TENTARA LANGIT ZUKHO EPISODE 3
“Dia seekor ikan, biarlah hidup sebagai ikan, untuk apa mengubahnya menjadi Yuja,” bela pria tua jelmaan dewa kepada Leon.
“Ah ... kalau begitu, bersiaplah untuk menjadi santapanku, Pak tua!”
“Tunggu dulu ... aku belum selesai bicara,” ujarnya mengulur waktu, berharap Yuja gunung berapi berubah pikiran.
Permintaan Yuja gunung berapi begitu berat ia laksanakan. Akan tetapi, ia juga tidak ingin mati di tangan Yuja. Terlebih lagi, perjalanannya kali ini adalah hendak menyampaikan pesan pada pelayan dewi welas asih di hutan bambu, belakang gunung, tempatnya saat ini ditawan.
“Tuan Yuja, tolong lepaskan aku!”
Pria tua itu menunjukkan selembar daun talas dengan setetes air di atasnya. Benda tersebut harus segera sampai ke kolam hutan bambu sebelum airnya mengering. Jika dia harus kembali ke khayangan, ia tidak yakin saat sampai ke bumi lagi, air di atas daun tersebut masih ada. Sungguh aib besar ketika seorang dewa gagal menjalankan tugas.
“Sama saja, Pak tua. Kalau kau kumakan, daun bodoh itu juga tidak akan terbang dengan sendirinya ke hutan welas asih,” bantah Yuja gunung berapi.
“Tuan Yuja, begini saja. Aku akan pergi ke khayangan untuk mengambil sari buah persik sesuai yang kau perintahkan. Asal Tuan Yuja bersedia mengantar daun talas ini ke hutan bambu.”
Di luar dugaan Yuja gunung berapi. Perkara mengantar daun talas ke hutan bambu rupanya tidak sesederhana yang dipikirkan. Ia tidak boleh menggunakan sihir selama perjalanan. Air setetes di atas daun talas tidak boleh kering apalagi terjatuh. Ia harus melindungi air tersebut agar tidak tercampur dengan mata air lain, termasuk terkena hujan.
“Apa?!”
“Tugas dewa tidaklah mudah, Tuan. Tolong untuk melepaskan si tua ini,” ujar pria tua jelmaan dewa meminta belas kasihan kepada Yuja gunung berapi.
“Tidak! Mengantar daun talas ke hutan bambu, siapa takut!” seru Yuja gunung berapi.
Dengan terpaksa, pria jelmaan dewa itu akhirnya menjalankan kesepakatan yang ia buat sendiri. Awalnya ia berpikir Yuja gunung berapi tidak akan menyanggupi syarat tersebut dan memilih untuk melepaskan dirinya. Akan tetapi, tampaknya sang Yuja begitu ingin ikan kecil itu tidak lagi pada wujud binatang di dalam kolam.
Bagaimana mungkin Yuja ribuan tahun jatuh cinta pada seekor ikan kecil?
Akhirnya, keduanya sepakat untuk mempercayai satu sama lain. Pria tua itu berubah wujud menjadi sosok dewa penjaga kebun kerajaan langit, lalu terbang ke khayangan untuk mengambil sari buah persik. Sedangkan Leon, Yuja gunung berapi itu berjalan layaknya manusia biasa, menuruni gunung, untuk mengantar daun talas ke hutan bambu. Sesuai janjinya terhadap sang dewa, ia tidak akan menggunakan ilmu sihirnya sama sekali.
Pria berambut gimbal yang sebenarnya Yuja itu, memegang selembar daun talas dengan kedua tangannya, di depan d**a. Netranya fokus pada setetes air di atas benda ringkih berwarna hijau tersebut. Akan tetapi, sesekali ia tetap memerhatikan jalan setapak yang dilaluinya.
“Leon, apakah itu Leon si Yuja gunung berapi?” tanya Yuja Guma berbisik pada saudarinya.
“Aku rasa dia memang Leon, ayo kita ikuti,” jawab yang lainnya.
Di tengah perjalanan, Leon bertemu dengan segerombolan perampok yang tengah menjarah saudagar yang juga melintas di kaki gunung. Sejak awal, ia dikenal tidak memiliki welas asih. Oleh sebab itu, saat melihat penindasan di depan mata, ia tetap acuh, sama sekali tidak peduli, dan melenggang seperti tidak melihat apa pun.
“Tuan! Tolong kami, Tuan!” teriak seorang wanita—istri saudagar yang tengah dirampok.
Leon menghentikan langkahnya sesaat. Akan tetapi, tanpa menoleh terlebih dahulu, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Meskipun wanita di belakangnya berikut yang lain juga terus meneriakinya untuk memohon pertolongan.
“Dibawa oleh pria tanpa hati sepertimu, lebih baik aku hancur diterpa angin kencang,” ujar suara tanpa wujud, yang sontak membuat Leon terkesiap, hingga menghentikan langkahnya.
“Siapa yang bersuara!” seru Leon.
“Lihat apa yang paling dekat denganmu, Tuan!”
Pria dengan selembar daun talas di tangan itu melihat dengan jelas setetes air pada daun tersebut. Betapa terkejut dirinya ketika mendapati seorang wanita berukuran sangat kecil berada di dalam tetesan air yang membentuk seperti gelembung tersebut. Itu sebabnya air itu tidak boleh kering maupun jatuh. Ada seorang dewi yang bersemayam pada benda bening itu.
Melihat penindasan, dewi tersebut meminta Yuja gunung berapi untuk menggunakan sedikit saja hati nuraninya, menolong rombongan saudagar dari para perampok. Akan tetapi, Leon dilarang untuk menggunakan sihir, sementara kedua tangannya memegang daun talas, dan tidak boleh menjatuhkan air di atasnya.
Berpikir keras. Kendati tidak menggunakan ilmu sihir, tetapi indra penciuman dan pendengaran sebagai seorang Yuja tetap berfungsi sangat baik. Ia menyadari Yuja Guma dan Yuja Gumi bersaudara sedari tadi mengikutinya.
“Yuja nakal, keluarlah dari persembunyian kalian!” titah Leon.
Keduanya langsung muncul, melompat dari semak-semak. Tempat mereka bersembunyi. Malu-malu karena akhirnya ketahuan oleh Yuja gunung berapi.
“Leon, ini ide kakakku,” kilah Yuja Gumi—sang adik tak ingin disalahkan.
“Apa?! Kenapa aku? Kau tadi juga setuju bukan,” protes sang kakak.
“Sudah-sudah! Jangan berkelahi! Bantu aku!” titah Leon terhadap keduanya.
Leon meminta keduanya untuk memegang daun talas yang dibawanya. Tak lupa ia berpesan kepada mereka untuk tetap diam, tidak bergerak, dan tidak berkedip. Sementara ia akan memberi pelajaran pada para perampok dan menyelamatkan para saudagar.
Kedua Yuja Guma dan Gumi itu tidak berani membantah perintah Yuja gunung berapi. Keduanya benar-benar tidak bergerak, berkedip, bahkan bernapas. Mereka takut jika sampai melakukan kesalahan maka Leon akan murka setelahnya. Tampaknya Yuja gunung berapi itu benar-benar disegani oleh sesama Yuja yang tinggal di sekitar gunung tersebut.
“Tuan, terima kasih banyak atas pertolongannya. Ambillah ini, Tuan,” ungkap seorang saudagar berterima kasih sembari menyodorkan segenggam koin emas.
Ini adalah kali pertama ada manusia yang mengucapkan terima kasih kepadanya. Hadiah yang merupakan imbalan berupa koin emas pun dia tolak. Leon tidak pernah menolong orang sebelumnya. Dia kikuk, tidak tahu bagaimana harus bersikap dan menjawab ucapan terima kasih.
Menyambar daun talas, Leon segera beranjak meninggalkan dua Yuja Guma dan Gumi yang kompak mengembuskan napas karena lega.
“Jangan memintaku melakukan hal bodoh lagi, atau aku akan melemparmu ke sungai,” ancam Leon pada dewi yang berada di dalam tetesan air di atas daun talas.
Dua hari dua malam berjalan tanpa istirahat. Yuja gunung berapi akhirnya sampai pada perbatasan wilayahnya dengan hutan bambu milik Dewi Welas Asih. Hamparan pohon bambu tanpa celah, bagaikan sebuah benteng hidup. Manusia biasa tidak mungkin bisa menerobos masuk ke dalamnya. Sama halnya dengan dirinya yang dilarang untuk menggunakan ilmu sihir. Mustahil ia dapat menembus barisan bambu-bambu tersebut.
“s**l! Apa lagi, ini!” umpatnya kesal.
“Dewi Mata air, kita sudah berada di depan hutan bambu. Bagaimana aku bisa masuk? Cepat katakan!”
Leon tak memiliki cara lain, selain bertanya kepada makhluk yang berada di dalam setetes air itu. Akan tetapi sang Dewi justru memberikan jawaban yang membingungkan. Hutan milik Dewi Welas Asih ditumbuhi bambu yang berasal dari kebaikan manusia. Oleh sebab itu, hanya kebaikan lah yang mampu membalas kebaikan.
Tempat itu begitu sepi, bagaimana mungkin berbuat baik kepada manusia dilakukan saat itu juga? Namun, jika menunggu sehari saja, maka air di daun talas itu akan mengering. Cuaca begitu terik. Sepanjang perjalanan Yuja gunung berapi terus membungkukkan badan untuk melindungi air tersebut.
“Tidak ada manusia di sini, bagaimana hendak berbuat baik, ha!” serunya kesal.
“Siapa yang bilang berbuat baik hanya kepada manusia? Alam semesta begitu luas, berbuat baik bisa dengan apa pun, bukan hanya siapa pun,” jawab Dewi Mata Air.
Leon berusaha mencerna penjelasan yang baru saja ia dengar. Lama berpikir.
“Aku mengerti!” serunya tiba-tiba, saat telah berhasil menyimpulkan perkataan sang Dewi.
Yuja gunung berapi mengedarkan pandangan. Berharap melihat binatang yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi, jangankan seekor burung, serangga pun tak tampak berkeliaran. Aneh, ke mana perginya binatang-binatang kecil di sekitar hutan?
Dilihatnya kedua kakinya. Tanah yang tampak gersang itu ditumbuhi rumput yang tengah mengering karena kemarau yang panjang. Menajamkan indra pendengarannya, tidak jauh dari tempatnya berdiri ada sungai yang masih mengalir meskipun dilanda kemarau yang panjang.
Ia meletakkan daun tas yang dibawanya di atas dahan pohon yang juga memiliki ranting yang telah mengering. Kemudian, Yuja gunung berapi mengedarkan pandangan. Berharap melihat binatang yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi, jangankan seekor burung, serangga pun tak tampak berkeliaran. Aneh, ke mana perginya binatang-binatang kecil di sekitar hutan?
Dilihatnya kedua kakinya. Tanah yang tampak gersang itu ditumbuhi rumput yang tengah mengering karena kemarau yang panjang. Menajamkan indra pendengarannya, tidak jauh dari tempatnya berdiri ada sungai yang masih mengalir meskipun dilanda kemarau yang panjang.
Ia meletakkan daun tas yang dibawanya di atas dahan pohon yang juga memiliki ranting yang telah mengering. Kemudian, ia melepas bajunya untuk melindungi, memberi rasa teduh agar air di atas daun talas tidak mengering.
Berjalan menuju sungai, ia menemukan pohon merambat yang memiliki satu buah labu berukuran besar, tergeletak menyentuh tanah. Dipecahkannya menjadi dua bagian, lalu ia memakan daging buah tersebut. Itu adalah kali pertamanya bagi Yuja gunung berapi memakan makanan selain bangkai manusia. Kemudian, dari kulit labu yang dijadikan dua bejana itu ia gunakan untuk membawa air dari sungai, hingga tempatnya semula. Berbuat baik tidak harus kepada sesama manusia. Menyirami rumput kering juga merupakan kebaikan kepada alam semesta.
Makhluk cantik di dalam tetesan air pada daun talas tampak tersenyum puas melihat usaha yang dilakukan oleh siluman gunung. Itu semua bukan semata-mata untuk dirinya, maupun pria tua jelmaan Dewa, tetapi demi ikan kecil di kolam air jernih dalam gua miliknya.
“Tuan, berikan air pada kami juga, Tuan!”
“Tuan, berbaik hatilah juga kepada kami!”
“Tuan, tolong sisakan sedikit air untuk kami!”
“Tuan, bisakah kami juga mendapatkan air seperti yang lainnya!”
“Tuan ...!”
“Tuan ...!”
“Tuan ...!”
Rumput-rumput pada sisi lain pun turut berteriak kepada Yuja gunung berapi ingin menerima kebaikan hatinya berupa sedikit air. Pepohonan dengan ranting-ranting yang mengering pun juga demikian. Leon mulai kewalahan dengan permintaan mereka. Namun, rasa peduli yang tiba-tiba muncul dalam benaknya, membuat Yuja gunung berapi itu enggan mengabaikan permintaan mereka.
Leon hampir membuat sungai yang mengalir sepanjang tahun itu mengering. Ia berhenti mengambil air saat langit sudah mulai berwarna jingga. Rengekan meminta tolong dari tanaman berubah menjadi ungkapan terima kasih. Perlahan, barisan pohon bambu yang rapat itu terbelah, menjadi jalan setapak ke dalam hutan.
“Masuklah, Tuan! Ini adalah jalanmu dari kebaikan yang telah engkau lakukan hari ini,” titah Dewi Mata Air kepada Yuja gunung berapi.
Berjalan sembari membawa daun talas pada kedua tangannya. Leon sampai pada kolam mata air yang dikelilingi para pelayan Dewi Welas Asih. Sesuai titah dari salah satu pelayan di sana, Leon meletakkan daun talas itu di atas air pada kolam tersebut.
“Yuja gunung berapi telah berbaik hati mengantar Dewi Mata Air ke hutan bambu tanpa melanggar pantangan. Menyingkirkan nafsu sebagai Yuja dan berlakon selayaknya manusia biasa. Menepati janji dan berbuat kebajikan,” puji Dewi Welas Asih.
Sang Dewi memberikan hadiah berupa biji lotus. Ia berpesan kepada Yuja gunung berapi untuk menanam biji lotus tersebut. Jika kelak berbunga berwarna putih, maka ia meminta untuk dikembalikan kepadanya. Akan tetapi jika berwarna merah muda, maka tidak perlu dikembalikan.
Selain itu, sampai kapan pun pintu hutan bambu, akan terus terbuka untuknya. Kebaikan yang telah dilakukan oleh Yuja gunung berapi terdengar hingga kahyangan. Saat ia keluar dari hutan bambu, rumput kering sudah berubah menjadi rimbun dan hijau. Pepohonan pun segar dan berbunga bak musim semi. Melihat betapa menakjubkannya perubahan yang diciptakan dari perbuatan baiknya. Leon tersenyum puas. Ia tidak pernah sebahagia itu sebelumnya. Perasaan yang begitu menyentuh langit, membuat Dewi-Dewi kahyangan menitikkan air mata haru.
Tugasnya selesai. Janji pada pria tua jelmaan Dewa telah terpenuhi. Leon berlari selama sehari semalam untuk kembali ke dalam gua Yuja gunung berapi, tempat tinggalnya.
Sepucuk surat yang ditulis di atas selembar kain sutra, ditindih dengan guci kecil berisi air sari buah persik. Dalam surat tersebut berisikan, bahwa si penulis tengah tertangkap oleh tentara langit karena tidak menjalankan tugasnya dan justru memerintahkan seorang Yuja dalam menuntaskan tugas mengantar Dewi Mata Air ke hutan bambu.
Ia juga memberitahu jati dirinya yang ternyata adalah Dewa penjaga kebun kerajaan langit. Pria jelmaan dewa itu akan diadili dan dihukum menanam pohon buah persik seluas 5.000 hektar. Kendati demikian, ia tetap berterima kasih kepada Yuja gunung berapi karena telah menepati janji. Besar harapannya agar kelak Yuja gunung berapi meninggalkan dunia Yuja dan menjadi dewa.
Untuk pertama kali dalam hidup Yuja gunung berapi. Ia dibuat begitu tersentuh. Ia dibuat merasakan rasa bersalah. Akan tetapi, nasi telah menjadi bubur. Waktu tidak mungkin terulang kembali dan kata-kata yang telah diucapkan tidak dapat ditarik kembali. Yuja gunung berapi menyesal.
Bunyi gemericik air yang diciptakan dari pergerakan seekor ikan kecil menyadarkan Leon dari kemurungan setelah membaca surat dari sang dewa. Seolah hendak menghibur tuannya, ikan itu melompat-lompat dengan lincah di atas air kolam.
Leon tersenyum sumringah. Meraih botol guci berisi air sari buah persik, lalu membawanya ke tepi kolam.
“Ikan, aku punya biji bunga lotus pemberian dari Dewi welas asih. Bantu aku menanam biji ini!”
Dilemparnya biji bunga lotus itu ke tengah kolam yang kemudian disambut oleh ikan peliharaannya. Binatang bersirip itu membawa biji tersebut ke dasar kolam, lalu menanamnya.
To be continued