Sejak tadi Laras menghindari kontak mata maupun percakapan dengan Reyhan. Laras sebenarnya tidak mau dengan semua ini. Bagaimanapun. juga Reyhan adalah teman masa kecilnya dan juga tamu di rumah nya. Tak seharusnya Laras memperlakukan Reyhan seperti itu. Namun mau bagaimana lagi, sekeras apapun Laras berusaha namun ia tak biss mengendalikan dirinya. Bagi Laras, Reyhan sudah menjadi zona merah yang harus ia hindari.
Setelah usai mengemasi plastik plastik jajan yang berceceran karena ulah Rindu. Kini Laras akan membuang semua sampah ini ke tempat sampah yang berada di halaman depan rumahnya. Di bukalah tutup tempat sampah itu lalu ia masukkan sampah yang ada di tangannya. Saat Laras balik badan alangkah terkejutnya ia melihat Reyhan berdiri tepat di belakangnya hingga membuat Laras hampir jatuh karena posisi tubuh mereka yang terlalu dekat. Reyhan dengan sigap menahan punggung Laras agar ia tidak terjatuh. Debaran itu kembali di rasakan oleh Laras hingga ia merasa begitu gugup.
"Hati hati, Laras" kata Reyhan yang melepaskan tangannya dari tubuh Laras.
"Makasih" kata Laras segera. Hendak Laras mau pergi namun Reyhan segera bersuara untuk menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu menghindariku, Laras?"
Dan yah, Laras seketika berhenti setelah mendengar pertanyaan Reyhan. Tubuh Laras menegang kala Reyhan berjalan kehadapannya dan berhenti tepat satu langkah di depannya. Kedua bola mata Laras bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tidak tentu.
"Kenapa kamu menghindariku?" tanya Reyhan mengulang pertanyaan yang sama.
"A-aku... aku tidak- -"
"Aku tahu kamu sengaja menghindari ku sejak tadi" sela Reyhan, "Apakah karena pernyataan ku tadi pagi? apakah pernyataan ku telah mengusik kenyamanan mu, Laras?"
Kedua tangan Laras yang saling bertautan kini saling meremas remas. Dia takut dan juga gugup. Reyhan yang menyadari kondisi Laras yang tengah ketakutan pum sedikit memberi jarak dari Laras. Reyhan memundurkan dirinya satu langkah kebelakang agar Laras tidak terlalu gugup jika di dekatnya. Laras mengamati pergerakan Reyhan dengan bingung.
"Kamu nggak perlu takut, Laras. Aku masih sama seperti Reyhan yang dulu... maaf jika pernyataan ku membuat mu takut. Tapi kamu tenang saja, jika kamu memang tidak menyukai ku tidak apa apa. Kita masih bisa berteman baik, sama seperti dulu. Kalau kamu memang tidak nyaman dengan obrolan kita tadi pagi kamu bisa lupakan semuanya, dan aku juga akan melupakan" ucap Reyhan tersenyum simpul lalu ia melangkah pergi memasuki rumah. Entah mengapa Laras jadi merasa sangat bersalah kepada Reyhan.
"Apa yang harus aku lakukan" gumam Laras cemas. Reyhan pasti sangat kecewa kepada Laras saat ini.
***
"Duh, apaan sih Lo narik narik tangan Gue!" Rindu menarik tangannya kasar dari genggaman tangan Aldo. Aldo menarik Rindu ketepian kolam renang.
"Coba jelasin dia siapa?" tanya Aldo dengan wajah tampak serius.
"Dia? dia, siapa?"
"Laki laki itu, si Reyhan?"
Rindu mengernyitkan dahinya, "Dia, Reyhan"
"Jadi dia, Reyhan? Reyhan, pangeran impian lo itu?"
Rindu terpekik dengan mendengar suara Aldo yang menurutnya cukup keras itu. Segeralah Rindu membungkam mulut Aldo dengan tangannya.
"Ish! jangan keras keras dong, Do. Entar kakak gue sama kak Reyhan dengar gimana" bisik Rindu sembari celingukan memperhatikan suasan untuk memastikan tidak ada keberadaan Laras dan juga Reyhan di sekitar mereka.
"Iya maaf maaf, kaget gue soalnya" ucap Aldo setelah Rindu melepaskan tangannya dari mulutnya, "Jadi dia orangnya? Reyhan cowok yang ada di masa kecil Lo itu?" tanya Aldo yang masih tidak puas dengan jawaban yang Rindu berikan. Rindu mengangguk cepat dengan senyum cerahnya.
"Iya, dia orangnya... ganteng kan, Do?" tanya Rindu bersemangat.
"Ganteng sih" ucap Aldo setuju, "Tapi masih gantengan gue" mendengar itu raut wajah Rindu seketika berubah menjadi masam. Di tinju lengan Aldo sampai ia meringis kesakitan.
"Sakit, Ndu!" keluh Aldo memegangi lengannya yang habis di serang.
"Syukurin, siapa suruh Lo ngatain cowok gue!"
"Cowok Lo? emangnya kalian udah jadian apa"
"Tapi kan udah calon!"
Aldo tertawa renyah mendengarnya, "Pede banget, emangnya dia mau sama lo? orang dia cuek setengah mati gitu sama Lo"
"Lo- -" Rindu tak bisa membalas ucapan Aldo. Aldo benar, Reyhan kelewat cuek kepada Rindu. Bahkan tak jarang ia mengabaikan pertanyaan yang di berikan oleh Rindu.
"Nggak bisa jawab kan Lo? mangkanya jangan pede dulu, jangan menghayal ketinggian. Nanti di kecewain nangis lagi" kekeh Aldo yang merasa puas melihat wajah Rindu yang mendadak menjadi masam. Aldo tertawa senang bisa membuat Rindu merasa senang.
"Lo kok gitu sih!" dengus Rindu.
"Gitu gimana?" tanya Aldo, "Orang udah jelas kok kalau dia cuek banget sama Lo. Yang ada dia jauh lebih care sama kakak Lo"
Rindu terdiam, seakan tengah memikirkan sesuatu.
●●●
Malam ini menjadi malam yang indah untuk Rindu. Kini Rindu tengah duduk di tepian kolam renang sembari mengamati Reyhan yang tengah bermain gitar. Jari jari lentiknya bermain dengan sempurna. Reyhan bersenandum kecil mengiri nada gitar yang ia mainkan. Seluruh anggota keluarganya menatap kearah Reyhan yang kini menjadi pusat perhatian.
Seusai makan malam bersama mereka semua kini duduk di tepian kolam renang menghabiskan waktu bersama. Bersantai sembari menikmati coklat panas.
Butuh kesabaran untuk menantikan hari ini. Aku nggak peduli biarpun Aldo mengejekku setiap hari karena menantikan kamu, Kak Rey. Aku bahagia hari ini biss melihatmu dari jarak sedekat ini. ucap Rindu dalam hati.
Rindu menoleh kearah kakaknya yang duduk di sampingnya. Ada yang aneh dari sikap Laras sejak siang tadi. Sejak tadi Laras hanya diam, dan dia hanya bersuara seperlunya saja.
"Kakak kenapa, kok dari tadi diam saja?" ttanya Rindu yang mengamati ada perubahan dalam sikap Laras.
"Nggak ada apa apa kok, Ndu"
"Yakin nggak ada apa apa?" tanya Rindu menyipitkan matanya, seakan ia sedang menelisik kedalam pikiran Laras.
"Nggak ada Rindu" jawab Laras merengek.
Rindu tersenyum melihat kakak nya yang mulai kesal.
Laras kembali meminum segelas coklat hangat yang ada di tangannya. Sebenarnya Laras sangat gelisah saat ini. Ia terus memikirkan perkataan Reyhan. Perasaan tak enak mendera hati Laras. Dan kini perasaan itu semakin tidak enak kala ia membohongi adiknya itu. Awalnya Laras ingin menceritakan yang sebenarnya kepada Rindu, seperti biasanya Laras akan menceritakan semua yang terjadi kepadanya. Namun kali ini, entah mengapa Laras memilih untuk diam.
Laras kembali bersitatap dengan Reyhan. Dia memainkan gitarnya seperti pemain profesional. Laras kembali merasakan desiran dalam dirinya setiap kali Reyhan melemparkan tatapannya kepada Laras.
"Kak Reyhan jago mainin gitar ya, Kak" kata Rindu yang masih fokus menatap Reyhan.
"Ah, iya"
"Rindu!"
Rindu mendongak kala namanya di panggil. Dan ternyata yang memanggilnya itu adalah Dewi. Rindu bergegas bangun dari duduknya.
"Iya, Ma?"
"Ikut Mama sebentar, Mama mau ngomong" ucap Dewi lalu pergi mendahului Rindu. Rindu menoleh kepada kakak nya, seakan ia bertanya apa yang ingin dewi katakan. Namun Laras hanya diam sembari menggelengkan kepalanya. Rindu menghela napasnya, ia pun melangkah mengikuti kemana Dewi pergi. Dewi melangkah pergi memasuki kamarnya.
"Ada apa, Bunda?" tanya Rindu begitu ada di hadapan Dewi.
"Besok Intan sama Putra akan pulang. Bunda udah siapin beberapa hadiah untuk mereka. Tapi, Bunda lupa bungkusinnya. Kamu bisa kan, Ndu bungkusin hadiah ini untuk, Bunda?"
Rindu menatap baju stelan baju laki laki dan perempuan yang tertata rapi di atas ranjang.
"Bisakan, Ndu?" tanya Dewi.
Rindu menganggukkan kepalanya, "Iya, bisa kok, Bun" balas Rindu tersenyum.
"Yaudah kamu bungkus hadiahnya. Bunda mau ngumpul sama yang lain di belakang"
Dewi meninggalkan Rindu sendiri di kamar ini dengan sebuah pekerjaan. Ada perasaan sedih di hati Rindu. Rindu juga ingim berkumpul dengan yang lain namun kenapa Dewi memberinya pekerjaan ini. Tidakkah pembantu rumah ini bisa melakukannya? pekerjaan ini memang tidak berat. Namun mengerjakannya sekarang membuat Rindu sedih. Moment kebersamaan ini tidak selalu ada setiap saat. Namun kini Rindu harus menghabiskan waktunya untuk membungkus hadiah ini.