TENTARA LANGIT ZUKHO EPISODE 4
Kata-kata pria jelmaan dewa kembali terngiang di telinganya. Dilihatnya seekor Agave kecil di kolam air jernih yang berenang ke sana ke mari. Hanya karena ingin mengubah seekor Agave menjadi Yuja seperti dirinya, seorang dewa kini telah dihukum.
‘Dia seekor Agave, untuk mengubahnya menjadi Yuja ....’
Hati nuraninya kembali berbisik. Mengingatkan betapa tidak mudah hidup sebagai Yuja. Setiap hari bersembunyi dari tentara langit. Meskipun mati, yang tercatat hanyalah karma buruk, banyak Yuja yang akhirnya tidak dapat reinkarnasi. Belum lagi pertarungan antar Yuja yang memberlakukan hukum rimba.
Jika makhluk di kolam itu tetap menjadi Agave hingga akhir hayatnya. Maka tidak ada karma buruk yang diperbuat, sehingga dapat bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih sempurna, yaitu manusia.
“Sepertinya aku tidak akan membutuhkan benda ini,” gumamnya sembari meletakkan guci berisi air sari buah persik di atas batu tepi kolam.
Sejak melepaskan buruannya tempo hari yang ternyata merupakan jelmaan dewa. Yuja gunung belum mengisi perutnya dengan bangkai manusia. Satu-satunya makanan yang masuk perut hanyalah daging buah labu. Meninggalkan gua tempat tinggalnya, Yuja gunung pergi berburu.
Saat berada di mulut gua, ia melihat seekor kelinci melompat memasuki guanya. Awalnya, dia berpikir untuk Menjadikan binatang berbulu putih itu sebagai santapan. Akan tetapi, melihat betapa kurusnya hewan tersebut, ia mengurungkan niatnya. Tiba-tiba saja napsu makannya menghilang, tak selera dengan tulang belulang.
“Leon, kau sudah kembali?” tanya Yuja rubah.
“Kami dengar, kau baru kembali dari hutan bambu untuk bertemu dengan dewi welas asih. Apa benar begitu?” tanya Yuja rubah yang lain.
Yuja Gunung enggan menanggapi dan tetap berjalan melewati keduanya. Akan tetapi, dua Yuja rubah itu menyusul dan mendesak agar ia bicara. Akhirnya, ia Menghentikan langkah sejenak.
“Bukan mendengar, kalian melihatnya,” ujar Yuja gunung mengetahui bahwa dua Yuja rubah tersebut memang mengikutinya.
Dua Yuja rubah itu hanya cengengesan ketika kedoknya terbongkar oleh Yuja gunung. Untuk mengalihkan pembicaraan keduanya menawarkan diri untuk membantu berburu. Menurut pengelihatan keduanya, tak jauh tempat mereka berada, ada manusia yang tengah melakukan perjalanan.
Berlarilah ketiga Yuja itu menuju tempat manusia tersebut. Leon sudah tak sabar untuk mencabik-cabik dan meminum darah manusia. Pun dengan dua Yuja rubah yang juga menunggu bangkai sisa dari Yuja yang mereka anggap lebih kuat itu.
“Tuan, Nona-nona, aku hidup sebatang kara di dunia ini. Jika saat ini aku mati, tidak ada seorang pun yang akan menangis untukku. Makan saja aku!”
Pria yang tengah duduk di atas batu tersebut rupanya tahu tengah diintai oleh tiga Yuja. Alih-alih takut dan lari, ia justru pasrah, menyerahkan dirinya sendiri agar dimangsa oleh mereka. Hal itu sontak membuat ketiganya tercengang.
“Besar sekali nyalimu!’seru Yuja gunung.
“Ini sudah takdir. Makhluk lemah diciptakan untuk mengenyangkan perut makhluk yang lebih kuat. Jika dengan menyelamatkan dirimu dari rasa lapar adalah pahala kebaikan yang kulakukan dalam hidupku, maka aku berharap dilahirkan kembali dengan keadaan yang lebih beruntung,” terang pria tersebut yang semakin membuat ketiganya bingung.
“Leon, bagaimana ini?” tanya adik Yuja rubah.
“Pria ini sepertinya tengah frustrasi dan sengaja ingin mati,” ujar kakak Yuja rubah menimpali.
Leon kembali teringat ucapan dewi mata air tempo hari. Berbuat baik pada semesta. Jika rumput saja membutuhkan pertolongan, apa lagi dengan manusia. Pria di hadapannya sebenarnya tidak sedang berkata jujur. Bunuh diri sejatinya merupakan permintaan tolong untuk terakhir kali. Pelaku bunuh diri ingin didengar dan dimengerti. Kendati selalu menyalahkan diri sendiri, tetapi sebenarnya tetap ingin dibela oleh orang lain.
“Tuan, kau masih sangat muda, mengapa memiliki pemikiran seperti itu?” tanya Yuja gunung.
Sejak pertemuannya dengan seekor Agave kecil. Leon menjadi sering bertemu dengan orang-orang aneh, termasuk dewa yang menjelma sebagai manusia. Kejadian-kejidan yang mustahil pun tak luput dari kesehariannya. Perasaan peduli dan kasih sayang perlahan-lahan menyusupi benaknya, hingga terkadang melemahkan hawa Yuja yang menguasai pikirannya.
Leon melepas jubahnya, lalu memakaikan pada pemuda tersebut. Ia menyuruh pemuda itu untuk turun gunung. Pergi ke hutan bambu. Memakan labu, lalu menggunakan kulit labu untuk menyirami rumput dan tanaman kering di sana.
“Jika ingin mati, matilah karena lelah bekerja, jangan mati untuk memberi makan Yuja seperti kami!” seru Yuja gunung.
Pemuda itu menangis haru, menerima kebaikan hati Yuja gunung. Ia berlutut berterima kasih dan mematuhi perintah Yuja itu. Dengan semangat, ia menuruni gunung.
“Leon, apa benar itu kau?”
Dua Yuja rubah benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Yuja gunung. Ia baru saja melepaskan buruannya dan memberikan saran kebaikan.
“Astaga, apa dia baru saja melahap kepala Budha? Bagaimana mungkin Yuja sekejam dia berubah menjadi pria lembut yang penuh dengan welas asih,” ujar adik Yuja rubah kagum, menatap punggung Yuja gunung yang kian menjauh.
Leon memutuskan untuk kembali ke gua tempatnya tinggal. Sepanjang perjalanan, ia memakan buah-buahan yang ditemuinya. Mulai hari itu, ia berjanji tidak akan makan bangkai manusia dan berhenti membunuh.
PLUNG!
Apel yang baru saja ia gigit terjatuh ke dalam kolam. Ia terkejut karena tidak mendapati Agave kesayangannya pada genangan air jernih itu. Mengedarkan pandangan, dia hanya melihat seekor kelinci dan botol guci berisi air sari buah persik yang telah pecah. Sebagian kepingan keramik bahkan berada di dalam kolam.
‘Kelinci, s****n! Harusnya kumakan sejak awal,’ batinnya kesal.
“Tuan ....”
Suaranya begitu lembut nan merdu seperti kidung seorang dewi. Membuat jantung Yuja gunung terasa ditekan dan diremas. Perasaan berdesir yang sangat sulit diartikan. Siapa gerangan pemilik suara tersebut?
“Tuan ... apakah engkau mencariku?”
Kali ini, Leon memutuskan untuk melihat ke belakang. Bagaimana mungkin seekor Agave bersuara begitu merdu. Ah, itu bukan seekor Agave, melainkan seorang wanita cantik dengan tubuh yang sempurna. Polos tanpa sehelai benang yang melindungi kulit putihnya dari mata pria di hadapannya.
“Nona! A-apa yang kau lakukan di-di sini?” tanya Leon sembari membuang muka dan menutup pelipisnya dengan telapak tangan.
“Tuan, jika dengan wujudku yang sekarang membuat kau lupa padaku, aku lebih memilih menjadi seekor Agave ...,” ungkap gadis jelmaan seekor Agave dengan penuh penyesalan.
“Apa?!”
Leon terperanjat saat mengetahui, bahwa gadis tersebut adalah Agave kesayangannya. Botol guci berisi air sari buah persik terjatuh dari atas batu karena ulah seekor kelinci. Sebagian air tumpah ke dalam kolam dan terminum oleh satu-satunya binatang yang berada di kolam tersebut.
Agave kecil telah berubah menjadi Yuja Agave. Leon sangat menyesali kecerobohan yang diperbuatnya. Harusnya, sejak awal ia meminum air sari buah persik tersebut dan menjadi makhluk setengah dewa.
Sejak hari itu, benih-benih cinta tumbuh di antara Leon dan Yuja Agave. Keduanya pasangan kekasih paling serasi di dunia Yuja . Hidup sebagai Yuja tidaklah muda. Keinginan untuk membunuh dan memakan manusia sulit ia kendalikan. Akan tetapi, Leon selalu mencegah Yuja Agave untuk melakukan hal tersebut. Keduanya hanya makan binatang dan buah-buahan.
Ratusan tahun bersama, keduanya memutuskan untuk melangsungkan pernikahan. Sebuah hajatan besar yang akan disambut dengan suka cita oleh dunia Yuja.
“Apa itu benar, mereka akan menikah?”
“Mereka pasangan yang sangat serasi.”
“Leon yang tampan akhirnya mempersunting Yuja Agave.”
Desas-desus keduanya akan bersumpah sehidup semati di hadapan langit telah tersebar. Yuja Agave yang diangkat menjadi putri oleh ratu Yuja Agave, masih tinggal di kerajaan sang ibu, sementara Leon tetap berada di gua Yuja miliknya.
Malam sebelum dilangsungkan pernikahan ....
“Apa?! Akhirnya ....”
Leon dikejutkan oleh kuncup lotus yang mekar. Setelah hampir 500 tahun lamanya. Pohon lotus yang tumbuh dari biji pemberian dewi welas asih itu, akhirnya berbunga.
‘Jika bunganya berwarna putih, kembalikan padaku.’
Ia teringat kembali pesan dewi welas asih kepadanya. Jika lotus tersebut berwarna putih, maka ia harus mengembalikannya pada pemilik hutan bambu itu. Putih. Lotus yang ditanamnya berwarna putih.
Dilema menggelayuti hati Yuja gunung. Antara menghadiri pernikahannya sendiri atau pergi untuk ke hutan bambu untuk mengembalikan bunga lotus tersebut. Dipandanginya kelopak bunga besar di tengah kolam. Kemudian, bayangan calon mempelai wanitanya juga muncul.
“Ah, s**l!” umpatnya kesal. “Tunggu, kali ini tidak ada yang bilang aku tidak boleh menggunakan ilmu sihir bukan?”
Yuja gunung memperhitungkan ia bisa melakukan keduanya jika menggunakan kemampuannya sebagai seorang Yuja. Ia mampu berlari melebihi kecepatan seekor kuda untuk bisa sampai ke hutan bambu malam itu juga. Kemudian datang ke pernikahan pada malam berikutnya.
Setangkai lotus putih ia genggam dengan hati-hati. Selangkah keluar dari gua, ditatapnya langit gelap tanpa cahaya bintang maupun bulan. Memantapkan hati, Yuja gunung mengambil ancang-ancang untuk berlari sekuat tenaga. Kecepatan yang luar biasa membuat daun-daun berguguran di sepanjang jalan yang ia lewati.
“Adik, apa itu tadi Leon?” tanya Yuja rubah pada saudarinya.
“Aku rasa iya. Hendak ke mana dia?”
“Bukankah ini malam terakhirnya sebelum melangsungkan pernikahan?”
“Betul sekali, Kak. Ayo, kita ikuti!”
Kedua Yuja rubah itu memutuskan untuk mengikuti Leon. Mereka mencium bau dewa dari pria yang tengah berlari dengan kecepatan melebihi seekor kuda itu. Sebenarnya bukan dari si pelari, melainkan dari bunga yang ia bawa.
Sesuai janji dewi welas asih kepadanya. Hutan bambu itu selalu terbuka lebar untuk dirinya. Akan tetapi, saat dua Yuja rubah itu hendak ikut masuk. Tiba-tiba, barisan pohon-pohon bambu itu kembali merapat menjadi benteng tanpa celah.
“Kakak, bagaimana ini? Leon ditelan hutan bambu,” ujar adik Yuja rubah cemas.
“Tenang dulu!Bukankah ratusan tahun yang lalu kita pernah melihatnya ditelan hutan bambu, dia berhasil keluar dengan selamat, bukan?” ungkap sang kakak mengingatkan kejadian ratusan tahun yang lalu. Saat Leon mengantar daun talas ke dalam hutan.
Kedua Yuja rubah itu memutuskan untuk menunggu. Berharap Leon akan keluar hutan sebelum pernikahannya berlangsung.
“Tuan, mengapa engkau datang selarut ini?” tanya seorang pelayan dewi welas asih kepada Leon.
“Aku datang untuk memenuhi janjiku kepada dewi welas asih,” jawab Leon.
Kemudian, kilatan cahaya muncul di atas kolam lotus. Bungai lotus berukuran sangat besar mekar dari kuncup. Seorang dewi dengan busana serba putih tampak duduk bersila di atasnya. Wajah teduh dan senyum yang menyejukkan hati, menyapa Yuja gunung.
Mengetahui maksud dan tujuan kedatangan Yuja gunung ke hutan bambu. Dewi welas asih memintanya untuk meletakkan bunga lotus yang dibawanya ke dalam kolam.
“Leon, aku tahu engkau akan menepati janji,” puji dewi welas asih kepada Yuja gunung.
Tak hanya sekadar pujian. Sang dewi menerangkan betapa Yuja gunung telah berubah. Kekejamannya sirna, berganti dengan kasih sayang dan akhlak yang mulia. Tidak lagi membunuh manusia. Tidak lagi menindas yang lemah. Menepati janji, jujur, dan memiliki penyesalan seumur hidup pada setiap kesalahan yang diperbuat.
Seorang pelayan diperintahkan untuk menyediakan secawan air sari buah persik di atas nampan. Begitu Leon meminum air tersebut, maka dia akan menjadi makhluk setengah dewa, bukan lagi Yuja. Ia berkesempatan untuk menuntut ilmu di Perguruan Kaki Tentara Langit dan menjadi calon tentara langit, yang artinya diangkat menjadi dewa.
Akan tetapi, jika ia menerima perintah tersebut, pernikahan dengan Yuja Agave tidak akan pernah terjadi. Cinta yang mereka rajut selama ratusan tahun harus berakhir dengan perpisahan. Tidak ada hubungan Yuja dengan makhluk lain yang direstui oleh langit.
“Leon, dengan menjadi Yuja berbudi luhur seperti sekarang ini, engkau hanya bisa menyelematkan dirimu sendiri. Namun, jika kelak engkau berhasil menjadi tentara langit, engkau bisa menyelamatkan lebih banyak. Termasuk Agave yang telah kau ubah menjadi Yuja, juga dewa penjaga kebun kerajaan langit yang harus menerima hukuman karena membantumu”
Leon membuka pikirannya. Seharusnya wanita yang hendak dinikahinya itu tidak menjadi Yuja. Dengan menjadi Agave tidak ada karma buruk. Sedangkan menjadi Yuja, karma buruk sumur hidup menyebabkan sulit reinkarnasi di kemudian hari.
“Dewi, aku bersalah, aku pantas mati!” seru Yuja gunung.
“Tidak ada jalan keluar yang diperoleh dengan kematian, Leon. Yang perlu engkau lakukan adalah memperbaiki semuanya,” ungkap dewi welas asih.
Diraihnya cawan berisi air sari buah persik, lalu menenggaknya hingga tandas. Air matanya luruh seketika. Air mata perpisahan dengan sang kekasih. Air mata penyesalan atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Air mata pria kesedihan dan kekalahan.
Leon menanggalkan semua hawa Yuja. Ia terlihat seperti manusia biasa dengan kimono putih bersih bak dilahirkan kembali.
Kemunculan tangga langit di atas rimbunnya hutan bambu, terlihat oleh dua Yuja rubah yang sudah lama menunggu rekannya sesama Yuja. Akan tetapi, saat seorang pria berjalan menaiki satu per satu tangga langit. Keduanya seketika lemas tak percaya.
“Adik, apakah ....”
“Iya, kakak ....”
Di sisi lain, istana ratu Yuja Agave. Calon mempelai wanita dengan busana serba merah, tak kuasa meredam tangisnya. Mempelai pria tidak datang ke pernikahan. Ratu Agave—sang ibu angkat pun murka. Mengutus bala tentara dan menjanjikan imbalan besar pada Yuja yang berhasil menangkap Leon.
Pada hari kedua pencarian. Yuja rubah datang ke istana Yuja Agave untuk menceritakan perihal calon mempelai pria yang tak menghadiri pernikahan dengan sang putri.
“Dewi welas asih telah mencuri calon mempelai priaku ...,” gumam putri Yuja Agave.
“Leon, kesalahan apa yang telah aku perbuat, hingga tentara langit ingin menghakimiku?” tanya Yuja Agave pada mantan kekasihnya.
Makhluk setengah dewa itu bergeming. Sejenak berpikir, jawaban yang tepat untuk diungkapnya. Buntu. Setelah mengingat kenangan keduanya di masa lampau membuatnya hampir kehilangan akal untuk berpikir dengan jernih. Keangkuhan sebagai murid pilihan Perguruan Kaki Tentara Langit hilang sudah.
“Ara Na, aku tidak datang untuk membunuhmu,” ujar Leon melunak.
Dia hanya ditugaskan untuk mengambil mustika ratu Yuja Agave penguasa sungai Kwan In, tanpa membunuh si pemilik mustika tersebut. Tujuan diambilnya benda tersebut adalah untuk menghilangkan kekuasaan sang Yuja. Ara Na—sang ratu Yuja Agave yang baru dilantik untuk menggantikan ibundanya telah semena-mena menggunakan kekuasaan.
Ia memerintahkan semua Agave untuk tetap di dasar sungai dan bermigrasi ke perairan lain saar hendak mencari makan. Alhasil nelayan tidak pernah mendapatkan hasil. Hal tersebut rupanya berdampak buruk pada daerah-daerah sepanjang sungai Kwan In. Kelaparan, kemiskinan, dan meningkatnya kesenjangan sosial serta tingginya kriminalitas. Semua itu merupakan sepenuhnya yang harus dipertanggungjawabkan olehnya.
“Tindakanku tidak sepenuhnya salah. Para manusia menangkap Agave dengan membabi buta. Mereka sama sekali tidak memiliki rasa welas asih pada kami para Agave,” bantah ratu Yuja Agave.
“Ara Na, yang sudah kau lakukan itu justru merupakan pengerusakan terhadap ekosistem. Kau berdosa terhadap alam semesta. Menurut rantai makanan dan ketentuan langit, Agave dan semua binatang lainnya memang diciptakan untuk kelangsungan hidup manusia. Jika binatang itu mati karena menghilangkan rasa lapar, itu adalah karma baik bagi binatang itu sendiri,” jelas makhluk setengah dewa tersebut kepada mantan kekasihnya.
Ratu Yuja Agave berdalih ia tengah berupaya untuk melindungi rakyatnya dari jarahan para manusia. Ia sama sekali tidak paham, bahwa karma baik sebagai Agave adalah menjadi makanan untuk bertahan hidup makhluk lain, termasuk manusia. Perbuatannya dianggap bersalah oleh langit karena merusak ekosistem.
Ia bersikeras menyangkal dan tetap tidak ingin mengakui kesalahannya. Membuktikan, bahwa manusia di sepanjang sungai Kwan Im menderita karena ulahnya. Leon mengajaknya untuk sejenak meninggalkan singgasananya demi melihat langsung kekacauan yang telah dirinya perbuat. Dengan berat hati, untuk pertama kalinya setelah upacara pernikahan itu batal. Ara Na, memutuskan untuk keluar dari istana.
Keputusan itu ia ambil setelah selama ratusan tahun benar-benar menahan diri untuk tidak melihat dunia luar, Hari-harinya dilalui di bawah air, hingga menunggu mati. Siapa yang menyangka, sang mantan kekasih justru datang menemuinya. Meskipun bukan untuk meminta maaf karena telah lari dari pelaminan. Namun, Ara Na tetap bahagia dipertemukan kembali dengan Yuja gunung yang kini tengah menjadi makhluk setengah dewa.
Keduanya menjelma sebagai manusia agar dapat berbaur. Sepanjang jalan hanya melihat kesedihan, kelaparan, dan kemiskinan. Perasaan bersalah akhirnya menyergap benaknya. Ia menyesal dan mengaku bersalah.
“Tuan, aku bersalah. Aku bersedia memberikan mustika Yuja yang kumiliki dan bersedia menerima hukuman,” ungkap ratu Yuja Agave ketika keduanya telah kembali ke dalam istana.
Mendengar pengakuan pemimpin kerajaan, hingga berlutut di hadapan makhluk setengah dewa, semua penghuni istana Yuja Agave turut berlutut. Suasana duka menyelimuti. Menyerahkan mustika berarti bersedia kembali menjadi seekor Agave. Hal itu adalah konsekuensi saat semua kekuatannya lenyap. Karma menjadi Yuja telah berakhir.
Saat benda bercahaya itu keluar dari tubuhnya. Untuk terakhir kali, Ara Na memberikan senyuman kepada Leon.
“Leon, aku tidak pernah menyesal karena telah mencintaimu. Aku tidak pernah menyesal karena telah menyia-nyiakan hidupku untuk menunggumu. Di kehidupan yang akan datang, aku harap engkau bersedia melihatku meski dari langit sekalipun ....”
Wanita cantik itu berubah menjadi Agave kecil seperti saat pertama kali ditakdirkan sebelum menjadi Yuja. Makhluk kecil dengan sirip dan ekor yang menyerupai selendang. Kemudian, para pengikutnya pun mengalami hal serupa. Semua menjadi binatang air penghuni sungai Kwan Im. Tak lama kemudian, istana itu runtuh. Leon mengambil cangkang kerang, lalu meletakkan Agave jelmaan Ara Na, membawanya ke pulau mengapung.
Leon—murid ketiga Perguruan Kaki Tentara Langit menjadi kandidat pertama yang menyelesaikan tugas terakhir pada tingkat tujuh.
Setelah menyerahkan mustika Yuja kepada sang guru. Leon memohon agar diizinkan meletakkan Agave yang dibawanya pada kolam Agave Perguruan Kaki Tentara Langit. Sebagai wujud apresiasi karena telah berhasil menyelesaikan tugas, ia mendapatkan izin dari pria seribu tahun tersebut.
Tak hanya itu. Kolam tempat Agave itu diletakkan merupakan kolam panjang umur. Semua Agave di tempat tersebut tidak mati dan tidak pula berkembang biak. Berita keduanya yang begitu saling mencintai, terdengar hingga langit. Ara Na dan Leon diizinkan bertemu setiap seratus tahun sekali. Seratus tahun sekali, Agave bersirip selendang itu akan berubah menjadi wujud manusia bak dewi.
Takdir keduanya memang saling mencintai, tetapi tidak untuk saling memiliki. Jalan hidup yang berbeda, karma yang berbeda, serta ketetapan langit yang berbeda untuk keduanya. Akhirnya, membuat Ara Na dan Leon mengubur dalam-dalam perasaan tersebut.
“Adik, kenapa bisa seperti ini?”
Setelah kembali dari dunia manusia dan menyelesaikan tugas tingkat tujuh. Leon mengunjungi adik kelimanya yang tengah terbaring tak berdaya setelah main catur dan minum arak dengan sang guru. Sudah lebih dari sepuluh hari keadaan adik seperguruannya itu tidak ada perubahan. Pemuda itu tengah sekarat.
“Kakak, Zukho tampaknya kesulitan kembali,” ujar junior yang ditugaskan untuk merawat murid kelima.
“Maksudnya?!”
Pada saat Zukho ditemukan tak sadarkan diri bersama sang guru. Langit menjadi sangat gelap karena gumpalan awan hitam yang tak wajar. Para penghuni pulau mengapung berpendapat itu adalah pasukan dewa kematian. Saat langit menjadi kembali cerah, sang guru sadar sedangkan Zukho tidak.
Pasukan dewa kematian ditengarai telah menangkapnya dan tidak bersedia membebaskan kembali. Tubuhnya masih bernapas tetapi sukmanya kesulitan menemukan jalan untuk kembali. Pada kasus seperti itu, satu-satunya cara adalah menemukan keberadaan sukma tersebut.
“Apa yang harus kita lakukan, Guru?” tanya Leon kepada pria seribu tahun.
“Aku akan memastikan terlebih dahulu, apakah pasukan dewa kematian benar-benar telah menangkap Zukho,” jawab sang guru.
Jika Zukho benar-benar tertangkap oleh pasukan dewa kematian, maka dia akan dibawa ke alam baka untuk reinkarnasi. Orang yang masih hidup tidak boleh reinkarnasi. Jika itu sampai terjadi, tubuhnya akan musnah. Kemungkinan untuk menjadi tentara langit telah pupus. Zukho akan dianggap meninggal dan melupakan semua yang terjadi pada kehidupan sebelumnya setelah meminum sup Meng Po. Sup penghapus ingatan yang dibuat oleh makhluk paling ditakuti di alam baka.
“Kembalilah, Zukho ...!”
To be continued