Rindu yang tengah menuruni anak tangga menjadi pusat perhatian dari anggota keluarganya. Bukan seluruh anggota keluarga, hanya Laras dan Danang yang melihatnya. Danang menerbitkan senyum hangat menyambut kedatangan Putri bungsunya di meja makan. Sedangkan Laras menatapnya dengan galak. Rindu dengan wajah tak bersalahnya dengan gamblang mencomot roti yang yang di hidangkan.
"Rindu" panggil Laras dengan nada kesal.
"Huh?" balas Rindu tanpa melihat kakaknya. Rindu sudah memenuhi mulutnya dengan roti dan juga s**u hangat. Tatapan tajam yang sorotkan Laras seperti tidak mempengaruhinya sama sekali.
"Rindu, lihat sudah jam berapa itu"
Rindu menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi, "Jam tujuh, kenapa?" alih alih terkejut Rindu malah balik bertanya kepada Laras.
"Rindu kamu telat datang ke sekolah, kenapa sukap kamu sesantai ini?" geram Laras gemas dengan sikap adik satu satunya itu. Rindu menelan kasar roti yang ia makan karena ia ingin segera menjawab pertanyaan kakaknya.
"Aku di skors"
Danang tersedak s**u yang ia minum, Danang meraih tissue dan mengusap bibirnya yang basah. Laras melebarkan matanya tidak percaya. Adik satu satunya ini memang sangat ajaib baginya. Rindu sangat jujur hingga membuat semua orang terpekik dengan kejujurannya. Laras mengusap dadamya dengan sabar, dalam hati Laras mengucapkan istighfar.
Berbeda dengan Danang dan Laras, Dewi justru bersikap biasa biasa saja dengan tingkah Rindu. Bukan Rindu namanya kalau tidak berbuat kenakalan. Setiap hari selalu saja dia berbuat keonaran di rumah. Yang membuat Dewi kesal bukan karena kenakalan yang Rindu buat, melainkan karena anak kesayangannya Laras yang akan menanggung imbasnya.
"Kali ini karena apa kamu di skor?" tanya Laras dengan lembut karena ia tidak mau melukai hati adiknya dengan memarahi atau mencaci-maki Rindu.
Rindu memelankan kunyahannya, dia meletakkan roti yang tinggal separuh itu ke piring. Mendadak napsu makannya hilang kala mengingat penyebab dirinya di skors.
"Kok mukanya mendadak layu gitu?" tanya Danang yang melihat jelas perubahan wajah Rindu yang tadinya cerah dan penuh semangat. Kini mendadak mendung tak b*******h.
"Kakak tahu Munafik kan?" tanya Rindu, membuat kerutan di dahi Laras tercetak secara tiba tiba.
"Munasalfia?" ralat Laras. Yang di maksud Rindu adalah Munasalfia, dan nama panggilannya adalah Muna. Namun Rindu malah mengimbuhi nama panggilan Muna menajdi Munafik. Sebab Muna adalah musuh bebuyutan Rindu di sekolah.
"Ya, dialah biang kerok di balik skorsing yang di berikan Guru BK" rasa kesal menggelayari hati Rindu saat ini.
"Kok bisa?" Danang menyahuti perkataan Rindu.
"Jadi gini, ada adik kelas namanya Zanna. Zanna ini suka sama Aldo. Nah, Munafik tahu kalau Zanna suka sama Aldo. Udah deh abis Zanna sama Munafik. Zanna di kunciin di toilet sampai di kayak orang trauma gitu. Aku yang kebetulan ke toilet dan lihat Zanna kayak gitu, aku jelas nggak terima. Cinta dan suka dengan seseorang itu kan hal yang lumrah. Biarpun si cowok udah punya pacar sekalipun, tapi Munafik gak boleh dong menghakimi Zanna. Aku hajar Munafik, aku malu maluin dia di lapangan sekolah. Eh sialnya, Guru BK datang dan langsung beri aku hukuman" cerita Rindu di dengar dengan serius oleh Danang dan Dewi.
"Ah, pasti curang kan Ndu?" tebak Laras, dan mendapat anggukkan kepala mantab dari Rindu.
"Jelas, Munafik kan anak guru BK. Ya kali Mak nya gak belain anaknya kan?" dengan kekesalannya Rindu kembali menyumpal mulutnya dengan roti yang tinggal separuh itu.
Danang yang duduknya di samping Rindu langsung menepuk pundak anaknya, "Ayah bangga sama kamu" Rindu mengangkat jempolnya keudara.
Dewi melirik sinis kepada suaminya, "Apa yang kamu banggakan dari dia? kamu bangga karena dia di skors?"
Mendengar suara dari Bundanya membuat Rindu menghentikan kunyahannya. Ada rasa takut jika Dewi mulai ikut bicara.
"Hah? ya jelas bukanlah, aku bangga karena Rindu adalah anak yang baik. Dia membelah kebenaran dengan keberanian. Biarpun kini Rindu yang kena imbasnya. Namun Rindu tidak menyesal sama sekali. Ya kan Rindu?"
Rindu menganggukkan kepalanya dengan kiku.
"Rindu memang hebat" Laras mengacungkan kedua jempolnya.
●●●
"Gue gak apa-apa, seriusan deh" Rindu mencoba menyakinkan Aldo. Sepulang dari sekolah Aldo langsung pergi kerumah Rindu untuk memastikan Rindu baik baik saja. Tentu Aldo merasa tidak enak hati jika Rindu di skors karena ada sangkut pautnya dengan nya. Sifat Muna yang sangat agresif kadang membuat Aldo merasa kesal dan marah. Emosi gadis itu akan mudah meletup jika menyangkut tentang Aldo.
"Kesel banger gue sama Muna. Bisa bisanya dia ngunciin Zanna di toilet. Terus juga dia berani buat lo di skors. Gue matiin handphone gue, tahu rasa tuh anak biarin aja deh"
"Lo matiin handphone lo?" tanya Rindu, "Ah, pantesan Munafik chating gue terus" kini Rindu tahu sebabnya Muna terus saja menghubungi ponselnya. Namun sekali saja Rindu tidak membalas chat Muna. Jangan kan di balas, di baca saja tidak. Terkadang karena terlalu bucin dengan Aldo sifat Muna memang susah di kontrol. Tak jarang juga Rindu sering bertengkar dengan Muna karena Aldo. Muna mau jika Rindu menjauhi Aldo yang statusnya adalah pacar Muna. Akan tetapi Rindu menolak mentah mentah permintaan Muna. Rindu dan Aldo sudah berteman sejak SD. Mereka sangat akrab dan sudah seperti saudara sendiri. Namun menjelang masuk SMA, tepatnya saat kelas sebelas dan hubungan Aldo dan Muna yang sudah resmi pacaran. Muna justru meminta Aldo untuk menjauhi Rindu, dan Muna juga meminta Rindu menjauhi Aldo. Dengan kompak Aldo dan Rindu menolak tegas permintaan Muna. Dam mulai saat itu juga Muna dan Rindu menjadi musuh di sekolah.
"Gue putusin aja kali ya sih Muna. Udah gak betah gue sama sikap dia" ucapan Aldo membuat Rindu memasang wajah datar.
"Bosen gue dengerin lo ngomong gitu terus. Percuma, lo ngomong doang tapi buktinya gak ada. Omdo, omong doang" ledek Rindu.
Aldo tertawa pelan, "Gue takut jomblo Ndu..."
Rindu berdengus geli mendengarnya. Takut jomblo? Aldo mana bisa jomblo sih, yang antri di belakang Aldo aja udah bejibun. Sungguh bohong banget kalau alasan Aldo takut putus sama Muna adalah takut jomblo.
"Terserah apa kata lo deh"
"Oke gue putus sama Muna, asal lo ya yang akan jadi pengganti Muna?" tanya Aldo menggoda Rindu.
Rindu menggelengkan kepalanya kuat kuat. Menolak tegas apa yang barusan Aldo katakan.
"Gue nih tipe cewek Setia Do. Cinta gue hanya tetap untuk satu orang"
Aldo tertawa remeh. Setiap kali Aldo mengajak Rindu berpacaran. Rindu pasti menolaknya sebab Rindu menyukai laki laki lain dari masa lalunya. Menurut Aldo Cinta Rindu kepada laki lak itu tidak akan terwujud.
"Sampai kapan sih lo ngarepin Reyhan? Dia itu hanya sebatas pangeran dalam impian lo aja Ndu. Dia bukan pangeran dalam dunia real lo"
"Aldo Saputra, Kak Reyhan itu pangeran satu satunya dalam hati gue. Dia pangeran dalam mimpi maupun dalam kehidupan nyata gue. Ngerti?"
Aldo berdengus kesal, "Gue jadi khawatir lo bakal gila karena kelamaan nungguin Reyhan yang belum pasti jodoh lo Ndu"
"Anjir lo!" Rindu memukul lengan Aldo karena kesal, "Dia itu jodoh gue, dan itu sudah di pastikan" sambung Rindu dengan begitu percaya diri.
●●●
Saat sedang asik main game di ponselnya. Tiba tiba sebuah notif dari w******p masuk. Awalnya Rindu malas menanggapi notif itu sebab ia sedang asyik main game. Namun saat mengetahui siapa yang mengirimkan pesan itu, Rindu langsung terpelonjak girang. Rindu melompat lompat di atas kasurnya. Akhirnya setelah lima hari tidak ada balasan chat Reyhan, kini laki laki itu membalas pesannya.
Aku baik kok, alhamdulillah juga kuliah aku lancar.
Kabar kamu sendiri bagaimana Laras?
Rindu tersenyum senyum membaca balasan chat dari Reyhan. Rasa rindu yang ia rasakan beberapa hati ini seakan kini telah terobati dengan dengan dua kalimat yang di kirimkan Reyhan. Oh ya, jangan terkejut jika Reyhan memanggilnya dengan sebutan Laras dan bukan Rindu. Karena semua itu adalah murni karena kebohongan Rindu. Sejak awal mereka mulai chatting, Rindu sudah membohongi Reyhan dengan mengatakan jika dirinya adalah Laras. Awalnya Rindu iseng saja mengatakan juka dirinya itu Laras, namun semakin lama Rindu tak kunjung mengatakan yang sebenarnya. Rindu takut jika Reyhan akan marah karena ia sudah masuk membohonginya cukup lama.
"Alhamdulillah kalau kuliah kamu lancar. Aku di sini baik kok, keluarga aku juga baik. Dan semoga keluarga kamu di sana juga baik ya" ucap Rindu sambil mengetik apa yang ia ucapkan di papan keyboard ponselnya.
Suara ketukan pintu membuat Rindu segera menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Laras membuka pintunya perlahan-lahan, karena Laras pikir Rindu sudah tidur namun nyatanya tidak.
"Kakak pikir kamu sudah tidur Ndu" Laras menaiki Ranjang Rindu. Laras mengernyitkan dahinya kala melihat wajah Rindu yang bersemu merah. Laras menyentuh pipi Rindu yang terasa dingin di tangan nya.
"Nggak panas, tapi kok pipi kamu merah Ndu? kamu diam diam belajar make up ya?" tanya Laras dengan wajah polos. Rindu tersenyum kikuk mendengar jika pipinya merah.
"Ah, enggak kak. Kakak tahu sendiri kalau Rindu gak suka pakai make up kan. Ini Rindu... Rindu cuma kepanasan, yah kepanasan. Duh udaranya kok panas gini ya kak" ucap Rindu sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan wajahnya.
Laras tertawa kecil, "Kamu tuh lucu deh, orang AC nya dingin gini di bilang panas?? kamu ngigo ya Ndu?"
Rindu hanya nyengir, dia menggerutuki kebodohannya. Padahal selama ini biar pun Rindu bodoh dia tidak pernah memaki diri-nya sendiri, namun kali ini, untuk pertama kalinya dia memaki dirinya sendiri.
"Eh, kakak kenapa kesini?" tanya Rindu mengubah topik pembicaraan. Sebab jika perbincangan yang tadi di teruskan yang ada rahasia Rindu selama tiga belas tahun ini semuanya akan terbongkar.
"Kakak nggak bisa tidur, jadi kakak ke sini. Biasanya kalau tidur bareng kamu kakak tidur nya cepat" ucap Laras sembari menata bantal yang akan menjadi penompang kepala nya nanti. Laras merebahkan tubuh nya dan menarik selimut nya sampai d**a. Melihat Rindu yang hanya diam Laras menepuk pelan tangan Rindu.
"Tidur Ndu udah malam" perintah Laras. Dengan ragu Rindu mengangguk lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Laras. Dalam hati Rindu menggerutu sebab Laras datang ke kamarnya di waktu yang tidak tepat. Reyhan pastinya sudah membalas pesan Rindu, namuj sialnya kini Rindu terjebak.
Duh, gimana bisa chattingan sama kak Reyhan nih kalau ada kak Laras. Ucap Rindu dalam hati.
Dulu, di tahun 2006. Tahun di mana Reyhan sekeluarga pindah rumah. Sejak saat itu Rindu sering telfonan dengan Reyhan lewat telepon rumah. Reyhan susah di ajak ngobrol dengan Rindu soalnya Reyhan tidak terlalu menyukai Rindu. Namun bukan Rindu nama nya jika tidak keras kepala. Rindu terus menelpon Reyhan meskipun Reyhan sering mematikan telepon nya saat dia tahu jika Rindu lah yang menelpon. Seiring berjalannya waktu dan teknologi mulai berkembang. Danang membelikan ponsel baru untuk Laras, dan ponsel Laras yang lama di berikan kepada Rindu. Pada saat itu Rindu senang sekali sebab Laras mengatakan jika ia tahu nama twitter milik Reyhan. Rindu begitu senang sekali. Dan karena ponsel itu bekas milik Laras, jadi semua nama akun yang tertera adalah nama Laras. Sejak saat itu Rindu bisa berkomunikasi dengan Reyhan lewat aplikasi twitter.