Rindu berjalan santai menelusuri koridor sekolahnya pagi ini. Seteleh sehari mendapatkan skorsing, kini dia mulai kembali bersekolah. Koridor cukup ramai hingga berberapa teman kerap kali menyapa Rindu. Rindu memang cukup populer di sekolahnya. Selain terkenal karena kecantikan dan keimutannya, Rindu juga terkenal karena keberaniannya. Apalagi sikap Rindu yang mudah sekali berbaur dan mendapatkan teman, membuat Rindu semakin di sukai banyak orang. Rindu dapat dengan mudah membuat orang orang yang berada di sekitarnya menjadi nyaman dan senang kepadanya.
"Kak Rindu!" satu panggilan cukup membuat langkah Rindu terhenti. Rindu menoleh ke arah sampingnya. Ternyata yang memanggilnya itu adalah Zanna, adik kelasnya yang beberapa hari yang lalu mendapatkan bullyan dari Muna.
Rindu tersenyum simpul, "Hai, Zan" sapa Rindu ramah.
"Hai Kak..." balas Zanna dengan kikuk. Zanna tipe cewek yang pendiam dan malu-malu. Berdiri di dekat Rindu yang sangat populer di sekolahnya membuat merasa nervous.
"Gimana kabar lo? baik kan?" tanya Rindu yang cukup khawatir dengan keadaan Zanna. Karena perbuatan Muna waktu itu membuat Zanna merasa ketakutan hingga Rindu merasa khawatir dengan kondisi gadis malang itu.
"Gue baik kak"
Rindu tersenyum hangat, "Syukur deh kalau gitu, sumpah ya gue takut banget waktu lihat lo di toilet waktu itu. Munafik emang bener-bener kurang ajar sih... tapi lo jangan takut lagi ya Zan, kalau Munafik berani deketin lo atau ngancem lo atau apalah itu, lo bilang aja sama gue. Gue bakalan hajar dia buat lo, oke"
Rindu memang seperti itu orangnya. Tidak suka melihat ketidak adilan terhadap orang lain. Rindu akan menjadi orang yang akan menentang ketidak adilan itu. Baik Rindu mengenal baik Zanna maupun tidak.
"Terimakasih ya kak, kak Rindu baik banget sama gue padahal kita nggak saling kenal. Oh ya kak, Em, gini... gue - - gue mau minta maaf sama kakak. Karena gue kemarin kakak dapat hukuman. Maaf ya bener-bener ngerasa bersalah banget" ucap Zanna yang begitu merasa tak enak hati kepada Rindu.
Rindu tersenyum simpul lalu menepuk pundak Zanna hingga membuat Zanna sedikit terkejut. Bagi Zanna, Rindu benar-benar unik. Dia begitu mudah berbaur dengan orang yang baru saja ia kenal. Tidak seperti Zanna yang kaku dan pendiam.
"Santai aja Zan, lo nggak perlu merasa bersalah gitu oke" Rindu mencoba meyakinkan Zanna agar ia tidak perlu merasa tak enak hati kepadanya. Zanna menggangguk kikuk lalu mencoba menerbitkan senyum manis di wajahnya.
"Yaudah kalau gitu gue ke kelas duluan ya, bye..." Rindu melambaikan tangannya lalu bergegas pergi meninggalkan Zanna.
●●●
Rindu melipat tangannya di d**a seraya memutar bola matanya dengan malas. Di hadapannya kini ada segerombolan geng yang beranggota tiga orang. Dan salah satu anggotanya adalah Muna. Wajah Muna yang terpasang sok galak itu membuat Rindu benar-benar merasa geli. Apa Muna pikir dengan memasang wajah galak akan membuat Rindu merasa takut? Oh ayolah, Rindu tidak akan takut. Rindu justru kini tengah menahan tawanya, sebab wajah Muna terlihat begitu konyol saat ini.
"Bisa minggir nggak? gue mau lewat nih" ucap Rindu dengan nada yang terdengar menyebalkan.
Muna berdecih sebal sambil membuang mukanya ke arah lain. Rindu tetaplah Rindu, tidak ada kata jerah dalam sejarahnya. Biarpun sering berantem dan keluar masuk ruang BK, nyatanya Rindu tetap tidak mau mengalah dengan Muna.
"Nggak usah sok sok an bodoh deh, permasalahan kita waktu itu. belum selesai!" sinis Muna.
Rindu mangut mangut, "Ooh, terus?"
"Rindu, bisa nggak sih lo nggak usah ikut campur urusan orang lain?! bisa nggak sih lo jauh jauh dari gue? dan bisa nggak sih lo jauhi Aldo. Ingat ya Ndu, Aldo itu pacar gue dan gue nggak suka lo dekat dekat sama cowok gue"
Rindu tersenyum kecil mendengar penuturan Muna, "Muna Muna... udah syukur gue nggak nyuruh Aldo buat putusin lo, lah kalau gue minta Aldo buat putusin lo, dia pasti akan nurut sama ucapan gue. Terus seteleh itu lo bisa apa Na?" tanya Rindu yang begitu sinis kepada Muna. Sebal sekali rasanya kala Rindu mencoba menahan Aldo untuk tidak memutuskan Muna. Namun Muna nya yang lupa diri justru meminta Rindu untuk menjauhi Aldo. Jika saja Rindu tidak menahan Aldo untuk mempertahankan Muna, sudah pasti Muna dan Aldo sudah putus saat ini.
Bibir Muna berkedut menahan kesal. Apa yang di katakan Rindu memang benar adanya. Bahkan Aldo juga mengatakan kepada Muna jika Aldo tidak memutuskan Muna di karena kan permintaan dari Rindu. Muna merasa sangat cemburu, orang yang sangat ia sayangi dan ia cintai nyatanya lebih mengutamakan sahabatnya dari pada dirinya. Selama berpacaran dengan Aldo, Muna merasa selalu mendapatkan perlakuan nomor dua setelah Rindu. Muna berjalan pergi melewati Rindu dengan menghantam bahu Rindu. Untungnya Rindu begitu kuat hingga ia tidak sampai terhuyung kebelakang karena senggolan itu. Rindu tertawa hambar mendapati perilaku Muna yang sedang sangat marah. Dan secara bersamaan Aldo datang menghampiri Rindu selepas kepergian Muna.
"Muna bikin ulah lagi ya? dia ngapain lo? lo nggak apa apa kan, Ndu?" Aldo mencengkram kedua lengan Rindu dengan menatap Rindu lekat lekat, ia mencoba mencari di mana luka yang telah di berikan oleh Muna. Rindu melepaskan cengkraman Aldo dari bahunya.
"Gue nggak apa apa, Do. Lo nggak usah lebay deh..." cibir Rindu, "Lebih baik lo kejar tuh cewek lo. Dia kelihatannya marah banget, gue takut dia ngelakuin hal yang enggak enggak" ucap Rindu.
Aldo menggeleng kecil, "Udah biarin aja, tuh anak emang gitu kan. Lagian dia udah di temenin dayang dayangnya, lebih baik gue temenin lo aja. Lo pasti laper kan? yuk gue temenin ke kantin" Aldo merangkul bahu Rindu lalu mengajak Rindu menuju ke kantin.
"Bayarin ya, Do?"
Aldo mengacungkan ibu jarinya. Rindu tersenyum lebar kala Aldo menganggukkan kepalanya. Rindu sangat menyukai yang namanya gratisan. Apalagi Aldo, dia adalah orang yang paling sering mentraktir dirinya.
Tidak salah jika Muna merasa cemburu dengan Rindu. Karena pada nyatanya Aldo memang lebih mengutamakan Rindu dari pada Muna. Persahabatan Rindu dan Aldo sudah terjalin dari mereka masih kecil, jadi tidak heran jika Aldo lebih senang menghabiskan waktunya bersama Rindu. Dulunya Aldo sempat berpikir jika dirinya menyukai Rindu. Aldo bahkan sudah menyatakan perasaannya kepada Rindu. Namun Rindu menolak Aldo dengan tegas, Rindu mengatakan jika ia sudah menyukai laki laki lain. Selain itu Rindu juga menegaskan jika Aldo tidak benar-benar menyukai dirinya, Aldo hanya terlalu sering menghabiskan waktu bersamanya hingga ia berpikir jika ia menyukai Rindu.