sendiri, aku cuma mau jelasin. Padahal aku pengen liat apa masih ada sisa nya atau enggak.”
Chatura menatap gelas nya sendiri.
“Terus, ada?” Tanya nya pelan.
Tiara tersenyum, dan senyum nya kali ini tenang, seperti orang yang sudah selesai dengan sesuatu.
“Enggak.” Jawab Tiara. “Dan itu yang bikin aku sedih, tapi juga lega.”
“Ra-”
“Dengerin dulu.” Potong Tiara. “Kemarin, waktu kita duduk di taman hotel itu, kamu bilang kamu belum bisa milih. Aku pikirin itu terus tiga hari. Terus aku sadar sesuatu.”
Tiara meletakkan gelas nya, menatap Chatura lurus-lurus.
“Kamu bukan gak bisa milih antara aku sama dia. Kamu gak bisa milih antara dia sama Chatura yang umur dua puluh lima.” Ucap Tiara. “Yang kamu kangenin itu bukan aku. Yang kamu kangenin itu kamu yang dulu, yang belum pernah di tinggal, yang masih percaya semua orang bakal dateng kalau udah janji. Aku cuma pintu nya.”
Chatura membuka mulut nya untuk membantah, dan tidak ada satu kata pun yang bisa ia keluarkan, karena ia tahu perempuan itu benar.
“Aku pindah ke Surabaya bulan depan.” Lanjut Tiara. “Papa udah sehat, dan aku di tawarin posisi di sana. Aku terima.”
“Karena aku?”
“Bukan semua nya karena kamu, jangan ge-er.” Jawab Tiara, dan keduanya tertawa kecil, tawa yang untuk pertama kali nya tidak menyakitkan.
Mereka bicara satu jam lagi. Tentang kuliah, tentang teman-teman yang sekarang sudah punya anak dua, tentang warung sate yang ternyata sudah pindah lokasi. Ketika keluar dari kedai itu, Tiara berdiri di trotoar yang sama, menunggu mobil yang sama.
“Chatura.”
“Hm.”
“Aku dulu ngilang tanpa ngomong apa-apa, dan itu ngerusak kamu empat tahun.” Ucap Tiara. “Jangan lakuin hal yang sama ke dia. Jangan diem, dan jangan juga ngejar dia sekarang. Bereskan dulu diri kamu. Kalau kamu ngejar dia sekarang, yang kamu kasih ke dia cuma orang yang lagi panik.”
Chatura mengangguk.
“Makasih ya, Ra.”
“Sama-sama.” Jawab Tiara, kemudian ia masuk ke mobil, menutup pintu, dan tidak menoleh lagi.
Malam itu Chatura pulang ke rumah orang tua nya, bukan ke apartemen. Ia mengetuk kamar papa nya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sejak SMA, kemudian duduk di lantai kamar itu sampai lewat tengah malam, menceritakan semuanya dari awal.
Papa nya mendengarkan tanpa memotong sekali pun. Setelah selesai, beliau menepuk lutut anak nya satu kali.
“Papa gak akan bilang kamu jahat. Kamu gak jahat, kamu pengecut.” Ucap papa nya. “Orang jahat itu tau dia mau apa. Kamu enggak, kamu cuma takut kehilangan dua-dua nya, jadi kamu diem, dan akhir nya kehilangan dua-dua nya.”
Chatura menunduk.
“Sekarang begini. Kamu punya waktu, entah dua tahun, entah lima. Pakai waktu itu buat jadi orang yang pantes di percaya lagi, bukan buat nunggu dia balik.” Lanjut papa nya. “Kalau dia balik, itu bonus. Kalau enggak, minimal kamu udah bukan pengecut lagi.”
“Pa.”
“Hm.”
“Kalau dia gak balik gimana?”
“Ya berarti gak balik.” Jawab papa nya santai. “Kamu pikir semua orang yang berubah pasti dapat hadiah? Enggak. Kadang yang kamu dapat cuma satu, yaitu kamu gak bikin orang berikutnya rusak juga.”
Malam itu Chatura tidur di kamar lama nya, di bawah langit-langit yang sama, di kasur yang beberapa bulan lalu sempat di tiduri seorang bayi bernama Yuri, di temani seorang perempuan yang saat itu belum tahu bahwa ia akan menjadi orang yang paling Chatura sakiti.