Rindu memasuki ruang kelasnya seteleh dari kantin. Dia melihat Dodit yang sedang membaca buku pelajaran. Rindu menghampiri nya dengan sedikit menggebrak meja Dodit.
"Dodit!" serunya yang membuat Dodit terkejut. Laki laki itu lantas membenarkan posisi kaca matanya yang sedikit menurun. Dengan gugup Dodit menatap Rindu perlahan.
"Ri-rindu kenapa ndu?" tanya Dodit terbata.
Rindu tersenyum lebar melihat laki laki culun di depannya ini. Senyum yang Rindu tunjukkan bukan semata-mata Rindu mengejek Dodit yang culun, melainkan karena Rindu ingin mencontek PR kepada Dodit.
"Boleh contek PR matematika nya nggak? gue nggak sempet ngerjain nih, lo tahu kan gue sibuk" ucap Rindu dengan segala kebohongan nya. Dodit tentu tahu jika Rindu sedang berbohong dengan mengatas namakan sibuk hanyalah alibi Rindu untuk membohongi Dodit saja.
"Ah, PR matematika ya Ndu?" tanya Dodit dengan desahan malas. Rindu mengangguk cepat dengan sunggingan senyum yang belum pudar.
"Iya PR matematika, lo udah ngerjain kan, Dit"
Dodit tersenyum kecut lalu dengan terpaksa ia merogoh isi tas nya untuk mengambil buku matematika nya. Dodit bisa saja menolak permintaan Rindu. Namun melihat bagaimana Rindu yang selalu menolongnya di kala ia di bully membuat Dodit enggan untuk menolak permintaan Rindu. Mungkin inilah jalan satu satunya untuk membalas kebaikkan Rindu kepadanya.
"Thank you, Dodit" ujar Rindu riang menerima buku Dodit. Rindu segera berlari kecil menuju bangkunya untuk segera menyalin seluruh pekerjaan Dodit.
"Wuih, gercep banget Ndu dapat contekannya. Bagi boleh lah, Ndu" Mira tersenyum lebar menatap buku Dodit yang berada di meja Rindu. Mira selaku teman sebangku Rindu dan merupakan teman terbaiknya ini memang tingkahnya sebelas dua belas dengan Rindu. Mereka sama sama malas mengerjakan PR yang di berikan oleh guru.
"Boleh, tapi izinnya jangan sama gue. Minta izin dulu sana sama Dodit. Kalau dia kasih izin gue bakalan bagi jawabannya sama lo"
Senyum tengil Mira lantas memudar, "Pelit lo, Ndu. Udah tahu Dodit orangnya pelit contekan. Yakali gue berharap bakal di contekin sama dia"
"Coba aja dulu, orang gue ini di bolehin nyontek sama dia" jawab Rindu denga menyalin jawaban Dodit dengan cepat karena keburu guru pengajar datang.
"Itu sih karena dia segan aja kalau nolak lo, kalau aslinya sih jelas nggak ikhlas tuh anak contekin lo" cibir Mira tertawa ringan. Mira pergi ke teman lainnya dengan membawa buku tulisnya. Mengharapkan contekan dari Dodit adalah sebuah hal yang sia sia baginya. Mira memilih mencontek kepada teman lainnya.
●●●
Di balik selimut tebal bewarna putih itu Rindu menggeliat dalam tidurnya. Menyibak selimut nya hingga memperlihatkan tubuhnya yang mengenakan baju tidurnya. Rindu bangkit dari tidurnya, bergerak lambat mendekati jendela kamarnya. Seperti rutinitas biasa Rindu merentangkan kedua tangannya sembari menguap lebar. Menggerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Di bukalah gorden cendela kamarnya agar sinar matahari dapat menembus masuk menyinari kamarnya. Tak lupa Rindu memebuka cendela kamarnya agar udara segar pagi hari dapat menyejukkan seisi kamarnya.
Rindu menyipitkan kedua matanya, "Mobil siapa tuh?" gumam Rindu yang melihat ada mobil hitam yang terparkir di halaman rumahnya.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" heran Rindu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Yah, jam sembilan pagi di hari minggu menurut Rindu itu masih pagi. Sebab di hari minggu Rindu biasanya akan bangun jam dua belas siang.
Dengan rambut yang masih berantakan Rindu melangkah keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan perlahan karena kesadarannya masih belum terkumpul seratus persen. Suara perbincangan di ruang tamu pun mulai terdengar di telinga Rindu.
Langkah Rindu terhenti, tatapannya langsung tertuju kepada laki laki yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan kakaknya. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, Rindu seakan mati kutu dengan kehadiran Reyhan di ruang tamunya pagi ini. Demi Tuhan, Rindu sangat merindukan Reyhan. Reyhan yang terbiasa Rindu lihat di handphone nya kini tengah duduk tak jauh dari tempatnya berpijak. Debaran di dadanya dengan desiran di hatinya terjadi begitu saja. Kelewat bahagia hingga membuat Rindu menjadi syock di tempat.
"Rindu..."
Hingga suara panggilan mengejutkan Rindu. Rindu memutar tubuhnya menghadap kebelakang. Alangkah terkejutnya Rindu melihat Mama nya Reyhan kini berada tepat di hadapan Rindu.
"Kamu baru bangun ya?" tanya Intan tersenyum geli menatap Rindu yang masih berantakan. Bahkan Rindu tadi tak membasuh wajahnya sebelum turun ke bawah. Rindu tersenyum konyol, ia sangat mengerutuki kebodohannya. Bisa bisanya di hadapan calon mertua Rindu berpenampilan sejorok ini?.
"I-iya, Tante..." ujar Rindu kaku dengan meraih tangan kanan Intan dan mencium punggung tangannya. Sungguh image Rindu sudah tercoreng di hadapan calon ibu mertuanya itu.
"Yah gitu deh, Tan. Rindu selalu bangun siang... ini masih untung dia bangun jam sembilan. Biasanya dia baru bangun itu jam dua belas siang" sahut Dewi yang baru datang dari arah dapur. Di tangannya Dewi membawa nampan yang berisi minuman.
Intan tersenyum lembut sembari mengusap puncak kepala Rindu menunduk malu. Rindu sedikit terpelonjak karena sentuhan Intan di kepalanya. Rindu menatap ragu kepada Intan yang tersenyum lembut kepadanya.
"Mandi gih, setelah itu kita sarapan bersama" ujar Intan.
"I-iya, Tante... Rindu permisi dulu ya Tante" ucap Rindu yang lalu berjalan terbirit b***t menaiki anak tangga menuku kamarnya. Malu. iItulah yang kini sedang Rindu rasakan. Rindu mengunci pintu kamarnya dengan gerakan cepat. Bersandarlah Rindu di pintu kamarnya sambil tersenyum. Rasa malu yang ia rasakan sama sekali tidak ada bandingannya dengan perasaan bahagia yang saat ini sedang melanda hatinya.
"Kak Reyhan, ada di sini?" gumam Rindu yang tak percaya dengan laki laki tampan yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu. Senyum Rindu mendadak lenyap, ia melihat menampilannya.
"Astaga gye bodoh banget! masak ya tadi gue keluar dengan penampilan jelek kusem kumel kayak gembel gini sih. Ah, bodoh bodoh bodoh!" maki Rindu kepada dirinya sendiri. Rindu segera bergegas menuju kamar mandinya dengan tak lupa mengambil handuk nya yang tergeletak di ranjangnya.
●●●
"Jadi kalian akan kembali tinggal di kota ini?" tanya Danang menatap Intan dan Putra secara bergantian. Kedua keluarga ini sudah berlumpul di jadi satu di meja makan. Dewi di bantu oleh pembantunya kini sedang menyiapkan hidangan makan pagi untuk di santab oleh mereka semua.
"Enggak, Nang. Yang akan kembali tinggal di sini hanya Reyhan. Aku nggak bisa kembali tinggal di kota ini dan meninggalkan pekerjaan ku. Reyhan di terima menjadi Dosen di kota ini, maka dari itu hanya Reyhan yang akan tinggal di sini" ucap Putra sembari menatap satu satunya anak laki laki yang menjadi kebanggaannya. Selama ini Intan dan Putra tak pernah mengengkang Reyhan dalam urusan pendidikan. Intan dam Putra selalu percaya dengan tunggal putra mereka.
Seperti saat ini, meskipun nantinya mereka akan jauh dari Reyhan, namun tetap saja mereka melepaskan Reyhan untuk tinggal seorang diri di kota ini. Bulan apa apa, Putra dan Intan melakukan semua ini demi kebaikkan Reyhan sendiri. Dengan tinggal seorang diri di kota ini itu juga merupakan sebuah didikan yang di berikan Putra kepada Reyhan. Putra dan Intan ingin Reyhan bisa mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
"Wah, nggak nyangka banget, nantinya aku akan kuliah di ajar oleh Dosen Reyhan" cibir Laras tersenyum jail kepada Reyhan. Kedua orang tua mereka tertawa kecil menanggapi godaan Laras kepada Reyhan.
"Hm, nanti aku yang akan menjadi Dosen pembimbing kamu di kampus. Kamu siap siap ya, Laras" peringat Reyhan dengan wajah misteriusnya. Laras tersenyum menanggapi perkataan Reyhan yang sama sekali tidak ia takuti.
"Kita lihat saja nanti" balas Laras tak takut.
Diam diam Dewi mencuri pandang kepada Laras dan juga Reyhan. Entah mengapa Dewi merasa begitu senang melihat keduanya bersama. Mereka terlihat cocok dan sangat serasi jika di sandingkan.
"Eh, itu Rindu datang. Ayo kemari sayang, duduk di sini dekat Tante" Intan yang menyadari kehadiran Rindu langsung meminta Rindu untuk mendekatinya dan duduk di sampingnya. Semua tatapan tertuju kepada Rindu, termasuk tatapan Reyhan. Hal itu membuat Rindu jadi gugup dan salah tingkah. Rindu tersenyum kecil kepada Intan yang mempersilahkan nya untuk duduk di sampingnya.
"Duduk" pinta Intan.
Rindu mengangguk, "Iya, Tante... "
"Wah, Rindu sudah besar dan cantik ya" celetuk Putra kepada Rindu.
Rindu tersenyum riang, "Terimakasih, Om"
Perlahan Rindu menatap ke depan, di mana ada Reyhan yang kini duduk di depannya. Jari jari tangan Rindu saling bertautan untuk meredakan rasa gugup yang melanda dirinya. Setelah sekian tahun lamanya dan kini Reyhan kembali.
"Kamu tidak mau menyapa Reyhan, Rindu??" tanya Intan, yang membuat Rindu terkesiap.