"Kamu tidak mau menyapa Reyhan, Rindu??" tanya Intan, yang membuat Rindu terkesiap. Rindu bersitatap dengan Reyhan. Matanya yang indah menatap tajam kearah Rindu. Untuk sesaat Rindu merasa terhipnotis dengan mata indah milik Reyhan. Semuanya terasa seperti mimpi indah bagi Rindu. Hingga suara batuk dari Laras membuyarkan lamunan Rindu. Seakan Laras memberikan isyarat kepada Rindu untuk tersadar dari lamunannya.
"Eh, Hai, kak Reyhan... apa kabar?" tanya Rindu yang terlihat gugup, kaku, dan sangat konyol. Sampai sampai Laras mengulum bibirnya karena menahan tawa melihat ke konyolan adiknya itu. Rindu meringis merasa malu, sebab semuanya berlaku sama seperti Laras yang sedang menahan tawanya. Rindu heran, mengapa semuanya jadi menahan tawa seperti itu? apakah pertanyaannya salah menanyakan kabar Reyhan?.
"Aku baik" balas Reyhan seadanya dengan nada cuek, dingin, dan tak bersahabat. Mendengar jawaban singkat itu membuat Rindu seakan melayang. Binaran di mata Rindu terlihat jelas jika ia sangat memuja laki laki yang sedang duduk di hadapannya itu. Reyhan masih menatap Rindu dengan tatapan yang sama seperti saat mereka masih kecil.
"Sudah yuk, kita sarapan dulu" ucap Dewi yang baru duduk di dekat suaminya. Mereka semua mengangguk setuju dan mulai mengambil nasi beserta lauk pauknya.
Berbeda dengan yang lainnya yang sudah merasa sangat lapar dan ingin segera menyantab makanannya, Rindu justru merasa sangat kenyang. Rasanya Rindu tak ingin makan, dia hanya ingin duduk dan melihat wajah tampan Reyhan lebih dekat lagi. Namun Intan dengan penuh perhatian menghidangkan makanan untuk Rindu. Mau tak mau pun Rindu pun memakannya.
Sepanjang sesi acara makan pagi ini Rindu lebih banyak diam. Ia mendadak jadi anak kalem dadakan yang membuat Danang dan Laras bertanya tanya. Kebahagiaan ini sangat besar bagi Rindu hingga Rindu hanya bisa diam.
"Rindu, kamu baik baik saja kan?" tanya Laras yang khawatir dengan keadaan adiknya. Pasalnya dengan Rindu yang mendadak jadi anak kalem dan tak banyak bicara membuat Laras menjadi takut. Kemungkinan besar Rindu ketempelan setan atau kalau tidak Rindu habis terbentur tembok, mangkanya dia jadi beda banget hari ini.
Rindu tersenyum riang, "Aku baik baik aja, kak, memangnya kenapa?"
"Ah, nggak apa apa. Cuma kamu kelihatan aneh aja, nggak biasakamu jadi pendiam. Kakak pikir kamu gak enak badan, mangkanya kakak tanya apa kamu baik baik saja"
"Kakak nggak usah lebay gitu, aku baik kok. Baik banget malahan..." ucap Rindu dengan cengiran lebar.
"Yaudah yuk kita pergi ke teras nyusulin Reyhan" ajak Laras kepada Rindu.
"Ayok!" jawab Rindu dengan penuh semangat. Bertemu dengan seseorang yang menjadi cinta pertamanya siapa juga yang akan bersemangat. Apalagi sejak kecil hingga besar seperti saat ini, hanya ada nama Reyhan di hati Rindu.Sesampainya di teras rumah, terlihat Reyhan sedang memanaskan motor matic milik Danang. Sepertinya Reyhan ingin pergi keluar rumah saat ini.
"Mau kemana, Rey?" tanya Laras.
Reyhan menoleh lalu tersenyum, "Mau keliling keliling aja naik motor, pengen lihat lihat suasana di sini. Udah lama soalnya gk kesini, kadi aku kangen"
"Ooh gitu"
"Kamu mau ikutan, Laras?" tawar Reyhan.
"Aku - -"
"Aku ikut dong!" sahut Rindu cepat menyela ucapan Laras. Tatapan Reyhan teralih kepada Rindu yang tengah menatapnya dengan binaran.
"Kak Reyhan mau jalan jalan lihat tempat yang bagus kan? aku bisa bawa kak Reyhan kesana. Yuk!" ajak Rindu penuh dengan semangat. Di tatap oleh Reyhan seperti saat ini membuat detak jantung Rindu menjadi tidak karuan. Getaran di hatinya ini terlalu cepat hingga untuk bernapas pun rasanya begitu sulit.
"Yaudah kalau gitu, Rindu kamu pergi sama. Reyhan aja. Ajak dia keliling ya" Laras yang keinginan adiknya untuk pergi dengan Reyhan pun memilih mengalah.
"Enggak!" tolak Reyhan, Rindu dan Laras lantas segera menoleh.
"Eh, maksudnya jangan sekarang. Hari ini aku mau ngajak Laras dulu, soalnya... em, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan soal kampus. Aku mau tahu bagaimana dan seperti apa suasana kampus. Dan yang tahu jawaban itu Laras. Jadi Laras untuk sekarang kamu mau ya pergi jalan sama aku?"
Semua itu hanya alasan, Reyhan sebenarnya ingin pergi bersama Laras. Maka dari itu ia mengarang soal ia ingin tahu soal kampus yang akan menjadi tempat untuk mengajar nantinya. Reyhan juga tidak mau Laras dan Rindu merasa salah paham dengannya. Selain itu Reyhan tidak ingin melukai hati Rindu dengan menolak Rindu begitu saja. Apalagi di pertemuan mereka yang pertama kali selama beberapa tahun tidak bertemu.
"Kamu mau kan?" tanya ulang Reyhan karena Laras tak kunjung membalas ajakannya. Laras merasa gelisah, dia sebenarnya mau mau saja di ajak pergi sama Reyhan. Namun melihat Rindu yang juga mau ikut jalan jalan membuatnya merasa tidak tega.
Sadar akan apa yang di rasakan oleh kakaknya, Rindu pun tersenyum lebar, "Ooh... jadi gitu ya, yaudah deh nggak apa apa. Biar kak Laras aja yang ikut sama Kak Reyhan. Tapi besok besok kalau mau pergi jangan lupa ajak aku ya" ucap Rindu sumringah.
"Beneran nggak apa apa, Ndu, kalau kakak yang pergi sama Reyhan?" Laras merasa tidak yakin dengan ucapan adiknya. Karena terlihat sekali jika Rindu sangat ingin pergi dengan Reyhan.
"Ya gak papa dong, pergi sama aku nya kan bisa besok besok. Ada banyak waktu sekarang ini, kan Kak Reyhan akan tinggal di sini lagi. Ya kan kak Reyhan?"
Reyhan mengangguk, "Hm, iya"
"Tuh, yaudah kalian buruan pergi gih sebelum makin siang. Soalnya kalau udah siang banget perginha nggak enak, panas banget ini" ucap Rindu dengan melihat keatas langit yang terlihat sangat cerah dengan sinar mataharj yang mulai menyengat kulit.
"Yaudah kalau gitu aku ganti baju dulu ya, Rey" pamit Laras, dan mendapat anggukan kepala dari Reyhan.
Sepeninggalan Laras, baik Reyhan maupun Rindu sama sama diam. Rindu yang sebelumnya banyak bicara dan banyak pula pertanyaan mendadak tak bisa berkata kata. Rasanya Rindu kehilangan semua keahliannya dalam berbicara.
"Em, Kak Reyhan gimana kabarnya?" tanya Rindu yang memulai topik pembicaraan. Reyhan mematikan mesin motornya karena merasa sudah cukup memanaskan mesin motornya. Reyhan menoleh dengan sedikit kerutan di dahinya.
"Bukannya tadi udah aku jawab ya waktu di meja makan?" Reyhan balik bertanya, dan membuat suasana menjadi akward.
"Ah, iya, aku lupa" Rindu memukul kepalanya karena merasa jika pertanyaannya itu sangat konyol. Untuk apa Rindu mengulangi pertanyaan yang sama hanya dalam jangkau waktu beberapa menit saja. Mungkin Rindu melakukan ini semua tanpa di sengaja. Berhadapan dengan seseorang yang kita cintai terkadang membuat kita jadi salah tingkah, bahkan tak jarang akan terlihat begitu bodoh.
"Bodoh banget" gumam Reyhan.
"Huh? kak Reyhan ngomong apa aku gak dengar"
"Bukan apa apa" jawab Reyhan cepat.