Laras segera menutup pintu kamarnya. Hatinya masih berdebar kencang. Pernyataan Reyhan beberapa menit yang lalu membuatnya merasa sesak napas. Laras menyetuh dadanya yang masih memburu. Detak jantungnya masih terpacu dengan cepat. Laras mendudukan dirinya di tepi ranjang. Di ambilah segelas air putih yang tersedia di sana. Laras berusaha menenangkan dirinya dengan meminum segelas air putih. Pernyataan Reyhan yang terlalu terus terang membuat Laras terlejut bukan main. Apa yang Reyhan katakan tadi sama sekali tak pernah terlintas di benak Laras.
"Aku dulu memang pernah suka sama, Reyhan. Tapi itu dulu, dan untuk sekarang? aku nggak tahu apakah aku masih suka dia atau enggak"
Laras tampak cemas dan juga bimbang. Selama ini memang banyak laki laki yang datang untuk mendekatinya. Dia sering mendapatkan coklat ataupun bunga di loker nya, namun ia tak tahu siapa pengirimnya. Tak jarang juga ada laki laki yang secara terus terang menyatakan perasaannya kepada Laras. Namun Laras menolaknya, selama ini Laras hanya fokus dengan sekolah dan pelajarannya saja. Laras tidak mau mengenal apa itu cinta. Karena Laras cukup trauma dengan masalah percintaanya.
Dulu, Laras memiliki pacar. Dia baik dan juga romantis, pacar Laras mengatakan jika ia menerima Laras apa adanya. Namun nyatanya semua itu hanyalah omong kosong belaka. Di saat Laras memberitahu Pacar nya soal penyakit jatung yang ia derita, pacarnya itu justru langsung menghilang. Tidak ada kata putus atau apapun. Bak di telan bumi, pacar Laras mengilang begitu saja. Cukup lama Laras menanti kehadiran pacarnya namun sayang ia tunggu tak kunjung kembali. Laras harus menerima kenyataan jika pacarnya itu sudah pergi meninggalkannya. Lagi pula Laras sadar diri, mana ada laki laki yang mau dengan gadis penyakitan seperti dirinya.
"Cinta itu hanya omong kosong. Kalau Reyhan tahu soal penyakit yang aku alami. Dia pasti akan pergi, sama seperti dia..." kata Laras dengan tatapan nanar.
●●●
"Habis deh duwit gue gara gara lo. Lo niatnya jajan apa ngerampok duwit gue sih, Ndu? Mentang mentang di traktir malah nggak tahu diri gini yang dibeli banyak banget"
"Yaelah, baru segini aja lo udah protes. Sekere itu ya lo sekarang sampai sampai nggak kuat jajanin gue?. Lagian juga ya salah lo sendiri lah, ngapain pakai gaya gayaan pakai traktir gue segala kalau modal lo secuil doang. Tahu gini tadi ogah ya gue di traktir sama lo!" dengus Rindu dengan sewot.
Bagaimana Aldo tidak protes, kini tangan kanan Rindu mententeng kresek besar berlogo Alfamart dengan isi berbagai minuman beserta camilan. Belum lagi tangan kirinya menenteng beberapa kresek yang berisikan jajan pinggir jalan yang mereka beli dari pasar minggu. Niat Aldo tadinya hanya ingin mentraktir Es Boba dan telur gulung saja. Eh yang terjadi justru di luar ekspetasinya. Rindu mmebuat isi dompetnya terkuras dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
"Dasar nggak tahu diri!" cibir Aldo.
"Bodo amat, penting gue dapat jajan banyak"
Lantaran kedua tangan Rindu sudah penuh dengan jajannya, Aldo dengan sigap membukakan pintu gerbangnga untuk Rindu.
"Buka yang lebar nggak cukup nih" protes Rindu karena kreseknya nyangkut sebab Aldo kurang membuka lebar gerbangnya.
"Iya iya, bawel banget sih lo"
Rindu cengengesan melihat wajah sebal sahabatnya. Bukan Rindu namanya kalau nggak jail.
"Eh siapa tuh?" tanya Aldo kala melihat Reyhan yang baru saja keluar dari rumah Rindu.
"Calon imam gue" bisik Rindu tersenyum cerah.
Aldo melongo mendengarnya.
"Huh, Calon imam? nggak salah dengar gue?" gumam Aldo.
Selama ini Aldo hanya tahu ceritanya saja, namun Aldo tak pernah tahu wajah asli dari laki laki yang sering di ceritakan oleh Rindu. Aldo bahkan sangat penasaran dengan wajah Reyhan yang sangat Rindu idam idamkan itu.
"Hai kak Reyhan" sapa Rindu bersemangat.
"Hm" balas Reyhan cuek seperti baisa.
"Reyhan?" gumam Aldo terkejut.
"Kenalin kak, ini Aldo teman aku. Dan Aldo, kenalin dia Kak Reyhan" ucap Rindu memperkenalkan keduanya.
"Aldo" kata Aldo sembari mengulurkan tangannya. Reyhan membalas uluran tangan Aldo.
"Reyhan"
"Ooh, jadi ini cowok yang namanya Reyhan yang sering lo ceritain it - - Auuu...." buru buru Rindu menginjak kaki Aldo agar ia berhenti bicara. Rindu cengengesan menatap Aldo dan Reyhan bergantian. Rindu mendelikkan matanya kepada Aldo sebagai kode agar Aldo berhenti bicara.
Reyhan menaikkan satu alisnya, "Maksud nya?"
"Ah, bukan apa apa kok kak Rey" balas Rindu segera sambil tertawa ringan, "Eh, kakak baru aja pulang atau sudah dari tadi?" tanya Rindu mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah dari tadi"
"Oh ya? kok cepat banget perginya. Aku kirain bakalan lama"
Tak ada sahutan dari Reyhan, Rindu pun kembali bertanya.
"Kok rumah sepi ya? yang lain pada kemana, Kak?" tanya Rindu yang masih dengan mata berbinar.
"Bunda sama Ayah pergi, sama Paman dan juga Bibi. Di rumah hanya ada gue sama Laras"
Biarpun Reyhan menjawab pertanyaanya dengan nada cuek namun Rindu tetap bahagia. Dia suka mendengarkan suara Reyhan. Ingin sekali Rindu memeluknya sekarang untuk melampiaskan kerinduannya selama ini. Rindu berusaha dengan keras menahan dirinya agar tak melakukan hal konyol. Reyhan yang di foto dengan Reyhan yang kini di hadapannya sungguh jauh berbeda. Reyhan di foto memang tampan. Namun Reyhan yang kini berada di hadapannya jauh lebih tampan.
"Eh, aku baru aja beli jajan nih. Kita makan bareng bareng yuk! Kak Laras ada di dalam kan kak? yuk kita kedalam panggil kak Laras terus kita berempat makan bareng bareng" ajak Rindu. Awalnya Reyhan ingin menolak, namun mendengar nama Laras di sebut sebut dia pun memilih bergabung dengan Rindu.
"Kakak turun kak, lihat nih aku bawa makanan banyak!" teriak Rindu mengudara hingga seisi rumah pasti akan mendengar suaranya. Rindu meletakkan kreseknya di atas meja meja makan.
Tak kunjung mendengar suara langkah kaki Laras di tangga Rindu pun kembali berteriak.
"Kakak ayo turun aku bawain makanan!"
"Mulut lo toa banget ya, masak ya cewek mulutnya toa gini. Kalem dong kalem" sahut Aldo mengingatkan, "Ini rumah bukan hutan"
"Bodo amat!" jawab Rindu. Dan tak sengaja pandangan Rindu bertemu mata Reyhan. Dia menggeleng gelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Rindu yang sama sekali tidak berubah. Rindu tetap sama seperti dulu, petakilan. Sangat jauh berbeda dengan Laras kakaknya. Rindu nyengir melihat hal itu, ia merasa malu akan kelakuannya. Bisa bisanya dia berteriak seperti itu di hadapan Reyhan. Suara langkah kaki di tangga membuat Rindu menoleh.
"Ada apa, Ndu?" tanya Laras yang menuruni anak tangga. Pandangan Laras langsung bertemu dengan manik mata milik Reyhan. Buru buru Laras menurunkan pandangannya agar tak bersitatap dengan Reyhan.
"Kakak di atas ngapain aja sih, tumben banget aku panggil turunnya lama" bukannya menjawab pertanyaan Laras, Rindu justru memprotes Laras.
"Maaf kakak habis dari kamar mandi" ucap Laras berbohong.
"Ooh gitu... ini kak, aku habis beli makanan. Yuk kita makan bareng bareng" ajak Rindu.
"Kok banyak banget, Ndu kamu beli makannya" Laras bahkan sampai melebarkan kedua bola matanya melihat banyaknya makanan yang Rindu beli.
"Rindu habis ngerampok dompet gue tuh, Kak" adu Aldo kepada Laras. Rindu menyenggol kasar lengan Aldo hingga Aldo meringis sakit.
"Ish, sakit tahu!" dengus Aldo.
"Diem mangkanya!"
"Rindu..." panggil Laras seakan meminta kejelasan tentang ucapan Aldo barusan.
"Aku nggak salah kak, Aldo sendiri yang nawarin aku jajan. Dia bilang mau traktir, yaudah aku beli aja semua yang aku mau. Eh, dia malah komplain. Aku mana tahu kalau sekarang dia lagi kere. Tahu gitu tadi lo nggak usah sok sok an mau traktir gue deh, Do" sinis Rindu.
Laras menepuk jidatnya, kini dia tahu apa yang terjadi. Adiknya ini memang sangat istimewah. Rindu memang sering lupa diri jika dirinya di traktir.
"Udah deh, yuk kita makan aja" Rindu manarik kursinya lalu segera duduk. Laras dan Aldo pun melakukan hal yang sama.