Rindu memainkan ayunan yang ia duduki dengan perasaan malas. Baru beberapa menit yang lalu Reyhan dan Laras pergi, namun rasa bosan sudah menguasai Rindu. Sejujurnya Rindu sangat sangat ingin pergi dengan Reyhan. Namun masalahnya Reyhan ingin pergi nya dengan Laras, bukan dengan dirinya. Reyhan mau tahu info info soal. kampus Laras mangkanya Reyhan mengajak Laras dan bukan Rindu. Rindu berdecak sebal. Rasa rindunya sudah terobati, Reyhan kembali kepadanya. Namun kenapa Rindu jadi merasa kesal.
"Gua, apa apaan sih, masak ya gue cemburu sama kakak gue sendiri!" gumam Rindu merasa kesal dengan dirinya. Sejauh ini, Rindu pikir Reyhan tidak berubah sama sekali. Mulai dari caranya menatap Rindu, bicara dengan Rindu, dan caranya bersikap dengan Rindu. Semuanya tetap sama dan tak ada yang berubah. Reyhan tetap sama seperti Reyhan kecil yang dulu ia kenal.
"Biar pun lo judes sama gue, gue tetap akan mengejar lo kak. Lo cinta pertama dan terakhir gue. Sekeras apapun lo ngejauhi gue, gue pun akan semakin keras buat mengerjar lo" tekad Rindu begitu kuat. Cintanya bukan cinta abal abal. Cintanya sudah berlangsung lama hingga bertahun tahun.
Suara getaran telvon membuat Rindu merogoh kantong celana yang ia pakai. Sebuah panggilan televon berasal dadi Aldo
"Aldo? ada urusan apa dia telvon gue di hari minggu. Pasti ada apa apanya nih, ish, males banget!" dumel Rindu, acuh tak acuh Rindu menggeser gambar televon yang bewarna hijau. Segera ia tempelkan ponselnya ke telingahnya.
"Apaan?!" ucap Rindu dengan nada kelewat ketus.
"Eh, buset! baru juga di angkat sudah ngegas aja ngomong nya" kejut Aldo.
"Bacot! udah buruan apaan, lo ada perlu apa telvon telvon gue. Buruan ngomong dalam lima detik, kalau nggak ngomong juga gue tutup telvonnya!"
"Sabar kali sama sahabat sendiri gini amat" sahut Aldo di sebrang telvon dengan kesal.
"Satu... dua- - -" Rindu tak main main dengan ucapannya. Dan kini Rindu sudah mulai menghitung waktunya.
"Lo gila ya!" maki Aldo frustasi kala Rindu benar benar mulai menghitung waktu.
"Tiga... empat... li - -"
"Ayok jalan!" seru Aldo secepatnya sebelum kata 'lima' terucap di bibir Rindu.
"Kemana?" tanya Rindu ketus.
"Kemana aja asalkan ada aku dan kamu" seperti biasa Aldo akan mengeluarkan jurus gombal menggombal untuk Rindu. Sering kali mendengar kata kata najis seperti saat ini, Rindu hanya bisa memutar nola matanya dengan malas. Kalau saja Aldo bukan teman baiknnya, kemungkinan besar Rindu sudah memblokir nomor Aldo dan ponselnya sejak dulu.
"Lo ngomong kayak orang b**o!" cibir Rindu, "Makin lama tuh otak makin gak jalan aja. Kalau tuh otak emang udah gak ada guna, mendingan di rosokin aja, mayan kan dapat uang buat beli jajan" kelakar Rindu yang menghina Aldo kelewat batas. Untunya Aldo sudah kebal dengan semua kata kata beracun yang keluar dari mulut manis Rindu.
"Oh, lo minta di jajanin ya, Ndu? boleh boleh... yuk, kita jalan jalan sama cari jajan" seperti biasa Aldo akan membalas ucapan Rindu dengan candaan.
"Tuh kan, otak lo emang udah gak fungsi, Do. masak ya jajan di cari... jajan tuh di beli, Do. Banyak banyak istigfar deh, biar sembuh tuh otak. Jujur, kasihan banget gue" ucap Rindu, "Lagian nih ya, Do. Lo tuh aneh banget tahu nggak. Pacar lo tuh si Munafik, bukan gue. Seharusnya lo tuh ajak dong Munafik jalan jalan. Kalau lo malah ajakin gue, yang ada Munafik makin marah dan uring uringan sama gue"
Seperti hal nya minggu kemarin. Muna dengan aura kemarahannya langsung memaki maki Rindu di hadapan banyak murid di sekolahnya. Muna memang sangat blak blak an. Dia tidak akan segan memaki orang yang tidak ia sukai tanpa memperdulikan suasana. Keberaniannya memang patut di acungi jempol, namun tak jarang karena sikapnya itu dia akan terlihat bodoh di hadapan banyak orang.
"Kalau Muna marah ya biarin ajalah... tuh anak emang merjaanya marah marah mulu, bete gue! mangkanya nih gue ajakin lo jalan jalan biar refresing otak gue"
"Em..." Rindu terlihat berpikir, apakah ia mau atau tidak di ajak Aldo jalan jalan. Namun tiba tiba saja nama Reyhan terlintas di benaknya.
Ah, gue terima aja deh ajakan Aldo. Itung itung bisa hilangin rasa jenuh gue. Batin Rindu.
"Oke deh, lo ke rumab sekarang ya gue tunggu" ucap Rindu lalu mematikan sambungan televon nya.
●●●
"Jadi, apa yang mau kamu tanyakan, Rey?" tanya Laras sembari menoleh kearah Reyhan yang tengah berjalan di sampingnya. Reyhan meminta Laras duduk di kursi panjang yang tersedia di alun alun kota Pasuruan. Setelah berkeliling kota, Reyhan memilih untuk berhenti di alun alun untuk menikmati kota yang ia rindukan.
Suasana alun alun kota Pasuruan pagi ini cukup sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berada di sini. Satu dua orang sedang joging, dan ada juga yang sedang duduk duduk santai sembari menikmati pemandangan air mancur dan bangunan majid jami' Al-anwar yang menawan. Letak bangunan majid berada tepat depan alun alun, sehingga memberi kesan sangat indah.
"Banyak hal" ucap Reyhan. Laras diam, menunggu Reyhan tuk kembali bersuara.
"Hal pertama yang ingin ku tanyakan adalah... Bagaimana perasaan mu sekarang?"
Sedikit bingung namun Laras menjawabnya, "Perasaanku? Perasaanku baik"
"Begitukah Laras?"
"Hm, iya. Memangnya kenapa Rey?"
Reyhan tersenyum, "Tak apa. Apakah kamu merindukan ku?" tanya Reyhan memberanikan diri.
"Tentu aku merindukan mu, semua anggota keluargaku juga merindukanmu. Kamu sudah seperti bagian dari anggota keluarga kami. Tentu semuanya akan merindukan mu Rey"
"Aku juga sangat merindukan kalian semua" balas Reyhan.
namun yang paling aku rindukan adalah kamu, Larasati. Batin Reyhan.
Wayahnya yang cantik dan kalem membuat hati Reyhan terasa menghangat kala melihatnya. Andai saja Reyhan bisa mengutarakan perasaanya saat ini. Andai saja Reyhan bisa memeluknya saat ini. Reyhan sangat ingin melakukannya. Terpisah beberapa tahun dengan orang yang sangat ia sayangi itu sangat menyakitkan.
"Laras..." panggil Reyhan lirih.
"Iya, Rey, kenapa?"
"Aku menyukai mu" ujar Reyhan terus terang.
"A-apa?" Laras sangat terkejut dengan pernyataan Reyhan yang begitu tiba tiba. Ini memang bukan kali pertama Laras di tembak cowok tapi kali ini terasa begitu beda. Tanpa ada kedekatan atau basa basi Reyhan menyataan perasaanya. Selain itu yang membuat Laras terkejut adalah Reyhan, Reyhan yang menyatakan perasaanya kepadanya.
"Ya, Laras, aku menyukaimu... dari dulu hingga saat ini" terang Reyhan memperjelas. Menyadari raut wajah Laras yang berubah pucat pasi karena terkejut, Reyhan pun mengurai pandangannya.
"Maaf jika aku terlalu menggebu, hanya saja aku tak bisa menahannya lagi. Mungkin ini terlalu dadakan, namun itulah yang sebenarnya Laras. Aku mencintaimu"