Waktu ternyata tidak berhenti hanya karena ada dua orang yang patah hati.
Bulan pertama adalah yang paling buruk. Chatura masuk kerja setiap hari, mengerjakan semuanya dengan benar, lalu pulang ke apartemen yang jendela nya menghadap ke tower sebelah, ke lantai empat belas, ke unit nomor tiga yang lampunya sekarang tidak pernah menyala lagi. Ia sempat berpikir untuk pindah, dan tidak jadi, karena menurutnya itu terlalu mudah.
Bulan ketiga, Ambar menikah.
Pernikahan itu di adakan di gedung yang sama dengan yang dulu di pilih Ema, di hadiri lima ratus tamu, dan Chatura berdiri di barisan penerima tamu sepanjang hari dengan senyum yang di latih di depan cermin sejak pagi. Semua orang bertanya hal yang sama. Kapan nyusul. Loh, katanya kamu duluan yang mau nikah. Mana calon nya?
Setiap kali, Chatura menjawab dengan kalimat yang sama.
“Saya nya yang salah, om. Doain aja.”
Malam nya, setelah semua tamu pulang, Ambar yang masih memakai gaun pengantin nya duduk di sebelah adik nya di ruang rias yang sudah kosong.
“Capek gak?” Tanya Chatura.
“Capek banget.” Jawab Ambar. “Ja.”
“Hm.”
“Gue minta maaf ya, waktu itu gue diem aja.”
“Bukan salah lo, kak.”
“Gue kakak lo, gue tau dari awal, dan gue diem.” Ucap Ambar. “Tapi lo tau gak, satu-satunya hal yang bikin gue masih bangga sama lo?”
Chatura menggeleng.
“Lo gak pernah sekali pun bilang Sienna lebay.” Ucap Ambar. “Lo gak pernah bilang dia berlebihan, gak pernah bilang dia harusnya ngerti. Lo terima aja. Itu doang yang bikin gue percaya lo masih bisa di benerin.”
Bulan keempat, Ema akhirnya mau bicara dengan adik nya lagi. Mereka bertemu di dapur rumah orang tua mereka, ketika Chatura sedang mencuci gelas dan Ema masuk sambil menggendong Yuri.
“Gue masih marah.” Ucap Ema.
“Iya, gue tau.”
“Tapi mama nangis tiap malam, dan gue capek marah sendirian.” Ucap Ema sambil mendudukkan Yuri di kursi tinggi. “Jadi gini aja. Gue maafin lo, tapi gue gak akan lupa. Dua hal itu boleh barengan.”
Chatura mengangguk, dan hanya itu yang bisa ia lakukan.
Melisa sendiri butuh waktu jauh lebih lama, bukan untuk memaafkan anak nya, melainkan untuk berhenti meminta maaf kepada orang lain. Berbulan-bulan perempuan itu masih mengirim permintaan maaf kepada Rita setiap kali ada hari besar, sampai suatu hari Rita membalas dengan satu pesan yang membuat Melisa menangis di depan kompor.
Bu Melisa, kita ini sama-sama ibu. Anak saya sakit, anak ibu salah. Yang capek dua-dua nya. Sudah ya, bu.
Bulan keenam, Raja menikah, dengan perempuan yang di kenalkan oleh bibi nya sendiri, seseorang yang menurut Aksara terlalu baik untuk orang seperti Raja. Vinca sempat mengirim pesan panjang tiga hari sebelum akad, dan untuk pertama kali nya dalam sejarah, Raja tidak membaca nya sampai selesai.
“Gimana rasanya?” Tanya Chatura di malam sebelum akad.
“Takut.” Jawab Raja. “Tapi takut yang bener. Bukan takut yang dulu.”
Aksara di sisi lain, mulai sering menghilang di akhir pekan. Baru pada bulan kedelapan, ketika Chatura melihat sebuah unggahan foto berdua di sebuah kedai kopi, ia menyadari siapa perempuan itu.
“Renata? Sahabat nya Sienna?” Tanya Chatura di telepon.
“Kenapa? Gak boleh?” Balas Aksara.
“Boleh, cuma-”
“Cuma apa? Gue kenalan sama dia pas lamaran lo. Kalau lo mau marah, marahin diri lo sendiri, lo yang ngundang gue.” Ucap Aksara, dan Chatura tertawa untuk pertama kali nya dalam waktu yang sangat lama.
Kabar tentang Sienna datang tidak pernah langsung, selalu memutar. Dari Ema yang masih berteman dengan Rita di aplikasi hijau. Dari Melisa yang tetap mengirim ucapan setiap hari raya ke rumah Hendra dan selalu di balas dengan sopan. Dari Aksara yang kadang keceplosan menyebut nama itu lalu buru-buru mengganti topik.
Chatura tidak pernah bertanya lebih jauh. Ia hanya mendengarkan sebanyak yang di berikan, lalu menyimpan nya.
Setiap malam, ia menulis pesan di aplikasi catatan ponsel nya. Bukan di aplikasi chat, karena ia tahu ia tidak boleh mengirim nya. Isinya hal-hal kecil. Hari ini Yuri udah bisa jalan. Warung sate yang dulu pindah ke seberang, rasanya beda. Mbak Ambar hamil. Aku berhenti ngerokok, udah dua bulan. Papa kamu masih suka posting ikan lele.
Ada lebih dari empat ratus catatan di sana, dan tidak satu pun yang pernah terkirim.
Di kantor Sienna yang lama, hidup juga berjalan. Larissa di angkat menjadi karyawan tetap setelah masa magang nya selesai, dan pada hari pertama nya, gadis itu mengirim pesan panjang kepada Sienna.
mbak, aku baru tau semuanya dari mbak angel. maaf ya mbak, waktu itu aku yang nunjukin foto nya. aku gak tau apa-apa. kalau gara-gara aku mbak jadi sedih, aku minta maaf banget
Sienna membalas nya dari Singapura, dua jam kemudian, dengan kalimat yang membuat Larissa menangis di toilet kantor.
kamu gak salah apa-apa. justru makasih ya. lebih baik aku tau dari kamu daripada gak tau sama sekali. selamat ya udah jadi karyawan tetap, jangan lupa cek slip gaji tiap bulan, jangan percaya sistem
Di Singapura sendiri, Sienna menjalani hidup yang jauh lebih sepi dan jauh lebih teratur. Ia tinggal di unit kecil di daerah Novena, berangkat kerja dengan kereta yang selalu tepat waktu, dan pulang ke rumah yang tidak ada siapa-siapa. Enam bulan pertama, ia menangis hampir setiap malam Minggu. Bulan ketujuh, ia mulai ikut kelas keramik. Bulan kesepuluh, ia mulai bisa melewati toko perhiasan tanpa mempercepat langkah nya.
“Lo udah maafin dia belum?” Tanya Renata suatu kali lewat panggilan video.
Sienna diam agak lama, menatap layar yang menampilkan wajah sahabat nya di kamar yang lampunya kuning.
“Udah.” Jawab Sienna. “Tapi maafin sama percaya itu dua barang yang beda, Ren. Yang satu bisa aku kasih sendiri, yang satu harus dia yang balikin.”
Dua tahun berlalu seperti itu. Tidak dramatis, tidak indah, hanya berlalu.
Sampai pada suatu pagi di bulan Februari, ibu Widya menelepon Sienna dari Jakarta, memberitahu bahwa kontrak nya di cabang Singapura akan berakhir bulan depan, dan bahwa posisi manajer keuangan di kantor pusat sedang kosong.
“Kamu mau balik, Sienna?”
Sienna berdiri di dapur unit nya yang sempit, memandangi jendela yang menghadap ke gedung-gedung yang sudah dua tahun ia hafal bentuk nya, dan untuk pertama kali nya sejak lama, ia merasa rindu pada satu kota yang berisik, macet, panas, dan penuh kenangan yang belum semuanya selesai.
“Mau, bu.” Jawab Sienna.