Kicauan burung mulai terdengar merdu menghiasi pagi yang cerah ini. Matahari sudah terbit menunjukkan cahayanya yang begitu terang. Pagi ini tak biasa Rindu sudah bangun lebih awal dengan badan yang sudah segar dan wangi. Seragam berwarna putih abu abu itu menempel rapi di tubuhnya. Rambutnya di kuncir satu dengan memperlihatkan jidatnya yang lumayan lebar. Senyum cemerlang ia tunjukkan ketika menuruni anak tangga. Di ujung anak tangga sudah ada Danang yang ternyum memperhatikan Rindu. Ia menggenggam secangkir teh yang baru saja di buatkan oleh istri tercintanya yaitu Dewi.
"Selamat pagi Ayahku sayang..." ucap Rindu tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Selamat pagi kesayangan, Ayah." balas Danang tak kalah ceria, "Tumben sekali pagi pagi sudah rapi dan wangi gini, Ayah sampai heran melihatnya" kata Danang menelisik Rindu dengan pandangan menggoda.
"Ih! Ayah, tuh, resek deh. Anaknya pagi pagi masih dekil banyak beleknya di katain. Giliran rapi bersih gini malah di tanyain. Maunya Ayah tuh gimana sih" keluh Rindu.
Danang tertawa pelan mendengar rajukan Rindu.
"Maunya Ayah itu ya kayak gini. Wangi, bersih, dan cantik. Ayah kan jadi senang lihatnya, pagi pagi sudah di perlihatkan anak gadis ayah yang sudah rapi dan wangi"
"Ih, Ayah..." Rindu tergelak mendengarnya.
"Rindu. Mau berangkat sekolah, Ndu?" tanya Intan yang baru saja keluar dari kamarnya. Intan juga sudah berpakaian rapi karena hari ini ia dan suaminya Putra akan kembali Kota Malang.
"Iya nih, Tante, Rindu mau sekolah... " balas Rindu sambil nyengir.
"Sepagi ini?? wah, kamu rajin sekali ya, Rindu" puji Intan dengan tulus. Namun Rindu dan Danang tertohok mendengar pujian itu. Rindu dan Danang saling melempar pandang, dalam insyaratt batin kini mereka sedang berbincang binjang tentang pujian yang baru saja mereka dengar kan.
"Ah, enggak gitu kok, Tante. Ini karena hari senin aja maka dari itu Rindu bangun lebih awal. Soalnya kan ada upacara"
Danang mengangguk, "Benar itu"
Rindu berusaha menutupi kebobrokannya di depan calon mertuanya. Karena akan merasa tidak pantas jika Intan mengetahui sikap Rindu yang sesungguhnya.
"Yaudah, Tante mau ke dapur dulu ya, mau buatin teh untuk, Om"
"Iya, Tante, silahkan..."
Sebelum pergi Intan sempat mengusap lembut kepala Rindu dengan kasih sayang. Selepas kepergian Intan, Rindu dan juga Danang tersenyum senyum.
"Dia bilang kamu rajin, Rindu" ucap Danang cekikikan. Mereka tertawa pelan hingga membuat perut mereka jadi kram.
"Hari ini tanggak berapa, si Yah? hari ini spesial loh, baru kali ini ada yang bilang kalau Rindu itu kalem" ucap Rindu yang membuat Danang berdengus geli.
Tak hanya Danang yang du buat terheran heran oleh Rindu. Laras, bahkan Dewi pun di buat cengoh oleh Rindu. Karena tak biasa memang Rindu bangun lebih awal dengan keadaan rapi seperti saat ini. Dewi sampai sampai harus berpikir keras, kiranya apa yang membuat Rindu melakukan hal itu. Rindu mengatakan kepada semuanya jika ini hari senin dan akan mengikuti upacara bendera. Akan tetapi Dewi jelas tidak akan percaya dengan alasan tersebut. Dewi sangat mengenal anaknya itu. Masa iya anak pecicilan seperti Rindu mendadak jadi anak rajin dan kalem apalagi dengan alasan akan kesekolah, mustahil.
Intan dan Putra sudab mengemasi barang barang mereka. Kini mereka sudah siap untuk kembali pulang. Koper mereka pun sudah di taroh di bagasi mobil. Intan dan Dewi saling berpelukan sebagai perpisahan mereka untuk yang kesekian kalinya.
"Kalau sudah sampai jangan lupa ngabarin aku" kata Dewi melepas pelukannya dengan Intan.
"Iya, aku pasti kabari"
Tak hanya Dewi dan Intan yang berpelukan. Danang dan Putra pun tidak mau kalah, mereka saling memeluk seperti sepasang saudara.
"Terimakasih ya, Danang. Kamu dan keluarga kamu menerima baik kedatangan keluargaku" ucap Putra.
"Ah, kamu ini seperti sama siapa aja. Kita kan sudah seperti saudara"
Intan menghampiri Laras lalu memeluknya.
"Hati hati ya, Tante..." ucap Laras yang di balas anggukan kepala oleh Intan. Intan beralih mendekati Rindu dan memeluk Rindu.
"Rindu pasti kangen banget nantinya sama, Tante Intan"
"Tante juga pasti kangen banget sama kamu, sayang"
Intan memeluk Rindu dengan erat, mengusap pelan kepala Rindu dengan sayang.
"Kamu baik baik ya, Rindu" pesan Intan selepas melepaskan pelukannya. Rindu mengangguk patuh dan tersenyum.
"Ma... Pa... " panggil Reyhan mendekati kedua orang tuanya. Lantaran Reyhan akan bekerja di kota ini jadi ia akan tetap tinggal di sini. Intan dan Putra sudah menitipkan Reyhan kepada Dewi dan Danang.
"Rey, jaga diri baik baik ya..." sesungguhnya Intan ingin tetap berada di sini menemani anaknya. Namun nyatanya ia tak bisa meninggalkan suaminya.
"Papa yakin kamu pasti akan sukses, Rey. Mama dan Papa percaya sama kamu"
Reyhan tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Reyhan cuma mau minta doa dari Papa dan juga Mama"
Intan mengusap usap punggung Putranya, "Tanpa di minta sekalipun, Mama Papa pasti akan doain kamu, Reyhan"
"Terimakasih ya, Ma, Pa"
Tidak ada rasa khawatir di hati Putra dan Intan untuo meninggalkan Reyhan di sini. Sebab mereka tahu jika Reyhan tidak sendirian, ia di temani oleh keluarga Danang. Selain itu sebenarnya mereka juga percaya penuh kepada putra mereka, mereka yakin jika Reyhan mampu hidup seorang diri.
Danang dan lainnya kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang di naiki Intan dan Putra pergi. Rindu bergegas mengambil tas sekolahnya yang ia letakkan di kursi ruang tamu.
"Berangkat sekarang ya, Yah" kata Rindu kepada Danang.
"Lima belas menit lagi ya, Rindu. Ayah belum siap nih" tolak Danang. Ada beberapa berkas yang harus Danang siapkan dan itu membutuhkan waktu. Danang meminta Rindu menunggunya sebab mereka terbiasa berangkat bersama.
"Ya, Ayah... ini udah jam setengah tujuh, loh. Rindu kan hari ini ada upacara" balas Rindu mengingatkan Danang.
"Aduh, gimana ya..." Danang mulai bingung mencari jalan keluar.
"Biar Laras saja, Yah, yang anterin Rindu ke sekolah. Lagian hari ini Laras nggak ada kuliah" Laras yang sejak tadi duduk di samping Bundanya pun menyahut menawarkan diri untuk mengantar adiknya.
"Laras... kamu lupa ya, Bunda kan mau ngajak kamu pergi belanja hari ini" sahut Dewi.
Laras mengeryitkan dahinya bingung.
"Oh ya? kapan, Bunda bilang begitu, Laras tidak ingat"
Tentu Laras tidak ingat kapan Dewi mengatakan itu. Karena ini hanya kebohongan Dewi saja. Dewi tidak menyukai jika Laras kecapaian, apalagi hanya karen mengantarkan Rindu ke sekolah. Dewi tentu tidak menyukainya.
"Kemarin malam, Sayang... Masa kamu nggak ingat. Kamu sudah janji loh mau ikut, Bunda"
Laras menatap Rindu dan Dewi bergantian, ia bingung akan memilih siapa. Namun lagi lagi jawabannya akan sama. Laras akan memilih Bundanya.
Rindu tersenyum hangat melihat wajah Danang yang tampak cemas. Rindu mengusap lengan Ayahnya pelan.
"Rindu bisa berangkat sendiri, Ayah"
Danang berdecih, sekilas ia menatap sosok Reyhan yang sedari duduk tanpa suara. Senyum Danang terbit kala melihatnya.
"Reyhan" panggil Danang.
"Iya, Om?"
"Kamu tolong antarkan Rindu ke sekolah ya, bisa kan?"
Reyhan terpekik mendengarnya. Bukan hanya Reyhan, Rindu dan Dewi pun sama sama terkejut mendengarnya.
"Ayah, Rindu- -"
"Bisa kan, Rey?" tanya Danang sekali lagi. Dengan sangat terpaksa Reyhan menganggukkan kepalanya.
"Baik, Om"
seketika lutut Rindu terasa lemas, tubuhnya pun terasa menghangat. Entah apa yang akan terjadi nantinya, yang jelas ada perasaan senang dan tskut tercampur jadi satu.
"Kak Rey"
"Ayo!"